HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 143 TONO DIBAWA KE RUMAH SAKIT


__ADS_3

"Tolong...! Tolong....!" Yahya berteriak-teriak sambil berusaha mengangkat tubuh Tono.


Asih mendengarnya lebih dulu, karena dia masih berada di dalam rumah. Tepatnya di balik pintu, sambil mengintip. Dia ingin melihat orang tua Tania yang katanya datang.


Asih menoleh ke arah suara.


"Diman! Suamiku teriak-teriak!" seru Asih.


Diman berusaha mendengarkan.


"Iya. Ayo kita liat!"


Diman segera berlari, disusul Yadi juga Danu. Asih juga ikut naik ke lantai dua.


Widya dan Eni saling bertatapan. Mereka ikut juga masuk.


"Ya ampun! Kenapa, Yahya?" tanya Diman.


"Enggak tau! Aku masuk, juragan udah pingsan. Ayo tolongin!" jawab Yahya.


Diman membantu Yahya mengangkat tubuh Tono. Yadi dan Danu juga ikut membantu.


"Gimana ini?" tanya Yahya.


"Biar aku telpon bu Sari!" Yadi segera mencari ponselnya.


"Aduh! Hapeku ketinggalan!" ucap Yadi.


"Terus gimana ini?" tanya Yahya.


"Kita bawa ke rumah sakit aja, dulu," ucap Diman.


"Ya udah, kita bawa ke rumah sakit!"


Lalu mereka menaikan Tono ke dalam mobil dan segera membawanya ke rumah sakit.


Widya, Eni dan Asih tak ikut. Hanya yang laki-laki saja yang kesana.


"Kenalkan, aku Widya budenya Tania. Dan ini Eni, adikku yang merawat Tania sejak kecil." Widya memperkenalkan diri pada Asih.


"Saya Asih. Pembantu di rumah ini. Saya yang selalu menemani neng Tania selama di sini," ucap Asih.


Lalu tiba-tiba wajah Asih berubah muram.


"Maafkan saya yang tidak bisa menjaga neng Tania. Neng Tania jadi kabur," ucap Asih dengan sangat menyesal.


"Iya. Kami sudah tau. Kami juga lagi mencoba nyari," sahut Widya.


"Mba Asih udah lama ikut Tono?" tanya Eni.


"Udah hampir lima tahun. Tinggal lima tahun lagi," jawab Asih.

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya Widya.


"Sebenarnya, saya dan suami terjebak hutang pada Tono. Kami tak bisa membayarnya. Jadi Tono menyuruh kami mengabdi padanya selama sepuluh tahun. Tanpa gaji, dan nanti hutang kami lunas," jawab Asih.


"Gila! Memang gila itu si lintah darat!" sahut Widya dengan geram.


"Iya. Tania juga terpaksa mau dinikahi, karena aku dan suamiku terjebak hutang dengannya. Dasar lintah darat!" ucap Eni sambil memaki Tono.


Asih mengangguk setuju.


"Lintah darat yang kejam!" ucap Asih tak kalah geramnya.


"Kata Diman, Tono juga punya istri muda lagi?" tanya Eni pada Asih.


Widya ikut menyimak.


"Iya. Tapi udah diusir sama Tono. Dia ketahuan selingkuh sama Tajab di kamarnya Tono. Malah kita yang menangkap basah. Neng Tania merekamnya. Tapi sayang hapenya dibanting sama Tono," jawab Asih.


"Hapenya Tania?" tanya Eni.


"Bukan. Hape suamiku. Tono menuduh neng Tania berhubungan lagi dengan Rendi lewat hapenya suamiku," jawab Asih.


"Jadi selama ini Tania masih berhubungan dengan Rendi?" tanya Widya.


"Enggak. Itu cuma fitnah dari si Linda. Istri mudanya Tono yang gatel!"


Lalu Asih menceritakan pertemuan Tania dengan Rendi saat di mal.


"Tapi kalau lakinya juga kawin lagi, masa Tania enggak boleh berhubungan sama Rendi?" Eni merasa ini tak adil buat Tania.


"En, kan Tania bisa minta diceraikan dulu sama Tono. Baru dia boleh berhubungan lagi sama Rendi," sahut Widya.


"Tono mana mau menceraikan neng Tania? Walaupun mereka tak tidur satu kamar, sejak Tono menikah lagi," ucap Asih.


"Mereka pisah ranjang?" tanya Eni dengan mata melotot.


"Iya. Kayaknya udah lama juga. Beberapa kali aku lihat neng Tania tidur di sofa, Tono tidur di kasur. Kadang sebaliknya, sebelum Tono nikah lagi," jawab Asih.


"Kebangetan!" gumam Widya.


"Siapa yang kebangetan, Mba?" tanya Eni.


"Tono itu! Udah tau kayak gitu, bukannya dipulangin aja Tanianya. Malah kawin lagi!" jawab Widya dengan kesal.


"Aku juga heran sama Tono, apa maksudnya enggak mau menceraikan neng Tania. Padahal tiap hari ribut melulu!" sahut Asih.


"Ribut melulu? Apa Tono sering memarahi Tania? Atau memukul?" tanya Widya. Dia akan siap menghajar Tono kalau sampai Tania dianiaya.


"Ribut iya. Marah-marah pasti. Tapi neng Tania selalu bisa membela diri. Bahkan si Linda aja takut sama neng Tania. Kalau Linda macam-macam, langsung dilawan. Hebat neng Tania," jawab Asih.


Widya dan Eni menghela nafas lega.

__ADS_1


"Tadinya aku juga berpikir, neng Tania enggak akan kuat menghadapi semua ini. Sampai kami berniat akan membantu neng Tania kabur. Tapi ternyata neng Tania kuat. Sangat kuat. Hebat!" puji Asih.


"Terus kenapa dia sampai kabur?" tanya Eni.


"Aku sendiri enggak tau. Sepulang dari rumah sakit, mengantar Rendi dan mendonorkan darahnya, neng Tania masih di kamarnya. Tapi sorenya, tau-tau udah ilang," jawab Asih.


"Jadi Tania mendonorkan darahnya untuk Rendi?" tanya Widya.


"Iya. Neng Tania bilang begitu. Wajahnya sampai pucet. Badannya lemas. Mungkin banyak banget darahnya yang disedot!" jawab Asih, asal.


"Aduh...! Kasihan banget Tania," gumam Eni hampir menangis.


"Iya. Makanya aku enggak nyangka kalau neng Tania bakal kabur. Lagi pula suamiku sama Diman, ngobrol di teras. Siapa sangka neng Tanianya kabur lewat belakang?" sahut Asih.


"Memangnya ada jalan lewat belakang?" tanya Eni. Dia pikir rumah Tono ini dikelilingi tembok yang tinggi semua.


"Ada. Di belakang ada kebon. Dan pembatas dengan pekarangan orang lain, hanya pepohonan aja. Tono belum sempat memagarinya dengan tembok," jawab Asih.


"Ooh...! Sekarang Tanianya dimana, ya? Aku kok kuatir banget, Mba," ucap Eni.


"Kamu pikir cuma kamu saja yang kuatir? Aku juga," sahut Widya.


"Apa neng Tania eggak punya teman lainnya?" tanya Asih.


Lalu Asih menceritakan, kalau pernah ada temannya Tania yang menyamar sebagai sales.


"Mungkin itu cara biar bisa ketemu neng Tania. Tapi terus orangnya lari. Kata neng Tania, gara-gara mau diperkosa sama Tono!" tutur Asih.


"Hah? Gila itu si tua bangka! Aku doakan burungnya busuk! Penyakitan! Biar tau rasa!" umpat Eni dengan geram.


"Hush! Jangan suka mendoakan orang yang jelek-jelek!" ucap Widya.


"Biarin aja, Mba. Udah tua enggak ada puas-puasnya!" sahut Eni. Widya hanya bisa menghela nafasnya.


Sementara Tono sedang ditangani dokter di rumah sakit yang sama dengan Rendi dan Tajab.


Yadi pamit pulang. Dia mau mengabari Sari.


Tapi sampai di rumah Sari, Sri bilang Sari sudah balik ke rumah sakit.


"Bu Sari cuma ganti pakaian, lalu ke pasar. Terus katanya mau sekalian ke rumah sakit," ucap Sri.


"Ya udah, aku telpon aja," ucap Yadi.


Sementara Sari sudah kembali ke kamar Rendi. Dito sudah pamit. Mike dan Tania pun sudah aman di mobil.


"Iya. Ada apa, Yadi?" tanya Sari.


"Bu, bapak tadi pingsan di rumahnya. Sekarang dibawa ke rumah sakit!" jawab Yadi.


"Apa?" Sari terduduk lemas di atas sofa.

__ADS_1


__ADS_2