
Rendi memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Waktu yang mestinya ditempuh selama tiga puluh menit, tidak sampai lima belas menit Rendi sudah sampai ke rumah mamanya.
Satpam komplek pun sampai geleng-geleng kepala melihat motor anak juragan batik melaju masuk ke komplek dengan kecepatan tinggi.
Sampai di halaman rumahnya, Rendi memarkirkan motornya asal. Dia langsung lari masuk ke dalam rumah.
Dia langsung masuk ke kamar mamanya. Sari, mamanya Rendi masih tergeletak di atas ranjang. Tapi sudah siuman.
Papanya duduk di sofa yang tak jauh dari ranjang mamanya.
"Mama...!" Rendi langsung berlari menghampiri dan memeluk Sari.
"Rendi...!" Sari mendekap erat anak lelaki satu-satunya.
Sari menangis lagi di pelukan Rendi.
"Ada apa, Ma?" tanya Rendi masih memeluk mamanya.
"Papamu...." Sari masih terus menangis.
"Kenapa Papa, Ma?"
Sari tak bisa menjawab. Dia masih terus saja menangis.
"Apa yang terjadi, Pa?" tanya Rendi setelah melepaskan pelukannya.
"Papamu mau menikah lagi!" ucap Sari setelah bangkit dan duduk di tepian ranjang.
Rendi menatap tajam ke arah papanya yang masih duduk.
"Sampai kapan Papa akan terus menyakiti Mama?" tanya Rendi dengan geram.
Papanya hanya diam. Dia sedang memikirkan kalimat yang tepat untuk anaknya.
"Dia akan menikah dengan gadis dibawah umur! Semakin gila saja Papamu!" ucap Sari lagi yang membuat darah Rendi semakin mendidih.
"Papa gak malu sama Rendi?" tanya Rendi pada papanya.
"Papa sudah tua, Pa! Apalagi yang Papa cari?"
"Ren, kita bicara di luar!" ajak papa Rendi, lalu beranjak dari duduknya.
Rendi melirik ke arah mamanya, lalu mengikuti papanya keluar.
Sari yang penasaran, mengikuti mereka diam-diam.
"Duduk!" perintah papanya.
Rendi menurut. Dia ingin tahu apa alasan papanya menikah lagi, apalagi dengan gadis dibawah umur seperti kata mamanya.
"Kamu sudah dewasa, Ren. Kamu tau kan apa artinya kebutuhan biologis?"
__ADS_1
Rendi mengangguk meski belum terlalu faham.
"Papa manusia normal, Ren. Papa punya kebutuhan biologis yang...maaf, tidak bisa dipenuhi lagi oleh...mamamu," ucap papa Rendi perlahan. Takut didengar oleh istrinya. Bagaimana pun dia masih menyayangi Sari, meski Sari sudah tidak mampu melayaninya lagi di ranjang.
"Maksud Papa, mama sudah tidak mau melayani Papa lagi?" tanya Rendi.
"Bukan tidak mau, tapi mamamu tidak bisa lagi, Ren. Mamamu sakit!" sahut papa Rendi.
"Terus kondisi mama yang sakit, dijadikan alasan untuk papa menikah lagi?" tanya Rendi. Dia sudah pernah tahu kalau mamanya punya penyakit. Itu sebabnya Rendi sangat menyayanginya.
"Ren, papa menikah lagi hanya untuk kebutuhan biologis papa saja. Tidak lebih. Daripada papa mesti jajan di luar yang belum mesti bersih!"
"Papa masih menyayangi kalian. Menyayangi mamamu. Itu kenapa sampai saat ini Papa masih mempertahankan rumah tangga Papa dan mama. Tolong kamu mengerti, Ren. Kamu sudah dewasa," ucap papa Rendi panjang lebar.
"Tapi tidak harus menikah dengan gadis dibawah umur kan, Pa? Rendi malu kalau punya ibu tiri masih anak-anak!" ucap Rendi.
Bukan cuma sekali papanya memiliki istri simpanan. Rendi dan mamanya tahu. Tapi mereka menutup mata dan telinganya. Karena tak akan berumur panjang. Hanya hitungan bulan, dan mereka akan berpisah.
Setelah perempuan-perempuan itu mendapatkan harta yang dijanjikan papanya, tentunya.
"Ren, saat ini Papa hanya mencintainya. Papa ingin menikahinya. Salah satunya...karena papa juga kepingin menolong keluarganya. Mereka orang yang hidup dibawah garis kemiskinan, Ren. Papa ingin mengangkat hidup mereka." Papa Rendi membuat alasan yang berbelit-belit.
"Pa. Menolong orang tidak harus dengan menikahinya, kan?" pertanyaan Rendi membuat papanya gelagapan.
"Iya. Tapi...Papa mencintainya," jawab papa Rendi lirih.
"Mencintai gadis dibawah umur?"
"Gila! Papa sudah tidak normal! Papa Pedofilia!" teriak Rendi.
"Rendi! Jangan kurang ajar kamu! Papa masih normal!"
"Papa menjijikan!" teriak Rendi lagi.
Tangan papa Rendi sudah terangkat ke atas hendak menampar anaknya. Tapi diurungkannya. Dia mencoba menahan emosinya untuk tidak melukai anaknya sendiri.
Rendi adalah anak satu-satunya. Berkali-kali papa Rendi menikah lagi, tak satu pun menghasilkan anak.
"Kenapa tidak jadi menampar? Papa ingin menampar Rendi, kan? Demi nafsu, Papa ingin menampar anak sendiri?" Rendi semakin emosi.
Papanya hanya diam. Dia menahan amarahnya juga, dikatai sebagai laki-laki pedofilia oleh anaknya sendiri.
"Sekarang, silakan Papa menikahi anak itu! Tinggalkan Rendi dan mama! Rendi tak mau lagi punya papa! Rendi malu!" ucap Rendi lalu beranjak dari duduknya.
Wajah papanya berubah sedih. Dia menatap anaknya dengan iba.
Dia masih sangat menyayangi istri dan anaknya. Dan tak mau kehilangan mereka.
"Tidak, Ren. Papa tidak akan meninggalkan kalian. Papa janji, Papa akan selalu meluangkan waktu untuk kalian."
Rendi tak peduli lagi dengan ucapan papanya.
__ADS_1
"Ren, kamu sudah dewasa. Tolong mengertilah. Pahami keinginan Papa," ucap papanya memelas.
"Baik! Kalau Papa menganggap Rendi sudah dewasa, Rendi juga akan menikahi pacar Rendi. Rendi juga punya kebutuhan biologis!" ucap Rendi ketus.
Papanya melongo mendengar ucapan anaknya. Anak yang baru saja lulus SMA. Bagaimana mungkin dia akan mengijinkannya menikah?
"Tidak, Ren. Kamu masih terlalu muda untuk menikah!" sahut papanya.
"Dan papa juga terlalu tua untuk menikah lagi!"
Skak mat! Papa Rendi terdiam.
Sari yang dari tadi ngumpet, mendengar semua pembicaraan mereka.
"Bagaimana? Masih akan meneruskan pernikahanmu? Atau kalian akan menikah bersamaan. Biar heboh sekalian. Bapak dan anak menikah di hari yang sama!" ucap Sari keluar dari persembunyiannya.
"Mama...!" ucap Rendi dan papanya bersamaan.
"Silakan kalian menikah bersama-sama. Nanti Mama akan siapkan semuanya!"
Dua orang laki-laki beda generasi itu tertunduk malu.
"Kamu juga, Pa! Sudah tua tidak tahu malu! Sekarang saatnya anakmu yang menikah! Bukan kamu yang sudah bau tanah!"
Papa Rendi semakin terdiam. Pada dasarnya dia memang sangat menyayangi istrinya.
Hanya karena penyakit yang diderita istrinya hingga tak bisa lagi melayaninya, membuat suaminya khilaf berkepanjangan.
Dia melampiaskan nafsunya dengan menikahi banyak perempuan. Berganti-ganti setiap tahun.
Sari sampai lelah dan tak mau peduli lagi dengan sikap suaminya. Dia tidak pernah mau tahu dengan siapa suaminya menikah lagi.
Tapi tidak dengan saat ini. Karena yang akan dinikahinya anak gadis dibawah umur.
Sari akan sangat malu pada orang lain. Karena akan jadi gosip panas. Dan suaminya akan dicap sebagai pedofilia.
"Itu artinya Mama menyetujui kalau Rendi akan menikah?" tanya Rendi kepada mamanya.
"Kenapa tidak? Papamu kan bilang kamu sudah dewasa. Menikahlah. Tapi ingat, cukup sekali saja menikahnya. Jangan pernah kamu sakiti istrimu dengan menghianatinya. Cukup Mama yang merasakannya!"
Ucapan Sari sangat menusuk ke jantung suaminya.
"Kapan kamu akan membawa calon istrimu ke sini?" tanya Sari lagi kepada anaknya.
"Secepatnya, Ma. Sebelum keduluan Papa," sahut Rendi sambil melirik ke arah papanya.
"Papa tidak setuju!" seru papa Rendi.
"Hey, siapa yang minta persetujuanmu? Bukankah kamu mau menikah lagi juga tak membutuhkan persetujuan kami?" Sari tak mau kalah.
Papa Rendi sudah kehabisan kata-kata untuk melawan istri dan anaknya.
__ADS_1
Akhirnya dia memilih untuk pergi. Rendi dan mamanya tersenyum puas.