HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 247 SERBA SALAH


__ADS_3

Setelah selesai membantu Tania membersihkan pecahan mangkok, Mila meminta obat untuk Tono pada Eni.


"Obatnya pak Tono, mana Tante?"


Eni merogoh tasnya.


"Ini. Apa itu harus diminumkan sekarang?" tanya Eni.


"Iya, Tante. Obat pak Tono kayaknya udah habis." Mila membawa obat itu ke kamar Tania. Dia juga akan membantu Tono mengkonsumsi obat itu.


Tania melihat ada yang aneh pada Eni.


"Kenapa?" tanya Eni.


"Bibi, bukannya tadi pakai sandal berhak tinggi? Kenapa sekarang nyeker?" tanya Tania.


Danu tertawa ngakak. Eni langsung melotot ke arah Danu. Eni berharap Danu tak menceritakan kekonyolannya tadi pada Tania.


"Kenapa, Paman?" tanya Tania pada Danu.


"Tanya aja sama bibi kamu tuh. Kalau paman yang jawab, nanti ngamuk dia," jawab Danu.


Danu tak mau ambil resiko kalau Eni marah lagi padanya. Bisa-bisa nanti malam tidak dikasih jatah.


"Kenapa, Bi?" Tania mencoba bertanya pada Eni.


"Patah!" jawab Eni. Lalu dia masuk ke kamarnya.


"Sayang banget. Padahal kayaknya masih bagus," ucap Tania.


"Bagus juga buat nggetok kepala orang! Hahaha." Danu tergelak.


"Pak....!" Suara Eni melengking dari dalam kamar.


Spontan Danu berhenti ketawa. Lalu membekap mulutnya dengan tangan.


"Kabur, ah." Danu langsung lari keluar rumah.


Dia tak mau mendengar lagi teriakan-teriakan Eni, kalau dia keceplosan ngomong.


Lagi pula Danu ingin ngopi dulu di warung kopi dekat rumahnya. Kopinya tadi di warung kopi dekat rumah sakit, belum sempat dihabiskan.


Eni berganti pakaian rumahan. Lalu keluar dari kamarnya.


"Mana paman kamu?" tanya Eni pada Tania.


"Enggak tau, Bi. Tadi keluar," jawab Tania.


"Tadi benar, sandal Bibi patah?" tanya Tania. Dia masih penasaran. Apalagi tadi Danu sempat bilang soal menggetok kepala orang.


"Udah, ah. Jangan tanyain itu. Malu, ada Rendi!" sahut Eni.


"Kenapa malu, Tante? Rendi kan bakal jadi suami Tania. Keponakan Tante juga, kan?" tanya Rendi.


"Mm...Iya, sih. Tapi Tante malu!" Eni belum mau bilang.


"Ayolah, Bi. Cerita, Tania penasaran ini." Tania mulai merajuk.

__ADS_1


"Enggak!" Eni tetap menolak. Jelas saja dia malu, karena telah salah sangka pada wanita lain. Dan parahnya, Eni melempar wanita itu dengan sandal kesayangannya, hingga patah.


Sebenarnya tidak langsung patah, tapi semakin parah saat Liona melemparkannya kembali ke arah Eni. Meski tak mengenai Eni, tapi sandal itu menghantam lantai cor.


Apa mau dikata, sandal itu semakin patah tak karuan. Dan Eni tak bisa menyalahkan Liona. Karena dia duluan yang melemparkannya.


"Iih, Bibi gitu. Main rahasia-rahasiaan ama Tania."


Tania justru semakin penasaran karena Eni kekeh tak mau cerita.


"Tadi Bibi lemparkan ke wanita yang lagi deketin paman kamu," jawab Eni pada akhirnya.


Meskipun Eni menutupi kejadian yang sebenarnya. Eni malu kalau dia ketahuan salah sangka pada Liona yang hanya sekedar menanyakan alamat pada Danu.


"Hah...!" Tania terperangah.


Rendi pun sangat terkejut mendengarnya.


"Iya. Wanita itu deket-deketin paman kamu. Padahal kan dia tau kalau paman kamu sudah punya istri." Eni malah mendramatisir kejadiannya.


"Dimana, Bi?" tanya Tania dengan geram.


"Di depan rumah sakit," jawab Eni.


Lalu Eni menceritakan kalau dia turun di depan rumah sakit. Dan Danu menunggu di sebuah warung kopi.


"Jadi wanita itu sudah kenal sama om, Tante?" tanya Rendi.


"Katanya sih belum. Mereka ngakunya belum kenalan," jawab Eni.


Rendi sedikit memaklumi kalau ada wanita mendekati laki-laki yang dikiranya belum beristri. Kecuali kalau memang benar-benar sudah tahu.


"Harusnya kan wanita itu tau. Mana ada lelaki seumuran pamanmu masih perjaka!" sahut Eni.


"Bukan perjaka, Bi. Mungkin wanita itu menganggap paman single." Tania membenarkan alasan Rendi.


"Duda maksudmu?" tanya Eni.


"Bisa jadi," jawab Tania.


"Mungkin aja. Tapi yang pasti karena paman kamu turun dari mobil mewah. Dikiranya paman kamu itu orang kaya, kali," ucap Eni semakin ngawur.


"Jadi ceritanya ada yang cemburu, nih?" ledek Rendi.


"Pastilah. Siapa yang enggak panas lihat suaminya bermesraan di depan mata!" sahut Eni.


"Bermesraan? Maksud Bibi, mereka...." Tania tercekat.


Eni terdiam. Dia barusan kebablasan bohongnya. Dan Eni jadi membayangkan, bagaimana kalau Danu sampai benar-benar melakukannya.


Enggak!


Eni menggelengkan kepalanya.


"Tadi Bibi bilangnya bermesraan?" tanya Tania.


Rendi pun terdiam. Dia merasa kasihan pada Eni, kalau hal itu benar-benar terjadi.

__ADS_1


"Eng....enggak. Mereka cuma bicara aja. Enggak sampai bermesraan," jawab Eni.


Eni takut kuwalat pada omongannya sendiri. Takut apa yang dia ucapkan tadi benar-benar terjadi.


Hhh!


Tania menghela nafasnya.


Kirain beneran. Aku udah siap-siap melabrak itu wanita. Paman juga sekalian aku marahin kalau beneran. Batin Tania.


"Bi. Besok-besok lagi, kalau mau menghajar orang, liat dulu persoalannya. Jangan main hantam aja. Gimana kalau orang itu enggak terima?"


Tania berusaha menasehati Eni. Karena bukan sekali dua kali saja Eni terlibat masalah dengan orang lain, gara-gara asal hantam.


"Iya. Tadi Bibi emosi banget. Jadi ya udah aja. Bibi lempar pake sandal. Padahal itu sandal baru. Bibi suka banget sama modelnya," ucap Eni.


Yang disesali Eni bukan perbuatannya, tapi sandal yang akhirnya harus dibuang.


Mila keluar dari kamar Tania. Dan kembali bergabung di ruang tamu.


"Gimana kondisi papa, Mila?" tanya Rendi.


Rendi terlihat sangat mengkhawatirkan kondisi Tono.


"Aku minta istirahat aja dulu. Jangan banyak gerak, soalnya bilang kepalanya masih pusing," jawab Mila.


"Tapi obatnya udah diminumin?" tanya Rendi memastikan.


"Udah. Beres semua. Nanti pulangnya kalau jangan pak Tono yang bawa mobil gimana? Bahaya kalau pak Tono yang bawa," tanya Mila.


"Kalau om Danu yang nyetirin gimana, Tante?" Rendi bertanya pada Eni dulu.


"Enggak apa-apa. Nanti biar pulangnya naik ojeg online," jawab Eni.


"Jangan, Tante. Biar mobilnya parkir di sini aja," sahut Rendi.


"Di sini mau parkir dimana, Rendi? Kan ada angkotnya paman juga," ucap Tania.


"Oh, iya. Ya udah, nanti pak Yadi yang nganterin om Danu pulang," sahut Rendi.


"Iya. Gampang kalau pulang sih."


Baru saja Tania selesai bicara, telpon Rendi berdering. Panggilan dari Sari.


Rendi enggan membukanya. Dia abaikan saja ponselnya berdering.


"Kenapa enggak diangkat, Ren?" tanya Tania.


"Biarin aja. Telpon dari mama," jawab Rendi.


Waduh...! Mila mulai merasa tak enak hati. Kalau sampai Sari tahu Mila ikut ke rumah Tania, bakal habis dia dimarahi.


Tapi kalau tidak ikut, tetap saja kena marah. Karena dianggap membiarkan Rendi pergi ketemu Tania.


Karena Rendi tak juga mengangkat panggilannya, Sari mengirimkan pesan chat.


Mama mau bicara sama kamu tentang Monica. Nanti sore setelah mama pulang dari toko.

__ADS_1


__ADS_2