
Satu jam kemudian, dokter yang menangani Rendi datang kembali. Dia bersama seorang perawat, masuk lagi ke ruang ICU.
Sepertinya mau mengontrol kondisi Rendi lagi. Setelah beberapa saat, dokter itu keluar.
Dan seperti tadi, Sari dan Tono langsung mendekat.
"Gimana, Dokter?" Sari merasa tak sabar, ingin segera tahu perkembangan Rendi.
"Perkembangannya sangat bagus, Bu. Untung saja pendonornya tadi cepat didapat. Nanti sore bisa kami lakukan operasinya. Silakan Bapak dan Ibu ke bagian administrasi," ucap dokter.
"Baik, Dok." Tono yang segera menuju ruang administrasi. Dia ingin mengurusnya sendiri.
Tono berpikir, anggap saja sebagai penebus kesalahannya selama ini pada Rendi.
Tono akan bertanggung jawab sepenuhnya, dan berjanji akan memenuhi apapun keinginan Rendi.
Setelah menyelesaikan administrasinya dan menandatangani surat pernyataan, Tono kembali ke depan ruang ICU.
"Mana dokternya tadi, Ma?" tanya Tono.
"Masuk ke ruangannya. Tuh, ada perawatnya di luar. Kasihkan aja, nanti juga disampaikan ke dokternya," jawab Sari.
Tono pun memberikan semua berkas yang didapatnya dari bagian administrasi, pada perawat itu.
"Baik, Pak. Terima kasih. Nanti saya kabari, jam berapa mulai operasinya." Lalu perawat itu masuk ke ruangan dokter.
Tono kembali ke depan ruang ICU.
"Gimana?" tanya Sari. Sikap Sari masih jutek, meski Tono sudah berusaha bersikap baik.
"Nanti dikabari lagi, jam berapa mulai operasinya," jawab Tono.
"Kamu kalau mau pulang dulu, Ma. Nanti aku kabari kalau sudah dapat informasinya," ucap Tono.
"Kamu aja yang pulang! Kasihan tuh, istri muda kamu, dia pasti kangen sama suaminya yang tua bangka!" Sari menekan kata tua bangka, karena dia sangat benci pada Tono.
Hhmm. Tono hanya menghela nafasnya.
Jujur, Tono ingin memberitahukan pada Tania, kalau Rendi akan segera dioperasi.
Tapi Tono bingung mau mengabari siapa. Hape Yahya sudah hancur berantakan karena dibantingnya.
Wardi di telpon malah nomornya tidak aktif. Entah lagi kemana lagi dia. Mestinya Wardi sudah sampai ke rumah Tono lagi, kalau cuma mengantarkan Linda pulang.
Diman!
Ah, kenapa aku tak memanfaatkan Diman saja.
Tono menelpon Diman. Tapi sama saja, telpon Tono tak diangkat.
Kemana ini orang? Punya anak buah enggak ada yang beres. Gerutu Tono dalam hati.
"Aku keluar sebentar, Ma. Kamu mau aku belikan makanan?" tanya Tono.
Sari menatapnya dengan judes.
"Aku enggak butuh makanan dari kamu!" jawab Sari. Padahal perutnya sudah mulai lapar. Tapi Sari merasa gengsi.
"Ya udah." Lalu Tono berjalan pergi mencari ruangan Tajab.
__ADS_1
Dia yakin Diman ada di sana. Karena Diman memang ditugaskan Tono, untuk menjagai Tajab.
Dan benar saja. Tono melihat Diman sedang tidur di sebuah bangku panjang.
Dasar pemalas! Gumam Tono.
"Heh! Bangun!" Tono mengguncang lengan Diman dengan kasar.
"Hhmm...!" gumam Diman. Bukannya bangun, Diman malah cuma mengelap mulutnya saja. Lalu kembali tidur.
"Diman...! Bangun!" teriak Tono.
"Eit! Iya, siap!" Diman langsung duduk. Dan mengusap-usap matanya.
"Eh, Juragan. Ada apa?" tanya Diman yang belum konek. Nyawanya masih belum ngumpul.
"Gimana kondisi Tajab?" tanya Tono.
"Tadi udah sadar, Juragan. Tapi terus tidur lagi. Kata perawatnya, bang Tajab masih dalam pengaruh obat bius," jawab Diman.
"Ya udah. Kalau begitu, kamu aku kasih tugas baru," ucap Tono.
"Siap, Juragan. Tugas apa?" tanya Diman. Padahal matanya masih mengantuk. Tapi tak mungkin dia menolak perintah Tono.
"Kamu ke rumahku sekarang, katakan pada Tania kalau kondisi Rendi sudah membaik. Dan operasinya baru mau dilakukan nanti sore," ucap Tono.
"Operasi? Rendi anaknya Juragan?" tanya Diman.
"Iya. Siapa lagi?" sahut Tono.
"Mas Rendi kenapa, Juragan?" tanya Diman.
"Udah, enggak usah banyak tanya. Bilang saja begitu. Dan bilang sama Asih, buat menjaga Tania. Jangan boleh kemana-mana. Dia belum terlalu sehat!" sahut Tono dengan ketus.
"Apa lagi?" tanya Tono.
"Saya enggak punya ongkos, Juragan. Hehehe." Diman malah nyengir.
Tono mengambil dompetnya. Lalu memberikan uang pada Diman.
"Nih! Sekalian kamu cari si Wardi, suruh ke sini. Aku di depan ruang ICU. Di suruh nganter pulang si Linda malah ngilang!"
"Siap, Juragan!" sahut Diman.
"Kamu juga, kalau sudah selesai, cepat kembali. Tugas kamu menunggui Tajab!"
"Siap, Juragan!" Lalu Diman segera berjalan meninggalkan Tono.
Lumayan, bisa buat ngopi sisanya. Diman mengantongi uang pemberian Tono.
Tono pun pergi dari depan ruangan Tajab. Dia mau mencarikan makanan dan minuman buat Sari.
Tono tahu kalau Sari sebenarnya lapar. Karena dari sejak datang tadi, dia belum makan.
Tono sendiri juga lapar. Tono mencari warung makan di sekitar rumah sakit.
Kejadian demi kejadian yang menimpanya, membuat Tono malas untuk makan.
Diman sampai ke rumah Tono. Yahya membukakan pintu gerbang untuknya, setelah berkali-kali Diman menggedornya.
__ADS_1
"Dari mana kamu?" tanya Yahya.
"Jagain bang Tajab," jawab Diman, sambil berjalan masuk.
"Masih hidup dia?" tanya Yahya.
"Ngaco aja pertanyaanmu! Dia baru saja selesai operasi. Kakinya patah!" sahut Diman.
Sukurin! Batin Yahya yang kesal pada Tajab.
"Dimana Tania?" tanya Diman.
"Mau apa kamu, nyariin Neng Tania?" tanya Yahya.
"Aku disuruh juragan Tono, menemui Tania!" jawab Diman.
"Sebentar aku panggilkan!"
Yahya masuk ke dalam rumah. Diman menunggu di teras. Dia mau merokok.
"Woy, Yahya! Suruh si Asih bikinkan aku kopi!" seru Diman.
"Kamu pikir istriku tukang jualan kopi?" sahut Yahya sambil berjalan mencari Asih.
Yahya tak berani membangunkan Tania, yang kata Asih masih tidur.
"Bu. Bangunkan Tania. Diman mencarinya," ucap Yahya.
Asih sedang menyiapkan makanan untuk Tania.
"Diman? Mau ngapain dia mencari neng Tania?" tanya Asih.
"Enggak tau! Katanya disuruh juragan Tono," jawab Yahya.
Asih mengangguk dan langsung naik ke lantai dua. Kalau disuruh oleh Tono, pasti masalah Rendi. Dan Tania harus segera tahu.
Asih mengetuk pintu kamar Tania. Lalu menarik handle-nya. Tapi kamar Tania dikunci dari dalam..
"Neng! Neng Tania! Ini Bibik, Neng. Buka pintunya sebentar," ucap Asih, sambil terus mengetuk.
"Iya, Bik! Sebentar!" Tania meletakan ponselnya di atas tempat tidur. Dia dari tadi tak bisa tidur. Lalu mengaktifkan ponselnya.
"Ada apa, Bik?" tanya Tania setelah membuka pintu.
"Dicari Diman. Katanya Diman disuruh Tono menemui Neng Tania. Mungkin soal mas Rendi," ucap Asih.
Tania langsung bersemangat. Lalu dia segera turun menemui Diman.
"Ada apa?" tanya Tania setelah sampai di teras.
Asih berdiri di belakang Tania. Dia ingin tahu apa yang akan disampaikan oleh Diman.
Yahya pun keluar sambil membawa dua gelas kecil kopi.
"Nih, kopinya!" Yahya memberikan satu gelas untuk Diman.
"Non Tania. Saya disuruh juragan Tono untuk menyampaikan berita tentang mas Rendi. Kata juragan Tono, mas Rendi mau dioperasi nanti sore," ucap Diman.
Tania langsung tersenyum senang. Berkali-kali dia mengucap syukur. Itu berarti Rendi sudah melewati masa kritisnya.
__ADS_1
Dan berarti juga, darah Tania telah masuk ke dalam aliran darah Rendi.
Ren, meski nantinya kita tak bisa menyatu, tapi setidaknya, darah kita telah menyatu. Batin Tania.