HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 89 TANIA BIKIN TIDAK FOKUS


__ADS_3

Kamar Tono sangat berantakan, mirip kapal pecah. Sprei dan bedcover jatuh di lantai. Bantal dan guling ikut berjatuhan.


Belum lagi bungkus bekas makanan dan minuman kaleng, berserakan di mana-mana.


"Ih, jorok banget mereka," gumam Tania.


Tania melewatinya pelan-pelan. Supaya tidak meninggalkan jejak.


Lalu membuka laci nakas. Beruntung, Tania masih menemukan benda itu. Bukan cuma satu, tapi dua. Karena ponsel Tania ada dua.


"Syukurlah masih ada semua," gumam Tania lagi. Lalu dia segera keluar dari kamar Tono.


Tania mengechas kedua ponselnya. Tak lupa dia mengunci pintu kamarnya, berjaga-jaga kalau Tono atau Linda tiba-tiba masuk.


Tania juga membereskan beberapa pakaiannya. Dia memisahkan dengan pakaian yang dipakainya sehari-hari.


Pakaian yang dipisahkan Tania adalah pakaian yang nantinya akan dibawanya kabur.


Tania juga menyimpan uangnya dengan rapi. Dan setelah mengunci pintu lemari, Tania menyimpan kuncinya.


Tania mencari tas yang tak terlalu besar. Beruntung, di atas lemari ada tas yang dicari Tania.


Bukan tas yang dibawa Tania dari rumah pamannya, karena itu terlalu besar. Nanti malah merepotkan saat Tania kabur.


"Udah beres semua. Tinggal menunggu kesempatan saja," ucap Tania pelan.


Rasanya sudah tak sabar menunggu saat-saat itu. Tania menghabiskan malamnya dengan menonton televisi hingga tertidur.


Sementara di rumahnya, Rendi sedang berdebat dengan Sari. Mereka memperdebatkan tentang hubungan Rendi dengan Monica.


Sari sudah berkenalan dengan Monica. Rendi tadi sore membawanya ke rumah.


"Ren, apa enggak ada wanita lain yang lebih baik?" tanya Sari.


"Lebih baik bagaimana, Ma? Apa Monica kurang baik?" Rendi balik bertanya.


"Mana ada wanita baik memakai pakaian seperti itu, Rendi? Kamu jangan kayak papamu, dong. Nyari wanita yang tak punya malu. Pakai baju kurang bahan!' sahut Sari.


"Ma! Jangan samakan Rendi dengan tua bangka itu! Dan Monica tak seperti wanita-wanitanya!" Rendi sering menyebut Tono dengan sebutan tua bangka. Meniru Tania.


"Apa bedanya? Sama-sama wanita murahan!" Sari selalu meremehkan wanita-wanitanya Tono.


"Ma! Jangan menuduh Monica wanita murahan! Dia terpelajar!" Rendi membela Monica.


"Mana ada wanita terpelajar pakai baju kayak gitu? Malu-maluin Mama aja! Kayak enggak ada wanita lain!" Sari makin kesal pada Rendi yang terus saja membela Monica.


Rendi tak bisa mengelak lagi kalau membahas soal pakaian Monica.


Sejak kuliah, Monica mulai sering memakai pakaian ketat. Begitu kata Dito. Dito juga dapat informasi dari teman-temannya. Karena mereka beda angkatan.


"Kalau kamu tidak bisa cari calon istri, Mama yang akan mencarikannya!"

__ADS_1


"Mama tuh, kayak jaman Siti Nurbaya aja. Rendi enggak mau!" Rendi jelas menolak mentah-mentah.


"Lagian kamu, cari calon istri aja enggak bisa. Kamu itu ganteng, Rendi. Masa kalah sama...si tua bangka itu. Hehehe." Sari tertawa sendiri.


Si tua bangka yang sudah merebut calon istri anaknya sendiri. Aku tak sudi lagi jadi anaknya. Geram Rendi dalam hati.


"Apa kabarnya Tania ya, Ma?" tanya Rendi perlahan.


"Jangan cari masalah kamu, Rendi!" bentak Sari. Dia tak biasanya membentak Rendi, kalau tidak keterlaluan. Dan pertanyaan Rendi menurutnya sudah keterlaluan.


"Rendi enggak cari masalah, Ma. Cuma pingin tau aja," jawab Rendi. Lalu dia masuk ke kamarnya.


Rendi tiba-tiba ingat kalau Dito pernah menghubunginya dan membahas tentang Tania.


Rendi menghubungi Dito. Dia mengajak ketemuan.


Dito awalnya males ketemu Rendi. Karena Rendi pernah mengabaikannya saat dia dan Mike telpon.


"Oke. Gue minta maaf. Gue ke kosan elo, ya?" ucap Rendi.


"Gue di rumah Mike. Elo ke sini aja. Tapi enggak usah ngajakin Monica. Mike enggak suka ama tuh anak," jawab Dito.


Sudah lama Mike tak suka pada Monica. Apalagi setelah dia diabaikan Rendi gara-gara lagi kencan dengan Monica.


Sementara waktu itu, Dito dan Mike ingin membahas tentang Tania yang nasibnya mengenaskan.


"Oke, gue otewe sekarang. Sendirian." Rendi langsung menutup telponnya.


Tanpa melihat nama pemanggilnya, Rendi langsung saja nerocos.


"Iya. Ini gue mau otewe. Enggak sabaran amat sih, lo!"


"Ren. Ini aku. Monica," ucap Monica di seberang sana.


Rendi langsung melihat ponselnya.


Mati aku! Monica!


"Eh, Mon. Sorry....Sorry. Aku pikir Dito." Rendi nyengir, meski Monica tak bisa melihatnya.


"Kamu mau ketemuan sama Dito?" tanya Monica.


"I...Iya." Rendi garuk-garuk kepalanya.


"Aku ikut, ya?" pinta Monica.


Aduh! Rendi menepuk jidatnya sendiri.


"Besok aja ya, ikutnya? Aku ada urusan penting sama Dito," sahut Rendi.


"Urusan apa? Memangnya aku enggak boleh tau urusan kamu?" tanya Monica.

__ADS_1


Rendi kebingungan menjawabnya. Bagaimana pun, hubungan mereka sedang hangat-hangatnya, meski dapat tentangan dari Sari.


"Bukan begitu, Sayang. Ini urusan laki-laki," jawab Rendi.


"Urusan laki-laki? Pasti membahas soal perempuan! Enggak, aku harus ikut!" Monica tetap memaksa.


Aduh, bagaimana ini? Dito lagi di rumah Mike. Dan Rendi tahu kalau Mike tak suka pada Monica.


"Ya udah. Aku enggak jadi ke rumah Mike," sahut Rendi. Lagi-lagi dia keceplosan.


"Jadi kamu mau ke rumah Mike? Aku enggak suka ya, kalau kamu dekat-dekat sama anak itu!" Monica mulai merajuk.


"Iya. Kan enggak jadi," sahut Rendi.


"Anterin aku cari make-up ya, Ren. Make-up ku habis," pinta Monica.


Rendi tak bisa menolak. Dia takut Monica ngambek dan menjauhinya.


Rendi sedang belajar mencintai Monica. Meski sulit bagi Rendi melupakan Tania.


Terpaksa Rendi membatalkan ke rumah Mike.


"Ah, payah lo. Pasti gara-gara Monica, kan?" ucap Dito dengan kesal.


"Ya gimana lagi, Bro. Gue kan juga pingin bahagia punya pacar, kayak elo," sahut Rendi.


"Padahal gue pingin ngomongin soal Tania ama elo, Ren. Gue ama Mike punya informasi yang akurat tentang Tania," ucap Dito.


Pas sekali mestinya. Rendi pingin nemuin Dito dan membahas tentang Tania. Tapi tiba-tiba Monica menggagalkan rencananya.


"Ya udah, kapan-kapan aja deh, Dit. Gue jalan dulu, ya. Monica udah nunggu." Rendi menutup telponnya.


Hatinya makin galau. Di saat dia akan mendapatkan informasi tentang Tania, malah harus mengantar Monica pergi.


"Mau kemana, Ren?" tanya Sari.


Mama? Pasti mama bakal marah kalau tahu aku mau nganterin Monica pergi.


"Ke rumah Dito, Ma," jawab Rendi.


Sari mengernyitkan dahinya.


"Memangnya Dito udah punya rumah sendiri?" tanya Sari.


"Mm....Maksud Rendi, ke kosan Dito, Ma," jawab Rendi.


Lagi-lagi Rendi tidak fokus, sampai keceplosan lagi.


"Mama enggak suka ya, kalau kamu bohongi Mama!" sahut Sari marah.


"Enggak, Ma. Rendi salah omong." Rendi menyesali kecerobohannya.

__ADS_1


Ah. Gara-gara memikirkan Tania, aku jadi enggak bisa fokus.


__ADS_2