HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 223 KENANGAN BURUK


__ADS_3

Di rumah mewah Tono, acara semakin seru saja. Dito menyetel musik dangdut biar makin meriah.


Danu, Diman, Wardi juga Yahya berjoged. Mereka saling berpasangan meskipun laki-laki semua.


Dan justru itu yang membuat acara semakin meriah. Gelak tawa memenuhi rumah Tono yang biasanya sepi, bak tak berpenghuni.


Asih pun yang sudah lima tahun ini hidup dikurung oleh Tono, ikut menggoyang-goyangkan pinggulnya.


Melihat Asih yang bagai ingin bergabung, Diman yang berpasangan dengan Yahya, mundur.


Lalu Yahya menghampiri Asih dan menarik tangannya. Dengan malu-malu Asih mengikuti Yahya. Dan ikut bergoyang dengan Danu dan Wardi.


Diman yang sejak Lintang datang, sering curi-curi pandang, menghampiri.


Kebetulan Lintang duduk agak jauh dari yang lainnya. Lintang masih belum bisa terbawa suasana. Pikirannya masih kacau.


Apalagi beberapa hari yang lalu, Haryo menelponnya. Menanyakan keberadaannya, juga keadaannya.


Dan begitu Lintang melihat Widya, langsung saja dia putuskan sambungan telpon Haryo.


Dan hubungan itu dilanjutkan dengan chat. Tapi dari chat yang dikirimkan Haryo, tak ada tanda-tanda Haryo akan mendatangi Lintang dan bertanggung jawab.


Haryo malah menceritakan tentang istrinya yang mulai berubah baik. Entah baik beneran atau karena di hotel sudah beredar kabar hubungan Lintang dan Haryo.


Pastinya kakak ipar Haryo yang menyampaikan berita itu. Dan istri Haryo mulai mau berubah.


Lintang jadi makin kesal pada Haryo. Bukannya memikirkan nasib calon anak mereka, malah membahas tentang istrinya terus.


Akhirnya daripada makin emosi, Lintang memblokir nomor Haryo.


Lintang berjanji pada dirinya sendiri dan calon anaknya, tak akan pernah mencari tahu tentang Haryo. Apalagi menuntut pertanggungjawabannya.


Kalau memang Haryo mau bertanggungjawab, Lintang sudah memberikan alamat rumahnya. Jadi tak ada alasan bagi Haryo untuk mengelak. Kecuali memang dia mau lari dari kenyataan.


Itulah yang membuat perasaan Lintang tidak baik-baik saja. Dia mau ikut ke rumah Tono, niatnya juga kepingin bisa melupakan masalah itu.


Tapi kenyataannya, tak semudah membalikan telapak tangan.


"Enggak ikutan joged?" tanya Diman pelan, setelah duduk di sebelah Lintang.


"Aku enggak bisa joged," jawab Lintang. Sebenarnya Lintang lagi malas bicara. Tapi berhubung merasa tidak enak, Lintang menjawab juga.


"Mau aku ajarin?" Diman berusaha sok akrab.


Lintang menoleh ke arah Diman. Lalu menggeleng.


Lintang tidak paham lagu-lagu dangdut, apalagi jogednya. Hanya sesekali saja mendengar kalau ada orang hajatan.


"Ooh. Ya udah. Duduk di sini aja. Kita ngobrol boleh, kan?" tanya Diman.


Tania melirik sekilas. Lalu kembali menikmati joged yang makin meriah aja. Karena Dito mengajak Mike turun juga.


Mike pintar berjoged, karena dia sering nongkrong di diskotik. Meskipun musiknya beda.


Eni pun ditarik Danu, juga Widya. Meski tubuhnya subur, tapi bisa juga bergoyang.


Tania dan Rendi hanya menatap saja. Sambil terus tertawa ngakak. Karena kadang ada yang bergaya lucu.

__ADS_1


"Mau aku ambilin minum lagi?" Diman melihat gelas yang dipegang Lintang sudah kosong.


"Enggak. Nanti aku ambil sendiri aja," tolak Lintang. Dia tak mau merepotkan Diman yang belum dikenalnya.


"Oh, iya. Ngomong-ngomong kita belum kenalan. Boleh kenalan?" Dengan sopan Diman bertanya.


Dari interaksinya ini, tak nampak sama sekali profesi Diman yang sebenarnya. Seorang centeng. Atau bahasa kerennya bodyguard.


Lintang mengangguk. Tak mungkin juga Lintang menolaknya. Karena menurut Lintang, Diman bagian dari keluarga Rendi.


Dengan semangat empat lima, Diman mengulurkan tangannya. Lintang menyambut.


"Dimantoro. Tapi orang-orang lebih suka memanggilku Diman," ucap Diman.


"Lintang," sahut Lintang singkat.


"Udah Lintang aja?" tanya Diman. Diman masih menggenggam tangan Lintang.


"Lintang Kinasih," jawab Lintang.


"Wouw. Nama yang sangat cantik. Secantik orangnya." Diman mulai menggombal.


Lintang menarik tangannya. Sambil tersenyum kecil.


Bagi Lintang, sudah biasa dia dirayu lelaki seperti itu. Tapi tak pernah ada yang ditanggapinya.


Bahkan dulu Haryo pun sering merayunya. Entah beneran atau sekedar bercanda saja. Karena Lintang kenal dengan Haryo, sudah menikah.


"Aku ambilin makanan ya. Enggak enak bgt kalau ngobrol enggak ada makanannya." Diman berdiri dan mengambil makanan juga minuman.


Dia ambil buat dirinya juga Lintang.


"Makasiih," ucap Lintang.


"Aku kayaknya baru lihat kamu?" tanya Diman.


Saat Diman mencari keberadaan Tania, sempat ke rumah Widya. Dia tak melihat Lintang.


"Aku baru aja kembali," jawab Lintang.


"Kembali? Dari mana?" tanya Diman lagi. Selama ini tak pernah sedikitpun ada yang membahas soal anaknya Widya ini.


Diman pun tak menyangka, Widya yang gembrot punya anak secantik Lintang. Sebelas dua belas dengan Tania.


"Aku kerja di luar kota," jawab Lintang.


"Ooh. Kota yang kemarin didatangi Tania sama keluarga kamu, ya?" tebak Diman.


Lintang mengangguk.


Sudah seminggu lebih. Tapi Lintang belum kembali ke kota itu.


"Sekarang kamu lagi cuti?" Diman makin penasaran.


"Resign. Udah ya, jangan nanya-nanya lagi. Aku capek," ucap Lintang.


Lintang merasa mereka baru saja kenal, tak mungkin juga dia menceritakan semuanya.

__ADS_1


"Oh iya, maaf," sahut Diman dengan sopan.


Diman menanyakan karena dia kepingin lebih mengenal Lintang. Tapi karena Lintang keberatan menceritakan, Diman pun menurut.


"Ini, makan kuenya." Diman mencoba mengalihkan pembicaraan. Biar Lintang enggak bete.


"Aku udah kenyang." Lalu Lintang berdiri.


"Mau kemana?" Diman kembali kepo.


"Ke toilet," jawab Lintang.


Lintang berjalan menghampiri Tania. Diman hanya menatapnya saja.


"Tania. Aku mau ke toilet," ucap Lintang.


Tono yang duduk di sebelah Rendi, mendengarnya.


"Tania. Antar ke toilet di kamar atas. Kamar kamu yang dulu," ucap Tono.


Tania dan Rendi terkesiap mendengarnya.


"Tapi...itu kan kamarnya...." Tania tak kuasa melanjutkan kalimatnya.


"Itu kamar kamu, Tania. Kamarnya Rendi juga. Aku tidak akan menempatinya lagi." Tono menjelaskan.


Tania menatap Rendi. Rendi mengambil tangan Tania dan mengecupnya.


"Antarkan mbak Lintang ke atas," ucap Rendi.


Tania mengangguk. Menurut.


"Ayo, Mbak," ajak Tania pada Lintang.


Lintang juga mengangguk, lalu mengikuti Tania naik ke atas.


Lintang masih belum berpikir macam-macam. Dikiranya itu adalah kamar yang disediakan orang tuanya Rendi untuk Tania nantinya.


Kondisi psikis Lintang yang belum sepenuhnya sehat, membuat Widya belum mau menceritakan pada Lintang, tentang kehidupan Tania.


"Wah...bagus banget kamarnya," ucap Lintang setelah masuk ke kamar Tono.


Kamar itu sudah sangat bersih. Asih merapikan dan mengganti sprei juga tirainya.


"Iya, Mabk. Di sana kamar mandinya." Tania menunjukan letak kamar mandi.


Tania duduk di sofa yang dulu sering digunakannya untuk tidur.


Lintang selesai dan keluar dari kamar mandi.


"Hebat, Tania. Kamar mandinya enggak kalah sama kamar mandi hotel," puji Lintang.


Tania hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Waah....ada balkonnya juga." Lintang berjalan ke arah balkon dan berdiri di sana.


Lintang terlihat sangat bahagia. Dia belum tahu, kalau di kamar ini, dulu Tania pernah disekap dan melewati hari-harinya yang sangat menyedihkan.

__ADS_1


Ingatan itu menyeruak di kepala Tania. Dan membuat kedua mata Tania panas.


__ADS_2