HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 199 PENGAKUAN LINTANG


__ADS_3

"Oh iya! Ah, kenapa dari tadi enggak ketemu-ketemu ya?" Danu menepok jidatnya sendiri.


"Sopirnya payah!" sahut Eni.


"Enak aja! Kamu itu yang ngasih petunjuknya enggak bener!" Danu tak mau disalahkan.


"Kok aku, sih? Mbah Google-nya nih yang enggak bener. Orang bilang belok kanan kok, kita udah lewati!" Eni membela diri.


"Makanya konsentrasi kalau pakai gituan!" Danu tetap menyalahkan Eni.


"Ya aku kan juga pingin lihat-lihat kota, Pak. Kalau liatin hape terus, mana aku bisa cuci mata!" sahut Eni dengan santainya.


"Cuci matanya kan bisa entar di kamar, Bu." Danu berusaha meledek Eni.


"Bukan cuci mata pakai air, Pak! Tapi lihat-lihat pemandangan!" sahut Eni dengan kesal.


"Entar deh, di kamar aku liatin kamu pemandangan yang indah." Danu masih saja berusaha meledek Eni. Tapi sayangnya yang diledek tidak konek.


"Emang dari kamar bisa lihat pemandangan indah?" tanya Eni dengan lugu.


"Bisa dong!" jawab Danu sambil senyum-senyum.


Danu membelokan mobilnya ke dalam area rumah sakit. Sampai di depan pintu gerbang rumah sakit, Tania dan rombongan baru mau naik ke taksi.


"Itu mereka, Pak!" Eni menunjuk ke arah pintu masuk rumah sakit.


"Ya...telat deh kita!" sahut Danu.


"Ya udah, ikuti mobil mereka aja. Mereka pasti akan balik ke hotel," ucap Eni.


Danu pun menurut. Dia berbelok lagi ke arah keluar dan mengikuti mobil taksi mereka.


"Awas jangan sampai ketinggalan. Entar kita nyasar lagi!" ucap Eni.


"Tenang aja. Aku kan sopir handal," sahut Danu.


"Handal jepit?" ledek Eni.


"Nyari hotel aja dari tadi enggak ketemu-ketemu. Giliran mau nyari hotel, malah ketemu!" lanjut Eni.


"Udah, jangan berisik! Ganggu konsentrasi aja!" sahut Danu.


Danu terus mengikuti mobil yang membawa Tania dan rombongan.


"Pak. Tuh liat. Lampunya bagus-bagus banget!" Eni menunjuk lampu di depan sebuah bangunan yang dibuat sangat cantik.


Danu melirik sekilas.


"Kalau cuma gituan sih, di kota kita juga banyak!" sahut Danu.


"Masak sih? Kok, aku enggak pernah lihat." Eni terus saja melihat lampu-lampu warna warni yang membuatnya terpesona.


"Makanya main, kalau malam. Jangan molor terus!" sahut Danu.


"Kamu dong ngajakin aku main, kalau malam. Memangnya aku boleh main sendirian malam-malam?" tanya Eni.

__ADS_1


"Ya enggak boleh lah. Enak aja, main sendirian."


Danu selalu melarang Eni kelayapan sendirian kalau malam. Tapi dia sendiri tak pernah mau mengajaknya. Danu lebih suka nongkrong dengan tetangga-tetangganya di pos ronda.


Eni pun tak pernah protes. Karena Eni berpikir, toh nongkrongnya tak jauh dari rumah.


Eni kalau keluar rumah hanya sampai dekat terminal saja. Ke salon kecilnya. Itu pun cuma dari pagi sampai sore.


Setelah pulang dari salon, Eni akan disibukan dengan pekerjaan rumah.


Malamnya langsung tidur kalau sudah selesai semua. Dan Danu akan ikut menyusul tidur kalau sudah puas nongkrong.


Ternyata jarak dari rumah sakit ke hotel tak terlalu jauh. Hanya sekitar lima belas menit, mereka sudah sampai di depan hotel.


"Kok cepet banget ya, Pak. Kita tadi kok enggak nyampe-nyampe," ucap Eni.


"Iyalah. Kamu ngasih aba-abanya telat mulu!" sahut Danu.


"Aku lagi yang disalahkan. Aku kan cuma ngikutin apa kata mbah google. Dianya telat, ya aku telat juga!" Eni kembali ngeles.


Danu hanya mendengus saja. Eni mana mau disalahkan. Selalu mencari alasan untuk membenarkan diri.


Danu memarkirkan mobilnya. Lalu bersama Eni berjalan menuju lift. Di sana sudah ada Tania, Widya juga Lintang.


"Kalian kenapa ada di sini?" tanya Widya.


"Kami kan tadi ngikutin mobil kalian," jawab Danu.


"Ngikutin mobil kami?" tanya Widya tak mengerti.


"Kenapa enggak nanya ama orang aja?" tanya Widya.


"Males turun-turunnya, Mbak. Eh, malah enggak turun-turun. Sampai panas nih, pantat!" jawab Eni.


Lalu mereka masuk ke lift setelah terbuka.


"Mbak Lintang tadi kenapa?" tanya Eni dengan polos, di dalam lift.


Lintang hanya menundukan kepalanya. Tania memberi kode pada Eni biar diam.


Eni pun diam. Tapi dalam hatinya masih bertanya-tanya.


Lift berhenti, dan mereka keluar. Lalu berjalan menuju kamar.


"Kamar kalian di sana!" Widya menunjuk kamar sebelahnya.


"Nanti dulu, Mbak. Kami mau main ke kamar kalian dulu," sahut Eni.


"Aku mau merokok dulu aja deh. Di sana!" Danu menunjuk jalan menuju ke roof top.


"Entar pulangnya nyasar lagi," ucap Eni.


"Enggaklah. Tinggal lurus doang!" sahut Danu.


"Mata kondisikan, ya. Awas aja kalau jelalatan. Entar malem enggak aku kasih jatah!" ancam Eni.

__ADS_1


"Udah tua aja, cemburuan!" ucap Widya sambil masuk ke kamarnya.


Eni masih saja menceramahi Danu sebelum masuk ke kamar Tania.


"Iya, istriku yang cantik dan bawel. Aku enggak akan liat apa-apa deh. Janji!" Danu memberikan kelingkingnya.


Eni menyambut kelingking Danu dengan kelingkingnya juga. Lalu mereka sama-sama tersenyum.


Tania pun tersenyum melihat tingkah konyol mereka yang seperti anak kecil. Lalu masuk menyusul Widya dan Lintang.


Eni menutup pintunya perlahan.


Lintang duduk di sofa. Widya duduk di sebelahnya. Eni dan Tania duduk di tepi tempat tidur.


Widya menghela nafasnya dalam-dalam. Sekaranglah saatnya dia akan menginterogasi Lintang.


Meskipun ada Tania dan Eni, Widya tidak peduli. Toh mereka juga bagian dari keluarganya.


"Lintang. Sekarang ceritakan yang jujur pada kami, apa yang telah terjadi sebenarnya!" ucap Widya dengan nada ketus.


Eni terkejut mendengarnya. Pasalnya, Eni tak pernah mendengar Widya berkata ketus pada Lintang. Anak satu-satunya yang sangat disayangi.


Tania mencolek lengan Eni. Dan setelah Eni menoleh, Tania memberikan tanda agar Eni diam.


Eni pun mengangguk, menurut.


Lintang tak bisa menjawab. Dia malah menangis tergugu. Lalu merosot turun ke lantai dan bersimpuh di kaki Widya.


"Maafkan Lintang, Ibu. Maafkan, Lintang. Hu...hu...hu...!" ucap Lintang sambil terus menangis tersedu.


Widya menghela nafasnya. Dia menebak, pasti Lintang telah melakukan kesalahan yang sangat fatal.


"Apa yang harus Ibu maafkan?" tanya Widya.


Lintang berusaha menghentikan tangisannya.


"Lintang...Lintang salah, Bu. Lintang minta maaf." Lintang kembali menangis.


"Katakan apa salah kamu!" ucap Widya.


"Lintang hamil, Bu," sahut Lintang.


Eni terkejut sampai membelalakan matanya. Tania terus memberi tanda pada Eni agar diam.


"Ibu sudah tau itu! Sekarang yang mau Ibu tanyakan, siapa yang menghamili kamu?" tanya Widya dengan geram.


"Dia...dia...teman kerja Lintang, Bu," jawab Lintang.


Widya menghela nafasnya lagi.


"Kalau begitu, dia suruh tanggung jawab! Dimana dia sekarang? Biar Ibu datangi ke ruangannya!" ucap Widya dengan lantang.


Lintang menggeleng.


"Kenapa?" tanya Widya tak mengerti.

__ADS_1


"Dia...su...dah punya...istri, Bu." Lintang kembali bersimpuh di kaki Widya, sambil tersedu.


__ADS_2