
"Tenang, Neng. Tadi Neng Tania kan beli pasta. Gimana kalau Bibik masakin pastanya?"
"Memangnya Bik Asih bisa masaknya?" tanya Tania.
"Kan bisa lihat di youtube. Hehehe." Asih nyengir. Karena dia belum pernah sekalipun memasak pasta. Makan aja baru tadi di mall bareng Tania.
"Ya udah, Mang. Mana, pinjem hapenya lagi." Tania menoleh ke arah Yahya.
"Yee....malah ditonton lagi!" Ternyata Yahya lagi asik menonton rekaman video tadi.
"Hapus aja, Neng! Kesenengan dia, liatin bodynya Linda terus!" seru Asih. Matanya menatap kesal ke arah Yahya.
Yahya hanya nyengir seperti tanpa dosa.
"Jangan dulu, Bik. Hapusnya nanti kalau Tono dipastikan udah melihatnya," sahut Tania.
"Lho, kata Neng Tania tadi udah dibuka videonya sama Tono?" tanya Asih.
"Iya. Tapi kan kita enggak tau, yang liat Tono apa bukan? Siapa tau anak buahnya," sahut Tania.
Asih mengangguk mengerti.
"Udah, sekarang kita masak pastanya. Yang penting hapenya nanti dipegang Bibik dulu." Tania melirik ke arah Yahya.
Yahya hanya menghela nafasnya. Lalu dia keluar, menunggu Tono pulang di teras.
Sementara Tono benar-benar marah. Apalagi saat melihat kiriman video dari nomor Yahya.
"Bangsat, kamu Tajab!" Tono berkali-kali memaki.
"Wardi! Kamu bisa nyetir lebih cepat enggak?" teriak Tono.
Wardi jadi pelampiasan kemarahan Tono.
"Iya, Juragan. Ini udah paling cepat. Jalanannya kan gelap dan rusak," jawab Wardi.
Wardi memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tapi karena jalanan banyak yang berlubang dan rusak, membuat Wardi harus ekstra hati-hati.
Perjalanan yang memakan waktu hampir dua jam, membuat Tono yang energinya habis untuk marah-marah, akhirnya tertidur.
"Bos. Bos. Bangun. Kita udah sampai." Diman membangunkan Tono yang terlelap dengan mulut menganga.
"Hah! Sampai mana?" tanya Tono yang terbangun karena terkejut. Padahal Diman membangunkannya perlahan.
"Sampai rumah, Bos," jawab Diman.
"Hah? Mana Tajab? Mana pelacur itu?" tanya Tono dengan kebingungan. Nyawanya belum kumpul.
"Saya enggak tau, Bos. Mungkin mereka masih ada di dalam," jawab Diman lagi.
Tono segera turun, lalu meregangkan ototnya. Berusaha mengembalikan kesadarannya.
Setelah merasa sadar, Tono menelpon kenalannya yang seorang anggota polisi. Tono mengatakan kalau dia sudah sampai di rumahnya.
__ADS_1
Linda dan Tajab yang melihat mobil Tono pulang dari pintu balkon, semakin panik.
"Gimana ini? Dia udah pulang!" Linda tak bisa menyembunyikan kepanikannya.
Tajab yang dari tadi asik merokok, hanya bisa mendengus kasar.
Bagaimana pun dia harus menghadapi kemarahan Tono. Dan resikonya, dia bakal dipecat oleh Tono.
Tak lama setelah Tono masuk rumah, sebuah mobil polisi datang ke rumah Tono.
Rupanya tadi saat di jalan, Tono menghubungi kenalannya itu. Tono mengatakan tentang kejadian itu dengan mengirimkan video penggerebegan tadi.
Dan Tono rela membayar mahal, asal polisi bisa menangkap Tajab juga Linda.
Linda semakin panik, melihat mobil polisi ikut masuk ke halaman rumah Tono.
"Kenapa ada mobil polisi juga?" tanya Linda.
Tajab berdiri dan melihatnya juga dari pintu balkon.
"Hhh! Rupanya si tua bangka itu lapor polisi. Mati aku!" Tajab mematikan rokoknya. Lalu mengunci pintu kamar Tono dari dalam.
"Mau apa, kamu?" tanya Linda ketakutan.
"Kamu tetap diam di sini. Aku akan turun lewat balkon," jawab Tajab.
"Terus aku bagaimana?" tanya Linda. Dia tak mau menghadapi Tono dan polisi sendirian.
"Aku enggak mau!" seru Linda.
"Terus maumu, apa? Berani kamu turun lewat balkon itu?" Tajab menunjuk ke pagar balkon yang tinggal beberapa jengkal di depannya.
Linda berlari ke arah pagar. Dia melihat ke bawah.
Waduh! Bisa mati aku kalau sampai jatuh. Batin Linda.
"Ayo turun, kalau berani!" tantang Tajab.
Linda menggelengkan kepalanya. Dia membayangkan kalau dirinya sampai jatuh, bisa patah tangan dan kakinya. Bahkan kepalanya bisa pecah dan dia akan mati.
"Aku takut," sahut Linda.
"Makanya diam aja di sini!" bentak Tajab.
"Heh, Tajab! Keluar kamu! Kalian sudah dikepung!" seru Tono sambil menggedor-gedor pintu kamarnya.
Linda semakin panik. Tajab pun tak kalah paniknya.
Perlahan Tajab melompati pagar pembatas balkon lalu berusaha turun.
Linda bukannya diam, dia malah berteriak-teriak takut ditinggal oleh Tajab.
"Tajab! Jangan tinggalin aku! Tajab! Aku takut!"
__ADS_1
Linda berdiri di pinggir pagar, tangannya berusaha meraih Tajab agar membawanya pergi.
Tajab yang mendengar teriakan Linda, menoleh ke atas. Dan apes. Kaki Tajab tergelincir.
Blub!
Tubuh Tajab meluncur ke bawah dan dia jatuh ke atas kerikil yang sering dipakai Tono untuk teraphi telapak kakinya.
"Tajab....!" Linda langsung pingsan bersandar di pagar pembatas, begitu melihat tubuh Tajab tak bergerak, dan bersimbah darah.
Semua orang yang tadi berada di depan pintu kamar Tono, berlari turun.
Polisi segera melihat kondisi Tajab.
"Masih hidup," ucap polisi kenalan Tono.
"Telpon ambulan!" perintahnya pada polisi satunya.
"Itu yang perempuan pingsan!" tunjuk kenalan Tono. Lalu dia segera naik ke atas lagi.
Dengan dibantu Wardi dan Diman, mereka berhasil mendobrak pintu kamar Tono.
Linda di bawa ke atas tempat tidur. Asih dan Tania berusaha menolong Linda agar siuman.
"Kok malah begini ya, Neng?" ucap Asih dengan sedih.
Dia tak menyangka sama sekali kalau semua akan berakhir seperti di film-film action.
"Hukuman buat mereka, Bik," jawab Tania. Meskipun dalam hatinya, Tania juga tak menyangka sama sekali.
Tajab dibawa mobil ambulan ke rumah sakit. Ditemani Wardi dan Diman.
Bagaimana pun Tajab adalah teman mereka. Sahabat mereka, bahkan senior mereka. Karena Tajablah yang paling lama ikut Tono.
Melihat hal ini, Tono jadi tak tega. Akhirnya dia bilang pada polisi akan menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan saja.
Dan soal Tajab yang dilarikan ke rumah sakit, tentu saja akan jadi tanggungan Tono. Karena Tono tak pernah memikirkan kartu jaminan kesehatan buat anak buahnya.
"Ya sudah. Kalau begitu, kami permisi. Kalau ada masalah, bisa hubungi kami kembali," ucap polisi kenalan Tono.
"Ya, makasih, Pak. Saya jadi malu. Masalah keluarga saya, orang lain jadi tau," sahut Tono.
"Enggak apa-apa, Pak Tono. Tugas kami sebagai polisi untuk membantu masyarakat," ucap kenalan Tono.
Tono naik ke kamarnya. Linda sudah setengah sadar. Tono yang di jalan tadi sudah emosi, tak tega melihat Linda yang sedang tak berdaya.
"Asih. Bawa dia ke kamar tamu. Suruh istirahat di sana. Besok pagi, aku akan memulangkannya ke kampung!" perintah Tono pada Asih.
"Baik, Pak," jawab Asih dengan patuh.
Linda membelalakan matanya. Lalu menatap wajah Tono dengan tatapan memelas.
"Aku tak mau dipulangkan!"
__ADS_1