HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 258 BUKAN CINTA SEGITIGA


__ADS_3

Tono merasa lega bisa menceritakan masalahnya pada Mila. Meskipun Mila tak memberikan solusi apapun.


Bagi Tono, sudah cukup dia keluarkan semua ganjalan yang membuat dadanya nyesek.


Mila pun hanya bisa menghela nafas. Dia hanyalah seorang gadis muda yang belum pantas memberikan solusi untuk masalah serumit itu.


"Bapak mau saya ambilkan minum?" tanya Mila.


Setelah banyak cerita, siapa tahu Tono merasa haus. Tapi segan mengatakannya pada Mila.


"Boleh, Mil. Tapi aku pinginnya teh hangat. Gulanya sedikit aja," jawab Tono.


"Baik, Pak. Saya buatkan. Bapak istirahat aja dulu. Enggak lama kok," ucap Mila dengan senyuman mengembang.


Lalu dengan langkah riang seperti biasanya, Mila turun ke lantai bawah.


Di ruang tamu, terlihat Rendi masih asik bicara lewat telpon. Mila mengabaikannya dulu. Dia mau mengurus Tono yang lagi butuh perhatiannya.


"Mbak. Tehnya pak Tono dimana?" tanya Mila pada Sri.


Tono tak mau sembarangan minum teh. Hanya merk-merk tertentu saja yang dimauinya. Gula yang dipakainya pun bukan gula biasa. Tono takut kadar gula darahnya naik.


"Itu. Di lemari kitchen set tuh." Sri menunjuk ke kitchen set yang dimaksudnya.


"Pak Tono minta teh?" tanya Sri.


"Iya. Haus abis ngoceh terus dia. Hehehe," jawab Mila bercanda.


"Ngoceh....kamu pikir burung?" Sri malah mengambilkan apa yang dibutuhkan Mila. Takutnya salah, malah enggak keminum.


"Mbak Sri aja deh yang bikinin sekalian. Biar gak salah, ya?" pinta Mila.


Sri yang lagi menyiapkan menu makan, mendengus kesal. Tapi benar juga sih. Sri biasanya yang selalu membuatkannya.


"Mbak Sri udah tau soal cinta segitiga?" tanya Mila.


Yang ditangkap Mila dari cerita Tono, mereka terlibat dalam cinta segitiga. Karena di pikiran Mila, kalau sampai menikah, berarti ada rasa cinta.


Menurut Mila, Tono mencintai Tania. Tapi Tania malah mencintai Rendi.


"Cinta segitiga?" tanya Sri tak paham.


Mila mengangguk.


"Siapa yang cintanya segitiga?" tanya Sri makin tak paham.


"Loh, memangnya Mbak Sri belum tau?" Mila balik bertanya.


Sri menggeleng.


"Pak Tono yang menikahi Tania. Tapi Tanianya malah cintanya ama mas Rendi," jawab Mila.


"Hush! Ngaco aja, kamu!" Sri menoyor bahu Mila.

__ADS_1


"Kok ngaco? Memang benar gitu kan?" Mila tak mau disalahkan.


"Memangnya pak Tono ceritanya gimana?" tanya Sri.


"Ya...begitu," jawab Mila tak jelas.


"Begitu gimana? Jangan bikin fitnah kamu!" Sri malah menuduh Mila.


"Bukan fitnah. Ini sesuai cerita pak Tono," sahut Mila.


"Kamu kali, yang salah tangkap," sahut Sri.


"Memangnya yang bener gimana?" tanya Mila.


"Kalau setahuku begini. Pak Tono itu menikahi Tania. Kalau boleh aku perkirakan, Tania dipaksa menikah. Padahal Tania udah punya hubungan sama mas Rendi."


Sri menoleh ke belakang. Khawatir ada yang mendengarnya. Meskipun dia sudah bicara dengan suara pelan.


"Iya. Itu berarti pak Tono mencintai Tania, kan?" tanya Mila.


Mila belum tahu track record Tono yang sering berganti istri dan menikah hanya karena nafsu. Bukan cinta seperti yang dikatakan Mila.


"Ah, kamu enggak tau, sih." Sri melanjutkan membuat tehnya.


"Makanya kasih tau dong," pinta Mila.


"Iya, nanti. Nih, kasih ke pak Tono dulu." Sri memberikan cangkir yang sudah siap dengan teh kesukaan Tono.


"Oke. Tapi janji ya, cerita sama aku," pinta Mila.


Mila pun tersenyum. Lalu membawa cangkir teh ke lantai atas.


Mungkin karena terlalu lama menunggu Mila datang, atau Tono memang kelelahan, sampai di kamar Rendi, Tono sudah tertidur.


"Yaa...malah tidur," gumam Mila.


Lalu Mila meletakan cangkir di atas meja. Dan menyelimuti Tono dengan rapi.


Setelah beres, Mila pun kembali ke dapur. Dia menagih janji Sri yang akan cerita tentang cinta segitiga.


"Mil. Kamu bantuin aku siapin ini." Sri malah memberikan mangkuk sup pada Mila.


"Taruh dimana ini?" tanya Mila menurut.


Bukan karena ada maksud ingin diceritain oleh Sri. Mila memang selalu membantu Sri menyiapkan makan buat keluarga Tono.


Karena Mila sendiri, tak banyak pekerjaan. Setelah urusan Rendi selesai, Mila sudah tak punya kesibukan lagi.


Rendi selalu menolak kalau serba dibantu Mila. Bukan karena tak suka pada Mila. Tapi karena Rendi ingin belajar mengerjakannya sendiri. Agar dia tak ketergantungan pada siapapun.


"Di atas mejalah. Masa di kamar!" jawab Sri.


Seperti biasanya, Sri selalu menjawab dengan asal. Dan Mila pun yang juga sejiwa dengan Sri, tak pernah merasa tersinggung.

__ADS_1


"Ya kali, kita mau makannya lesehan," sahut Mila.


Lalu dia meletakannya di atas meja. Dan merapikan semua yang ada di meja.


"Mbak. Ayo cerita dong. Katanya tadi mau cerita." Mila menagih janji Sri padanya.


"Cerita apa?" tanya Sri. Dia benar-benar lupa pada janjinya.


Ck! Mila berdecak sebal.


Sri menatap Mila penuh tanda tanya. Sri benar-benar sudah lupa, karena pekerjaannya di dapur yang banyak.


"Cinta segitiga. Gimana sih? Masa baru tadi, udah lupa!" jawab Mila.


"Ooh, itu. Ya sebentar. Aku selesaikan ini dulu." Sri masih sibuk menuang lauk yang lain ke atas piring.


Mila pun dengan sabar menunggu. Karena Mila tahu watak Sri. Dia kalau lagi kerja, tak mau diganggu. Sampai pekerjaannya benar-benar selesai.


"Udah mateng, Sri?" tanya Yadi yang muncul dari pintu belakang.


"Udah. Tuh." Sri menunjuk ke atas meja makan dengan dagunya.


"Jangan yang itu. Aku disisain, enggak? Laper nih," tanya Yadi.


"Eh, Pak Yadi yang paling ganteng sedunia fana. Kita itu cuma pekerja di sini. Kalau mau makan ya nanti. Nunggu majikan selesai makan dulu. Baru sisanya silakan dimakan," jawab Sri.


"Yaelah, Sri. Mereka kan makannya entar. Masa iya, aku nahan laper sampe entar," sahut Yadi.


Yadi baru makan pagi tadi. Sri sendiri siang tidak masak. Karena siang tak ada orang di rumah. Hanya dia dan Yadi.


"Belajar prihatin!" Sri tak mempedulikan Yadi yang memelas karena kelaparan.


"Hhh! Pelit amat!" Yadi lalu mencari mie instant yang biasa disimpan Sri di lemari.


"Nyari apa, Pak Yadi?" tanya Mila.


"Mie instant. Enggak apa-apa deh, cuma diisi mie instant. Daripada kelaparan," jawab Yadi.


Tak lama Yadi menemukan mie instant yang dicarinya.


Mila jadi kasihan melihat Yadi yang sepertinya merasa sangat lapar.


"Sini aku buatkan." Mila mengambil mie instant dari tangan Yadi.


"Tuh, jadi orang kayak Mila. Baik hati. Enggak kayak kamu, Sri. Pelit!" ucap Yadi memanas-manasi Sri.


"Masa bodo!" Sri tetap tak peduli pada Yadi.


Tadi Sri sempat mendengar Sari marah pada Rendi. Dan Sri tak mau dia nanti jadi sasaran kemarahan Sari, karena terlambat pekerjaannya.


"Tapi ada syaratnya, Pak," ucap Mila.


"Yaelah, Mila! Mau bikinin aja pake syarat segala. Udah, apa syaratnya?" Yadi mau melakukan apapun asal perutnya bakal terisi.

__ADS_1


"Ceritakan aku tentang cinta segitiga!"


__ADS_2