HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 285 SIAPAKAH DIA


__ADS_3

"Udah, kita makan aja yuk. Aku udah laper," ajak Rendi.


Rendi tak mau kalau Mila makin keGR-an. Tadi GR dengan Rendi, lalu lanjut GR dengan Tono.


Widya dibantu yang lainnya menyiapkan makanan yang mereka bawa. Satu persatu makanan dikeluarkan dari tas-tas yang dibawa Widya juga Sri.


Ternyata makanan yang mereka bawa jumlahnya banyak sekali. Widya masak banyak, Sri dan Mila pun tak kalah banyaknya.


Suasana sudah mirip acara hajatan. Makan prasmanan tapi lesehan.


"Kok enggak ada minumannya?" tanya Tania yang dari tadi memperhatikan.


Semua mata pun jadi ikut mencari minuman diantara banyaknya makanan.


"Aduh...kenapa aku sampai kelupaan sih?" Sri menepuk jidatnya sendiri.


"Mila...!" teriak Sri. Dia lupa kalau lagi berada di antara banyak orang.


Mila pun terkesiap mendengar teriakan Sri seperti saat mereka berada di rumah keluarga Rendi. Lalu menoleh ke arah Sri.


"Kamu gimana sih? Tadi kan aku udah minta tolong kamu, buat ngingetin beli minuman!" Sri masih saja berteriak.


"Maaf, aku lupa, Mbak!" sahut Mila tak kalah kencangnya.


Sebenarnya wajar saja mereka berteriak-teriak. Deru ombak yang pecah di pinggir pantai dan suara angin yang berhembus, ditambah suara hingar bingar para pengunjung meski tak sebanyak hari libur, membuat orang tak bisa mendengar kalau bicara perlahan.


Tapi bagi yang berada di dekat mereka, suara teriakan membuat telinga memerah juga.


"Kamu tuh, ingetnya apa?" Sri malah kesal pada Mila.


Mila kalau sudah di jalan, akan asik sendiri. Semua tugasnya akan menghilang dari ingatan.


"Udah. Biar Diman aja yang beli. Yahya! Kamu antar Diman beli minuman!" ucap Tono menengahi.


"Siap, Pak!" sahut Yahya dan Diman berbarengan.


Tono mengambil dompetnya, lalu mengeluarkan dua lembaran merah.


"Nih! Beli minuman. Tawarin mereka kalau ada yang mau minuman lain!" ucap Tono lagi.


"Baik, Pak." Yahya menerima uang itu.


"Ada yang mau minuman lain? Kalau enggak, kami belinya air mineral aja!" tanya Yahya.


"Aku mau minuman bersoda. Yang dingin!" sahut Dito.


Pasti sangat menyegarkan minuman bersoda yang dingin.


"Aku minuman rasa jeruk aja!" Mike pun request minuman sendiri.


"Lainnya?" tawar Yahya.


Dan mereka satu persatu meminta minuman kesukaan masing-masing. Jelas saja membuat Yahya dan Diman kebingungan.


"Dicatat aja, deh!" pinta Diman. Daripada nanti salah beli atau ada yang tak terbeli.


"Catat pake hape aja!" sahut Tono.

__ADS_1


Yahya menoleh ke arah Diman. Diman biasanya yang paling rajin membuka hape.


Meskipun sudah memiliki hape lagi, Yahya sangat jarang membuka hape. Karena bakal kena semprot Asih kalau ketahuan hanya main hape saja.


"Diman! Catat semuanya!" perintah Tono.


Diman pun terpaksa mengeluarkan hapenya. Lalu dia membukanya. Tapi dia kebingungan mau nyatat dimananya.


Maklum, selama ini Diman hanya menggunakan hape untuk berchat ria dan nonton tayangan yuotube.


"Mbak Tania, kamu bisa mencatatkan untukku?" pinta Diman yang berdiri tak jauh dari Tania.


Tania mengangguk. Lalu meraih hape Diman.


Tania mulai mengetik satu persatu pesanan minuman yang telah request.


"Aku boleh minta kopi?" tanya Tajab yang dari tadi diam saja.


Tajab sudah tak lagi menggunakan kursi roda. Dia sudah mulai menggunakan tongkat seperti Rendi.


Apalagi tujuan piknik mereka di pantai. Akan sangat merepotkan kalau menggunakan kursi roda.


"Boleh. Bang Tajab mau kopi apa?" tanya Tania.


"Kopi hitam aja. Tanpa gula," jawab Tajab dengan sopan.


Tajab menghormati Tania karena bagaimana pun Tania adalah bekas istri majikannya. Dan sekarang bakal jadi istri anak majikannya.


"Enggak pahit, Bang?" tanya Tania.


Jleb!


Mila yang mendengarnya langsung tersipu malu. Tajab secara langsung dan terang-terangan telah memujinya di depan orang banyak.


"Cie....ada yang salah tingkah, nih!" ledek Rendi.


"Iih...apaan sih, Mas Rendi!" Mila semakin tersipu malu.


"Itu dipuji bang Tajab. Langsung melayang-layang deh." Rendi kembali menggoda Mila.


"Auk ah!" Mila memalingkan wajahnya yang sudah merah kayak kepiting rebus.


Setelah merequest pesanan minuman, Tania menyerahkan kembali hape Diman.


"Nih, Bang. Udah aku catat semua. Nanti tinggal baca aja," ucap Tania.


Diman mengambil hapenya. Lalu membaca ketikan Tania yang panjang lebar.


"Busyet! Banyak amat!" gumam Diman.


Tono yang merasa cuma memberi dua lembaran merah, kembali mengambil dua lembar lagi.


"Yahya. Nih, siapa tau kurang." Tono menyerahkan uangnya pada Yahya.


Dengan sigap, Yahya menerimanya.


"Carikan sesuai pesanan mereka!" ucap Tono.

__ADS_1


"Siap, Pak!" jawab Diman dan Yahya lagi berbarengan.


"Bang. Kalau masih sisa, belikan air mineral aja. Tapi yang dingin!" pinta Rendi pada Diman.


"Siap, Mas Rendi."


Diman dan Yahya pun bergegas pergi. Bukan karena pesanan mereka banyak. Tapi perut mereka sudah minta diisi. Demi melihat aneka makanan yang digelar di atas tikar.


"Ayo buruan jalannya!" ucap Diman pada Yahya.


"Hhh! Ini juga udah cepet. Tenagaku udah gak sekuat dulu lagi, Man," sahut Yahya.


Usia Yahya yang semakin senja, membuat geraknya tak segesit dahulu.


"Ah, dasar orang tua!" ledek Diman.


Dari belakang, Yahya menoyor kepala Diman. Diman pun hanya terkekeh. Dia merasa senang bisa membuat Yahya kesal.


Di atas tikar, Widya mulai menyiapkan piring plastik yang sudah disediakannya.


Tak seperti Sri yang hanya membawa masakan, tanpa berpikir kalau mereka butuh piring untuk makan.


"Kayaknya lezat sekali masakannya Bude," gumam Rendi ditujukan pada Tania.


"Kamu mau makan sekarang, Ren?" tanya Tania.


"Boleh, deh," jawab Rendi.


Lalu Tania mengambil satu buah piring plastik. Piring-piring itu tak terlalu tebal. Jadi sedikit merepotkan Tania.


"Mau pakai apa, Ren?" tanya Tania.


Rendi pun menunjuk beberapa lauk yang diingininya.


Dan setelah selesai mengambilkan, Tania dengan telaten menyuapi Rendi.


Tono menatapnya dengan terharu.


Maafkan Papa, Nak. Papa jahat telah memisahkanmu dari Tania. Wanita yang sangat kamu cintai, juga sangat mencintaimu. Batin Tono yang merasa sangat bersalah.


Tak terasa matanya berkaca-kaca.


Widya melirik Tono. Meski dari dulu Widya sangat membenci Tono, tapi perubahan sikap Tono membuat Widya berubah pikiran.


Widya jadi ikut terharu melihat Tono. Ingin rasanya dia menghapus air mata yang masih dipelupuk mata tua Tono.


Widya pun berkaca-kaca.


Tanpa mereka sadari, di kejauhan ada sepasang mata yang menatap kurang suka.


Mata itu penuh dengan amarah dan dendam.


"Awas kamu, Tania! Aku akan membalasnya. Kamu tak akan bisa memiliki Rendi. Rendi adalah milikku!" gumam orang yang berdiri jauh dari rombongan Rendi.


Siapakah pemilih hati yang sedang iri melihat kemesraan Tania dan Rendi itu?


Belum ada yang tahu. Karena disamping orang itu berdiri cukup jauh, mereka pun sedang asik dengan kegiatan masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2