
Yahya yang mendengar pembicaraan Tania dengan Tono, ikut geram.
Sebenarnya lebih karena Yahya merasa cemburu pada Tajab. Yahya juga sangat menginginkan Linda. Tapi apa daya. Belum apa-apa udah ketahuan Asih.
Bahkan sampai sekarang Asih masih marah padanya.
Yahya menyudahi makannya, lalu berdiri.
"Mau kemana, Mang?" tanya Tania.
"Menghajar Tajab!" jawab Yahya dengan geram.
"Ngapain kamu repot-repot menghajar Tajab? Cemburu?"
Ternyata Asih dari tadi memperhatikan dari pintu kamarnya. Bahkan mendengar Tania menelpon Tono.
"Enggak, Bu. Ini tak bisa dibiarkan. Mereka melakukan zina di rumah ini. Aku kan tinggal di rumah ini, bagaimana kalau juragan Tono menyalahkanku? Karena membiarkan mereka berzina di kamarnya?" sahut Yahya berapi-api.
Asih mengangguk. Benar juga apa yang dikatakan Yahya.
"Kalau begitu, kita grebeg rame-rame aja!" sahut Asih.
"Sebentar...sebentar." Tania mengambil lagi hape Yahya. Lalu membuka mode video.
"Ayo! Aku akan merekam semuanya. Buat bukti. Bisa saja kan, mereka ngeles?"
Yahya dan Asih mengangguk. Lalu bergegas naik ke lantai dua.
Tania mulai merekam saat Yahya menggedor pintu kamar Tono, bahkan berteriak memanggil nama Tajab dan Linda.
"Tajab! Linda! Keluar kalian!"
Linda dan Tajab kembali dibuat terkejut. Tapi kali ini mereka tak buru-buru menghentikan permainan. Karena tahu yang teriak Yahya.
"Sialan Tania, dia ngadu ke Yahya," ucap Linda sambil terus bergerak naik turun di atas tubuh Tajab.
"Abaikan aja! Nanti juga kalau capek mereka berhenti sendiri," sahut Tajab sambil merem melek.
Tania memberi kode pada Yahya untuk mendobrak pintunya. Toh, itu pintu kamar Tono. Enggak akan jadi masalah buatnya.
"Heh! Kalau kalian enggak keluar juga, aku dobrak pintunya!" ancam Yahya.
Dalam hati Yahya berpikir, bakal remuk badannya kalau sampai benar-benar mendobraknya.
Tajab dan Linda tak mempedulikan sama sekali ancaman Yahya. Mereka malah semakin bersemangat.
Asih memberi kode pada Yahya agar menunggunya. Dia ingat kalau menyimpan kunci cadangan kamar Tono di laci lemari depan kamar Tania.
Asih segera mengambilnya. Tania masih terus merekam Yahya yang dia suruh tetap menggedor-gedor pintu.
Asih berlari kembali dan menyerahkan kunci cadangan itu pada Yahya. Yahya langsung membuka pintunya.
Dan terlihatlah pemandangan yang sangat menjijikan. Linda dan Tajab sedang pada posisi anjing kawin.
Mata Yahya dan Asih terbelalak. Asih menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.
__ADS_1
Yahya menatap dengan geram.
Sedangkan Tania terus merekam sambil menahan tawanya.
Spontan Tajab mencabut paksa senjatanya. Linda memekik menahan sakit.
"Auwh!"
Lalu mereka segera mencari selimut dan bersembunyi di dalamnya.
Tania terus mengarahkan kameranya ke arah dua manusia yang lagi panik.
"Mau apa kalian? Keluar!" teriak Linda.
"Tajab! Keluar kamu? Atau aku akan laporkan perbuatan kalian ke juragan Tono?" ancam Yahya.
Klek.
Tania mematikan rekaman videonya.
"Udah, Mang. Biarin aja mereka melanjutkan permainannya. Kasihan anjing betinanya belum puas. Hahaha." Tania tertawa terbahak-bahak.
"Lagi pula video ini udah cukup kok, buat dikirimkan ke juraganmu itu!" Tania mengangkat hape Yahya dan memperlihatkannya pada Linda dan Tajab.
Lalu langsung mengirimkan video itu ke nomor Tono.
Linda segera keluar dari dalam selimutnya. Entah sadar atau tidak, kalau dia sedang tak berpakaian sehelai benangpun.
"Hah....!" Asih dan Yahya terperangah, melihat tubuh bugil berlari ke arah Tania. Linda mau merebut hape yang dibawa Tania.
Yahya dan Asih pun terus menyaksikan adegan yang mirip orang dikejar-kejar orang gila.
Linda sudah mirip orang gila. Telanjang bulat dengan rambut acak-acakan.
Sepertinya tadi Tajab bermain sambil mengacak-acak rambut Linda. Atau malah jambak-jambakan? Karena rambut gondrong Tajab yang biasanya dikuncir pun, ikut berantakan.
Tania sengaja memancing Linda agar terus mengejarnya.
"Mau ini? Nih, ambil!" Tania meledek Linda dengan memperlihatkan hapenya.
"Sinikan hapenya, sialan!" Linda terus berlari mengejar Tania.
Tania berlari ke arah sofa sambil terus tertawa. Karena Linda lari dengan telanjang bulat.
Linda terus mengejarnya. Tania berlari memutari sofa.
"Ati-ati itu pepayamu jatuh! Pegangi yang kenceng!" seru Tania sambil terus lari dan ketawa.
Linda terkejut mendengar omongan Tania. Dan sepertinya dia baru sadar kalau dirinya tak berpakaian selembarpun.
Linda menghentikan larinya. Lalu melihat ke sekeliling. Ada Yahya dan Asih yang menontonnya.
Linda langsung menutupi asetnya dengan tangan.
"Kenapa? Capek? Mau istirahat dulu? Nanti kita lanjutin lagi! Hahaha," ledek Tania sambil tertawa.
__ADS_1
Linda mendengus kesal, lalu berlari naik ke lantai dua. Dia sangat malu.
Dan pastinya ketakutan. Karena tak berhasil merebut hape yang dibawa Tania.
Rekaman videonya bakal sampai ke Tono. Dan habislah dia dan juga Tajab.
Linda masuk ke kamarnya. Tajab baru saja keluar dari kamar mandi, dan sudah memakai bajunya lagi.
Tajab menatap tak percaya pada Linda. Linda yang masih terengah-engah sambil tangannya memegangi dua pepayanya.
"Kamu lari keluar, mengejar Tania, begini?" tanya Tajab. Tangannya menunjuk tubuh bugil Linda sambil menahan tawanya.
"Gara-gara kamu!" Linda menyalahkan Tajab.
"Kok gara-gara aku?" tanya Tajab.
"Kamu kan yang masuk ke kamar ini?" Linda terus saja menyalahkan Tajab.
"Siapa suruh kamu tidurnya telentang? Mana posemu menantang?" Tajab tak mau disalahkan.
"Aku tidur beneran Tajab...! Aku enggak sadar!" sahut Linda sambil berteriak kencang.
"Lagian yang minta juga kamu, kan? Aku kan cuma ikutan tidur di sebelah kamu." Tajab tetap membela diri.
"Kalau kamu enggak peluk-peluk aku, enggak pegang-pegang punyaku, aku juga enggak minta, Tajab!"
"Ya udah, kamu sekarang pakai bajunya. Siap-siap disidang sama Tono!" ucap Tajab.
"Kamu aja yang disidang. Aku enggak mau!" Linda berlari ke kamar mandi. Membersihkan badannya.
Tajab belum berani keluar dari kamar Tono. Karena di bawah, bisa dipastikan akan dibully habis-habisan oleh Yahya, Asih dan Tania.
"Gimana Mang? Bik? Baguskan adegannya?" tanya Tania setelah berhenti tertawa.
"Bagus, Neng. Bagus banget," jawab Yahya.
"Iya! Seneng kamu ya, bisa lihat Linda telanjang?" Asih kembali kesal pada Yahya.
"Enggak usah marah, Bik. Itu kan bukan faktor kesengajaan. Anggap saja rejekinya mata ya, Mang. Hahaha."
"Hhmm!" Asih mendengus kesal.
Yahya hanya cengar-cengir. Kejadian tadi benar-benar tontonan live yang baru pertama kali dilihatnya.
"Videonya gimana, Neng?" tanya Asih.
Tania membuka kembali ponsel Yahya.
"Beres! Udah terkirim ke nomornya Tono. Dan udah dibuka juga," jawab Tania.
Tania menyerahkan kembali ponsel Yahya.
"Tugas kita udah selesai. Sekarang aku laper. Bik Asih masak enggak?" tanya Tania.
"Enggak, Neng. Hehehe." Asih mengangkat dua jarinya.
__ADS_1
"Hadeeh...!" Tania tepok jidat.