HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 244 CEMBURU BUTA


__ADS_3

Danu menoleh, mendengar teriakan Eni. Dan tepat saat sebuah benda melayang ke arahnya.


Danu pun segera menghindar.


Dan benda melayang itu mengenai bahu si wanita yang sedang ngobrol dengan Danu.


"Auwh!"


Spontan wanita itu teriak dan menoleh ke arah benda yang telah mengenainya. Lalu mencari arah benda itu berasal.


Dan saat mengetahui si pelemparnya, wanita itu menatap dengan geram.


Eni yang ditatap seperti itu, tak gentar. Dia melangkah dengan gagah berani menghampiri wanita itu.


Aduh...! Gawat! Bisa perang dunia ini. Batin Danu.


"Heh! Kamu yang melempar ini?" tanya wanita itu. Kakinya menyentuh sandal Eni yang tergeletak di bawahnya.


"Iya! Kenapa? Gak terima?" jawab Eni dengan garang.


Wanita itu meski tak takut, tapi bingung apa maksudnya.


"Kamu pikir enggak sakit, apa?" tanya si wanita.


"Syukurlah kalau lu tau itu sakit!" jawab Eni.


Danu semakin kebingungan. Lalu matanya menatap ke arah Widya. Danu seolah meminta bantuan kakaknya itu untuk meredam kemarahan Eni.


Widya pun mengerti. Lalu bergegas mendatangi Eni.


"En! Udah! Kamu ngapain, sih?" Widya menarik lengan Eni.


Eni menepiskan tangan Widya.


Wanita itu melangkah mendekati Eni dengan geram.


"Udah, Mbak....Udah...!" pinta Danu pada wanita itu.


Wanita itu menoleh ke arah Danu.


"Enak aja udah! Dia udah ngelempar aku pakai ini!" Wanita itu mengambil sandal Eni. Lalu menimangnya, seolah siap melempar kembali pada Eni.


Widya mendekat dan berdiri di depan Eni. Widya tak mau terjadi salah paham bahkan perkelahian yang tak jelas masalahnya.


"Mbak. Maaf, tadi adik saya ini tak sengaja," ucap Widya.


"Tak sengaja tapi kena bahuku? Maksudnya apa?" tanya wanita itu.


"Danu, sini!" Widya malah menyuruh Danu menghampirinya.


"Iya, Mbak." Danu pun mendekat.


"Siapa dia?" Widya menunjuk ke arah wanita itu.


"Aku enggak tau, Mbak. Dia..."


"Dia siapa? Selingkuhan kamu, Pak?" Eni langsung aja menyerobot.

__ADS_1


Wanita itu terkesiap mendengarnya. Danu juga.


"Bukan, Bu. Dia...."


"Ngaku aja, deh! Kamu sengaja kan menemui dia? Pantas aja kamu enggak mau nganter aku sampai ke dalam. Ternyata kamu...." Eni hampir saja menangis.


"Sabar, En. Sabar. Kita tanya baik-baik dulu," ucap Widya sambil mengelus lengan Eni. Berusaha menenangkan adik iparnya yang lagi emosi.


"Tanya baik-baik apa? Mana ada maling ngaku. Kalau maling ngaku, penjara penuh, Mbak!" cerocos Eni.


"Heh! Maksud lu apa? Lu nuduh gue maling? Nih!"


Wanita itu merasa tersinggung dan geram. Lalu melempar sandal yang dipegangnya ke arah Eni. Tapi dia sengaja agar tak mengenai Eni. Walaupun dalam hatinya ingin sekali mencabik-cabik mulut Eni.


"Iya! Ngapain lu deket-deket laki gue? Mau jadi pelakor, lu?" Eni semakin nyolot.


Wanita itu kembali terkesiap. Dan darahnya serasa mendidih dituduh sebagai pelakor.


"Heh! Jaga mulut lu!" hardik wanita itu.


"En. Tahan emosi kamu," ucap Widya.


"Bu. Dia bukan siapa-siapaku," ucap Danu juga.


"Bukan siapa-siapa, kamu bilang? Tega kamu, Pak." Eni mulai sesenggukan.


"Heh! Denger ya! Gue kagak ada urusan apa-apa ama laki lu!" ucap wanita itu dengan geram. Karena Eni seakan masih saja menuduhnya.


"Enggak ada urusan tapi lu deket-deket laki gue. Mau lu apa?" tanya Eni sambil terus sesenggukan.


"Heh, gue cuma lagi nanya alamat ama laki lu! Tanya tuh orangnya!" Wanita itu menunjuk ke arah Danu.


Bohong! Kalian pasti bohong, kan? Kalian takut kan, kerana ketahuan?" Eni terus saja menuduh yang tidak-tidak.


"Ya ampun, Bu. Bukan begitu." Danu masih berusaha menjelaskan.


"Bukan begitu apa? Kamu tega, Pak!" Tangis Eni malah semakin menyayat hati.


Wanita itu pun hanya bisa menghela nafasnya.


Widya meraih tubuh Eni, lalu mendekapnya erat. Dia tahu, saat ini Eni sedang membutuhkan pelukan. Dan tempat menumpahkan tangisannya.


Lintang dari tadi hanya menyimak saja. Merekam semua kejadian itu dan membayangkan kalau dia sampai ketahuan istrinya Haryo.


Mungkin dia akan menerima timpukan seperti wanita tadi. Atau bahkan lebih.


Lintang bergidig ngeri. Dan itu membuatnya tak mau lagi mengharapkan Haryo. Biarlah apa yang telah dilakukan Haryo padanya, akan jadi tanggung jawabnya.


"Bu. Aku enggak kenal sama mbaknya ini. Dia cuma nanya alamat aja. Iya kan, Mbak?" Danu menatap wanita yang bahkan dia tak tahu namanya.


"Bohong! Huwaaa...." Eni masih saja tak percaya.


Widya menepuk-nepuk punggung Eni dengan lembut.


"Sabar, En. Sabar...." ucap Widya.


"Iya, Mbak. Aku cuma nanya alamat aja. Gak ada maksud apa-apa," ucap wanita itu.

__ADS_1


Eni melepaskan diri dari pelukan Widya. Lalu menatap tajam wanita itu.


Untungnya wanita itu cukup bijak. Dia tak lagi tersulut emosi. Dia malah menatap Eni dengan lembut.


"Mbak. Percaya sama aku. Aku tidak ada hubungan apapun dengan suami Mbaknya. Kami juga tidak saling kenal," ucapnya.


Eni beralih menatap Danu.


Danu mengangguk.


"Benar kata mbaknya itu, Bu. Kita enggak kenal sama sekali. Atau kamu mau tanya sama yang jualan kopi? Dia tau kok," ucap Danu.


Eni menggeleng. Lalu menghampiri Danu dan memeluknya dengan erat.


"Percaya sama aku ya, Bu," pinta Danu sambil memeluk erat Eni.


Danu yang sebenarnya sangat pencemburu pada Eni, merasa bangga. Ternyata dia dicemburui juga oleh Eni.


Eni mengangguk.


Danu pun melepaskan pelukannya. Lalu mengecup kening Eni dengan lembut.


Widya yang menatapnya jadi terharu. Bulir bening mengalir di pipinya.


Widya bangga, adiknya bisa menemukan wanita sebaik Eni. Wanita yang sangat mencintai Danu dengan segala kekurangannya.


"So sweet..." komentar Lintang. Matanya juga sudah basah karena terharu.


"Kalian semua satu keluarga?" tanya wanita itu.


"Iya. Aku Widya. Kakaknya Danu." Widya mengulurkan tangannya pada wanita itu.


"Aku Liona." Wanita itu menerima uluran tangan Widya. Dan menjabatnya erat.


Widya menatap Liona dengan lebih intens. Kalau dilihat dari penampilannya, kayaknya dia orang kaya.


Wajahnya cantik, meski usianya tak lagi muda. Kulitnya bersih. Mana mungkin wanita seperti ini mau dengan Danu yang kadang terlihat dekil? Batin Widya.


Widya tersenyum pada Liona. Lalu melepaskan jabat tangannya.


"Dan ini Eni. Istrinya Danu tercinta!" Widya menekan kata-kata itu. Biar Eni dengar dan tak lagi cemburu.


Liona mengangguk sambil tersenyum juga.


"Kalau si cantik ini?" tanya Liona menunjuk ke arah Lintang.


"Ini Lintang, anakku," jawab Widya.


Lintang pun mengangguk, lalu menghampiri dan menyalami Liona.


"Maaf ya, Mbak Eni. Atas kesalah pahaman tadi," ucap Liona dengan legowo.


Mestinya yang mengucapkan itu adalah Eni. Karena Eni yang salah paham.


"Iya, Mbak. Saya yang minta maaf," sahut Eni malu-malu.


"Udah, cemburunya?" ledek Widya.

__ADS_1


Eni melotot ke arah Widya.


Lalu semuanya tertawa terbahak-bahak. Danu mengacak rambut Eni yang tadi di rumah sudah diblow rapi.


__ADS_2