
Sampai malam Rendi masih saja bolak balik ke rumah Tania.
Rendi tak patah semangat meski pintu itu masih terkunci rapat.
Yang ada di pikiran Rendi hanya khawatir terjadi sesuatu dengan Tania.
Jam sembilan malam, baru Rendi memutuskan kembali ke rumahnya. Karena tidak mungkin juga jam segitu dia bertamu sekalipun Tania sudah pulang.
Sampai di pelataran rumah mamanya, Rendi melihat masih banyak motor dan beberapa mobil terparkir.
Pasti teman-teman mamanya masih berkumpul. Rendi mengendap-endap masuk ke dalam rumahnya.
Saat akan menaiki tangga, Sari melihatnya.
"Ren, temui teman-teman Mama dulu."
Dengan malas Rendi melangkah ke tempat teman-teman mamanya berkumpul.
Mereka masih bersama menyanyikan lagu-lagu lawas kegemaran mereka, dengan iringan musik karaoke dari speaker yang suaranya memekakan telinga.
"Hay, ganteng! Ayo sini gabung!" Suara seorang teman Sari menyapa Rendi, menggunakan mic yang sedang digunakannya menyanyi.
Rendi mendatangi mereka dan menyalaminya satu persatu.
"Ayo ikutan nyanyi, Ren," ajak teman Sari yang lain.
"Mana bisa dia lagu-lagu lawas. Udah beda generasi!" Sari yang menyahut.
Rendi hanya duduk sebentar untuk menghormati mereka, lalu pamit masuk ke kamarnya.
Sari melihat kegelisahan dan kekecewaan di wajah anak lelakinya. Kasihan sekali anakku. Batin Sari.
Untuk menghibur diri, Sari kembali bernyanyi bersama teman-temannya hingga larut malam.
Keesokan harinya Danu dan Eni kembali pulang ke rumah mereka. Seperti yang direncanakan Danu, Tania mereka tinggal dulu. Dengan alasan biar Tania bisa istirahat. Karena di rumah akan banyak kerjaan.
Belum lama sampai di rumah, Tono sudah mendatangi mereka.
"Mana calon istriku?" Mata Tono menelisik ke dalam rumah.
"Tania ada di rumah kakakku. Kalau di sini dia tidak bisa istirahat. Karena hari ini kita banyak pekerjaan."
Eni yang sudah kongkalikong dengan suaminya, lancar memberi alasan.
"Oh. Ya sudah. Siapkan acaranya dengan baik. Ini aku tambahin lagi uangnya. Aku tidak mau ada masalah apa-apa," ancam Tono. Lalu pergi setelah memberikan amplop berisi uang pada Eni.
Eni menerimanya dengan sumringah. Bagaimana tidak, dalam sekejap mata dompetnya penuh. Bahkan sampai tidak muat.
Saat ini hanya satu yang dikhawatirkan oleh Eni, bagaimana kalau Rendi datang dan menanyakan tentang Tania.
Itu masalah yang dia dan suaminya hadapi dan belum mendapatkan jawabannya.
__ADS_1
Para pekerja dari persewaan tenda sudah datang. Mereka mulai memasang tenda di halaman rumah tetangga Eni.
Pihak catering pun sudah datang membawa perkakas dan alat makan yang akan digunakan besok pagi.
Menjelang sore barulah pihak perias datang. Mereka membuat dekorasi untuk pelaminan dan menyiapkan kamar pengantin.
Eni sangat bangga bisa membuat pesta hajatan yang meriah dan berbiaya tinggi. Meski mempelai wanitanya menangis.
Di rumahnya, Rendi diajak mamanya berkunjung ke rumah kakak dari papanya.
Sari yang sangat kesal dengan kelakuan suaminya, akan mengadukan pada kakak tertua dari suaminya.
"Kenapa Rendi mesti ikut sih, Ma. Pakde kan bawel banget. Nanti sampai di sana malah Rendi yang di ceramahi terus."
"Mama juga sebenarnya malas ke sana, Ren. Tapi kelakuan papa kamu sudah diluar batas. Masa setua itu mau menikahi gadis kecil?"
Sari tetap memaksa Rendi untuk ikut.
"Kali ini Mama malu, Ren. Gadis kecil itu pantasnya buat kamu. Bukan malah dimakan sendiri."
Sari terus saja mengoceh. Hingga akhirnya Rendi mengalah.
Sampai di rumah Tejo, kakak tertua dari suami Sari, sudah siang. Karena rumahnya cukup jauh.
"Ayo masuk, Ren." Sari melangkah duluan.
"Assalamualaikum. Permisi Mas."
"Waalaikumsalam. Eh, Sari. Masuk, Sar. Oh, sama Rendi ya?" Eti istri dari Tejo yang membukakan pintu.
"Iya, Mbak. Mbak Eti apa kabar?" Sari mencium tangan kakak iparnya diikuti oleh Rendi.
"Wah, sudah besar sekali kamu. Sekarang sekolah dimana?"
"Baru lulus SMA, Bude," sahut Rendi.
"Owalah. Sudah lulus SMA toh. Kayaknya baru kemarin kamu masuk SD."
"Pak! Pak'e! Ini ada Sari sama Rendi!" teriak Eti dari ruang tamu.
"Suami kamu tidak ikut, Sar?" tanya Eti yang tak melihat papanya Rendi.
"Enggak, Mbak. Justru saya kesini tanpa dia, biar bisa curhat sama kalian," sahut Sari, lalu menyalami Tejo yang baru saja keluar.
"Mas Tejo sehat?" tanya Sari. Sari memang selalu perhatian pada saudara-saudara suaminya.
Makanya mereka tak mengijinkan saat Sari pernah mengatakan ingin berpisah dari suaminya yang mata keranjang.
Sari memberikan paper bag berisi sepasang baju batik untuk kakak iparnya. Dan dua kotak roti yang dibelinya di jalan tadi.
"Aku Alhamdulillah sehat, Sari. Tapi ya namanya sudah tua, kadang suka masuk angin," jawab Tejo. Lalu memberikan paper bag pada istrinya.
__ADS_1
Eti langsung membuka paper bag itu.
"Wah, bagus banget Sar. Ini juga. Ini roti kesukaan masmu."
"Ada masalah apa lagi dengan suami kamu?" tanya Tejo dengan suara sangat bersahaja.
Lalu Sari menceritakan tentang kelakuan suaminya selama ini.
Dulu saat Sari mengatakan ingin berpisah, suaminya baru sekali ketahuan berselingkuh.
Tapi sekarang, Sari menceritakan kalau perselingkuhannya sudah puluhan kali.
Berkali-kali suaminya menikahi perempuan lain, meski ujung-ujungnya diceraikan.
Sari menceritakan juga kalau sekarang suaminya akan menikah lagi dengan gadis kecil.
"Apa? Sudah gila kayaknya suami kamu. Biar nanti aku bicara langsung sama dia. Apa sih maunya?"
"Rendi apa rencananya setelah ini?" tanya Tejo pada Rendi.
"Dia malah kepingin menikah juga, Mas. Apa di barengin saja sama papanya, ya? Biar makin heboh!" Seloroh Sari.
"Hush! Ngawur saja kamu! Memangnya kamu sudah setuju suami kamu menikah lagi?"
"Saya setuju atau tidak, dia tetap akan menikah Mas. Dari dulu kan begitu."
"Ren, beneran kamu sudah kepingin menikah?" tanya Eti.
Rendi hanya mengangguk malu.
"Udah ada calonnya belum? Kalau belum, Bude punya keponakan yang seumuran kamu juga. Mau Bude kenalin?"
"Mbak Eti itu gimana sih, namanya sudah kepingin nikah ya berarti sudah punya calon toh?" Sari yang menyahut. Karena Sari paling tidak suka dengan perjodohan.
Dia trauma karena dulu dijodohkan dengan suaminya. Lelaki yang tak pernah dicintainya.
Dan disaat dia mulai belajar mencintai, suaminya malah berselingkuh. Hanya karena mempertimbangkan anak dan paksaan dari keluarga suaminya, Sari mau menerimanya kembali.
"Ya itu kan kalau belum punya. Kalau sudah ya syukurlah. Tapi jangan lupa dilihat dulu bobot bibit dan bebetnya. Jangan asal comot kayak orang beli gorengan." Eti yang masih bersikap kolot memberikan wejangan yang membuat Sari jengah.
Begitu juga Rendi. Tadinya dia pikir pakdenya yang akan banyak kasih ceramah, ternyata malah budenya.
"Tuh kan, Ma. Rendi bilang juga apa?" bisik Rendi.
"Ya udah kita pulang sekarang," ajak Sari.
"Mas, Mbak. Kita pulang dulu ya? Rendi ada janji sama calon istrinya. Maklum anak muda, mau malam mingguan katanya."
Sekali lagi Sari berbohong tentang calon istrinya Rendi yang entah sekarang ada dimana.
"Mama kok bohong soal Tania sih?" tanya Rendi saat sudah dalam perjalanan pulang.
__ADS_1
"Gak apa-apa. Berbohong demi kebaikan."