
"Simpan baik-baik uang ini, Bu. Kita kan enggak tau apa yang akan terjadi selanjutnya," ucap Yahya pada Asih.
"Iya, Pak. Apa kamu percaya sama omongan Tono, Pak?" tanya Asih.
"Percaya enggak percaya, Bu. Yang penting, simpan kembali surat itu. Kalau sampai suatu saat dia mengingkarinya, kita punya bukti," jawab Yahya.
"Iya, Pak. Nanti aku simpan. Amanlah pokoknya kalau sama aku," sahut Asih.
Asih masih memegangi surat dan uang itu.
"Aku sih berharap, semoga omongan Tono bener. Apalagi kalau neng Tania tinggal di sini. Aku rela mengabdikan hidupku sama dia, Pak," ucap Asih.
"Iya, Bu. Aku juga mau tetap tinggal di sini. Udah lama di sini, rasanya berat juga ninggalin," sahut Yahya.
"Lagipula, kita mau tinggal di mana juga, Pak."
Sejak bangkrut akibat harta warisan dan modal usaha Asih habis untuk pengobatan anaknya, mereka tak lagi punya tempat tinggal.
Makanya saat Tono memberikan penawaran bekerja di rumahnya, meski tak dibayar sedikitpun dengan alasan untuk bayar hutang, mereka menyetujuinya.
"Makanya, Bu. Kita tinggal di sini aja dulu. Suatu saat nanti kalau udah punya uang lagi, baru kita pindah," ucap Yahya.
"Iya, makanya kamu jangan mintain mulu!" ucap Asih.
"Yaelah, Bu. Cuma minta buat beli rokok doang," sahut Yahya.
"Rokok doang tapi tiap hari. Sama aja!" Asih langsung berjalan ke kamarnya. Malas dia kalau harus berdebat dengan Yahya soal rokok. Pasti enggak mau kalah.
Sebelum tidur, Tono membaca pesan yang dikirimkan Rendi. Tapi karena sudah mengantuk setelah kekenyangan makan, Tono tak membalasnya.
Keesokan harinya Tono pergi ke rumah Tania.
Tania dan keluarganya baru saja selesai makan pagi. Mereka lagi duduk sambil membicarakan rencana healing.
"Assalamualaikum," sapa Tono dengan sopan.
Tania dan keluarganya menoleh. Dan terkejut saat melihat siapa yang datang.
Tumben sopan, batin Danu.
Baik Tania, Widya juga Eni membatin sama. Karena dulu Tono kalau datang kayak jelangkung. Datang tak diundang, pulang tak diantar.
Tania beringsut sedikit dari tempat duduknya dia mendekati Widya yang duduk di sebelahnya.
Meskipun sikap Tono kemarin juga sudah berubah baik, tapi Tania masih belum yakin.
"Waalaikumsalam...." sahut mereka bersamaan.
"Boleh aku masuk?" tanya Tono dengan sopan.
Tak ada satupun yang mempersilakan Tono masuk. Mereka masih terheran-heran dengan perubahan Tono.
"Bo...boleh," jawab Eni.
__ADS_1
"Masuk aja. Duduk!" Widya menunjuk kursi kosong di sebelah Danu.
Dengan sopan Tono masuk dan duduk.
"Ada apa?" tanya Widya tanpa basa basi.
"Aku semalam dapat kabar dari Rendi, tentang rencana kalian liburan ke luar kota," jawab Tono.
Semua mata pun kini beralih menatap Tania. Karena pasti Tania yang mengatakannya pada Rendi.
"Lalu?" tanya Tania. Dia merasa risi juga dipandangi keluarganya.
Tono meletakan kunci mobil yang dari tadi dipeganginya. Lalu mengambil sebuah amplop dari kantong jaketnya.
Semua mata kembali menatap Tono. Lalu beralih ke atas meja.
"Pakai saja mobilku. STNK-nya ada di dalam dompet kecil ini." Tono menyorongkan kunci mobil ke arah Tania.
Mereka terkesiap mendengarnya.
"Dan ini, uang saku buat kalian selama di sana," lanjut Tono, sambil menyorongkan amplop berisi uang.
Mereka pun jadi melongo. Kali ini bukan sekedar omong doang , tapi benar-benar nyata.
Tania tak bisa berkata apa-apa. Danu dan Eni pun tak berani buka suara.
"Kamu serius?" tanya Widya.
Tono mengangguk.
"Dalam rangka apa kamu baik begini?" tanya Widya dengan nada ketus.
Widya tak mau ada udang di balik rempeyek. Begitu mereka menerima pemberian Tono lagi, akan kembali terjebak.
"Berbuat baik, tak perlu ada maksud tertentu kan?" sahut Tono.
"Dari dulu juga kamu begitu!" ucap Widya sengit.
"Itu dulu, Wid. Kemarin kan aku udah bilang, kalau aku ingin berubah. Aku udah menyadari kesalahanku selama ini," sahut Tono.
Widya mendengus.
Danu dan Eni pun masih belum percaya. Apalagi Tania.
"Percayalah padaku. Mulai sekarang, aku ingin benar-benar berubah," lanjut Tono.
Widya masih belum percaya seratus persen.
"Aku ingin membahagiakan Tania. Karena dia bakal menjadi menantuku. Sepulang dari sini, aku akan mendatangi pengacara untuk mengurus proses perceraianku dengan Tania." Tono menambahkan.
"Terus, berapa lama kami bisa pakai mobil kamu? Aku tak mau kalau kami baru sampai di sana, kamu menyuruh kami buru-buru pulang," tanya Danu.
Danu yang bakal menjadi supir, pastinya tak akan sanggup kalau mesti bolak-balik secepatnya.
__ADS_1
"Itu terserah Tania saja. Aku masih bisa pakai motor atau naik kendaraan umum buat menyelesaikan urusan-urusanku," jawab Tono.
Danu manggut-manggut. Dalam hati, dia sangat senang. Karena mobil Tono sudah canggih, tak seperti mobil angkotnya yang berat karena masih pakai kopling.
"Ya udah. Aku pulang dulu," ucap Tono, lalu berdiri.
"Enggak ngopi dulu?" tanya Eni basa basi.
"Aku udah ngopi di rumah. Terima kasih," jawab Tono.
"Aku pulang dulu, Tania," ucap Tono pada Tania.
Tania hanya mengangguk. Dia masih belum percaya juga.
"Baik banget si Tono," ucap Danu.
"Iya. Abis kepentok lagi kayaknya," sahut Eni.
"Biarin deh, Bu. Moga-moga aja dia enggak sembuh dari kepentoknya. Biar enggak mendzolimi kita lagi," ucap Danu.
"Iya, Paman. Tania juga berharap begitu. Paling tidak, sampai urusan perceraian kita selesai," harap Tania.
"Kamu udah siap kan Tania, dengan status barumu nanti?" tanya Widya.
Karena Widya pernah mengalami kondisi seperti itu, saat awal dia menjadi janda.
Banyak orang yang memandangnya sebelah mata. Seolah status barunya sangat rendah di mata orang.
"Siap, Bude. Yang penting Tania bebas dari Tono," jawab Tania.
"Iya, Tania. Tenang aja, Bibi akan membelamu kalau ada yang berani merendahkanmu," sahut Eni.
Dulu juga saat awal Widya menyandang status janda, Eni selalu membelanya kalau ada yang berani merendahkan.
"Iya, Bi. Makasih. Tania jadi semakin yakin dengan keputusan Tono. Karena Tania tak akan sendiri," sahut Tania.
"Enggak akan, Tania. Kami akan membelamu," sahut Widya.
Tania meraih amplop coklat yang dari tadi didiamkan. Tak ada yang berani menyentuhnya, apalagi mengambil.
Tania membukanya. Matanya terasa mau lepas melihat tumpukan uang dalam amplop itu. Lalu memperlihatkan pada mereka.
"Hah? Banyak amat?" Eni yang kadang mata duitan, langsung melotot melihat uang itu.
Tania memberikan amplop itu pada Eni.
"Ini, Bibi aja yang pegang. Kalau perlu apa-apa, pakai aja," ucap Tania.
"Jangan Tania. Itu uang kamu. Kamu yang berhak menggunakannya. Lagi pula, kalau untuk biaya refreshing kita besok, Bude ada uang kok," cegah Widya.
"Enggak apa-apa, Bude. Biar bibi aja yang pegang. Tania percaya kok, sama bibi," sahut Tania.
Karena tak mau ada perdebatan lagi, Tania masuk ke kamarnya, meninggalkan amplop itu.
__ADS_1
Eni memandang Widya dengan ragu.