
Yadi tercenung sejenak.
"Cinta segitiga?" tanya Yadi tak paham.
Mila mengangguk.
"Cerita sinetron? Di stasiun tv mana?" tanya Yadi mengira-ngira.
"Iih, bukan cerita sinetron!" Mila menghentakan kakinya dengan kesal.
Sri tertawa melihatnya. Tapi tak berniat meluruskan. Karena dia sendiri masih sibuk.
"Terus, cerita cinta segitiga yang mana lagi?" Yadi benar-benar tak paham.
Mila melirik Yadi dengan sinis. Lalu kembali mengaduk mie instantnya.
"Cinta segitiga apaan, Sri?" tanya Yadi pada Sri.
"Auk...!" Sri mengangkat bahunya.
Yadi menarik satu kursi. Lalu duduk menunggu mie instant yang dibuatkan Mila selesai.
"Pak. Aku itu tadi diceritain sama pak Tono...."
"Sstt...! Jangan kenceng-kenceng ngomongnya." Sri memberikan kode pada Mila.
Mila pun benar-benar berhenti bicara. Lalu menoleh ke belakangnya.
Setelah mie instant buatannya jadi, Mila membawanya mendekat ke arah Yadi.
"Makannya di belakang aja ya, Pak," ucap Mila masih memegangi mangkuknya.
"Hhmm! Bilang aja minta diceritain!" cibir Sri.
"Biarin. Weekk!" Mila menjulurkan lidahnya. Lalu jalan mendahului Yadi.
Di halaman belakang ada bangku panjang yang awalnya digunakan untuk bersantai keluarga dan acara-acara kecil out door.
Tapi sekarang malah sering digunakan Yadi untuk tiduran saat lelah mengurus halaman.
Meski begitu, kebersihannya tetap terjaga. Yadi selalu rajin membersihkannya.
"Duduk di sini aja, Pak." Mila meletakan mangkuknya dan duluan duduk.
Yadi pun ikutan duduk di sebelah Mila. Menggeser mangkuk mie instantnya dan mulai menghirup aroma harum yang menyeruak.
"Hem...sedap....!" gumam Yadi.
"Kayaknya lebih sedap lagi kalau kamu mau ambilin nasi, Mil," ucap Yadi.
"Pak. Mie instant ini karbohidratnya tinggi. Masih mau ditambah nasi?" tanya Mila.
"Biar kenyang sekalian, Mil. Jatah makannya kan masih lama. Noh, si Sri pelit banget!" Yadi menunjuk ke arah dapur dengan dagunya.
"Bukan pelit, Pak. Tapi kasih kesempatan buat majikan makan duluan. Masa majikan makan sisa kita," bela Mila.
Meski baru sekali ini kerja di rumah orang lain, Mila cukup paham hal-hal begituan.
"Iya, deh. Sekarang ambilin nasi sana. Kalau ada tempe, sekalian juga enggak apa-apa. Hehehe." Yadi nyengir sambil mengedip-ngedipkan matanya.
__ADS_1
"Sayur supnya sekalian enggak?" goda Mila.
Yadi melongo.
"Emang boleh, Mil?" tanya Yadi.
Dalam hati Yadi, kalau sama sayurnya boleh, ngapain tadi dia bikin mie instant.
"Weekk...!" Mila menjulurkan lidahnya, lalu masuk ke dapur.
"Mbak. Bagi nasinya, ya," pinta Mila pada Sri.
"Kamu mau makan juga?" tanya Sri.
"Pak Yadi, noh." Mila menunjuk ke arah belakang dengan dagunya.
"Makan mie instant kok pake nasi. Karbo ketemu karbo," gumam Mila.
"Kalau dia mah udah biasa, Mil. Ambilin sana yang banyak. Biar enggak rewel lagi," sahut Sri.
"Rewel gimana, Mbak?" tanya Mila.
"Ya gitu. Bentar-bentar ngelongok ke dapur, nyariin makanan," jawab Sri.
"Ooh. Kirain rewel kayak anak kecil," sahut Mila.
"Ya kayak gitulah." Sri mengambilkan ayam goreng yang potongannya lebih kecil dan tak disajikan di meja makan.
"Nih. Kasihan kalau cuma lauk mie instant," ucap Sri.
Sri sebenarnya baik sama Yadi. Tapi karena tadi dia lagi sibuk, jadi melarang Yadi mengambil makan.
"Hhmm. Ya udah. Ambilin sana." Sri keluar dari dapur. Dia mau melihat apa para majikannya sudah siap untuk makan apa belum.
Mila mengambil satu potong tempe sesuai request Yadi. Demi mendapatkan info tentang cerita cinta segitiga yang didengarnya dari Tono.
Mila kembali ke belakang sekalian juga membawakan air putih. Daripada nanti dia kembali disuruh oleh Yadi.
"Nih." Mila meletakan piring nasi di depan Yadi.
"Alhamdulillah....benar-benar calon istri idaman ini," puji Yadi.
"Hhmm. Gak usah muji-muji. Aku gak mau jadi istrimu!" Mila mencibir Yadi.
"Lah, siapa yang mau ngawinin kamu, Mila. Aku kan cuma bilang calon istri idaman," sahut Yadi.
Mila melirik dengan kesal. Dia sudah geer saja dipuji Yadi. Ternyata salah persepsi.
Untungnya tak ada orang lain di situ. Jadi Mila tak seberapa malu.
Mila kembali duduk. Sambil melihat Yadi yang mulai makan dengan lahap.
"Pak. Aku mau nanya," ucap Mila.
"Nanya apaan? Huhaah...!" Yadi kepedesan, karena Mila memberikan cabai juga pada mie instannya tadi.
Yadi meraih gelas yang berisi air putih.
"Pedes banget, Mila. Kamu kasih cabe berapa biji sih?" tanya Yadi setelah minum.
__ADS_1
"Cuma satu. Tapi cabe setan yang besar, terus aku potong-potong. Hehehe." Dengan tanpa rasa bersalah, Mila nyengir.
"Tadi nanya dulu, kek. Aku kan enggak terlalu suka pedes Untung ada ayam sama tempe gorengnya." Yadi langsung melahap keduanya untuk mengurangi rasa pedas.
"Mana aku tau. Kalau mie instant kan enaknya pedas. Biar mak nyus," sahut Mila.
Di mess perawat, Mila pun sering bikin mie instant dengan banyak potongan cabai, kalau lagi malas keluar beli makan.
"Makanya nanya, kalau enggak tau!" Yadi masih saja menyalahkan Mila.
"Ih, malah nyalahin aku. Udah dibikinin juga!" Mila langsung cemberut.
"Siapa suruh bikinnya pedes banget. Kan jadi kurang nikmat makannya." Yadi tetap saja tak mau mengalah.
"Ya udah, kalau protes mulu!" Mila yang sudah kesal, menarik mangkuk mie instant.
"Eh, jangan Mila. Entar aku makan apaan?" Yadi pun berusaha mempertahankan mangkuknya.
"Katanya pedas? Katanya kurang nikmat?" Mila sudah sangat kesal karena hasil masakannya diprotes.
"Baper...! Enak deh, enak. Nikmat banget, Mila. Lepasin dong," rayu Yadi agar Mila melepaskan tangannya dari mangkuk.
Mila melepaskan tangannya sambil manyun.
"Jangan manyun gitu, ah. Bikin aku kepingin...." Yadi sengaja menggantung kalimatnya.
"Kepingin apaan?" tanya Mila dengan suara keras.
"Kepingin ngabisin mie-nya. Hahaha." Yadi tertawa ngakak.
"Iih, Pak Yadi!" seru Mila sambil mencubit perut Yadi.
Mila kembali merasa di php perasaannya sendiri.
"Aduh...aduh....sakit, Mila! Jangan nyubit perut dong. Nyubit yang lainnya aja!" Yadi kembali menggoda Mila.
Mila sudah berpikiran jauh. Pasti yang dimaksud Yadi, mencubit bagian sensitifnya.
"Enak aja!" ucap Mila sambil melengos.
"Nih!" Yadi memberikan lengannya. Kalau bagian lengan, Yadi tak bakalan sakit dan geli. Karena lengan Yadi lumayan kekar.
Mila memukul-mukul lengan Yadi dengan rasa malu yang kembali menyeruak.
"Pak Yadi jelek!" seru Mila sambil terus memukul.
"Tapi suka, kan?" goda Yadi lagi.
Mila melotot ke arah Yadi.
"Heh! Kalian ngapain, sih? Berisik aja!" hardik Sri yang tahu-tahu sudah ada di dekat mereka.
Mila dan Yadi menoleh ke arah Sri.
"Mila! Dipanggil mas Rendi, tuh!" ucap Sri.
Sejenak Mila terdiam. Dipanggil Rendi, padahal dia belum sempat nanya ke Yadi soal cinta segitiga itu.
Hhh! Gara-gara pak Yadi, aku jadi lupa nanya. Gerutu Mila sambil berdiri dan meninggalkan Yadi.
__ADS_1