
Eni keluar dari kamarnya diikuti oleh Danu yang cengar cengir ke arah kakak satu-satunya.
"Kayak enggak ada besok aja. Di luar banyak tamu, kalian malah esek-esek di kamar!" Widya mulai mengoceh.
"Mas Danu itu Mbak. Dia main serang aja." Eni membela diri.
"Kalian berdua sama saja. Gak pernah lihat sikon!"
"Salah siapa kamu pake bajunya merangsang." Danu tidak mau di salahkan.
"Eh. Jaga omongan kalian. Ada Tania."
"Biar Tania belajar, Mbak" sahut Danu sambil berlari keluar.
"Dasar otak mesum!" umpat Widya. Lalu mereka tertawa bersama. Kecuali Tania.
Tania malah bergidig ngeri membayangkan dia bakalan diesek-esek oleh bandot tua.
"Jangan didengerin omongan pamanmu. Kamu juga En, lihat situasi dan kondisi lah."
"Iya, Mbak." Eni menundukan kepalanya.
"Sampai Tania lupa kalian jemput. Coba kalau aku tak membawanya pulang sekarang? Besok pagi kalian pasti kelabakan."
Eni makin terdiam. Dia memang lupa soal menjemput Tania. Karena seharian tadi sangat sibuk mempersiapkan acara untuk besok pagi.
"Tania, sekarang kamu tidur dulu sana. Biar besok bisa bangun pagi-pagi. Katanya tukang rias mau datang abis subuh."
Widya menyuruh Tania istirahat. Tania pun masuk ke kamarnya.
Di kamar, Tania tidak bisa tidur. Selain karena di luar rumahnya ramai oleh bapak-bapak main gaple, juga Tania tegang menghadapi hari esok.
Dan apa kabarnya Rendi? Sampai sekarang Tania belum berani membuka ponselnya.
Ren, maafkan aku. Besok aku akan menikah. Kita akan berpisah untuk selamanya. Kamu pasti akan sangat kecewa dan membenciku, Ren.
Air mata Tania mengalir deras di pipinya. Bahkan sampai akhirnya dia tertidur.
Sementara Rendi juga tak bisa tidur. Pikirannya hanya pada Tania. Sudah dua hari dia tak bisa menghubungi Tania.
Ponsel Tania tidak pernah aktif lagi. Rumah pamannya pun terkunci rapat.
Tania kamu di mana? Rendi hanya bisa bertanya pada dirinya sendiri.
Jam empat subuh Tania dibangunkan budenya yang tidur di kamar bibinya.
Widya memang menginap di rumah adiknya. Dan dia tidur sekamar dengan Eni.
Danu tidur di luar dengan teman-temannya yang katanya jaga malam, tapi jam dua malam malah sudah tepar semua.
"Tania. Bangun, Nak. Udah hampir subuh." Widya menggoyang-goyang tubuh Tania yang masih terlelap.
Tania menggeliatkan badannya. Sadar hari ini adalah hari yang sangat mencekam baginya, Tania enggan membuka matanya.
__ADS_1
Rasanya ingin bisa melompat ke hari senen. Melewati hari minggu ini dengan tidur.
"Ayo, bangun. Mandi terus sholat subuh dulu. Minta sama Gusti Allah, biar acaramu nanti berjalan lancar," ucap Widya.
Berdoa biar lancar acaranya, aku justru akan minta pada Allah agar acaranya berantakan. Batin Tania.
"Masih ngantuk, Bude." Tania memeluk gulingnya lebih erat.
"Sstt, udah mau jadi istri. Gak boleh malas. Kamu nantinya harus bangun sebelum suami kamu bangun." Widya menarik guling yang dipeluk Tania.
Tania tetap pura-pura tidur. Widya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mintanya kawin tapi kok masih malas bangun pagi," gumam Widya perlahan.
Tapi Tania masih bisa mendengarnya, karena Tania hanya pura-pura saja tidurnya.
Siapa yang minta kawin? Kalau ada yang mau menggantikan, Tania tak akan keberatan.
"Sudah bangun, Mbak?" Eni yang sudah siap-siap sholat subuh bertanya pada kakak iparnya. Padahal biasanya, jangankan sholat subuh yang harus bangun pagi buta, sholat lain saja hampir tak pernah dijalani.
"Masih ngantuk katanya. Coba kamu yang membangunkan. Aku mau wudhu dulu."
Eni lalu ke kamar Tania. Dilihatnya Tania sedang melamun sambil memeluk gulingnya yang tadi diambil oleh budenya.
"Tania. Mandi sana. Siap-siap. Jam lima kamu sudah dirias lho." Eni duduk di pinggir ranjang Tania.
"Tania takut, Bi."
Tania langsung memeluk pinggang bibinya sambil masih berbaring.
Eni mengelus kepala keponakannya. Dia juga sebenarnya tidak tega. Tapi Eni juga tak tega membayangkan suaminya harus meringkuk di penjara.
"Bangun ya?"
Dengan sabar Eni memapah tubuh Tania, hingga ke kamar mandi.
Widya yang baru selesai mengambil wudhu, tersentuh melihat kasih sayang Eni pada Tania seperti anaknya sendiri.
Walaupun Eni perempuan yang cerewet, kadang suka ngeyel kalau dinasehati, tapi hatinya sangat baik.
Itu juga alasannya Widya menyayangi Eni lebih dari dia menyayangi Danu yang adik kandungnya sendiri.
Eni menunggui Tania mandi. Eni khawatir terjadi sesuatu dengan Tania. Bagaimana pun Tania sedang tertekan.
"Kamu enggak sholat subuh dulu, En?" Widya keluar dari kamar Eni setelah selesai sholat.
"Iya, Mbak. Nunggu Tania keluar dulu. Barusan kentut." Eni nyengir ke arah kakak iparnya.
"Danu dibangunin sana. Biar nanti suruh beres-beres depan. Berantakan banget."
Eni menurut. Dia keluar rumah dan melihat suaminya masih saja tidur. Padahal tadi dia sudah membangunkannya.
"Pak, bangun. Udah jam berapa ini?" Eni mengguncang bahu suaminya.
__ADS_1
"Sebentar lagi. Masih gelap." Danu kembali ngerungkel di papan yang akan menjadi tempat pelaminan Tania.
"Aku panggilin mbak Widya ya, biar dia yang bangunin kamu?" ancam Eni.
Tapi Danu tak lagi mendengar karena sudah terbang lagi ke alam mimpi.
Eni yang kesal langsung berteriak.
"Danu...! Bangun apa aku siram?"
Danu langsung berdiri saking kagetnya. Lalu dengan bergumam tak jelas, dia masuk ke dalam rumah.
Teman-temannya Danu yang masih tertidur pun ikut terbangun karena teriakan Eni yang stereo.
Lalu mereka bergegas meninggalkan pelataran rumah yang dijadikan ajang main gaple.
Eni bengong melihat mereka semua bubar. Keadaan porak poranda. Sampah dan puntung rokok di mana-mana.
Eni menepuk jidat. Tau begini mending enggak ada orang 'Lek-lekan'. Bukannya membantu malah nambah kerjaan.
Eni masuk kembali ke rumahnya. Rencananya dia akan minta tolong tukang sampah saja untuk membersihkan kekacauan yang dibuat Danu dan teman-temannya.
"Danu sudah bangun, En?" Widya yang baru keluar dari kamar Tania bertanya pada adik iparnya ini.
Eni menengok ke kanan kiri.
"Tadi dia sudah masuk kok, Mbak."
Eni langsung membuka pintu kamarnya. Dan benar dugaannya. Suaminya melanjutkan kembali tidurnya.
"Ampun deh, sama ini orang. Udah tau di rumah mau ada acara, malah molor terus!"
"Hush! Gak boleh begitu sama suami. Dosa!" sahut Widya.
Bukannya dia membela karena Danu adalah adiknya, tapi memang dalam kepercayaannya seorang istri harus selalu menghargai suami.
"Ya udah, sana Mbak saja yang bangunin. Bikin emosi."
Eni lalu keluar rumah. Dia mau ke rumah tukang sampah yang akan dia suruh bersih-bersih.
"Danu! Danu! Kamu mau bangun apa aku gebyur air?"
Tanpa basa basi Widya bertanya pada adik kandungnya yang memang susah kalau dibangunin.
Danu langsung bangun dan duduk di tepi ranjang.
"Mau mandi di kamar mandi apa aku mandiin di sini?" tanya Widya lagi, sambil berkacak pinggang.
Danu bak anak kecil yang dimarahi ibunya, langsung berjalan gontai ke kamar mandi.
"Awas kalau nerusin tidurnya di kamar mandi. Aku kunciin dari luar." Widya masih terus saja mengoceh.
"Iya, Mbak. Enggak istri, enggak kakak, bawel semua," gerutu Danu sambil melangkah ke kamar mandi.
__ADS_1
Widya kembali ke kamar Tania. Memang Eni tadi meminta kakak iparnya ini untuk menemani Tania sampai acara akad. Karena Eni akan jadi seksi sibuk.