HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 212 SALING MEMPERJUANGKAN


__ADS_3

Sebuah perjalanan yang indah buat Yadi. Karena Mila tetap bersandar di sana sampai menjelang sampai ke rumah sakit.


Entah kenapa Mila merasa nyaman berada di dekat Yadi.


Mila telah kehilangan sosok bapak, sejak kecil. Dan ibunya menikah lagi, lalu pergi bersama suami barunya.


Sementara Mila dititipkan di sebuah panti asuhan.


Setelah lulus SMK jurusan perawat, Mila dapat pekerjaan di rumah sakit. Karena jarak panti dengan rumah sakit jauh, Mila mengajukan tinggal di mess.


Sekalian juga mencari suasana baru. Tapi kehidupan di mess tak selalu menyenangkan. Banyak perawat laki-laki yang suka memanfaatkan perawat baru sepertinya.


Bahkan Mila pernah dilecehkan oleh salah satu perawat senior. Dan dengan bantuan temannya, juga ilmu tentang obat-obatan yang dikuasainya, Mila bisa terhindar dari kehamilan.


Tapi sayangnya, hal itu malah semakin membuat Mila jadi kecanduan. Mila sering berganti teman kencan.


Dan Mila bisa melakukannya dengan siapapun yang disukainya, di manapun.


Setiap kali dia merasa nyaman dengan lelaki, dia akan langsung nempel. Seperti yang sedang dilakukannya pada Yadi sekarang ini.


"Mbak Mila. Kita udah sampai," ucap Yadi. Lalu menghentikan motornya.


Mila mengangkat kepalanya.


"Oh iya." Mila turun dari motor.


"Nanti mau dijemput apa enggak?" tanya Yadi.


Yadi malah merasa kasihan pada Mila. Dia kelihatan bukan wanita nakal. Hanya wanita yang butuh tempat bersandar.


"Memangnya Pak Yadi mau jemput?" Mila malah balik bertanya.


"Saya akan usahakan. Kalau dapat ijin dari bu Sari. Jam berapa?" tanya Yadi penuh semangat.


Mila melihat jam tangannya.


"Jam lima, ya," jawab Mila.


"Oke. Tapi kalau sampai jam lima saya enggak ada di sini, Mbak Mila langsung ke sana aja. Naik ojek atau naik angkot," ucap Yadi.


Yadi tak bisa menjanjikan. Karena biasanya jam lima, Yadi sudah pulang. Dan untuk meminjam motor Sari pasti susah.


Tapi kalau alasannya menjemput Mila, mungkin akan dikasih pinjam. Pikir Yadi.


Mila mengangguk.


"Ya udah. Aku duluan, Pak." Mila bergegas masuk ke area rumah sakit.


Yadi kembali ke rumah Sari sambil senyum-senyum. Yadi merasa seperti menang lotre. Padahal cuma dipeluk aja sama Mila.

__ADS_1


"Ini Bu, kunci motornya. Kata mbak Mila, nanti sore minta dijemput," ucap Yadi berbohong, sambil menyerahkan kunci motor.


"Ya udah, kalau minta dijemput, kamulah yang jemput. Masa aku?" sahut Sari.


Yes!


Yadi bersorak dalam hati.


"Siap, Bu. Nanti sore saya jemput mbak Mila."


"Hhmm! Modus!" gumam Sri yang lagi meletakan es teh untuk Sari dan Rendi.


"Kamu cemburu, Sri?" tanya Sari yang mendengar gumaman Sri.


"Ih, enggaklah. Ngapain cemburu? Enggak level!" Dengan pongahnya Sri melewati Yadi.


"Sombong! Mentang-mentang udah tukeran nomor hape sama sopir taksi online tadi!" ucap Yadi.


"Iyalah. Dia lebih keren dari kamu! Punya mobil. Enggak punya lima anak kayak kamu!" sahut Sri.


"Anaknya enggak lima, tapi enam! Sama aja, Sri!"


Sri tak mau mendengarkan sahutan Yadi. Dia terus saja melenggang ke dapur.


"Udah! Kalian ngapain sih? Berantem terus!" seru Sari.


"Biarin ajalah, Ma. Biar rame. Kalau mereka pada diem, rumah jadi sepi!" ucap Rendi.


Rendi dan Sari tak tahu itu telpon dari siapa, karena Monica buru-buru ke teras. Dan tak lama, dia pun pamit pulang.


Sementara Tono ijin pada Rendi untuk tidur di kamar atas. Kesehatan Tono sudah mulai menurun. Kalau kecapekan sedikit saja, dia akan merasa pusing.


Sri yang dulu sering berharap bakal diminta melayanipun, merasa kasihan melihat kondisi Tono.


"Ren. Mulai besok, Mama bisa ke pasar lagi, kan? Di rumah kan udah ada Mila. Sri dan Yadi juga ada di sini, kok. Jadi kamu enggak akan kesepian," ucap Sari.


"Iya, Ma. Mama ke pasar aja. Rendi nanti pelan-pelan juga sembuh. Jangan khawatirkan Rendi," sahut Rendi.


Sari mengangguk senang. Meski Rendi belum sembuh, tapi dia merasa lebih tenang.


"Ma. Boleh Rendi minta sesuatu?" tanya Rendi.


"Apa?" tanya Sari sambil mengernyitkan dahinya.


"Papa biar tinggal di sini, ya? Biar tidur di kamar Rendi. Kasihan kalau di rumahnya. Enggak ada temannya," jawab Rendi.


Sari terdiam.


Tono tinggal di sini? Lalu rumahnya yang mewah itu, siapa yang mau nempatin? Tania? Enak saja! Batin Sari.

__ADS_1


"Ren. Papamu kan punya rumah sendiri. Di sana juga dia punya anak buah. Mereka yang akan menemani papa kamu," ucap Sari.


"Ma. Mereka kan cuma anak buah. Beda dengan kita. Kita keluarga, Ma. Papa pasti akan lebih nyaman kalau tinggal sama kita. Lihat di atas. Papa pasti lagi nyaman tidur," sahut Rendi.


"Rendi. Papa kamu sudah membuat keputusan sendiri. Dari dulu, dia memilih tinggal terpisah dengan kita. Masa giliran udah tua dan tidak berdaya, mau balik lagi ke sini?" Sari tetap menolak.


"Ya udah. Kalau begitu, biar Rendi saja yang tinggal di rumah papa. Mama di sini kan juga ada anak buah, yang nemenin." Rendi menatap wajah Sari dengan tajam.


"Kamu tega ninggalin Mama?" tanya Sari tak percaya.


"Makanya biarin papa tinggal di sini, Ma. Kita bisa jadi keluarga yang utuh lagi," jawab Rendi.


Rendi pun sebenarnya tidak tega meninggalkan Sari sendirian. Dia hanya pura-pura saja, biar Sari mau menerima Tono lagi.


"Ya udah. Tapi papa kamu tidak tidur di kamar Mama!" Sari akhirnya mengalah.


Rendi tersenyum penuh kemenangan. Karena akhirnya Sari luluh setelah diancam.


"Papa kan belum sembuh, Ma. Papa juga enggak akan berani menyentuh Mama," ucap Rendi.


Sari menatap Rendi dengan kesal.


Sebenarnya Sari merasa, sekaranglah saatnya dia balas dendam pada Tono. Tapi karena ancaman Rendi, Sari terpaksa mengalah.


"Mama mau istirahat. Kamu mau istirahat juga?" tanya Sari.


Rendi mengangguk. Dia juga sudah capek dari tadi duduk terus.


"Mama bisa bantu Rendi pindah ke tempat tidur?" tanya Rendi.


"Yadi sama Sri bisa membantu," jawab Sari.


"Yadi! Sri!" panggil Sari.


Mereka berdua bergegas menghampiri.


"Ada apa, Bu?" tanya Sri.


"Bantu memindahkan Rendi ke kamar!" jawab Sari.


Mereka berdua pun dengan sigap membantu. Yadi mendorong kursi roda. Sari dan Sri bersiap di kamar tamu. Kamar yang sementara akan ditempati Rendi.


Ternyata Tono sudah bangun. Dia dari tadi ngumpet, mendengarkan Rendi meminta pada Sari, agar dia bisa tinggal di rumah itu lagi.


Tono merasa sangat terharu. Anak yang pernah dia sakiti, ternyata masih punya hati untuknya.


Setelah Sari, Yadi dan Sri meninggalkan kamar Rendi, Tono masuk ke kamar Rendi.


"Papa...!"

__ADS_1


"Ren. Makasih ya, kamu sudah perjuangkan Papa untuk kembali ke rumah ini. Papa janji, akan memperjuangkan kamu kembali pada Tania," janji Tono.


Rendi mengangguk senang. Meski dia harus kembali berhadapan dengan Sari.


__ADS_2