HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 280 BERNOSTALGIA


__ADS_3

Rendi yang belum terlalu kuat berjalan sendiri, menggandeng Tania. Walau kenyataannya dia sedang bertumpu pada lengan Tania.


"Aku berat enggak?" tanya Rendi sambil terus berjalan pelan.


"Enggak, Ren. Aku kuat kok," jawab Tania.


Rendi jadi terharu mendengarnya.


Mestinya kita sudah hidup bahagia, Tania. Dan mestinya kondisiku tak seperti ini. Batin Rendi.


"Makasih ya, sayang," ucap Rendi.


Tania menoleh ke arah Rendi. Lalu tersenyum.


Bagi Tania, bisa bersama dengan Rendi, sudah sangat membuatnya bahagia. Bagaimanapun kondisi Rendi.


"Iya, Ren. Aku juga makasih banget sama kamu. Kamu sudah berjuang untuk aku," sahut Tania.


Tania sadar kondisi Rendi saat ini, karena memperjuangkannya. Mungkin kalau Rendi tak senekat itu, dia masih menjadi istri tawanan Tono.


Dan Tania akan menghabiskan hidupnya di sangkar mewah milik Tono. Meski bergelimang kemewahan, tapi tak pernah ada kebahagiaan sedikitpun yang dirasakan Tania.


"Kamu memang pantas untuk diperjuangkan, sayang," ucap Rendi. Tangannya mencengkeram lengan Tania semakin erat.


Meski merasa sedikit sakit, tapi kebahagiaannya mampu menepis rasa sakit itu.


"Kita duduk di sana." Rendi menunjuk sebuah gubug yang memang sedang mereka tuju.


Tania pun mengarahkan langkahnya ke gubug itu. Lalu membawa Rendi untuk duduk.


"Kamu masih ingat tempat ini, sayang?" tanya Rendi.


"Mana mungkin aku melupakannya, Ren," jawab Tania.


Ya. Di gubug inilah pertama kali Rendi membawanya pergi dan menyatakan perasaannya.


Dan sejak itu, Tania tak pernah bisa melupakan Rendi. Bayangan Rendi selalu menghantuinya.


Tapi kemudian kenyataan hidup membuat Tania hancur. Dia harus memenuhi perjanjiannya dengan Tono. Ayah dari Rendi.


"Terima kasih kamu masih mengingatnya, sayang. Aku sengaja mengajakmu kesini, sebagai kilas balik hubungan kita," ucap Rendi.


"Aku masih ingat saat wajahmu merona karena aku tembak," lanjut Rendi.


Tania pun tersenyum malu-malu.


Tania masih ingat, saat itu dia malu-malu mendengar ucapan cinta dari Rendi.


Apalagi saat Rendi untuk pertama kalinya mencium dan mencumbuinya.


Tania semakin tertunduk malu.


"Kok nunduk, sih." Rendi memperhatikan wajah Tania. Lalu mengangkat dagunya.

__ADS_1


Suara deburan ombak yang pecah di pinggir pantai juga angin yang bertiup kencang, membuat naluri kelelakian Rendi bergejolak.


Rendi seperti kehilangan kendali. Dia dekatkan wajahnya ke wajah Rendi.


"Jangan Ren. Ini di luar. Nanti ketahuan orang lain," tolak Tania saat Rendi hendak melakukan lebih banyak lagi.


"Oh, maaf. Aku jadi terbawa suasana," ucap Rendi. Lalu menjauhkan wajahnya dari Tania.


Kalau menuruti perasaan dan hasrat mereka yang sudah sangat menggelora, bisa jadi mereka akan melakukan lebih dari itu.


Tapi Tania mampu menepiskan keinginannya. Terpaan hidup yang begitu keras, membuat Tania mampu menahan hasratnya.


Tania sadar kalau sampai mereka melakukannya sekarang, pasti akan diperhatikan banyak orang. Terutama keluarganya.


Meskipun keluarganya tak akan mungkin melarangnya. Bahkan membiarkan saja. Toh, mereka berdua sudah dewasa dan saling mencinta.


Keduanya saling diam. Tenggelam dalam perasaan masing-masing. Perasaan yang sama sebenarnya.


Perlahan Rendi meraih lagi tangan Tania. Lalu digenggamnya dengan erat.


"Aku mencintaimu, Tania. Sangat mencintaimu," ucap Rendi. Lalu dikecupnya tangan Tania dengan lembut.


Tania memperhatikan wajah Rendi dengan sepenuh hati.


"Aku juga, Ren. Aku sangat mencintai kamu," sahut Tania.


"Maukah kamu menunggu sampai aku bisa menaklukan hati mamaku?" tanya Rendi.


"Iya, Ren. Aku akan menunggumu. Sampai kapanpun," sahut Tania.


"Terima kasih, sayang. Aku akan kembali berjuang untuk kita. Dan yakinlah kalau aku tak akan pernah berpaling darimu," ucap Rendi.


Kembali Rendi mengecup tangan Tania penuh kelembutan.


"Iya, Ren. Aku percaya padamu," sahut Tania.


Semua yang telah dilakukan Rendi untuknya, tak mungkin membuat Tania ragu.


"Juga soal Monica. Aku mohon, jangan percaya apapun yang dikatakan oleh Monica. Semua itu hanya bohong belaka," pinta Rendi.


"Termasuk soal kehamilan Monica?" pancing Tania.


Meski Rendi sudah mengatakannya lewat telepon, tapi Tania ingin sekali lagi mendengar dari mulut Rendi.


"Sayang. Kalau memang benar Monica hamil, kenapa dia tak langsung datang padaku? Meminta pertanggungjawabanku? Kenapa harus lewat kamu? Bahkan lewat mamaku?" tanya Rendi bertubi-tubi.


"Mamamu?" tanya Tania.


Rendi mengangguk. Dia sudah diberitahukan oleh Sari, kalau Monica mendatanginya di toko dan mengucapkan omong kosongnya.


"Terus, apa mama kamu mempercayai Monica?" tanya Tania.


Rendi menatap ke pantai. Sampai ujung dimana dia tak mungkin bisa menggapainya.

__ADS_1


"Kamu tau sendiri kan, bagaimana sikap mamaku tentang hubungan kita?" Rendi balik bertanya.


Tania mengangguk paham. Sari tak pernah menyetujui hubungannya dengan Rendi. Bisa jadi Sari berpura-pura mempercayai Monica, hanya untuk membuatnya pergi.


"Ya, begitulah. Mama seperti kemakan omongan Monica. Padahal sejak awal aku memperkenalkan Monica, mama tak sedikitpun menyukainya," ucap Rendi.


Tania kembali mengangguk. Lalu menghela nafasnya dalam-dalam.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan, Ren?" tanya Tania.


"Sebenarnya aku tak perlu melakukan apapun. Karena aku tahu kalau mama tak pernah menyukai Monica," jawab Rendi.


"Aku akan berusaha membuat diam mulut Monica. Kapan-kapan kita temui Monica. Kita lihat seberapa beraninya Monica mengatakan itu di depanku," lanjut Rendi.


"Kalau Monica tetap ngotot, gimana?" tanya Tania lagi.


"Aku pingin lihat seberapa ngototnya dia. Kalau perlu kita bawa dia ke dokter kandungan. Buat memastikannya," jawab Rendi dengan yakin.


Tania mengangguk menurut. Rendi yang mengatakan dengan yakin, membuat Tania juga semakin yakin pada Rendi.


Apalagi dari cerita Dito dan Mike tentang kelakuan Monica selama ini, membuat Tania yakin kalau Monica hanya membuat cerita palsu. Yang tujuannya untuk membuat Tania marah pada Rendi dan menjauh.


"Yakin padaku, sayang. Meskipun aku pernah dekat dengan Monica, tapi aku tak pernah melakukannya," ucap Rendi lagi.


Bagaimanapun, Rendi tetap khawatir Tania tak percaya padanya. Apalagi sikap Danu yang masih meragukannya.


"Iya, Ren. Nanti kita buktikan sama-sama," sahut Tania.


Panas yang semakin menyengat, membuat keduanya merasa kurang nyaman berada di dalam gubug itu.


Gubug cinta bagi keduanya yang pernah jadi saksi pernyataan cinta Rendi pada Tania. Dan disitulah untuk pertama kalinya Rendi mencium Tania.


"Kita ke sana yuk, sayang." Rendi menunjuk ke sebuah pohon rindang.


Tania pun ikut menoleh.


"Di sana mungkin lebih nyaman. Lebih adem daripada di sini," ucap Rendi.


"Kamu enggak capek jalannya?" tanya Tania dengan khawatir.


Kalau Tania sendiri, masih kuat menopang tubuh Rendi. Karena Rendi pun tak terlalu memberatkan.


"Enggaklah. Nanti kalau aku capek, minta gendong kamu," ledek Rendi.


"Mana aku kuat, Ren. Badanku kan kecil," sshut Tania.


Rendi terkekeh. Mana mungkin dia benar-benar minta gendong Tania. Yang ada mereka akan jatuh bareng.


"Ya udah. Kalau gitu, aku yang akan menggendongmu," ucap Rendi.


"Memangnya kamu udah kuat?" tanya Tania.


"Ya paling jatuh bareng. Hahaha."

__ADS_1


__ADS_2