
Setelah Dito dan Mike pamit ke rumah Tania, Rendi pun menelpon Tania di dalam kamarnya. Biar Sari tak mendengar pembicaraannya.
"Sayang. Besok kita jalan-jalan, yuk," ucap Rendi di telepon.
"Jalan-jalan kemana? Kaki kamu kan masih sakit, Ren," sahut Tania.
"Kan aku bisa minta gendong kamu," ucap Rendi menggoda Tania.
"Iih, apaan sih? Mana aku kuat gendong kamu." Tania menganggap serius omongan Rendi.
"Ya udah, kalau begitu aku yang gendong kamu." Rendi kembali meledek Tania.
"Jatuh bareng dong," sahut Tania.
"Gak apa-apa. Kan jatuhnya sama kamu," ucap Rendi.
"Jangan. Entar kaki kamu makin sakit. Entar malah enggak sembuh-sembuh." Tania masih saja menganggap serius omongan Rendi.
"Asal kamu masih setia padaku, aku rela sakit kok, Sayang," sahut Rendi menggombal.
Karena sejujurnya Rendi sudah kepingin sembuh dan segera menyelesaikan masalah dengan Tania.
Rendi yakin kalau dia sudah bisa jalan dengan normal, semua masalah bakal bisa diselesaikannya.
"Jangan dong. Aku maunya kamu sembuh, Ren," sahut Tania.
"Udah kepingin nikah ama aku, ya?" ledek Rendi lagi.
Di seberang sana, Tania tersipu malu. Rendi sudah paham sifat Tania yang suka malu-malu begitu. Rendi pun bisa membayangkan bagaimana wajah Tania saat ini.
"Besok memangnya kamu mau ngajak aku kemana?" Tania mengalihkan pembicaraan.
Rendi juga paham kalau Tania sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Jawab dulu pertanyaanku tadi," ucap Rendi.
"Pertanyaan yang mana?" tanya Tania.
Bukannya lupa, tapi Tania hanya tak mengira kalau Rendi mengharapkan jawaban dari ledekan yang tadi.
"Lupa ya? Pertanyaanku, kamu udah kepingin menikah denganku?" tanya Rendi.
"Rendi, iih." Tania mulai merajuk.
Rendi tertawa cengengesan. Dia senang sekali menggoda orang lain, terutama Tania yang pasti akan merah merona kalau digoda.
"Sayang, besok aku mau mengajakmu healing. Rombongan nanti. Mbak Sri sama Mila juga pak Yadi. Kalau papa mau ikut juga enggak apa-apa. Kan ada Mila, jadi aman," ucap Rendi.
Tania terkejut mendengarnya. Dia pikir healingnya cuma berdua saja. Ternyata rombongan keluarga Rendi.
"Mama kamu, ikut juga?" tanya Tania pelan dengan raut muka khawatir.
__ADS_1
"Memangnya kamu mau mama ikut?" goda Rendi.
Rendi tahu kalau Tania tak akan nyaman kalau Sari ikut juga. Dan Rendi tak mau acara healingnya berantakan karena ulah mamanya.
"Ya kalau memang mama kamu mau ikut, aku...." Tania tak melanjutkan kalimatnya. Dia merasa tak enak pada Rendi.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Rendi.
"Aku enggak usah ikut aja," jawab Tania pelan.
"Gimana enggak ikut? Orang aku mau healing sama kamu, kok," ucap Rendi.
"Kan kita bisa perginya kapan-kapan, Ren," sahut Tania.
Tania tak mau memaksakan diri ikut kalau memang Sari mau ikut juga. Karena sudah bisa dipastikan kalau Sari bakalan menghabisinya di sana.
Tania tak mau dipermalukan di depan orang banyak. Meskipun yang akan ikut healing adalah bagian dari keluarga Rendi juga.
"Enggaklah. Tenang aja, mama gak akan ikut. Besok aku kabari kamu kalau mau jemput. Kamu siap-siap aja ya, Sayang," ucap Rendi.
Tania mengangguk menurut. Walaupun jelas-jelas Rendi tak akan melihatnya.
"Oh iya, Sayang. Om Danu sama tante Eni diajak sekalian, ya," ucap Rendi lagi.
"Memang mobilnya cukup? Kan ada pegawai-pegawai kamu juga, Ren?" tanya Tania.
Tania tak bisa membayangkan kalau mereka mesti berdesakan di dalam mobil.
Rendi masih butuh tempat yang luas agar kakinya bisa nyaman.
"Tenang aja. Dito ama Mike juga ikut, kok. Mereka bakal bawa mobil sendiri. Nanti om Danu sama tante Eni, bisa naik mobil mereka," jawab Rendi.
"Mike sama Dito ikut juga?" Mata Tania langsung berbinar.
Tania merasa sangat senang karena Mike sahabatnya, ikut juga. Pasti suasananya bakal makin seru.
"Iya. Mereka berdua ikut juga. Kamu senang kan?" tanya Rendi.
"Seneng banget. Aku juga kangen sama mereka," jawab Tania.
"Sama Mike apa sama Ditonya?" goda Rendi.
Rendi tahu kalau dulu Dito pernah naksir Tania. Bahkan pernah nembak juga. Cuma nasib Dito gak seberuntung Rendi, ternyata Tania menolak dan malah menunggu Rendi menyatakan cintanya.
"Iih, apaan sih...!" Tania tersipu malu.
"Aku bercanda, Sayang. Kamu kan milikku. Enggak boleh melirik-lirik lelaki lain!" ucap Rendi.
"Ya enggaklah, Rendi. Dito kan miliknya Mike. Masa aku ngelirik dia," sahut Tania.
Dalam hati Tania berkata, dulu waktu Dito masih single aja dia nolak. Masa setelah jalan ama sahabatnya, dia malah melirik-lirik.
__ADS_1
"Memangnya kalau Dito enggak jadian ama Mike, kamu mau ngeliriknya?' goda Rendi.
"Rendi...! Kok kamu ngomongnya begitu, sih!" Tania terlihat mulai kesal.
"Iya, enggak deh." Rendi merasa menyesal telah membuat Tania kesal.
Rendi mencari cara agar Tania bisa bersemangat lagi kayak tadi.
"Gimana kalau bude Widya dan mbak Lintang diajak sekalian. Kasihan kan, mbak Lintang. Dia di sini pasti belum pernah healing kemana-mana."
Akhirnya Rendi menemukan cara untuk membuat Tania kembali bersemangat.
Tania diam sejenak. Dia sedang memikirkan bagaimana cara membawa dua wanita itu. Mesti ada satu baris jok lagi.
Tubuh Widya kan besar. Lintang juga sedang hamil muda. Takutnya kalau kebanyakan orang di mobil, membuat Lintang tak nyaman.
"Kok diem? Kamu enggak suka kalau mereka ikut?" tebak Rendi.
"Seneng banget, Ren. Cuma...mobilnya kan cuma dua. Apa cukup?" tanya Tania.
"Cukuplah. Nanti bisa numpang di mobilnya Mike. Bensinnya biar aku yang tanggung," jawab Rendi.
"Ya udah. Nanti aku kabarin bude Widyanya. Moga-moga besok mereka bisa," ucap Tania.
"Iya. Nanti kamu kabarin aja," sahut Rendi.
Ternyata diam-diam Eni mendengarkan pembicaraan Tania di telepon. Tadinya Eni hanya melintas saja di depan kamar Tania.
Tapi begitu dengar kata-kata healing, Eni langsung menghentikan langkahnya. Dan mendengarkan obrolan Tania, meski hanya dari satu sisi.
Karena Tania hanya meletakan hapenya di telinga. Tapi bagi Eni itu sudah cukup. Dan malah semakin membuat jiwa keponya meronta.
"Bibi!" seru Tania saat melihat Eni berdiri di dekat pintu.
"Eh...enggak...Bibi lagi lewat aja, kok," ucap Eni malu-malu.
"Siapa, Sayang?" tanya Rendi yang masih dalam mode panggilan pada ponsel Tania.
"Bibi Eni. Dia barusan lewat depan kamar." Tania pun menutup-nutupi. Jangan sampai Rendi tahu kalau Eni sedang menguping.
Eni nyengir sambil mengacungkan jempolnya.
Meski tak mendengar jelas, tapi Eni yakin kalau Rendi menanyakannya.
"Ada apa, Bu?" tanya Danu yang baru keluar dari kamar.
"Kita mau healing, Pak. Diajak Rendi," jawab Eni sok tahu.
"Kapan?" tanya Danu.
Eni pun tak bisa menjawab. Karena informasinya hanya dari satu arah saja.
__ADS_1
Tania hanya menghela nafasnya saja. Tania sudah hafal sifat Eni. Kalau denger kata healing, langsung bersemangat.