HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 138 BERHASIL MENYUSUP


__ADS_3

Tania masih saja duduk di tempatnya. Agak jauh dari kamar Rendi, tapi tetap bisa melihatnya.


Sementara Rendi sedang makan disuapi Sari dengan telaten.


Sebenarnya Rendi malas makan, semalam saja roti gandum hanya dia makan sedikit. Cuma untuk mengisi perutnya yang kosong saja.


"Udah, Ma. Cukup," ucap Rendi.


"Ini harus dihabiskan, Ren. Biar kamu cepat sembuh," sahut Sari.


"Nanti lagi aja, Ma." Rendi tetap menolaknya.


"Ya udah. Tapi nanti dimakan lagi, ya?" pinta Sari. Dia ingin anaknya cepat sembuh.


"Iya, Ma," jawab Rendi.


Tono sudah bangun. Dia sudah keluar dari kamar mandi dan terlihat rapi.


"Ma. Sebaiknya Mama pulang dulu. Papa antar. Mama kan perlu ganti baju dan istirahat juga," ucap Tono.


Tono kasihan melihat Sari dengan wajah kuyunya. Bajunya pun dari kemarin belum ganti.


"Enggak usah. Ambilkan bajuku aja. Kasihan kalau Rendi ditinggal sendirian," sahut Sari.


Rendi pun tak tega melihat mamanya terlihat kecapekan.


"Rendi enggak apa-apa kok, ditinggal. Kan nanti ada perawat yang bisa membantu, Ma," ucap Rendi.


"Beneran enggak apa-apa?" tanya Sari memastikan.


"Iya, Ma. Mama pulang dulu aja. Nanti kan bisa kesini lagi," jawab Rendi.


Sari menghela nafas lega. Dia sebenarnya juga capek banget. Ingin bisa tidur di rumah.


Semalaman meringkuk di sofa, membuat badannya sakit semua.


"Ya udah. Mama pulang dulu. Nanti siang, Mama ke sini lagi. Mama juga sekalian mau ngecek rumah dan kios," ucap Sari.


"Iya, Ma. Ati-ati," sahut Rendi.


"Pa. Jangan lupa, nanti bawa Tania kesini," pinta Rendi sebelum Tono keluar.


"Iya, pasti," sahut Tono. Dia baru ingat, kalau semalam menyuruh Diman dan Danu mencari Tania.


Sari pun bersiap pulang. Tono yang mau mengantarkannya, sudah berjalan keluar.


Sampai di depan ruangan Rendi, Tono menelpon Diman dulu. Tapi telponnya tak bisa dihubungi.


"Telpon siapa?" tanya Sari yang sudah ada di luar.


"Diman. Dia semalam Papa suruh nyariin Tania. Kemana itu orang? Hapenya enggak bisa dihubungi, lagi," ucap Tono dengan kesal.


"Ya udah, nanti lagi aja dihubungi. Aku pulang dulu. Aku bawa motor sendiri, kok," ucap Sari.


"Jangan, Ma. Motor Mama ditinggal disini aja. Biar Papa...Ah, iya. Mobilku juga dipake si Diman! Emang sialan tuh orang! Dikasih tugas, enggak becus!" maki Tono.


"Pagi-pagi, jangan memaki-maki orang. Udah, aku pulang duluan." Sari berjalan mendahului.


"Ma, tunggu! Papa anterin. Nanti dari rumah Mama, Papa bisa naik ojek. Atau Yadi nanti biar nganterin Papa." Tono segera menyusul Sari.


Tania menatap kepergian dua orang itu sambil tersenyum di balik maskernya.

__ADS_1


Diam-diam, Tania mengikuti mereka. Memastikan kalau mereka benar-benar pulang.


Sari yang tak mau berdebat dengan Tono, memberikan kunci motornya.


"Nih. Pelan-pelan bawanya. Kamu juga masih ngantuk," ucap Sari.


"Iya, Ma." Tono segera mengeluarkan motor Sari dari tempat parkir dan memboncengkan Sari keluar dari area rumah sakit.


Tania bersorak senang. Dia buru-buru kembali ke kamar Rendi.


Sampai di depan kamar Rendi, Tania berhenti sejenak. Dia menghela nafasnya dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.


Tania berusaha menyusun kekuatan untuk bertemu lagi dengan Rendi. Kekasih hatinya.


Tania membuka pintu perlahan.


Rendi masih berbaring di tempat tidurnya dengan posisi sedikit tegak. Meski masih kepalanya masih harus menyandar.


Rendi yang masih asik bermain game di ponselnya, mengangkat wajahnya.


Dia melihat seorang wanita masuk, dengan masker menutupi wajahnya.


Tania segera membuka maskernya. Mata Rendi hampir saja melompat.


"Tania....!" ucap Rendi perlahan.


"Rendi....!" Tania segera mendekati Rendi.


Spontan Rendi mengangkat kepalanya. Dia ingin mendekap Tania.


"Auwh!" teriak Rendi. Kepalanya terasa sangat sakit.


"Rendi! Jangan gerakan kepalamu dulu!" seru Tania.


"Rendi...!"


Tangis Tania pun pecah.


"Tania...!" Rendi pun ikut terisak.


Rendi memeluk Tania dengan tangan kanannya. Mereka berpelukan sampai puas.


Setelah puas memeluk Rendi, Tania melepaskan tangannya dari kepala Rendi. Lalu menghapus air matanya juga air mata Rendi.


"Kamu dari mana aja, Tania?" tanya Rendi, masih sambil terisak.


"Aku....aku kabur dari rumah papamu, Ren. Tadi aku lihat, papa dan mama kamu pulang. Aku langsung kesini. Aku tak mau papamu melihatku. Aku tak mau dia mengurungku lagi," jawab Tania panjang lebar.


"Iya...iya. Kapan kamu kabur dari rumah papa?" tanya Rendi.


"Kemarin sore, Ren. Sebelum kamu operasi. Aku menunggui kamu operasi. Tapi tak ada yang tau," jawab Tania.


"Lalu semalam kamu pulang ke rumah pamanmu?" tanya Rendi lagi.


Tania menggeleng.


"Aku....Aku cari tempat kos, Ren. Kalau aku pulang ke rumah paman, papa kamu pasti bisa menemukan aku," jawab Tania.


"Kamu ngekos?" tanya Rendi.


Tania mengangguk.

__ADS_1


"Sendirian?" tanya Rendi lagi.


Tania mengangguk lagi.


"Ajak aku, Tania. Kita ngekos berdua. Kita kabur saja berdua, ya?" pinta Rendi.


Mata Tania berkaca-kaca lagi.


"Tapi kamu masih sakit, Rendi," ucap Tania.


"Sebentar lagi aku akan sembuh. Tunggu aku, Tania. Kamu jangan kemana-mana dulu. Aku akan ikut kabur bersama kamu," sahut Rendi.


"Mama kamu?" tanya Tania.


"Aku enggak peduli sama mama atau siapa pun. Mereka pasti akan memisahkan kita lagi. Aku enggak mau kehilangan kamu lagi, Tania!" Rendi menggenggam tangan Tania.


"Kamu yakin, Ren?" tanya Tania.


"Sangat yakin. Aku akan segera sembuh!" jawab Rendi.


Tania mengambil ponsel di tasnya.


"Kalau begitu, simpan nomor baruku, Ren. Kamu bisa hubungi aku kapanpun. Tapi jangan sampai siapapun tau nomorku. Demi keamanan kita," ucap Tania.


Dengan semangat, Rendi menyimpan nomor ponsel Tania. Dan demi keamanan dia ganti nama Tania dengan nama laki-laki.


Rendra.


"Kok Rendra?" tanya Tania membaca ketikan Rendi di nomornya.


"Katanya demi keamanan," sahut Rendi.


Lalu mereka tertawa bersama.


"Makananmu kok enggak dihabisin, Ren?" Tania melihat makanan untuk pasien yang cuma dimakan sedikit.


"Aku enggak nafsu makan," sahut Rendi.


"Katanya mau cepat sembuh? Habisin, ya? Aku suapi!"


Rendi langsung mengangguk.


Dan dengan telaten, Tania menyuapi Rendi sampai makanannya habis.


"Ini obatmu?" tanya Tania.


"Iya. Mama kayaknya lupa memberikannya padaku," ucap Rendi.


Tania pun menyuapkan obat ke mulut Rendi. Rendi semangat memakan obatnya. Karena dia ingin segera sembuh.


"Ren, jam berapa mama kamu kesini lagi?" tanya Tania.


"Dan kamu akan pergi lagi?" tanya Rendi tak bersemangat.


"Kan biar aku enggak ketahuan papamu. Nanti aku bakal datang lagi, kalau mama dan papa kamu enggak ada. Kamu kan bisa menghubungiku," ucap Tania.


"Mama baru kesini siang nanti. Kamu di sini dulu, ya?" pinta Rendi.


"Iya, Ren. Jam sebelasan aku pergi dulu, ya? Takutnya mama atau papa kamu kesini," sahut Tania.


"Iya, Sayang," ucap Rendi.

__ADS_1


Tania pun menunggui Rendi sampai siang.


__ADS_2