HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 132 NASI GORENG KAKI LIMA


__ADS_3

Sampai di rumah sakit, Tono turun dari mobilnya.


"Kalian cari Tania sampai ketemu! Malam ini juga bawa Tania ke sini!" ucap Tono sebelum turun. Dia juga meninggalkan uang untuk membeli bensin.


Tak ada yang menjawab. Karena mereka tak tahu mesti mencari Tania kemana.


Diman kembali menyalakan mesin mobil.


"Kamu pindah di depan! Aku bukan sopirmu!" ucap Diman dengan ketus.


Busyet! Galak amat. Batin Danu.


Danu pun pindah ke sebelah Diman.


"Kita jemput istriku dulu. Dia juga mau ikut mencari Tania," ucap Danu.


"Halah! Ngapain sih, pake ngajak-ajak istri. Merepotkan aja!" sahut Diman sambil terus melajukan mobil.


"Kalau kamu enggak mau, aku turun di sini!" ancam Danu.


Diman berdecak sebal. Lalu dia pun terpaksa menuruti kemauan Danu. Malas juga dia harus mencari Tania sendirian malam-malam.


Tono setengah berlari menuju kamar inap Rendi. Dia sangat mengkhawatirkan kondisi anaknya itu.


Tono segera membuka pintu kamar Rendi.


"Gimana kondisi Rendi, Ma?" tanya Tono dengan nafas terengah-engah. Dilihatnya Rendi sudah tertidur lagi.


"Dokter sudah memberinya obat penenang, Pa. Tadi terus saja memanggil Tania. Lalu mengamuk, karena Tania tak juga datang," jawab Sari dengan sedih.


Rendi mengamuk karena Sari selalu berusaha mengalihkan pembicaraan tentang Tania.


Bahkan Sari mengatakan mau memanggilkan Monica untuk menemani Rendi. Tapi Rendi tetap maunya Tania.


Rendi memang telah berusaha melupakan Tania, dan menjalin hubungan dengan Monica.


Semua dia lakukan karena dia merasa kecewa. Tania telah hamil anak dari papanya sendiri.


Tapi setelah Rendi tahu, kalau itu semua adalah akal-akalan Tono, Rendi mulai menjauhi Monica. Tidak secara langsung juga.


Setelah mengantarkan Monica pulang dari mal waktu itu, Rendi mulai sering mematikan ponselnya. Itu sengaja dia lakukan biar Monica tidak terus-terusan menghubunginya, minta ini dan itu.


Rendi berusaha mencari waktu yang tepat untuk mendatangi rumah Tono dan menjemput Tania.


Hingga pagi itu, Rendi pamit pada Sari untuk keluar sebentar. Sari tahunya Rendi menjemput Monica dan mengantarkannya ke kampus.


Baru setelah itu Rendi pulang lagi dan berangkat ke pasar bersama Sari. Itu sudah jadi rutinitas Rendi setiap hari.

__ADS_1


Siang harinya, Rendi akan menjemput lagi Monica. Dan Rendi akan kembali menjemput Sari di pasar, sore harinya.


Sebenarnya Sari kurang setuju hubungan Rendi dengan Monica.


Meskipun Monica anak kuliahan, perilakunya menurut Sari sangat tidak sopan.


Pada Sari, Monica bersikap kurang sopan. Apalagi pakaian yang dikenakan Monica. Sari sangat risi melihatnya.


Tapi daripada Rendi terus saja bersedih dan tidak move on dari Tania, Sari terpaksa menyetujuinya.


"Ya. Syukurlah. Moga-moga nanti kalau bangun, Rendi bisa lebih tenang," sahut Tono. Dia mencari air putih, lalu menenggaknya.


"Siapa yang membelikan makanan dan minuman ini?" tanya Tono. Tadi saat Tono pergi, semua itu belum ada.


Rencananya Tono akan membelikan sambil dia mengantar Tania ke rumah sakit.


"Tadi aku minta tolong perawat membelikannya. Aku laper banget," jawab Sari.


Tono pun jadi ingat, kalau dia juga belum makan lagi.


"Oh iya. Aku sampai lupa. Biar aku belikan makanan di luar." Tono hendak melangkah keluar.


"Eh, Pa. Mana Tanianya?" tanya Sari.


Meskipun sebenarnya Sari tak menginginkan keberadaan Tania, tapi dia khawatir kalau Rendi bangun dan menanyakannya lagi.


Nanti bakal ada Monica, yang bisa dia manfaatkan untuk membantunya menyingkirkan Tania.


Rencana yang sudah Sari pikirkan matang-matang sejak tadi. Dan Sari yakin kalau rencananya akan berjalan dengan mulus.


Tono tak jadi melangkah. Dia menghela nafasnya dengan kasar.


"Tania kabur!" jawab Tono.


"Hah? Kabur?" tanya Sari tak percaya. Dia pikir Tania akan memanfaatkan keadaan ini untuk mendekati Rendi lagi.


Apalagi dia yang telah menyumbangkan darahnya untuk Rendi, pasti merasa semakin mudah mendapatkan Rendi kembali.


Tono mengangguk dengan lemah. Wajahnya memancarkan kesedihan yang mendalam.


Bukan karena Tania sebagai istrinya, tapi dia tak bisa memberikan kebahagiaan buat Rendi. Karena Tono kini sadar, kebahagiaan Rendi adalah Tania.


"Kamu sudah mencarinya?" tanya Sari.


"Sudah. Aku sudah mendatangi rumah Danu. Tania tak ada di sana," jawab Tono.


"Mungkin di rumah budenya. Atau temannya. Atau kerabatnya yang lain?" ucap Sari.

__ADS_1


"Aku sudah menyuruh Danu dan anak buahku mencarinya sekarang. Dan semoga malam ini juga, Tania bisa ditemukan," ucap Tono. Meski dia tak yakin dengan kinerja mereka. Apalagi ini juga sudah malam.


Bisa jadi Tania sudah masuk rumah entah siapa, atau masuk ke hotel. Atau apalah. Pikir Tono.


"Aduh! Bagaimana kalau enggak ketemu juga, Pa? Bagaimana kalau Rendi menanyakannya lagi?" Sari mulai kebingungan.


"Berdoa saja, Ma. Semoga Tania bisa ketemu," sahut Tono.


Tono kembali melangkah keluar. Dia mau mencarikan makan buat Sari.


Tono tak lagi mempedulikan kesehatannya. Padahal kalau boleh jujur, Tono sangat lelah. Dia ingin istirahat.


Tapi ini semua akibat kesalahannya. Dia akan bertanggung jawab apapun kondisinya dan juga resikonya.


Tono hanya membeli nasi goreng yang ada di sekitar area rumah sakit. Karena itu satu-satunya warung yang buka. Hanya warung kaki lima.


Maklum saja, malam sudah semakin larut. Meskipun malam weekend.


Dan itu juga mungkin yang membuat beberapa warung di sekitar situ tutup. Dagangan mereka sudah habis duluan.


Tono ikut mengantri. Dia duduk di antara beberapa pembeli yang juga sedang mengantri.


Sementara di kejauhan, Tania berjalan sendirian. Dia juga akan mencari makan, karena perutnya terasa sangat lapar.


Tadi setelah mendapatkan kamar kos, Tania langsung tidur meski perutnya keroncongan. Dia pikir bakalan tidur sampai pagi.


Ternyata baru beberapa jam tidur, cacing di perutnya tak mau diajak kompromi.


Akhirnya Tania terbangun. Dan saat melihat jam yang dipakainya ternyata masih jam sebelas kurang.


Tadi Tania sempat mendengar peraturan di kosan, kalau malam weekend, tempat kos buka sampai jam dua belas malam.


Jadi Tania masih punya waktu satu jam lebih, untuk mencari makan. Meskipun Tania tadi sempat pamit juga pada penjaga kos.


Berjaga-jaga kalau dia terlambat pulang, jadi masih ada yang membukakan pintu gerbang.


Tania pamit mau beli makanan dan minuman. Karena tadi saat masuk kos pertama kali, Tania tak membawa apapun.


Penjaga kos memakluminya, dan memberikan ijin pada Tania. Bahkan dia bilang siap menjaga pintu gerbang sampai Tania kembali.


Beruntung penjaga kosnya sangat baik. Katanya asal alasannya jelas, dia mau menunggu siapapun pulang di luar jam buka kosan.


Tania berjalan menyusuri jalanan. Dia sengaja berjalan ke arah rumah sakit. Karena pikirnya, di sekitar rumah sakit pasti banyak warung makan yang buka sampai malam.


Tetap dengan masker yang menutupi wajahnya dan jaket dengan penutup kepala, Tania sampai di sebuah warung nasi goreng pinggir jalan.


"Pak, nasi goreng dua. Dibungkus ya."

__ADS_1


__ADS_2