HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 103 KETEMU RENDI


__ADS_3

"Aku boleh save nomor kamu," jawab Rudi.


Tania menghela nafas lega, lalu tersenyum. Dia pikir Rudi akan minta syarat yang aneh-aneh.


"Save aja. Kirain syaratnya apaan," sahut Tania.


"Emang maunya apaan?" goda Rudi.


"Udah, ah. Aku mau belanja dulu," ucap Tania. Dia tak mau buang-buang waktu. Karena jatah healingnya cuma tiga jam.


"Oke deh, Cantik. Nanti aku chat kamu, ya."


Tania mengangguk, lalu menarik tangan Asih untuk melanjutkan healing mereka.


"Bik Asih mau beli apa?" Tania menawari Asih. Asih lagi asik melihat-lihat sandal.


"Enggak, Neng. Bibik cuma lihat-lihat aja, kok," sahut Asih.


"Enggak apa-apa, Bik. Tono enggak akan mengecek ATM-nya. Kalaupun dia kehilangan saldonya, nanti aku bilang aja buat beli keperluanku."


Tania mengambil sandal yang tadi dipegang Asih.


"Cobain, Bik. Kalau ukurannya kurang pas, bisa minta sama penjaganya."


Dengan ragu, Asih mencobanya. Sebuah sandal trepes dengan model simple tapi sangat anggun.


"Pas, Bik?" tanya Tania.


"Pas, Neng. Tapi harganya mahal banget," jawab Asih.


"Enggak akan bikin si Tono itu miskin, Bik."


Tania memanggil seorang penjaga toko. Lalu segera membayarnya di kassa dengan kartu debit milik Tono.


"Makasih ya, Neng," ucap Asih dengan senang.


"Iya, Bik. Itu juga kan hak Bibik. Udah kerja di rumah lima tahun, gratis," sahut Tania.


"Bik. Itu ada makanan yang lagi viral. Kita cobain, yuk," ajak Tania.


Asih mengangguk senang. Dia juga sering lihat di televisi. Akhirnya bisa juga merasakan makanan itu.


"Duduk sini, Bik. Aku pesan dulu." Tania pergi memesan makanan dan minuman.


"Ini, Bik. Ayo sikat!"


Tania dan Asih langsung menyikat makanan itu.


"Enak ya, Neng?" komentar Asih. Rasa penasarannya terbayar sudah.


"He eh," jawab Tania sambil terus mengunyah.


"Untung si Linda tadi minta dia yang belanja. Kalau enggak, gak bakalan Bibik merasakan makanan ini," ucap Asih setelah menghabiskan makanannya.


"Iya. Yang ngajakin malah kabur sama Tajab," sahut Tania.


"Tajab lagi haus, Neng. Ya, sekali-kali kasih minum sama Tajab. Itung-itung amal. Hahaha." Asih kembali ngomongin Linda.

__ADS_1


"Iya, Bik. Sayang kan kalau sampai tumpah-tumpah isinya," timpal Tania.


"Kayaknya Tono kurang kuat ngisepnya. Jadi Linda cari yang lebih kenceng isepannya. Eh, mereka main isep-isepannya di mana, ya?" tanya Asih.


"Masa iya di dalam mobil, Bik. Paling juga booking hotel," jawab Tania.


"Hih...! Menjijikan banget. Salome!" Asih bergidig.


"Apaan salome, Bik?" tanya Tania.


"Satu lobang rame-rame, Neng. Hahaha."


"Bibik bisa aja!" Tania pun ikut tertawa.


Dasar Asih yang sudah terlanjur sebel sama Linda. Ada aja istilah untuk mengatai Linda.


"Ayo, Bik. Jalan lagi. Kita punya waktu satu jam lagi buat jalan. Satu jam lagi buat belanja. Cukup, kan?" Tania memperhatikan jam di tangannya.


"Sangat cukup, Neng. Ayo. Bibik jadi makin kepingin kemana-mana."


Dan mereka pun berjalan kemana saja yang diinginkan.


"Udah yuk, Bik. Sekarang kita belanja kebutuhan dapur," ajak Tania.


Mereka sudah puas menikmati kebebasan yang hanya beberapa jam. Tapi bagi mereka yang hidup seperti tawanan, sudah lebih dari cukup.


Mereka pun menuju supermarket terbesar dan terlengkap di mall itu. Kalau soal harga, Tania tak mikirin. Toh, enggak pakai uang dia.


Tania mengambil sebuah trolly.


"Biar Bibik yang dorong, Neng. Neng Tania yang milih belanjaannya." Asih meraih trolly yang dibawa Tania.


Asih terkekeh sendiri. Lalu mereka mulai mencari belanjaan.


"Wah, di sini harganya mahal-mahal banget, Neng," ucap Asih. Dia melihat selisih harga dengan barang-barang yang dibelinya di pasar tradisional.


"Enggak usah dipikirin, Bik. Yang bayar Tono, ini." Tania terus saja memasukan barang-barang yang ditunjuk Asih.


"Kayaknya udah cukup, Neng. Ini bisa buat sebulan juga enggak akan habis," ucap Asih.


Asih juga seperti Tania. Bukan type orang yang suka memanfaatkan kesempatan.


Meskipun bebas memilih, dia tetap memilih yang memang dibutuhkan nantinya.


"Iya, Bik. Berat juga nanti bawanya. Tajab kan paling nunggu di parkiran mobil," sahut Tania.


"Iya. Sambil *****." Asih langsung menutup mulutnya yang keceplosan.


Di sekitar mereka, banyak orang yang juga lagi asik belanja. Jadi mereka tak begitu mendengar ceplosan Asih.


"Bik Asih kayaknya sebel banget sama Linda, ya?" tanya Tania.


"Iya. Dia itu gatel banget. Siapa aja maunya diembat," jawab Asih.


"Termasuk mang Yahya?" tebak Tania.


"Kayaknya. Tapi awas aja kalau sampai ketahuan! Aku habisi dia!" ancam Asih.

__ADS_1


"Kalau ketahuan, kalau enggak?" ledek Tania.


"Ya apes. Suamiku minum susu bekas orang banyak." Asih menepuk jidatnya.


"Sama menikmati salome juga ya, Bik." Tania masih saja meledek.


"Auk ah, Neng. Jijik membayangkannya," sahut Asih.


"Ya enggak usah dibayangkan, Bik. Positif thinking aja."


"Hhh! Kalau sama si Linda itu mah, enggak bisa positif thinking. Auranya negatif!" sahut Asih.


Mereka terus mengantri di antara banyaknya pengunjung yang sudah selesai belanja.


"Aduh, antriannya panjang banget. Waktunya udah mepet, nih," keluh Tania.


"Enggak apa-apa, Neng. Paling juga Tajab nyariin kita di sini. Dan enak juga, ada yang bawain belanjaan." Asih berusaha menenangkan Tania.


Tania mengangguk. Benar juga. Belanjaan mereka lumayan banyak. Pasti berat bawanya.


Setelah beberapa menit mengantri yang terasa sangat lama, sampai juga giliran mereka.


Asih membantu kasir mengeluarkan belanjaannya dari troly. Tania melihatnya saja.


Mata Tania berkeliling melihat sekitaran supermarket dan juga bagian luar. Banyak sekali orang hilir mudik.


Pengunjung mall makin penuh. Bisa jadi karena ini weekend. Tapi baik Tania maupun Asih tak lagi kenal weekend.


Mereka bisa pergi hari ini karena dapat kesempatan emas. Yang baru sekali ini didapatkan dari Tono. Itu juga karena kebodohan Linda.


Dan pada akhirnya, justru Tania dan Asih yang menikmatinya. Lindanya malah kabur bersama Tajab.


Tiba-tiba, mata Tania menatap sosok yang tak asing baginya. Sosok yang selalu ada di kepalanya. Meskipun Tania sudah berusaha menghapusnya.


Rendi!


Gumam Tania pelan. Bahkan saking pelannya, Asih tak mendengar. Karena suasana mall yang ramai dan bising.


Rendi berjalan sambil merangkul seorang wanita cantik. Yang wajahnya tak terlalu asing bagi Tania.


Wanita cantik dengan pakaian minimalis seperti Linda. Sepertinya selera bapak dan anak, tak ada bedanya.


Sama-sama pemuja wanita seksi.


Tania terus saja memperhatikan Rendi yang lagi asik berjalan berangkulan.


Tertawa.


Dan terlihat sangat bahagia.


Itu kah istri Rendi? Seperti yang pernah dikatakan Tono padaku?


Jadi benar kata Tono, kalau Rendi tak pernah serius mencintainya?


Mata Tania berkaca-kaca. Hatinya terasa sangat sakit. Perih.


Dan tiba-tiba, Rendi juga melihat ke arah Tania.

__ADS_1


Dan mata mereka saling bertemu.


Tania.


__ADS_2