HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 150 AKU BUKAN WANITA MATRE


__ADS_3

"Ren. Mama pulang dulu, ya?" pamit Sari.


"Iya, Ma," jawab Rendi sambil tersenyum sumringah.


Ada sedikit kecurigaan Sari. Kenapa Rendi malah senyum-senyum?


Tapi kemudian Sari berpikir, mungkin karena bakal ketemu lagi dengan sahabatnya, Dito.


"Jangan lupa, hubungi Dito!" ucap Sari sebelum menutup pintu.


"Iya, Ma. Beres!" seru Rendi.


Begitu pintu tertutup, Rendi langsung menghubungi Tania lewat chat.


Sayang. Mamaku udah pulang. Kamu bisa ke sini sekarang. Mama datang lagi besok pagi. Ketik Rendi.


Tania sedang ngobrol dengan Mike dan Dito di meja makan. Ponselnya dia letakan di kamar yang disediakan Mike untuknya.


"Kalian serius mau kabur?" tanya Dito. Mike ikut menyimak.


"Rendi bilang begitu. Dia mau ikut aku kabur," jawab Tania.


"Memangnya kamu mau kabur kemana, Tania?" tanya Mike dengan khawatir.


"Aku belum tau, Mik. Tapi yang pasti, jauh. Karena aku enggak mau ketahuan lagi sama papanya Rendi," jawab Tania.


"Memangnya kamu benar-benar dikurung di sana?" tanya Dito penasaran.


"Iya. Dikurung di sangkar emas!" Mike yang menyahut. Karena dia sendiri sudah melihat bagaimana mewahnya rumah Tono.


"Bukan cuma di sangkar emas. Tapi juga di sangkar madu!" sahut Tania.


"Enak dong, banyak madunya!" Dito tak paham maksud perkataan Tania.


"Enak, kalau madu beneran. Tapi ini, madu rasa racun!" sahut Tania.


"Maksudnya?" tanya Dito.


Tania menceritakan kalau Tono kawin lagi, dan membawa istri barunya tinggal serumah dengannya.


"Hah? Gila!" seru Mike.


"Terus kalian tidur seranjang bertiga?" tanya Dito. Otaknya jadi traveling. Membayangkan bermain threesome.


"Aku disuruh pindah ke kamar lain," jawab Tania enteng.


"Ya...Kesepian dong, kamu?" Mike menutup mulutnya yang keceplosan.


"Kesepian apa? Sejak tinggal di sana, aku selalu merasa kesepian. Cuma bik Asih dan mang Yahya yang jadi temanku," jawab Tania.


"Papanya Rendi jarang pulang?" tanya Dito.


"Sebenarnya, hampir tiap hari dia pulang. Tapi pernikahan kami tak seperti pernikahan orang lain," jawab Tania.


Lalu Tania menjelaskan, kalau dia tak pernah diperlakukan dengan baik oleh Tono.


"Mungkin dia kecewa, karena aku...telah melakukannya dengan Rendi." Tania menundukan kepalanya.

__ADS_1


Dia mengakui kalau yang dilakukannya dengan Rendi adalah sebuah kesalahan.


"Bisa jadi. Apa dia...maaf, sering melukaimu?" tanya Mike.


"Iya. Dia sering menggamparku. Meskipun aku sering juga melawan. Kalau mengata-ngataiku, hampir setiap saat," jawab Tania.


"Ya ampun. Kamu pasti sangat tersiksa, Tania." Mike menepuk-nepuk tangan Tania. Matanya mulai berkaca-kaca saking terharunya.


Tania sendiri malah bersikap biasa. Dia sudah kebal dengan sakit hatinya pada Tono. Air matanya sudah kering untuk seorang Tono.


"Apa dia juga...tak memperlakukanmu dengan baik, di atas ranjang?" Otak Dito dari tadi hanya seputaran ranjang saja.


"Kami tak pernah melakukannya, Dito! Aku selalu menolak. Mungkin itu juga sebabnya dia selalu marah-marah padaku," sahut Tania.


Dito manggut-manggut. Sebagai lelaki dia paham perasaan Tono pada Tania.


Suami mana yang bisa menerima dengan baik, kalau istrinya sudah diperawani lelaki lain?


Lalu istrinya juga tak mau melayani? Pastinya bikin emosi.


"Bener, Tan. Aku juga ogah, melayani lelaki setua itu. Hiih!" Mike bergidig ngeri.


"Hey, jangan begitu. Bagaimana pun dia suaminya Tania. Hak suami untuk menggauli istrinya. Istri juga punya kewajiban memberikannya," sahut Dito.


Tania menundukan kepalanya.


Ya. Tania tahu itu. Tapi kenyataannya, dia tak bisa melakukannya.


"Kok kamu jadi membela papanya Rendi, sih?" tanya Mike kesal.


"Bukan membela, Sayang. Papanya Rendi memang salah, menikahi Tania secara paksa. Aku bicara soal hak dan kewajiban seorang istri pada suaminya. Tanpa melihat proses pernikahannya," jawab Dito.


Air mata Tania yang mestinya sudah mengering, kembali membasahi matanya.


"Dia mengamuk?" tanya Mike.


Tania mengangguk. Lalu menghapus bulir bening yang sudah mulai mengalir.


"Udah, udah. Jangan diceritain lagi. Itu pasti sangat menyakitkan," ucap Mike. Lalu menggenggam tangan Tania.


"Enggak apa-apa, Mik. Setidaknya... kalau kalian tahu.... keadaanku yang sebenarnya di sana, kalian enggak akan berpikir...kalau aku menikah dengan orang yang jauh lebih tua, karena harta," sahut Tania sambil terisak.


"Ya ampun, Tania! Kita sama sekali tak pernah berpikir begitu. Rendi juga sudah menceritakannya lebih awal." Mike semakin mengeratkan tangannya. Tangan satunya meraih tissue untuk Tania.


"Terima kasih, Mike," ucap Tania. Dia juga menggenggam tangan Mike dengan erat.


Dito juga merasa sangat terharu. Matanya ikut basah. Lalu dia pura-pura mau ke kamar mandi. Biar Mike dan Tania tak melihat air matanya.


"Kamu lihat Dito, tadi?" tanya Mike pada Tania.


Tania menggeleng.


"Dia ikut menangis. Tapi malu. Makanya pura-pura mau ke kamar mandi," bisik Mike. Dia juga menghapus air matanya sendiri.


Tak lama Dito kembali.


"Tan, kayaknya hapemu bunyi. Mungkin Rendi menelponmu," ucap Dito.

__ADS_1


"Iya." Tania bergegas ke kamarnya.


Dia melihat ada banyak panggilan tak terjawab dari Rendi.


Tania tak berani menelpon duluan, hanya membalas pesan chat Rendi.


Maaf, Ren. Aku baru saja ngobrol sama Mike dan Dito. Jadi enggak denger telpon kamu. Jawab Tania.


Rendi yang baru saja terlelap karena capek menunggu Tania, langsung terbangun begitu mendengar suara ponselnya.


Satu pesan masuk dari Tania.


Rendi segera membacanya. Lalu menelpon Tania. Dia tak mau berlama-lama lagi menunggu.


"Oke. Aku ke sana sekarang. Tapi aku mandi dulu, ya. Sebentar," sahut Tania di telpon.


"Iya, Sayang. Aku tunggu."


"Eh, sebentar, sebentar. Aku boleh...lihat kamu mandi enggak?" goda Rendi.


"Lihat gimana?" Tania tak paham. Karena Rendi di rumah sakit, sedang dirinya di rumah Mike.


"Kita...video call!" jawab Rendi.


Batin Rendi, untung-untungan. Kalau boleh, ya berarti rejekinya bagus. Kalau enggak, ya berarti anda belum beruntung.


"Ngaco aja, ih!" Tania pura-pura marah, dan langsung menutup telponnya. Tapi sebenarnya Tania tersipu malu.


Rendi melihat ke ponselnya.


"Waduh, marah beneran. Padahal aku kan cuma bercanda aja! Gimana ini?" gumam Rendi.


"Apanya yang gimana, Ren?"


Tono tiba-tiba ada di pintu kamar rawatnya. Kelihatannya tadi Sari menutupnya kurang rapat. Jadi saat Tono membukanya, Rendi tak mendengar.


Tadi Rendi juga lagi asik menelpon Tania, jadi tak memperhatikan pintu yang dibuka.


"Pa...pa...!" ucap Rendi tergagap.


Tono mengangguk. Lalu berjalan perlahan mendekati Rendi.


"Gimana keadaanmu, Nak?" tanya Tono dengan sayang.


"Ya kayak begini, Pa. Papa sendiri bagaimana keadaannya?" Rendi balik bertanya.


Tono menatap wajah Rendi.


"Papa baik-baik saja, Ren," jawab Tono.


Tono berpikir, Sari tak menceritakannya pada Rendi. Jadi Rendi tak tahu tentang penyakitnya.


"Syukurlah kalau baik-baik saja," sahut Rendi.


Lalu mereka terlibat pembicaraan lainnya.


Sampai kemudian, ponsel Rendi berbunyi. Satu pesan masuk dari Tania.

__ADS_1


Ren. Aku sudah di depan rumah sakit. Kamu mau aku belikan sesuatu?


__ADS_2