HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 164 TANIA SUDAH AMAN


__ADS_3

"Dan! Danu! Bangun!" Diman mengguncang bahu Danu.


Lalu Danu mendengar suara alarm dan terbangun. Eni dan Widya juga ikut terbangun.


"Ada apa ini?" tanya Danu masih kebingungan. Nyawanya belum sepenuhnya terkumpul.


"Kita diusir dari sini!" jawab Diman.


"Hah? Diusir?" tanya Eni dari jok belakang. Dia juga masih sedikit bingung.


Danu segera berusaha mengumpulkan nyawanya.


"Cepat tinggalkan tempat ini, atau mobil kalian kami paksa derek!" ucap satpam menggunakan toak kecil.


"Udah buruan pergi, Man. Daripada kita diderek!" ucap Danu.


Diman pun segera menyalakan mesin mobilnya, lalu melaju meninggalkan komplek perumahan Mike.


"Hh! Ada-ada aja. Mana sih satpam yang tadi? Kita malah diusir kayak *******!" ucap Eni dengan kesal.


"Ya udah, besok lagi aja, kalian ke sini lagi. Jangan pakai mobil ini. Pakai motor aja, biar enggak mencurigakan," ucap Widya.


Eni membeli motor second buat transportasinya bolak balik ke salon kecil miliknya. Karena tak mungkin kalau dia minta diantar Danu setiap hari.


Tania melihat dari dalam rumah Mike, mobil Tono sudah pergi. Dia lalu menghubungi Mike kembali.


"Aman, Mik. Mobil papanya Rendi udah pergi," ucap Tania di telepon.


"Oke, sip deh kalau begitu. Kamu tetap di dalam rumah, ya. Sebentar lagi aku sama Dito balik," sahut Mike.


"Lho, kok gitu? Katanya sampai tengah malam?" tanya Tania.


"Enggak apa-apa, Tan. Lagian tuh si Rendi udah WA Dito mulu. Nyuruh kita cepetan balik," jawab Mike.


"Ya udah, deh. Kalian ati-ati di jalan," sahut Tania merasa tak enak.


"Iya. Kamu juga ati-ati. Bye." Mike menutup telponnya. Lalu bergegas pamit pada temannya yang ulang tahun.


"Kok buru-buru sih, Mik? Baru juga jam berapa?" tanya teman Mike.


"Iya. Ada urusan mendadak," jawab Mike. Lalu menggandeng Dito keluar dari tempat pesta.


"Hhm. Ada-ada aja, deh," keluh Dito. Dia baru saja menikmati segelas champagne. Jarang-jarang Mike mengijinkannya minum walaupun cuma sedikit.


"Udah. Lain kali kan bisa minum lagi. Ini darurat. Kasihan Tania sendirian," sahut Mike.

__ADS_1


"Beneran ya, kapan-kapan aku boleh minum lagi?" tanya Dito.


"Iya. Tapi jangan sampai mabuk. Awas aja kalau mabuk. Aku suruh kamu tidur di pinggir jalan!" ancam Mike.


Sejak dinikahkan oleh kedua orang tua Mike, meski secara siri, Dito tak lagi ngekos. Dia tinggal di rumah Mike.


"Tega amat, nyuruh aku tidur di pinggir jalan. Entar aku diangkut satpol pp gimana?" Dito merajuk.


"Biar aja. Biar kapok!" sahut Mike.


Mike memang selalu tegas pada Dito. Selalu mengawasi gerak gerik dan pergaulan Dito. Demikian juga Dito. Selalu mengontrol kehidupan Mike, sampai ke ranah paling pribadi.


Mereka sudah seperti pasangan yang tak terpisahkan. Kemana-mana selalu berdua.


Mandi pun sering berdua. Karena mereka sering bangun kesiangan. Jadi mandinya bareng biar cepet.


Yang enggak berdua cuma saat BAB saja.


Tania pun sudah mengabari Rendi, kalau kondisi di luar rumah Mike sudah aman terkendali.


Tapi Rendi belum bisa tenang kalau Dito dan Mike belum pulang.


Menjelang tengah malam, Tono masuk ke kamar rawat Rendi. Dia memaksa minta ijin pada perawat jaga.


Perawat jaga yang tak mau ribut dengan Tono, mengijinkan saja. Asal Tono berjanji, kalau ada apa-apa, tanggung sendiri akibatnya.


Rencananya besok pagi, Tono akan pulang. Dia tak mau tidur di rumah sakit lagi. Kayak orang dipenjara. Batin Tono.


Tono membuka kamar Rendi. Dilihatnya Sari sudah meringkuk di sofa. Rendi sendiri masih memegang ponselnya. Dia masih memantau keadaan Tania.


"Mama kamu enggak pulang, Ren?" tanya Tono.


"Enggak mau. Katanya mau jagain Rendi terus, dua puluh empat jam," jawab Rendi dengan kesal.


"Memangnya mampu tenaganya?" tanya Tono lagi.


Sari memang seorang pekerja keras, tapi kalau dua puluh empat jam harus standby menunggui Rendi, bisa jebol juga badannya.


"Enggak tau. Papa aja coba yang ngomongin, besok pagi. Rendi juga kasihan lihatnya," jawab Rendi.


"Ya udah, besok Papa coba bilangin. Tapi Papa enggak menjamin mama kamu mau, ya? Kamu tau sendiri kan, gimana watak mamamu?" sahut Tono.


Iya. Kalian sama-sama orang tua yang menyebalkan. Orang tua yang egois! Batin Rendi.


"Papa udah menemukan tempat tinggal Tania?" pancing Rendi.

__ADS_1


"Kenapa kamu nanya Papa? Bukannya kamu udah tau," sahut Tono. Dia juga berusaha memancing jawaban dari Rendi.


"Enggak, Pa. Tania belum sempat ngomong. Dito dan Mike juga belum menemukan tempat tinggalnya." Rendi pura-pura cemas.


"Kamu tenang aja. Anak buah Papa lagi berusaha mencarinya. Orang tua Tania juga ikut nyari. Mereka pakai mobil Papa," sahut Tono.


"Paman dan bibinya Tania ikut mencari, pakai mobil Papa?" tanya Rendi.


"Iya. Diman yang nyetir. Si Widya, budenya Tania juga ikut," jawab Tono.


Jadi mobil papa yang di depan rumah Mike, isinya keluarga Tania?


Ah, andai saja aku tau dari tadi. Pasti Tania bakal ketemu dengan paman dan bibinya.


Tapi apa Tania akan aman di rumah mereka? Apa papa tak akan mengambil paksa Tania lagi? Tanya Rendi dalam hati.


Tapi aku harus bilang soal ini pada Tania. Juga pada Dito dan Mike. Biar mereka rembugan, gimana enaknya.


"Pa. Boleh enggak kalau paman dan bibinya Tania membesuk Rendi?" tanya Rendi.


"Papa sih boleh-boleh aja. Tapi gimana dengan mama kamu? Kasihan kan kalau mereka sampai sini terus diusir," jawab Tono.


Rendi hanya bisa diam. Percuma saja melawan Sari. Dia akan tetap mengusir orang tua Tania.


"Pa. Papa beneran enggak akan mengurung Tania lagi kalau sudah ketemu?" tanya Rendi.


"Iya, Ren. Bilang ke Tania. Papa tak akan mengurungnya lagi. Suruh dia pulang ke rumah pamannya. Papa enggak akan mengusiknya lagi. Kasihan juga mereka sangat khawatir," sahut Tono.


"Iya, nanti Rendi bilang ke Tania. Tapi apa paman Tania masih tinggal di rumah kontrakannya?" tanya Rendi.


"Enggak. Papa udah membelikan rumah buat mereka. Seperti permintaan Tania dahulu." Lalu Tono menyebutkan alamat Danu yang baru, perlahan. Biar Sari tak mendengarnya.


Meskipun Sari terlihat tidur, belum tentu dia tak mendengar. Bisa saja Sari pura-pura masih tidur.


Tono sudah hafal, kalau Sari gampang terbangun saat tidur.


Rendi mengangguk. Dia nanti akan bilang semuanya ke Tania.


Rendi juga mau Tania hidup nyaman dan kembali pada paman dan bibinya.


"Bilang juga pada Tania, Papa akan segera mengurus perceraian. Biar Tania bisa segera menikah dengan kamu," ucap Tono.


"Enggak! Aku enggak setuju!" sahut Sari yang dari tadi mendengarkan pembicaraan mereka.


Rendi dan Tono hanya bisa menghela nafas dengan kasar.

__ADS_1


Tono mengangkat bahunya, lalu meninggalkan ruangan Rendi.


__ADS_2