
Rendi mengirimkan pesan chat untuk Tania. Dia tak peduli meski masih ada Sari yang duduk mengawasinya.
Rendi memilih tak peduli. Mulai sekarang Rendi tak mau peduli lagi pada larangan Sari. Toh, masih ada Tono yang akan membelanya.
Begitu dokter datang memeriksanya, Rendi langsung mengatakan tentang keinginannya.
"Dok, saya mau pulang hari ini," ucap Rendi tanpa bertanya dulu bagaimana keadaannya.
Sari yang berdiri di dekatnya, langsung melotot.
"Boleh. Tapi apa kamu sudah kuat beranjak?" tanya dokter.
"Udah, Dok. Kalau cuma beranjak sih gampang. Asal jangan disuruh lari aja," jawab Rendi.
"Udah dicoba?" tanya dokter sambil tersenyum.
Rendi menggeleng.
"Nah, makanya dicoba dulu. Mau dibantu?" tanya dokter lagi.
Dengan semangat, Rendi mengangguk.
"Suster, tolong bantu Rendi," ucap dokter pada perawat yang bersamanya.
"Baik, Dok," sahut perawat itu.
Lalu dokter yang memeriksa Rendi, keluar meninggalkan perawatnya.
"Mari Mas Rendi, saya bantu," ucap perawat yang bernama Mila.
Meski sebenarnya risi karena harus berdekatan dengan perawat perempuan, Rendi mengangguk juga.
Pelan-pelan Mila menurunkan kaki Rendi. Sari memperhatikannya dengan serius. Karena Sari berpikir, kalau Rendi benar-benar akan pulang, dia yang harus membantunya.
Rendi meringis menahan sakit dan ngilu.
"Masih sakit?" tanya Mila.
Rendi mengangguk. Saking sakitnya, Rendi sampai tak bisa bicara apa-apa.
"Bisa menahannya? Kalau enggak bisa, jangan dipaksa. Besok dicoba lagi," ucap Mila.
Rendi membelalakan matanya.
"Hah? Besok?"
"Iya. Besok lagi." Mila mengangguk.
"Enggak, enggak! Aku maunya sekarang. Aku bisa nahan kok!" ucap Rendi.
Rendi tak mau membuang-buang waktu. Dia harus kuat, biar bisa pulang sekarang.
"Kalau belum kuat, jangan dipaksa, Rendi," ucap Sari.
"Kuat, Ma. Rendi kuat kok," sahut Rendi.
Dan dengan segala kekuatannya, Rendi berusaha menahan rasa sakitnya.
Sampai akhirnya Rendi bisa juga menurunkan satu kakinya dari tempat tidur.
__ADS_1
"Sebentar, saya ambilkan alat bantu untuk berdiri." Mila meninggalkan kamar Rendi.
"Ren, kamu jangan memaksakan diri. Nanti malah cedera, lho," ucap Sari.
"Enggak, Ma. Rendi juga tau, kok. Kalau sakit, Rendi bakal berhenti," sahut Rendi.
Sari hanya menghela nafas. Rendi kalau sudah ada maunya, susah diatur.
Sebenarnya Sari bisa memaksa, tapi sekarang posisinya lagi di rumah sakit. Bakalan malu kalau ada yang melihat mereka berdebat.
Tak lama, Mila datang membawa alat bantu jalan berkaki empat.
"Ayo saya bantu, Mas Rendi." Mila mengulurkan tangannya.
Dengan ragu-ragu, Rendi menyambut tangan Mila.
"Pelan-pelan aja ya, Mas Rendi," ucap Mila.
Rendi pun mengikuti instruksi Mila. Sampai akhirnya, Rendi mampu berdiri dengan ditopang alat.
Kaki kanannya dia pakai tumpuan. Sedangkan kaki kirinya belum bisa buat menapak.
"Posisi begini, enak enggak?" tanya Mila pada Rendi.
"Enak. Nyaman," jawab Rendi.
"Oke. Kalau begitu, ditahan dulu sebentar. Kalau capek, duduk lagi. Nanti dicoba lagi," ucap Mila.
"Terus jalannya kapan?" tanya Rendi.
"Sabar, Mas Rendi. Nanti pelan-pelan belajar berjalan juga," jawab Mila.
"Belajar jalannya bisa di rumah, kan?" tanya Rendi.
"Siapa nama kamu, Suster?" tanya Sari.
Sari dari tadi memperhatikan cara Mila membantu Rendi. Dan menurut Sari, Mila orangnya sangat sabar.
"Saya Mila, Bu," jawab Mila dengan sopan.
"Kamu sudah berkeluarga?" tanya Sari lagi.
"Belum, Bu. Saya masih single. Ada apa, Bu?" tanya Mila heran. Karena menurut Mila, bukan saat yang tepat menanyakan statusnya.
Sari tersenyum mendengarnya.
"Kamu mau, kalau membantu merawat Rendi di rumah?" Sari berpikir, akan memudahkan kalau ada perawat yang membantu Rendi belajar berjalan lagi.
"Tapi saya kan harus kerja di sini, Bu," sahut Mila.
"Begini....Emm...Kamu tinggal dimana?" Sari bertanya dulu soal tempat tinggal Mila, biar dia bisa mengira-ngira.
"Saya tinggal di mess, Bu. Di bagian belakang rumah sakit ini," jawab Mila.
"Kalau begitu, kamu tinggal di rumah kami aja. Kamu bisa tetap bekerja di sini. Pulang kerja, kamu merawat Rendi. Bantu anakku ini sampai bisa jalan," ucap Sari.
Rendi terkejut mendengar omongan mamanya. Bukankah Sari kemarin sudah bilang mau mempekerjakan perawat laki-laki? Kenapa malah jadi perawat wanita?
"Mm. Boleh juga, Bu. Tapi apa Mas Rendinya mau saya rawat?" tanya Mila.
__ADS_1
"Maulah. Mau kan, Ren?" tanya Sari pada Rendi.
"Kata Mama perawatnya yang laki-laki?" Rendi mencoba mengingatkan Sari.
"Kayaknya telaten Mila, deh. Lagian kamu bisa ke kamar mandi sendiri, kan? Jadi enggak masalah kalau Mila yang merawatmu," jawab Sari.
Sebenarnya Rendi ingin menolak, tapi pasti bakal jadi panjang urusannya. Dan kepulangannya bisa makin diundur lagi.
Akhirnya Rendi hanya bisa mengangguk. Bagi Rendi, yang penting dia bisa segera pulang dan menyusun rencana selanjutnya.
"Nah, gitu dong. Nurut kan enak. Nanti Mama nemuin dokter. Biar kamu bisa dirawat di rumah," ucap Sari sambil tersenyum.
"Mila. Antar aku ketemu dokter Pras," pinta Sari.
Mila melihat jam kecil di pergelangan tangannya.
"Nanti satu jam lagi, Bu. Dokter Pras sepertinya masih visit," sahut Mila.
"Gitu ya?"
Mila mengangguk.
"Kalau begitu, kamu nanti ke sini lagi. Antar aku ketemu beliau," ucap Sari.
"Baik, Bu. Satu jam lagi, saya ke sini. Saya permisi dulu," pamit Mila.
"Ya. Ya. Silakan," sahut Sari
"Mari Mas Rendi." Mila juga berpamitan pada Rendi dengan sopan.
Rendi hanya mengangguk.
Mila, seorang perawat muda yang cukup cantik dan sopan itu, meninggalkan kamar Rendi.
"Gimana, kamu enggak keberatan kan, kalau dirawat Mila?" tanya Sari.
Sari berharap Mila bisa jadi teman ngobrol buat Rendi. Biar Rendi enggak kesepian dan enggak inget sama Tania terus.
Lagi pula dirinya tak bisa sesabar Mila membantu Rendi belajar berjalan.
"Terserah Mama deh. Yang penting Rendi bisa segera pulang," jawab Rendi.
Sari kembali duduk di sofa. Dia menelpon Tono untuk membicarakan soal kepulangan Rendi.
"Kalau itu, terserah dokternya saja," jawab Tono di telepon.
"Kamu bisa ke sini sekarang? Sebentar lagi aku mau ketemu dokternya," tanya Sari.
"Iya. Nanti aku ke sana. Hari ini juga aku akan mengurus kepulangan Tajab," jawab Tono.
"Ya udah, aku tunggu." Sari lalu menutup telponnya.
"Dah, beres semua. Nanti papa kamu yang akan mengurusnya," ucap Sari pada Rendi.
Rendi mengangguk senang.
Rendi pun segera menghubungi Tania lagi. Dia mengatakan kalau sebentar lagi, bisa pulang.
Tania yang masih dalam perjalanan, tersenyum bahagia. Saatnya berbahagia bersama Rendi, semakin dekat. Meskipun bakal ada banyak masalah yang harus mereka hadapi. Terutama masalah tentang Sari yang masih belum menyetujui hubungan mereka.
__ADS_1
Tapi Tania yakin, kalau mereka akan bisa menghadapinya. Yang penting Rendi pulang dulu dan segera sembuh.
Rendi pun bahagia karena impiannya bersama Tania, akan segera terwujud.