HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 241 AKAL AKALAN MONICA


__ADS_3

Sari sudah menyelesaikan pekerjaannya. Perutnya juga sudah mulai terasa lapar.


Sari berjalan keluar mencari Putri. Mau diajaknya ke food court di lantai paling atas.


"Put. Ikut yuk, makan," ajak Sari.


Sari sering mengajak salah satu karyawannya makan. Bergantian biar adil.


"Iya, Bu," sahut Putri.


Tak sengaja, Putri melihat Monica. Monica sedang duduk sambil mainan ponselnya.


"Dia gimana, Bu?" Putri menunjuk ke arah Monica.


Sari pun melihat ke arah Monica. Dia benar-benar lupa kalau janji mau menemui Monica.


"Oh iya. Kenapa aku lupa, ya." Sari menepuk jidatnya sendiri.


"Panggil sana. Ajak sekalian. Aku naik duluan," ucap Sari.


Sari males jalan bareng sama Monica. Lihat orangnya saja sudah bikin Sari mual.


Sari pun berjalan duluan, naik ke lantai paling atas.


"Heh! Jadi mau ketemu bu Sari, enggak?" tanya Putri pada Monica.


Monica mengangkat wajahnya. Lalu dia menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Gue?" tanya Monica sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, elu! Siapa lagi?" sahut Putri dengan ketus.


Monica menyimpan ponselnya di tas. Lalu berdiri dan siap melangkah masuk ke dalam toko.


"Heh! Mau kemana lu?" tanya Putri masih dengan nada ketus.


"Katanya bu Sari mau ketemu gue. Gimana, sih?" Monica balik bertanya dengan kesal.


"Kebalik! Elu yang mau nemuin dia!" sentak Putri.


"Sama aja, kali!" Monica tetap mau masuk ke dalam toko.


"Heh! Bu Sari kagak ada di dalam!" seru Putri.


Monica menghentikan langkahnya dan menoleh.


"Terus dimana?" tanya Monica makin kesal.


"Ikut gue!" Putri berbalik dan melangkah pergi. Dia abaikan saja Monica. Mau ngikutin sukur, enggak juga gak masalah.


Monica makin kesal aja. Lalu terpaksa mengikuti langkah Putri.


"Mau kemana sih, lu?" tanya Monica dari belakang Putri.


"Udah, ikut aja! Bawel amat sih, lu!" sahut Putri yang tak mau beramah tamah pada Monica.


Ck!


Monica berdecak sebal pada Putri yang menurutnya sok banget. Tapi terpaksa mengikuti juga.


Mereka naik tangga tiga kali. Hingga sampai di lantai teratas.


"Emang enggak ada eskalator apa lift, apa?" Di tangga kedua, Monica sudah mengeluh.

__ADS_1


"Lu pikir di mal?" sahut Putri.


Bagi para penghuni pasar, naik turun tangga sudah biasa. Apalagi Putri. Dia bisa dua sampai tiga kali.


Selain memiliki toko di lantai bawah, Sari juga punya gudang di lantai tiga. Dan tugas karyawan-karyawannya untuk memindahkan stock dari gudang ke toko.


Sari hanya sesekali saja mengecek gudang itu. Biasanya selesai makan siang di food court, Sari mampir dulu ke gudangnya.


Di tangga ketiga, nafas Monica sudah terengah-engah. Maklum dia jarang sekali olah raga. Malah boleh dibilang tidak pernah.


Kemana-mana maunya cari yang enggak bikin capek.


"Berapa lantai lagi?" tanya Monica dengan muka sudah memerah.


"Sepuluh!" jawab Putri menakut-nakuti. Dan Monica percaya saja.


"Hah...! Gila, lu! Bisa patah kaki gue!" sahut Monica dengan geram.


Putri terkikik menahan tawanya.


"Di loss daging banyak kaki kambing. Nanti gue beliin buat gantiin kaki elu yang patah. Hahaha." Monica tak bisa lagi menahan tawanya.


"Sialan, lu! Gue disamain ama kambing!" maki Monica.


"Iya! Kambing congek! Hahaha." Putri semakin terbahak.


"Kurang ajar, lu! Awas gue bales kalau gue udah jadi istrinya Rendi!" ancam Monica.


"Wouw...! Atuut...!" Putri meledek Monica. Tawanya makin kenceng.


Monica makin geram. Dia hentakan kakinya ke lantai.


Daaar karyawan sialan! Maki Monica dalam hati.


"Kita mampir sini dulu bentaran, ya," pinta Monica. Tenggorokannya langsung terasa kering. Dan perutnya yang memang belum terisi, ikut berdendang.


Putri tak menjawab. Karena memang tujuan utamanya ya ke tempat itu.


"Heh! Budeg lu, ya!" seru Monica. Lalu mengejar Putri dan menarik lengannya.


"Apaan, sih!" Putri menepiskan tangan Monica.


"Jawab dong pertanyaan gue!" bentak Monica.


"Emang penting, gitu?" sahut Putri. Matanya mencari sosok Sari.


Ternyata Sari ada di meja paling ujung yang agak sepi.


Sari sengaja menempati meja itu, biar bisa lebih leluasa ngomong sama Monica. Karena dia tahu kalau Monica pasti bakalan omong yang aneh-aneh tentang Rendi.


Putri berjalan menuju meja Sari. Monica tersenyum lega. Akhirnya dia tidak harus naik sepuluh tangga lagi seperti yang dikatakan oleh Putri.


Sari menatap wajah Monica, dengan tatapan datar. Tapi kemudian jadi ilfell saat Monica langsung duduk sebelum dipersilakan.


Kalau Putri, karena sudah sangat dekat dengan Sari. Jadi wajar saja dia bersikap santai. Dan dia bukanlah tamu bagi Sari.


Beda dengan Monica. Bagi Sari, dia adalah tamu. Yang mestinya permisi dulu kalau mau duduk, atau menunggu dipersilakan.


"Put. Kamu pesan makan aja," ucap Sari pada Putri.


"Iya, Bu," sahut Putri.


"Aku sekalian pesenin. Sama minumnya juga!" ucap Monica dengan ketus.

__ADS_1


Monica bersikap ketus seperti itu, karena merasa kedudukannya lebih tinggi daripada Putri.


Padahal sikap ketusnya membuat Sari makin ilfell saja. Tapi namanya saja Monica yang kurang beretika, cuek saja.


"Kamu mau pesen makan apa?" tanya Putri tak kalah ketusnya.


Lalu Monica menyebutkan makanan dan minuman yang diinginkannya.


Putri menatap Sari, minta persetujuan bos. Sari mengangguk, mengijinkan.


Kalau cuma makanan seperti itu, bukan masalah bagi Sari.


Putri pun ikut mengangguk. Lalu pergi memesankan makanan untuknya juga Monica.


Kalau bukan tamunya bu Sari, enggak akan sudi aku memesankan. Memangnya aku pembantu! Gerutu Putri dalam hati.


"Ada perlu apa kamu?" tanya Sari pada Monica.


"Saya...Saya hamil, Tante," jawab Monica to the point.


Sari mengernyitkan dahi.


"Hamil?" tanya Sari.


Monica mengangguk.


"Terus?" tanya Sari lagi.


"Saya hamil anaknya Rendi, Tante," jawab Monica.


Sari tak terkejut mendengarnya. Tapi justru menyangsikan pengakuan Monica itu. Karena Rendi tak pernah mau mengakui kalau dia meniduri Monica.


"Kamu yakin itu anaknya Rendi?" tanya Sari dengan santai.


"Iyalah, Tante. Memangnya anak siapa lagi?" Monica merasa sangat percaya diri.


"Tapi Rendi bilang, enggak pernah meniduri kamu," ucap Sari. Masih dengan nada santai.


"Rendi bohong, Tante. Kami sudah melakukannya beberapa kali," ucap Monica.


Monica langsung merubah wajahnya. Dia pura-pura sedih. Tapi sayangnya Sari tak terpengaruh. Dia tetap masih yakin dengan omongan Rendi.


"Mana buktinya kalau kamu hamil?" Sari mengulurkan tangannya.


Monica mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Ini." Monica memberikan sebuah test pack pada Sari.


"Taruh situ." Sari menunjuk ke atas meja.


Sari tak mau memegang alat test begituan. Karena itu bekas dicelupin ke air kencing.


Di alat test itu, ada dua garis. Yang menandakan penggunanya positif hamil.


Monica berharap Sari terkejut dan percaya padanya. Tapi sayangnya, Sari masih bersikap biasa saja.


Tak lama Putri kembali ke meja mereka, membawa makanannya juga makanan Monica.


"Putri. Sebelum kamu makan, tolong belikan test pack dulu di apotek bawah," ucap Sari pada Putri.


"Test pack? Buat apa, Bu?" tanya Putri.


Wajah Monica langsung berubah warna. Tangannya bergetar dan mengambil kembali hasil tes yang diberikannya tadi.

__ADS_1


"Maaf, Tante. Saya buru-buru. Ada urusan mendadak." Monica pun bergegas beranjak dan pergi.


__ADS_2