
Menjelang siang, Tono dan anak buahnya sampai di pantai tempat Rendi dan rombongan healing.
"Hallo, Ren. Papa udah sampai di dekat pantai. Kalian ada dimana?" tanya Tono menelpon Rendi.
"Iya, Pa. Kita lagi di pinggir pantai. Papa di sebelah mana?" Rendi menengok ke belakang. Mencari keberadaan Tono.
Tadi sesaat setelah Mike berhasil dihibur karena baper, Tania mengajaknya berjalan-jalan ke pinggir pantai.
Meski cuaca cukup menyengat, tapi gak afdol kalau ke pantai tapi cuma melihat dari kejauhan saja.
"Siapa, Ren?" tanya Tania yang berdiri di sebelah Rendi.
Dito yang jagain Rendi. Bahkan memapahnya saat berjalan menyusuri pantai.
"Papa. Katanya udah ada di dekat sini," jawab Rendi.
Tania pun ikut menoleh mencari keberadaan Tono. Begitu pula Dito dan Mike.
"Papa masih nyari parkiran. Mobil kalian parkir dimana?" tanya Tono. Matanya melihat mobil-mobil yang berjajar rapi.
"Kami parkir di dekat hotel Ax," jawab Rendi.
Hotel terbesar di area pantai. Bukan hotel tempat dimana Rendi dulu membawa kabur Tania.
"Oh...Oke. Kami coba cari parkiran di sana." Tono pun menyebutkan nama hotel itu pada Diman yang menyopiri mobilnya.
"Baik, Pak," sahut Diman. Lalu melajukan lagi mobil perlahan.
"Ren. Kalian tunggu di sini dulu, ya. Biar aku yang jemput papamu. Biar enggak kebingungan," ucap Dito pada Rendi.
"Ya. Jemput aja. Aku juga mau telpon Mila. Nanti kita gelaran di sebelah sana aja," sahut Rendi sambil menunjuk tempat dimana tadi dia dan Tania duduk-duduk sebelum ke kios bakso.
"Oke." Dito melepaskan tangannya dari tangan Rendi.
"Sayang. Kamu ama Tania jagain bayi semok ini dulu, ya," ucap Dito pada Mike.
Mike dan Tania jadi terkekeh mendengarnya. Rendi langsung menoyor kepala Dito.
Dalam keadaan yang mestinya serius, Dito masih saja meledeknya.
"Dasar kampret!" maki Rendi.
Dito cuma nyengir. Lalu pergi meninggalkan mereka. Dia akan mencari keberadaan Tono.
"Kalian itu sukanya ledek-ledekan terus, sih," ucap Tania.
"Mereka belum afdol kalau belum ledek-ledekan, Tan. Dunia seakan berhenti berputar," sahut Mike.
"Nah, itu paham," ucap Rendi sambil nyengir.
"Aku telpon Mila dulu, ya. Biar mereka pada ngumpul di sana," lanjut Rendi sambil menunjuk lokasi yang dimaksudnya.
"Mending kita kesana dulu aja, Ren. Biar lebih gampang," ucap Tania. Padahal maksudnya, Rendi butuh waktu yang lama buat sampai di sana.
__ADS_1
"Iya, Ren. Lagian di sini panas banget. Ntar yang ada kulitku gosong," timpal Mike.
Meski tadi Mike sudah melapisi kulitnya dengan sunblock, tapi panas yang menyengat membuatnya khawatir juga.
Beda dengan Tania yang tak peduli dengan teriknya matahari. Toh, Rendi tak protes. Lagipula Tania sudah dikaruniai kulit putih mulus. Tak perlu takut kulitnya gosong.
"Ya udah. Yuk," ajak Rendi.
Tania pun memapah tubuh tinggi besar Rendi perlahan. Mike menjagainya agar Tania tak oleng.
Tubuh Tania tergolong kecil. Agak repot juga memapah Rendi. Tapi mau bagaimana lagi. Tania merasa itu adalah salah satu kewajibannya.
"Gantian sini, Tan. Kamu pasti capek," ucap Mike di tengah jalan.
Mike merasa tak tega melihat Tania kepayahan. Tapi terlihat dipaksakan.
"Enggak usah, Mik. Aku masih kuat, kok," sahut Tania.
Tania juga tak akan tega membiarkan Mike bakal kepayahan sepertinya. Meski tubuh Mike sedikit lebih besar darinya.
Keadaan ini malah membuat Rendi jadi tak enak hati. Dia seorang laki-laki, untuk jalan saja mesti dipapah oleh wanita.
Tapi mau bagaimana lagi, memang kondisinya belum memungkinkan jalan sendiri. Apalagi di jalanan berpasir.
Dengan tertatih akhirnya sampai juga mereka ke tempat yang dituju.
"Duduklah...Ren..." ucap Tania dengan terengah.
Nafas Tania seperti mau habis. Dan setelah Rendi duduk, Tania pun meregangkan otot-ototnya sambil menghela nafas lega.
"Iyalah, capek. Lu pikir badan lu yang segede gajah itu enteng, apa?" Mike yang menyahutnya.
Rendi cuma nyengir. Meski sebenarnya badan Rendi tak besar seperti gajah juga.
"Dikit, Ren. Gak apa-apa," jawab Tania.
"Makasih, sayang. Kamu memang istri idaman," ucap Rendi.
"Ish. Gombal!" cibir Mike.
"Kamu ngapain sih, Mik? Sirik aja. Lu kan juga udah punya laki," tanya Rendi.
"Tapi kagak lebay kayak elu!" jawab Mike.
"Kagak lebay gimana? Dito mah bapaknya lebay!" sahut Rendi.
"Udah ah. Gitu aja pada ribut," ucap Tania.
"Laki lu, tuh. Lebay tapi kagak mau ngaku!" sahut Mike.
"Lah laki lu...."
"Rendi...!" Tania langsung memotong pembicaraan Rendi.
__ADS_1
Bukannya dia tak suka dengan candaan mereka. Tapi saat ini Tania sedang merasa sangat capek. Belum lagi cuaca yang panas menyengat. Meskipun angin bertiup semilir menyejukan.
"Iya, sayang. Maaf." Rendi pun memilih diam. Menurut pada Tania.
"Sukuriiin....!" Mike mencibir ke arah Rendi.
Rendi menatap gemas ke arah Mike. Kalau tak ada Tania, udah dia acak-acak rambut sebahunya Mike.
"Katanya mau nelpon Mila?" Tania mengingatkan Rendi.
"Oh iya. Lupa. Mike sih. Bawel!" sahut Rendi. Lalu mengambil ponselnya dari kantong celana.
"Lah...gue lagi disalahin. Elunya aja yang udah pikun!" Mike memulai lagi ledekannya.
Tania menatap tajam ke arah Rendi. Agar tak membalas ledekan Mike.
Rendi pun cuma bisa nyengir. Lalu menelpon Mila.
Mike tertawa senang. Dia bisa meledek Rendi tanpa ada perlawanan.
"Hallo, Mil. Kalian dimana?" tanya Rendi di telepon.
"Di hatimu. Hehehe," jawab Mila sambil terkekeh.
"Ish! Ini bocah!" Rendi menatap ke arah Tania. Kebetulan Rendi mengaktifkan loudspeaker hapenya.
Tania hanya diam saja. Dia sedikit paham karakter Mila yang juga suka bercanda.
Mike tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya.
"Waah...kayaknya bakalan ada kisah cinta majikan dan baby sitternya, nih! Hahaha....!" ucap Mila, lalu kembali tertawa.
"Eh, Mike! Jangan ngompor-ngomporin, ya!" ucap Rendi.
"Siapa yang ngompor-ngomporin? Gue kan cuma bilang, kayaknya. Jadi belum tentu dong," sahut Mike membela diri.
Di seberang telpon, Mila kebingungan karena Rendi tak juga bicara lagi. Suara deburan ombak membuat Mila tak begitu jelas mendengar candaan Rendi dan Mike.
"Hallo...Mas Rendi...!" seru Mila.
"Iya, hallo. Eh, Mila. Gue nanya serius ya. Kalian lagi ada dimana!" Bukan lagi kalimat tanya yang keluar dari mulut Rendi. Tapi bentakan. Karena Rendi tak mau Tania salah paham.
"Ish! Galak amat, sih...! Pelan ngapa nanyanya!" seru Mila juga.
"Kamu ditanyain juga malah ngajak bercanda. Buruan jawab!" seru Rendi.
"Jawab yang mana, nih?" Mila malah kebingungan lagi.
"Hadeh.... Sayang. Nih, kamu aja yang nanya ke Mila." Rendi menyerahkan ponselnya pada Tania.
Mila salah tanggap. Dikiranya Rendi memanggil sayang padanya.
"Iih...Mas Rendi so sweet banget sih...! Aku jadi melayang nih," ucap Mila.
__ADS_1
Tania, Rendi dan Mike tertawa terbahak-bahak.
"Mati deh, gue. Salah sasaran!" Rendi menepuk jidatnya sendiri.