
Sari berjalan ke ruangan dokter yang tadi memintanya melakukan cek lab.
Sari penasaran dengan hasil cek lab-nya. Bukan hasilnya Tono. Kalau itu sih Sari sudah yakin pasti hasilnya positif.
Bahkan Sari berdoa semoga hasilnya benar-benar positif. Biar kapok Tono.
Dan benar saja. Dokter menjelaskan pada Sari kalau Tono positif terkena infeksi bakteri penyebab penyakit sifilis.
Dan Tono harus melakukan berbagai macam pengobatan juga teraphy kalau mau sembuh.
Sari sendiri enggan bertanya soal dirinya yang sering mengalami perdarahan. Terlebih dulu saat masih sering berhubungan badan dengan Tono.
Sari takut nantinya harus repot periksa ini itu. Dan lebih takut lagi dengan vonis yang bakal diterimanya.
Selama ini Sari merasa cukup dengan pengobatan herbal saja. Meski mungkin tak benar-benar sembuh, minimal Sari tak merasakan sakit lagi.
"Baik, Dok. Terima kasih. Nanti saya sampaikan ke suami saya," ucap Sari. Lalu dia permisi keluar.
Sari masuk ke kamar Tono. Yahya lagi memijati kaki Tono.
"Ma...!" sapa Tono.
Sari bersikap biasa saja. Tak balik menyapa.
"Mama dari mana?" tanya Tono dengan nada lembut.
"Nih!" Sari memberikan hasil cek lab tadi dari dokter.
Tono membukanya. Tapi dia kebingungan dengan bahasa kedokteran yang tak dipahaminya sama sekali.
"Ini bagaimana maksudnya, Ma? Papa enggak paham," ucap Tono.
Sari meliriknya dengan sinis. Yahya masih saja memijat kaki Tono.
"Yahya! Kamu keluar dulu!" Tono menghentakan kakinya yang sedang dipijat Yahya.
"Baik, Juragan. Saya mau cari kopi dulu ke depan. Permisi, Bu," ucap Yahya dengan sopan.
Sari hanya mengangguk.
Sebenarnya Sari orang yang sangat baik. Dia bersikap dingin pada Yahya, karena dia mengira kalau Yahya adalah anak buah Tono yang terkenal kejam. Bengis seperti preman.
"Yahya!" panggil Tono lagi. Yahya tak jadi melangkah.
"Iya, Juragan," sahut Yahya.
"Kamu sekalian ke rumah. Ambil hape dan tasku. Kalau sudah bawa kesini!" perintah Tono.
"Tapi saya enggak punya ongkos, Juragan," sahut Yahya.
Yahya hanya mengantongi uang untuk sekedar ngopi dan beli rokok ketengan. Itu pun uang sisa-sisa saat disuruh Tono.
Uang yang waktu itu diberi Tania, disimpan oleh Asih.
"Ma. Bisa pinjami uang dulu? Buat ongkos Yahya ke rumahku. Aku tak bawa uang sama sekali," pinta Tono pada Sari.
"Bukannya gaji centengmu besar?" tanya Sari.
"Yahya bukan centengku, Ma. Dia hanya penjaga rumahku," jawab Tono.
Dan juga enggak dibayar! Ucap Yahya. Tapi hanya di dalam hati saja.
__ADS_1
Sari membuka dompetnya. Lalu memberikan dua lembar lima puluh ribuan pada Yahya.
"Cukup?" tanya Sari. Dia sengaja memberi lebih. Karena tahu kalau Yahya bakal menunggui Tono selama dirawat.
"Cukup, Bu. Terima kasih," jawab Yahya. Lalu bergegas pergi, sebelum Tono memerintahnya lagi.
Ah! Akhirnya bisa keluar juga. Aku bisa ngopi dan merokok di warung dulu. Yahya pun bergegas keluar dari area rumah sakit.
"Apa kata dokter, Ma?" tanya Tono.
"Kata dokter, kamu terkena penyakit sifilis. Raja singa!" jawab Sari dengan nada keras, biar Tono mendengarnya.
"Apa...?" Tono membelalakan matanya.
Sari mengangguk.
"Sudah stadium akhir malah!" ucap Sari lagi mengada-ada. Biar Tono semakin ketakutan.
Sari merasa puas Tono kena penyakit memalukan itu. Dia tak perlu capek-capek membalas dendam perbuatan Tono.
Sang Maha Kuasa yang membalaskannya. Dengan sangat menyakitkan.
Tono langsung lunglay. Tangannya yang sedang memegangi kertas, terjatuh di atas tempat tidur.
Matanya berkaca-kaca. Mulutnya seakan mau mengucapkan sesuatu, tapi tak bisa keluar suara.
Sari hanya menatapnya. Tanpa berniat memberikan bahunya sebagai tempat bersandar Tono.
Tak juga berniat menghapus air mata Tono yang kemudian mengalir deras.
"Puas?" Sari malah bertanya dengan nada sinis.
"Heh! Diam! Sekali lagi kamu teriak, aku keluar dan enggak mau kesini lagi!" ucap Sari.
"Ma...Itu enggak benar kan, Ma? Hu...hu...hu...!" tanya Tono sambil menangis pilu.
"Kalau kamu enggak percaya, tanyakan saja sama dokternya!" sahut Sari.
"Enggak..aku enggak mau kena penyakit itu...hu..hu..hu..!" Tono menangis semakin tergugu.
Sari malah ingin ketawa mendengarnya.
Sari duduk di sofa tempat duduk penunggu. Dia menunggui Tono yang lagi menangis.
Sebenarnya dia ingin meninggalkan Tono. Tapi rasanya tak tega juga.
Sampai akhirnya Tono terdiam. Tapi masih sesenggukan.
"Udah? Puas nangisnya?" tanya Sari.
"Ma. Apa Papa akan mati?" tanya Tono ketakutan.
"Ya matilah. Tapi nanti! Setelah kamu merasakan sakit akibat kelakuanmu yang suka main perempuan!" jawab Sari dengan ketus dan kejam.
"Ma...kamu tega sekali ngomong kayak gitu," ucap Tono.
"Tegaan mana dengan kamu yang meninggalkan istri dan anakmu, buat kawin lagi? Main perempuan dimana-mana. Hah...?" sahut Sari.
"Ma...Maafkan Papa!" ucap Tono.
"Enak banget kamu minta maaf. Setelah puluhan kali kamu sakiti aku dan Rendi! Tuh, lihat anakmu! Merasakan sakit akibat keegoisan kamu!" sahut Sari.
__ADS_1
"Ma....Papa sangat menyesal." Tono kembali terisak.
"Udah terlambat Tono! Sesalmu enggak akan menyembuhkan penyakitmu!" Sari semakin menakut-nakuti Tono.
"Papa mau mati saja kalau begini," ucap Tono.
"Silakan! Kamu pikir aku dan Rendi akan menangisi kamu?" sahut Sari.
"Ma...ampuni Papa, Ma...!" Tangisan Tono semakin menyayat hati.
"Minta ampun sama Tuhanmu! Itu juga kalau kamu punya Tuhan!" sahut Sari.
"Ma...maafkan Papa. Papa menyesal. Tolong Papa, Ma...!" Tono terus saja menangis.
"Tolong, tolong! Kalau udah begini aja, kamu minta tolong! Udah, aku mau kembali ke kamar Rendi!" sahut Sari.
"Ma...tolong temani Papa, Ma!" pinta Tono.
"Suruh aja istri-istri kamu nemenin! Jangan aku!" sahut Sari. Dia tak sudi lagi menemani Tono. Lalu Sari keluar begitu saja dari kamar Tono.
"Ma....!" seru Tono.
Tapi sayangnya Sari sudah keluar dan berjalan cepat menuju kamar rawat Rendi.
Tono hanya bisa menangis sendirian. Tak ada lagi yang mau mengasihaninya. Tono merasa sendiri dan terbuang.
Sementara Rendi masih asik video call dengan Tania di kamar rawatnya. Dia merasa sangat bahagia, meski semua itu harus ditebusnya dengan luka parah.
Sari membuka pintu kamar Rendi, tanpa mengetuknya lebih dahulu.
"Mama...!" Rendi tercekat. Dan langsung mematikan hapenya.
"Kamu lagi ngapain, Ren?" tanya Sari curiga.
"Ee....lagi...video call, Ma," jawab Rendi.
"Video call? Sama siapa? Kedengarannya suara cewek," tanya Sari lagi.
"Mm...sama..." Rendi setengah mati mencari jawabannya biar mamanya tak marah.
"Sama Monica?" tanya Sari.
"I...Iya, Ma. Sama Monica," jawab Rendi.
"Katanya Monica lagi sibuk kuliah?" tanya Sari.
"Mm...Makanya kami cuma video call aja," jawab Rendi.
"Ooh. Baguslah. Jangan ganggu dia dulu," sahut Sari. Sari juga enggak mau Monica mengganggu Rendi.
Rendi menghela nafas lega. Tadi tak ada pikiran sama sekali tentang Monica. Hingga Rendi tergagap menjawabnya.
Sari pura-pura tersenyum. Padahal dalam hatinya kesal. Kenapa mesti Monica?
Tok. Tok. Tok.
"Ya masuk!" ucap Sari.
Pintu pun dibuka. Mata Sari dan Rendi terbelalak melihat siapa yang datang.
Monica...!
__ADS_1