
Sri kembali menutup pintu kamar Mila. Walaupun tak terlalu rapat. Seperti tadi waktu Sri membukanya.
Sri yang sudah rapi, berjalan ke depan. Dia mau mencari pak Yadi.
"Pak Yadi! Tolong bantu angkat-angkatin barang, dong," pinta Sri, setelah menemui Yadi yang lagi duduk-duduk santai di teras.
"Barang apaan?" tanya Yadi sambil menghisap rokoknya.
"Yang buat bekal kita piknik. Tuh, ada di dapur," jawab Sri.
"Oke." Lalu Yadi mematikan rokoknya yang tinggal beberapa centi saja.
Yadi pun mengikuti Sri masuk ke dalam.
"Emangnya bawa apaan aja?" tanya Yadi sambil berjalan di belakang Sri.
"Banyak. Tadi kan aku juga udah masak buat makan kita di sana." Sri terus saja berjalan tanpa menoleh.
"Si Mila mana?" tanya Yadi setelah mereka sampai di dapur.
"Lagi ganti baju kali," jawab Sri.
Yadi menoleh ke kamar Mila. Dia kembali membayangkan bentuk tubuh Mila yang menggoda.
Jelas saja menggoda. Tadi Yadi melihatnya hanya dengan dalaman saja.
"Udah! Gak usah ngeres otakmu!" Sri membuyarkan pikiran kotor Yadi.
"Dih, siapa yang ngeres? Orang aku cuma ngebayangin aja, kok," sahut Yadi.
"Ngebayangin bisa *****-*****?" Sri langsung cemberut.
Yadi tertawa ngakak melihat perubahan wajah Sri.
"Cemburu, ya...." ledek Yadi.
"Idih! Ngapain juga aku cemburu? Emangnya kamu suamiku?" Sri mencebikan bibir seksinya.
"Calon suami! Hahaha." Yadi kembali ngakak.
"Gak sudi aku punya suami kayak kamu!" sahut Sri.
"Nih, bawa ke depan!" Sri memberikan beberapa barang pada Yadi.
"Satu-satu dong bawanya, sayang," goda Yadi.
"Sayang sayang, palamu peyang!" sahut Sri. Dia tak mau tahu dengan protes Yadi. Pokoknya apa yang diberikannya harus dibawa oleh Yadi.
"Galak amat calon istriku ini," ledek Yadi.
"Hhh!" Sri melengos. Dan malah membuat Yadi terpingkal-pingkal.
"Pak Yadi udah punya calon istri lagi?" tanya Mila yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Eh, bidadariku. Waah...cantik banget kamu, Mila," ucap Yadi. Matanya menatap tajam ke bagian dada Mila yang terbungkus kaos ketat.
"Ish...! Ditanyain malah matanya melotot!" sahut Mila.
"Colok aja, Mil!" ucap Sri yang udah bete pada Yadi.
Yadi terkekeh.
__ADS_1
"Jangan! Entar mata abang enggak bisa lagi menikmati keindahan dunia dong," sahut Yadi.
"Berisik! Udah sana bawain keluar!" Sri mendorong tubuh Yadi biar segera jalan.
"Iya! Iya! Jangan galak-galak napa sih, sayang," ucap Yadi.
Mila terkekeh mendengarnya. Mila sudah sangat hafal sikap Yadi yang suka menggoda. Bukan cuma Sri yang sering digoda Yadi. Mila pun sering sekali digoda seperti itu.
Yadi pun berjalan keluar membawa sebuah tas keranjang dan sebuah termos tempat nasi.
"Eh, Mbak. Kita belum punya minumannya loh," ucap Mila.
"Oh, iya. Sampai lupa. Nanti kamu ingetin deh. Kita beli aja di agen. Satu dus air mineral. Cukup kan, kira-kira?" tanya Sri.
"Dua lah, Mbak. Kita kan banyak orangnya. Lagian kalau sisa juga bisa dibawa pulang lagi," jawab Mila.
"Ya udah. Terserah kamu, deh. Yang penting nanti jangan lupa beli," ucap Sri.
Mila mengangguk. Meskipun tak yakin kalau dia bakal ingat. Karena biasanya kalau sudah jalan dan ngumpul, Mila akan lebih banyak bicara dan bercanda.
"Mana lagi yang mau dibawa?" tanya Mila.
Sri pun memberikan beberapa kantong plastik pada Mila. Dan berdua Sri membawanya ke depan.
"Kalian bawa apaan?" tanya Rendi. Rendi sudah rapi. Terlihat sangat ganteng. Beda dari biasnya yang cuma mengenakan kaos oblong dan celana pendek.
Mila yang tak pernah melihat Rendi sekeren itu, ternganga.
"Heh! Ditanya malah bengong!" seru Rendi. Ingin rasanya menoyor kepala Mila.
"Oh. Eh, iya. Abisnya mas Rendi ganteng banget," ucap Mila dengan jujur.
Kalau Sri sudah biasa melihat penampilan Rendi yang tak kalah dengan bintang sinetron.
Rendi terkekeh.
"Naksir?" ledek Rendi.
Tanpa sadar Mila mengangguk.
"Hush! Ngaca sana!" Sri menoyor kepala Mila dengan satu tangannya yang tak membawa barang.
"Iih. Emang enggak boleh naksir?" Mila merasa kesal pada Sri.
"Boleh, Mil. Tapi jangan ngarep!" sahut Yadi yang sudah kembali dari mobil.
"Hhmm..." Mila mencibir pada Yadi.
Tanpa dibilangin pun, Mila cukup tahu diri. Mana mungkin dia ngarep ditaksir oleh Rendi.
Kecuali Rendi belum punya Tania. Mungkin Mila akan berusaha mengejarnya. Seperti keinginannya di awal ikut keluarga Rendi.
Tapi begitu tahu kalau cinta Rendi cuma untuk Tania, Mila pun mengurungkan niatnya.
Bagi Mila bisa hidup di tengah-tengah keluarga Rendi saja, sudah membuatnya bahagia.
Mila seperti menemukan keluarga baru. Yang bisa menerimanya dengan baik.
Bukan cuma keluarga Rendi saja yang membuat Mila betah, Sri dan Yadi juga selalu membuatnya terhibur. Meskipun Yadi kadang bersikap menyebalkan.
"Iya, Mil. Aku kan udah punya calon istri. Tuh, kalau mau sama pak Yadi," ledek Rendi.
__ADS_1
Rendi cuma sekedar meledek saja. Karena Rendi tahu kalau Yadi sudah beristri juga punya banyak anak.
"Idih...! Apa enggak ada yang lainnya?" sahut Mila.
Rendi berpikir sejenak.
"Ada Mil!" ucap Rendi.
Mata Mila langsung berbinar. Dia berharap Rendi mau memperkenalkannya dengan teman-teman Rendi, yang pastinya ganteng-ganteng seperti Dito.
"Siapa?" tanya Mila penuh semangat.
"Ada bang Tajab. Bang Diman. Apa mang Wardi? Mereka kan masih single juga," jawab Rendi.
"Ish! Males banget!" Mila mendengus, lalu keluar menuju mobil.
Rendi kembali terkekeh. Lalu menyusul Mila keluar.
"Kita berangkat sekarang, Mas Rendi?" tanya Yadi.
"Iya, Pak. Kita jemput Tania dulu," jawab Rendi.
"Siap, Mas," sahut Yadi.
Yadi buru-buru berjalan mendahului Rendi, untuk membukakan pintu mobil.
Dan tanpa diperintah, Sri mengunci pintu rumah. Karena di rumah tak ada orang lagi.
Mila sudah menunggu di dekat mobil.
"Mil. Kamu duduk di sebelahku dulu aja. Nanti pindah belakang kalau ada Tania," ucap Rendi.
Mila langsung tersenyum senang. Meski tadinya berharap bisa duduk di depan, biar kayak nyonya rumah.
"Saya duduk di mana, Mas?" tanya Sri.
"Di atas, Sri. Noh!" Yadi menunjuk atap mobil.
"Enak aja! Emangnya aku perahu karet?" sahut Sri dengan kesal.
Setahu Sri kalau orang bawa perahu karet, diletakan dibagian atap mobil. Seperti yang sering dilihatnya di televisi.
"Hahaha....!" Yadi tergelak. Yadi sendiri tak bisa menentukan dimana Sri mesti duduk. Karena itu wewenang Rendi.
"Mba Sri di depan aja. Nemenin pak Yadi," ucap Rendi.
Sri pun mengangguk patuh.
Dan mereka pun menempati tempatnya masing-masing.
"Wah, kita jadi kayak dua pasang kekasih ya," ucap Mila setelah mobil jalan.
"Bentar lagi kamu yang jadi jomblo, Mil," sahut Rendi.
"Kok gitu?" tanya Mila.
"Kan di sebelahku nanti Tania. Kamu mundur di belakang. Sendirian," jawab Rendi.
"Hhhh...!" Mila menghela nafasnya.
Nasib jomblo gini amat ya. Disingkirkan setelah tak dibutuhkan. Batin Mila.
__ADS_1