
Yadi membawa mobil muter-muter kota saja. Dia pura-pura enggak tahu kemana Tono membawa Rendi.
Tono memang tak mengatakan kemana akan membawa Rendi. Tapi dia sudah tahu dari pesan chat yang dikirimkan oleh Diman.
Saat di angkot tadi, Diman mengatakan kalau di rumah Tono lagi ada pesta menyambut kedatangan Tania dan Rendi.
Diman juga mengirimkan video kebahagiaan mereka semua yang datang di acara itu.
Sebenarnya Yadi kepingin kesana. Tapi jelas tidak mungkin. Bisa dibantai oleh Tono, kalau dia tahu-tahu muncul.
"Kira-kira mereka kemana ya, Bu?" tanya Yadi.
Mereka sudah cukup lama muter-muter kota.
"Ke rumah Tono. Ya, kita ke sana!" jawab Sari.
Glek.
Bakalan perang dunia ini. Batin Yadi.
Tapi Yadi juga tak bisa menolaknya. Yadi cuma bisa mengangguk pasrah.
Mau menghubungi Diman pun, enggak mungkin. Karena posisinya yang lagi nyetir.
Kalaupun bisa, Yadi bakalan dituduh kongkalikong dengan mereka.
Ah! Masa bodolah. Aku mau nunggu di mobil aja. Batin Diman.
Mila yang dari tadi diam, ternyata tertidur. Maklum saja, dari tadi tak ada yang mengajaknya bicara.
Yadi tak berani mengganggunya, apalagi mengatakan pada Sari. Kasihan, nanti Mila malah kaget.
Yadi melajukan mobil ke arah rumah Tono. Untungnya jalanan agak macet, jadi Yadi tak perlu buru-buru membawa mobilnya.
Dan Yadi berharap, saat mereka sampai di sana, acara sudah selesai. Syukur-syukur Tania sudah pulang ke rumahnya sendiri.
"Macet amat sih, ini jalanan!" keluh Sari.
"Biasa, Bu. Waktunya makan siang. Banyak orang keluar cari makanan," sahut Yadi.
"Sok tahu kamu!" ucap Sari.
Sari lupa kalau Yadi mantan sopir angkot. Yang biasa berjibaku dengan kemacetan.
"Dulu kan trayek angkot saya di daerah ini, Bu," sahut Yadi.
"Kenapa kamu malah alih profesi? Bukannya jadi sopir angkot itu penghasilannya lebih gede?" tanya Sari.
Sari pun sengaja mengajak Yadi ngobrol. Biar dia tidak bete.
"Kalau angkot milik sendiri sih iya, Bu. Kalau saya kan angkotnya sewa. Tiap hari pusing mikirin setoran. Mana kalau ada kerusakan, juragannya enggak mau tau. Daripada tiap hari harus pusing mikirin setoran, mending kerja aja. Pikiran lebih tenang," jawab Yadi panjang lebar.
__ADS_1
Sebenarnya Yadi iri dengan Danu. Dia bisa punya angkot sendiri, meski dibelikan Tono. Dan kini kehidupan Danu jauh lebih baik. Dia tak perlu pusing-pusing mikir setoran.
Tapi apalah dayanya. Lima anaknya masih kecil-kecil. Belum bisa dia carikan jodoh yang kaya raya. Yang bisa membantu kehidupannya.
"Ooh. Terus apa gaji kamu sekarang cukup, untuk menghidupi keluargamu?" tanya Sari.
"Dicukup-cukupin, Bu," jawab Yadi.
"Padahal sebentar lagi istri kamu melahirkan. Bakal nambah biaya lagi itu," ucap Sari.
Yadi melirik ke arah Mila. Untungnya Mila terlelap. Terlihat dari mulutnya yang menganga.
"Iya, Bu," sahut Yadi.
Kalau saja Sari bukanlah majikannya, sudah dia bentak biar mau menutup mulutnya yang bawel.
"Lagian kenapa istri kamu enggak ikutan KB aja sih? Jadi kan enggak tiap tahun brojol!" ucap Sari.
Hadeh...! Bu Sari makin buka rahasia aja. Aku kan malu sama Mila. Udah pedekate, malah semua rahasia diumbar.
Yadi kembali menoleh ke arah Mila. Mila menggeliatkan badannya.
Dalam hati, ingin rasanya Yadi menepok-nepoki biar Mila terlelap lagi.
"Loh, kok kamu lewat sini? Bukannya malah lebih jauh?" tanya Sari.
Rupanya sambil ngomong, Sari juga fokus dengan jalan. Dan Sari juga hafal jalan ke arah sana. Meskipun Sari belum pernah mendatangi rumah Tono secara langsung.
"Ya udah. Terserah kamu deh. Yang penting cepet sampainya." Sari pasrah saja. Meski hafal jalannya, tapi Sari tak pernah paham kondisi jalanannya.
Yadi mencari cara lagi agar perjalanan bisa lebih lama. Tiba-tiba matanya melihat indikator bensin menunjukan satu garis.
"Bu. Bensinnya mepet banget, ya?" tanya Yadi. Kalau langsung minta mengisi bensin, takutnya malah disemprot oleh Sari.
"Tinggal berapa garis?" tanya Sari.
"Satu, Bu. Nih." Yadi menunjuk ke arah indikator bensin.
"Kira-kira cukup enggak, sampai sana?" tanya Sari.
"Kalau cuma sampai sana sih cukup, Bu. Tapi pulangnya ya enggak tau." Yadi menakut-nakuti.
Padahal sampai pulangpun, bensinnya masih cukup. Karena rumah Tono sebenarnya tak terlalu jauh. Cuma Yadi saja yang muter-muter.
"Ya udah deh, cari pom bensin. Masa iya, kita mesti dorong-dorong mobil." Sari pun pasrah.
Tahu begini lama, tadi mending aku jalan sendiri aja naik motor. Batin Sari.
Yes!
Yadi bersorak dalam hati. Dia senang. Minimal sudah bisa mengulur-ulur waktu.
__ADS_1
Dan ternyata semesta mendukung pikiran Yadi. Pom bensin yang dimasuki Yadi, antriannya panjang.
Yadi pun tersenyum lega.
Kalau orang lain, pasti bakalan mundur dan cari pom bensin lain. Karena Yadi lagi punya misi, sampai nanti malam pun Yadi tak akan mundur.
"Aduh...! Panjang lagi antriannya. Apa enggak ada pom bensin lainnya?" tanya Sari yang sudah mulai bete.
"Kalau dijalan ini, udah enggak ada, Bu. Adanya lebih jauh lagi. Gimana?" Yadi pura-pura menawari.
"Lebih jauh lagi? Gila kamu! Udah, ikut antrian di sini aja," sahut Sari.
"Solusi terakhir, beli bensin eceran," ucap Yadi asal jeplak.
"Itu lebih gila lagi! Mana ada mobil beginian belinya bensin eceran? Ada-ada aja, kamu!" Sari menepok jidatnya.
Kepalanya makin puyeng saja. Sari merasa sudah banyak membuang-buang waktunya.
Itu juga salah satu alasan Sari tak mau kalau ke pasar bawa mobil sendiri. Enggak bisa lewat jalanan kecil. Mana kalau pagi, jalanan juga macet.
Selain alasan lainnya, yaitu parkirnya susah. Meski naik ke lantai paling atas.
Beda dengan motor. Bisa numpang parkir di depan toko salah satu teman Sari.
"Mila kok enggak ada suaranya?" tanya Sari.
Yadi menoleh ke arah Mila.
"Ketiduran dia, Bu," jawab Yadi.
"Ooh, ya udah. Biarin aja. Lagian dia belum ada gunanya," sahut Sari.
Enak banget. Coba aku belum ada gunanya juga. Kan aku bisa tidur dan tak punya beban pikiran kayak gini.
Setelah mengantri cukup lama, akhirnya giliran mereka tiba.
"Nih, uangnya." Sari memberikan uang pada Yadi.
Dan setelah urusan bensin selesai, Yadi pun kembali melajukan mobil.
"Jalannya jangan kayak keong dong, Yadi. Kamu bisa nyetir enggak sih?" Sari protes karena dari tadi Yadi bawa mobilnya lelet banget.
"Iya. Kalau enggak bisa nyetir, sini biar aku yang nyetir!" Mila tiba-tiba bangun dan komentar.
"Kayak bisa nyetir aja, kamu!" sahut Yadi.
"Bisalah. Nyetir ambulan aja aku bisa," ucap Mila.
Yadi dan Sari terbahak-bahak mendengarnya.
"Ngigo nih, anak!" Yadi mengacak rambut Mila dengan gemas.
__ADS_1