HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 57 MENGUNTIT


__ADS_3

Rendi diam-diam terus mengikuti angkot Danu dari jauh.


Hingga angkot Danu berhenti di sebuah sanggar rias pengantin. Rendi pun menghentikan motornya agak tersembunyi.


Bukannya ini sanggar rias milik tante Kartika, sepupunya mama? Batin Rendi. Nanti aku akan menanyakannya.


Mereka tak lama, karena hanya mengembalikan perhiasan yang tidak jadi dipakai oleh Tania.


Setelah dari sana, mereka melanjutkan kembali perjalanan ke rumah Widya.


Rendi terus mengikuti untuk memastikan rumah budenya Tania itu.


"Kalian mau mampir atau langsung pulang?" tanya Widya saat mereka sampai di depan rumahnya.


"Ngopi sebentarlah. Aku baru mau narik angkot besok pagi," jawab Danu.


Melihat mereka semua turun dari angkot dan Widya menurunkan juga beberapa tasnya, Rendi yakin itu adalah rumah Widya sesuai dengan alamat yang tadi diberitahukan padanya.


Rendi memacu motornya kembali. Dia akan ke sanggar rias milik sepupu mamanya.


"Assalamualaikum. Selamat siang Tante Kartika," sapa Rendi dengan ramah.


"Waalaikumsalam. Hey, Rendi. Apa kabar? Tumben kamu mampir. Mana mamamu?"


Rendi segera menyalami tangan Kartika dengan sopan.


"Rendi sendirian, Tan. Kebetulan tadi lewat," sahut Rendi berbohong.


"Ooh begitu. Kamu mau minum apa, Ganteng?" tanya Kartika yang memang sering menyapa Rendi dengan panggilan ganteng.


"Apa aja deh, Tan. Entar kalau Rendi minta macem-macem juga gak ada," jawab Rendi sambil terkekeh.


"Ya nanti Tante suruh si Putri membelikannya. Atau pesan online."


Kartika mengambilkan soft drink yang memang dia sediakan di show case untuk para pelanggannya.


"Nih, diminum. Di luar panas. Pasti kamu haus." Kartika memberikan satu kaleng untuk keponakannya yang ganteng itu.


"Ada berita apa nih, sampai kamu tumben-tumbenan mampir. Jangan bilang lagi kalau kamu cuma kebetulan lewat lho ya?" Kartika bisa menebak kalau Rendi pasti punya tujuan tertentu.


"Mm. Begini, Tan. Rendi mau tanya sesuatu."


"Apa itu? Kelihatannya penting banget." Kartika mencondongkan tubuhnya ke arah Rendi.


"Tadi Rendi melihat bu Eni yang rumahnya di jalan Mawar gang satu ke sini. Dia pelanggan Tante?"


"Oh yang suaminya supir angkot itu?" tanya balik Kartika.


"Iya, Tan."


"Dia kemarin baru menikahkan anak perempuannya. Kalau tidak salah namanya Tania. Katanya sih suaminya jauh lebih tua. Tapi Tante tidak sempat ketemu. Tante buru-buru pulang karena ada job di tempat lain. Tuh, makanya perhiasan sampe kelupaan." Kartika menjelaskan panjang lebar.


"Oh. Kirain Tante tau calon suaminya. Atau Tante tau tempat tinggalnya?" tanya Rendi.


"Tempat tinggal siapa?" Kartika balik bertanya lagi.


"Tempat tinggal pengantin prianya," jawab Rendi. Dia tak mau menyebut kata suami Tania.


"Boro-boro, Ren. Kenal aja enggak. Tapi Tante sih kemarin sempat dengar, kalau tidak salah ada yang bilang rumah lakinya di jalan Merdeka. Pasnya di mana ya Tante enggak tau. Memangnya kenapa kamu nanya-nanya? Kamu kenal mereka?"

__ADS_1


Jalan Merdeka? Berarti dekat dengan kos-kosannya Dito.


"Ceritanya panjang, Tan," sahut Rendi.


"Cerita dong sama Tante. Siapa tau Tante bisa bantu. Mumpung Tante lagi senggang."


Rendi menatap tantenya. Kartika mengangguk, agar Rendi yakin padanya.


"Tania...kekasih Rendi." Rendi menundukan wajahnya.


"Apa?" Mata Kartika sampai melotot.


"Iya, Tan. Tante tau siapa yang menikahi Tania?"


Kartika menggeleng. Karena dia memang tidak tahu.


"Papa," jawab Rendi pelan.


"What?" Kartika sampai melongo.


"Kamu tidak salah omong kan, Ren?" lanjut Kartika.


Rendi menggeleng. Wajahnya sendu. Kesedihan jelas terlihat di wajahnya.


Kartika segera meneguk minumannya. Tenggorokannya mendadak kering.


"Gila! Mas Tono sudah gila!" pekik Kartika.


Kartika memang sudah tahu kalau sepupu iparnya itu tukang kawin, tapi dia tidak menyangka kalau Tono menikahi kekasih anaknya sendiri.


"Papamu tau kalau dia menikahi kekasihmu?" tanya Kartika.


"Awalnya tidak tau. Rendi juga tidak tau rencana itu. Kemarin Rendi mengantarkan mama kondangan. Ternyata kondangan di pernikahan mereka."


"Iya. Mereka lalu berantem di sana setelah akad nikah selesai. Dan...." Rendi tak meneruskan kalimatnya.


"Dan apa?" Kartika semakin penasaran.


"Rendi bawa kabur Tania."


"Gila kamu, Ren. Bagaimana pun dia sudah sah jadi istri papamu."


"Masa bodo. Papa sudah mengambil kekasih Rendi. Gantian Rendi ambil istri papa!"


Kartika menghela nafasnya. Jantungnya terasa mau copot.


"Terus, kenapa kamu tanyakan alamat papa kamu?" tanya Kartika.


"Malamnya terpaksa Rendi kembalikan Tania ke rumahnya. Karena Tania khawatir papa akan mengancam pamannya lagi."


"Maksud kamu?" Kartika semakin bingung.


"Tania sejak kecil diasuh oleh paman dan bibinya. Mereka terjerat hutang dengan papa dan tidak bisa membayarnya. Tante tau kan, kalau papa seorang rentenir?"


Kartika mengangguk. Bahkan yang Kartika dengar, Tono adalah seorang lintah darat.


"Papa mengancam akan memenjarakan om Danu kalau dia tidak juga membayar hutangnya. Atau menyerahkan Tania sebagai gantinya." Rendi semakin menundukan wajahnya.


Kartika menggenggam tangan Rendi dengan erat. Dia merasa ikut prihatin dengan kejadian yang menimpa kakak sepupu dan keponakannya ini.

__ADS_1


"Tante ikut prihatin, Ren. Kamu yang ikhlas ya?"


"Tidak, Tante! Rendi tidak akan pernah ikhlas!" seru Rendi sambil mengangkat wajahnya.


"Ren. Bagaimanapun, ini semua sudah terjadi. Sudah digariskan sama yang Maha Kuasa. Mungkin Tania bukan jodohmu."


"Tidak, Tante! Rendi harus menemukan Tania. Rendi harus bertanggung jawab!"


"Tanggung jawab apa?" tanya Kartika. Otaknya terasa mulai eror.


"Saat Rendi membawa kabur Tania, Rendi mengambil kesucian Tania. Bagaimana kalau Tania hamil? Itu kan anak Rendi, Tante."


Kartika melepaskan genggaman tangannya, lalu menyandarkan tubuhnya.


Semua sudah gila, begitu pikir Kartika.


"Tante bisa menolong Rendi menemukan Tania? Dia pasti dibawa papa ke rumahnya," pinta Rendi.


"Yang Tante dengar hanya itu, Ren. Papa kamu tinggal di jalan Merdeka. Coba kamu cari dulu papa kamu. Bicarakan baik-baik. Bagaimana pun dia adalah papa kamu, ya?"


Rendi hanya diam. Dalam hati, Rendi tidak sudi punya papa seperti itu.


"Apa Tante tidak bisa menelpon tante Eni, menanyakan alamat papa?"


"Bisa saja. Tapi apa alasan Tante nyariin papa kamu?"


Rendi mengangguk-angguk. Benar juga. Urusan mereka sudah selesai. Jadi tidak ada alasan Kartika menanyakannya.


"Ya sudah, Tan. Rendi pamit dulu. Rendi mau cari papa sampai ketemu."


Rendi bangkit dari kursinya.


"Ren. Bicarakan baik-baik. Yang sopan sama orang tua," ucap Kartika sambil meraih tangan Rendi.


Rendi tak menjawab sama sekali. Rendi mungkin tak bisa lagi sopan pada papanya. Karena sikap papanya yang sudah melampaui batas.


"Rendi pamit, Tan." Rendi mencium tangan Kartika lalu bergegas pergi.


"Hati-hati, Ren."


Kartika mengelus dadanya. Dia tak mengira masalahnya serumit ini.


Buru-buru Kartika menelpon Sari. Dia kepingin tahu kabar kakak sepupunya itu.


"Hallo, Mbak Sari," sapa Kartika.


"Hey, hallo Tika. Apa kabar?" tanya Sari dengan suara sengau karena terus saja menangis sejak tadi Rendi pergi.


"Mbak Sari baik-baik saja, kan? Aku ke rumah ya? Barusan Rendi ke ruko. Dia sudah menceritakan semuanya," ucap Kartika.


Sari terduduk lemas di tempat tidurnya.


"Sekarang di mana Rendi, Tika?" tanya Sari lemah.


"Dia bilang mau cari alamat rumah papanya, Mbak. Aku ke rumah Mbak Sari sekarang." Kartika menutup telponnya.


"Put! Aku mau keluar dulu. Kalau ada tamu tolong kamu handle dulu."


Belum sempat Putri menjawab, Kartika sudah keluar dan menuju mobilnya.

__ADS_1


Kartika tak akan membiarkan kakak sepupunya sedih sendirian.


Karena dia sudah pernah merasakan bagaimana sakitnya dihianati suami.


__ADS_2