
"Biasalah. Kamu kayak enggak tau aja gimana Rendi. Makhluk paling songong sedunia," sahut Dito.
Tania masih mendengarkan dengan baik. Takut kalau Rendi dan Dito benar-benar berantem.
"Eh, kamu lagi telpon siapa, Sayang?" tanya Dito. Karena setelah Dito masuk kamar, obrolan di ponsel Mike berhenti.
"Tania. Kita lagi bahas buat rencana healing besok," jawab Mike.
"Owh. Oke, lanjutin deh. Aku mau beresin tugas kuliahku dulu. Besok kan kita enggak masuk kuliah." Dito kembali keluar kamar.
Mike pun kembali melanjutkan obrolannya dengan Tania.
"Hallo, Tania. Kamu masih ada di situ?" tanya Mike. Karena Tania tak ada suaranya.
"Masih. Tadi kamu ngomong apaan sama Dito?" tanya Tania masih penasaran.
"Ngomong yang mana? Aku kan cuma bilang kalau males dengerin dia ribut mulu ama Rendi," jawab Mike.
"Ribut gimana? Mereka berantem?" tanya Tania lagi dengan cemas.
Mike tertawa terbahak.
Tania semakin kebingungan. Gimana sih ini, orang katanya Dito dan Rendi ribut-ribut kok Mike malah ketawa.
"Santuy, Tan. Kamu kayak enggak tau mereka aja. Mau ngomongin apa, malah bahasnya apa. Sama gilanya mereka itu," jawab Mike dengan santai.
"Tapi mereka enggak benar-benar berantem kan?" Tania masih dengan rasa cemas.
Mike malah ketawa mendengarnya.
"Kok kamu malah ketawa sih?" Tania merasa kesal pada Mike.
"Ya abisnya kamu lucu. Mana ada mereka benar-benar berantem. Dari jaman SMA dulu juga gitu. Udah ah, gak usah mikirin mereka. Biarin aja mereka kayak gitu," ucap Mike.
Lalu Mike membawa Tania ke obrolan tentang rencana healing lagi. Mike lebih bersemangat daripada Tania.
Maklum saja, Mike hampir tak punya kesempatan berkumpul dengan keluarga besarnya.
Bahkan saat berkumpul pun, Mike malah merasa asing dengan mereka.
Mama dan papanya sibuk bekerja di luar kota. Kakak atau adik tak punya. Hubungan dengan saudara dari mama dan papanya pun jauh.
Mike bagai anak sebatang kara yang hanya diselimuti harta.
Untungnya ada Dito yang sangat menyayangi Mike. Meskipun Mike selalu bersikap over protektif.
"Gimana? Ada kabar apa lagi tentang Tania, sayang?" tanya Dito, setelah Mike selesai menelpon Tania.
Dito sedang mengerjakan beberapa tugas kuliahnya. Meskipun Dito terkesan orang yang cuek dan selengekan, tapi kalau urusan kuliah dia sangat serius.
Dito ingin bisa menyelesaikan kuliahnya tepat waktu. Walaupun untuk mengejar nilai tinggi terlalu sulit baginya, tapi minimal nilai-nilainya tak jeblog.
__ADS_1
Begitu juga yang dia tuntut dari Mike. Dito menginginkan hal yang sama pada Mike. Biar mereka bisa sama-sama lulus di tahun yang sama juga.
"Ya, biasalah. Kamu tau sendiri kan, gimana sifat Tania? Dia kan selalu saja merasa cemas. Bahkan sering merasa insecure. Kasihan juga sih," jawab Mike.
"Insecure gimana?" Dito menghentikan ketikannya di laptop.
"Kamu paham dong, jalan hidup Tania yang enggak mulus. Bahkan sangat menyedihkan. Dari situlah kecemasan-kecemasan dan insecure-nya muncul," terang Mike.
Dito manggut-manggut.
Dalam hati, merasa sangat bersyukur mendapatkan takdir yang jauh lebih enak daripada Tania dan Rendi.
"Terus rencana besok gimana?" tanya Dito.
"Kita langsung nyamper ke rumah Tania aja. Kata Tania, nanti bude Widya sama mbak Lintang juga udah nunggu di sana," jawab Mike.
"Terus Tania mau ikut di mobil kita juga?" tanya Dito lagi.
"Ya enggaklah. Nanti juga Rendi jemput Tania. Kita konvoy dari rumah Tania," jawab Mike.
Mike menatap Dito yang kembali asik dengan tugas-tugas kuliahnya.
"Banyak banget tugas kuliahmu, sayang?" tanya Mike.
"Iya. Besok kan kita mau pergi. Kalau enggak diselesaikan sekarang, lusa aku bakal kena omel dosen killerku," jawab Dito.
"Aku juga masih ada beberapa materi yang mesti aku googling." Mike meraih laptopnya sendiri.
Dito selalu mensupport Mike. Demikian juga sebaliknya.
"Ini juga mau aku kerjain. Oh, iya. Aku ambil kue yang tadi dulu."
Mike beranjak lagi dan menuju ke ruang makan. Dimana dia tadi meletakan kue yang dibelinya dekat rumah Tania.
Lalu menghidangkannya di meja.
"Banyak banget yang kamu beli, sayang," komentar Dito.
Ada satu piring besar penuh dengan aneka kue tradisional.
"Biar puas makannya. Kamu juga doyan, kan," sahut Mike.
Mike mengambil satu kue dan mulai memakannya sambil membuka laptop.
Dito memperhatikan cara makan Mike yang tak biasa. Biasanya Mike tak terlalu berminat pada makanan yang manis-manis. Apalagi kue tradisional yang harganya murah.
"Mau? Ambil aja," ucap Mike yang merasa diperhatikan.
Dito pun mengangguk. Lalu melakukan hal yang sama. Dia mengambil satu kue yang sama persis dengan yang dimakan Mike.
Ya, beberapa waktu terakhir ini, selera makan mereka berdua boleh dibilang naik drastis.
__ADS_1
"Bisa gemuk aku kalau ketemu kue-kue seenak ini terus," ucap Mike.
"Gak apa-apa kalau cuma gemuk dikit. Tapi jangan kegemukan juga," sahut Dito.
"Emang kenapa kalau aku terlalu gemuk? Kamu enggak mau sama aku lagi?" tanya Mike.
Mike kembali mengambil satu kue dan membuka bungkusnya.
"Tar gak lincah lagi. Hehehe." Dito terkekeh sambil mengunyah kuenya.
"Lincah mah teteplah. Malah semakin bertenaga, kan?" Mike paham apa yang dimaksud oleh Dito.
"Ya ya ya. Itu yang aku mau, sayang," sahut Dito.
"Hhmm. Maunya!" Mike mencibir pada Dito.
"Memangnya kamu enggak suka, bikin aku puas?" tanya Dito.
"Sukalah. Malah aku selalu berusaha memuaskan kamu kan, sayang," jawab Mike.
Dito krmbali terkekeh. Merasa bangga dan bahagia karena selama ini hidupnya sangat terpuaskan oleh Mike.
Apapun yang Dito maui, Mike selalu mencoba memenuhinya. Demikian juga Dito, selalu berusaha membuat Mike terpuaskan.
"Gimana kalau kita main lagi, sayang," ajak Dito sambil tersenyum nakal.
"Nanti ah. Aku selesaikan dulu browsingku. Tar yang ada malah enggak kelar-kelar," sahut Mike.
"Kelar lah. Kan nanti malam bisa dilanjutin."
Dito malah berdiri dan menghampiri Mike yang duduk di karpet depannya.
Lalu berjongkok di belakang Mike sambil memeluk dari belakang.
"Aduh, sayang. Jangan ganggu dulu, dong. Aku selesaikan ini dulu," tolak Mike.
"Ini bisa dilanjutkan nanti, lagi." Dito mulai menciumi Mike dari belakang.
"Sayang....Tahan dulu, ah." Mike berusaha menghindar.
Meski Dito selalu bawel dengan tugas-tugas kuliah, tapi kalau sudah menyangkut urusan yang satu itu, dia tak akan peduli lagi.
Dito pasti akan menuntaskannya dulu. Biar nanti lebih bersemangat lagi.
"Sayang....!" Mike masih berusaha menghindar.
"Sebentar aja, sayang. Nanti kita lanjutin lagi ngerjain tugasnya," ucap Dito.
Ya, apa mau dikata. Mike pun tak bisa menolak ajakan Dito.
Soal tugas kuliah, benar-benar mereka pending. Yang penting urusan yang satu itu terselesaikan.
__ADS_1