
Danu hanya mengangkat bahunya. Dia memang tak mau ikut campur urusan pernikahan keponakannya.
Buat Danu, asal dia dapat jatah uang rokok sama ngopi saja, beres.
Karena waktunya juga sudah mepet, akan sangat susah nyari perias pengantin lain. Akhirnya Eni menyetujui harga yang ditawarkan.
Ya seperti layaknya emak-emak lain, Eni juga menawar sampai harga terendah tentunya.
"Oke, deal ya Bu. Tim kita nanti datang hari minggu pagi jam lima. Yang dirias hanya mempelai wanita dan bapak, ibu serta satu orang lagi," ucap si ibu tukang rias, sambil menuliskan kuitansi pembayaran.
"Eh, saya tidak mau dirias. Entar dikira saya akan main lenong," protes Danu.
"Hanya dibersihkan saja wajahnya, Pak. Biar kelihatan bercahaya nanti kalau difoto," sahut si perias sambil tersenyum.
"Yaelah, Bu. Timbang mau difoto aja, pake dirias segala. Saya tidak ikut foto deh," tawar Danu.
Eni menyikut perut suaminya. Bikin malu saja! Eni gemas.
"Udah ayo, Pak. Kita mau ke tukang catering. Permisi Bu."
Eni menarik tangan suaminya, setelah membayar lunas semuanya.
"Jangan malu-maluin kenapa, Pak?" ucap Eni setelah mereka masuk ke dalam angkot lagi.
"Justru nanti akan malu-maluin kalau aku ikut dirias. Apa kata teman-temanku kalau melihat aku kaya pemain lenong?" sahut Danu tak mau disalahkan.
"Ih, kamu itu susah amat diatur. Sekali-kali bergaya dikit seperti orang-orang kaya!"
"Orang kaya juga gak bakalan didandani kaya pemain lenong, Bu. Mereka itu pakainya jas mahal." Danu tetap membela diri.
"Iya, Pak. Mereka memang tidak didandani, karena wajah mereka sudah kinclong. Lha kamu? Butek gitu!"
Danu spontan menginjak remnya, membuat badan Eni condong ke depan.
"Pak! Ati-ati dong!" bentak Eni.
"Kamu itu yang ati-ati kalau ngomong. Wajahku dibilang butek!"
Danu sangat kesal dengan istrinya. Sementara dia sangat bangga pada wajahnya, karena menurut teman-temannya dan penjual kopi di pangkalan angkot, wajah Danu paling ganteng.
Eni terbahak. Dia baru sadar ternyata suaminya kesal karena dia mengatakan wajahnya butek.
"Iya deh, maaf. Maafkan daku suamiku yang paling ganteng sedunia," ucap Eni sambil tangannya meremas benda di antara paha Danu.
"Nah gitu dong. Tapi tangannya dikondisikan, Bu. Ini di jalan."
Danu menepis tangan Eni. Sebab kalau dibiarkan, bisa bangun si entongnya.
Eni kembali terbahak. Danu melirik istrinya.
"Dasar mesum!" gumam Danu.
"Mesum juga kamu suka!" sahut Eni tak mau kalah.
"Eh, Pak. Kebablasan!" seru Eni. Danu mengerem mendadak lagi.
"Kamu sih, becanda mulu!" Danu memutar balik angkotnya.
'Sinta Catering' termasuk catering termahal di sekitar daerah rumah mereka.
__ADS_1
Eni dan Danu turun dari angkotnya. Dengan langkah penuh percaya diri, Eni menggamit tangan suaminya.
"Udah jangan banyak gaya lagi. Ingat ucapanku tadi, jadi orang kaya itu tidak murah!" ucap Danu.
"Pelan kenapa sih Pak ngomongnya. Malu kan kalau ada yang denger!" protes Eni.
"Biar kamu denger," sahut Danu.
"Aku enggak budeg!"
Eni melepaskan tangan suaminya lalu berjalan sendiri dengan cepat.
Ya, dia ngambek. Gumam Danu. Lalu menyusul langkah istrinya yang sudah sampai di dalam duluan.
"Selamat sore, Bu. Ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang perempuan setengah tua.
"Saya mau pesan catering untuk pernikahan anak saya," jawab Eni.
Suaranya tak lagi cempreng kayak biasanya. Gaya bicaranya mengikuti bekas majikannya dulu. Elegan.
Eni sering memperhatikan saat majikannya bicara pada tamu.
Tak lama, datang seorang perempuan seumuran Eni. Badannya sintal, dandanannya sedikit tebal. Dengan perhiasan emas yang merata di sekujur tubuhnya.
Busyet, banyak amat perhiasannya. Itu kalau ditimbang badannya, pasti akan naik beberapa kilo. Batin Eni.
Tapi Eni merasa pernah bertemu dengannya. Wajahnya familiar.
"Silakan, Bu. Ada yang bisa kami bantu?"
"Oh, iya. Saya butuh catering, tapi hanya sedikit. Buat makan malam saja," jawab si perempuan itu. Mata Eni masih memperhatikan penampilannya yang menurut Eni serba mahal.
"Besok malam. Bisa?"
"Bisa, Bu. Ini menunya, silakan pilih," sahut si pemilik catering.
Eni baru sadar kalau dia dilewati. Eni yang dasar orangnya tidak mau kalah, langsung protes.
"Lho kenapa ibu ini duluan? Kan saya yang datang lebih dulu!"
Danu yang memilih menunggu diluar, asik merokok sambil ngobrol dengan tukang parkir.
"Ibu dari tadi melamun saja. Jadi saya layani ibu ini dulu," sahut si pemilik catering.
Eni mendengus sebal. Udah berlagak seperti orang kaya, masih saja disepelekan.
"Ya sudah. Mana menunya buat saya!"
Lalu si pemilik catering memberikan buku menu.
"Ini Bu. Ada menu prasmanan, ada juga buat gubug-gubugnya," ucap si pemilik catering ramah.
"Iya sudah tau!" jawab Eni ketus.
Si pemilik catering dan ibu tadi saling berpandangan. Lalu mereka saling melempar senyum melihat wajah Eni yang kesal.
Eni memandangi deretan menu di buku itu.
Gila! Memang benar kata suamiku, jadi orang kaya itu tidak murah. Tapi aku gak mau dibilang miskin. Malu tadi udah ngomel-ngomel.
__ADS_1
"Mau buat acara apa, Bu?" si pemilik catering menanyai si ibu tadi.
"Makan malam. Besok anak saya akan membawa calon istrinya ke rumah. Saya akan menjamunya dengan istimewa. Maklum anak satu-satunya," jawab si ibu itu.
"Saya juga akan menikahkan anak perempuan saya satu-satunya. Makanya saya mau bikin pesta yang istimewa," sahut Eni tanpa ditanya.
Sombong bener ini orang, batin si ibu tadi.
"Oh. Umur berapa anaknya, Bu?" tanya si ibu tadi. Karena melihat dari wajah Eni, umurnya tak jauh dari dia.
"Dia...mm...baru lulus SMA sih," jawab Eni malu-malu.
"Wah, hebat ya. Baru lulus SMA sudah mau menikah. Calon suaminya?" tanya si pemilik catering.
"Calon suaminya pengusaha sukses!" jawab Eni asal. Tapi memang benar, Tono adalah seorang pengusaha sukses. Tapi entah pengusaha apa.
Eni tak mengatakan kalau umur calon menantunya jauh diatas dia.
"Hebat ya? Kalau anak saya sih baru saja lulus SMA. Calon istrinya juga baru lulus SMA. Tapi mereka maunya menikah sekarang. Mau dilarang juga gimana, nanti malah mereka melakukan dosa di belakang saya," ucap si ibu tadi.
"Wah, belum kerja dong. Mau dikasih makan apa istrinya nanti?" tanya Eni dengan tatapan meremehkan.
"Saya kan punya usaha batik, Bu. Biar nanti mereka yang mengelola. Atau saya bukakan cabang baru," sahut si ibu itu.
Oh. Eni baru ingat kalau si ibu ini pemilik toko batik terbesar di pasar, yang pernah dikunjunginya beberapa hari yang lalu.
Pantes saja Eni tidak asing dengan wajahnya.
"Beruntung sekali bisa menikah sama anak Ibu. Toko batik ibu yang di pasar itu, kan?" Eni melupakan kesombongannya setelah tahu siapa si ibu itu.
"Anak saya juga beruntung dapat calon istri yang cantik, walau pun cuma anak sopir angkot," sahut si ibu itu merendah.
Degh.
Eni jadi ingat kalau suaminya hanya seorang sopir angkot. Coba kalau Tania bisa mendapatkan mertua sekaya pemilik toko batik itu.
Akhirnya mereka bisa berbicara dengan baik, setelah Eni mengatakan pernah membeli batik di tokonya.
"Kenalkan nama saya Sari, Ibu siapa?" Sari mengulurkan tangannya.
"Saya Eni."
Lalu mereka saling berjabat tangan. Eni menelan ludahnya melihat gelang yang bermacam-macam bentuknya di pergelangan tangan Sari.
"Boleh saya bantu memilihkan menunya?" Sari menawarkan diri.
"Boleh, Bu Sari. Dengan senang hati."
Lalu mereka memilih menu bersama-sama.
"Ibu Sari datang ya, ke pernikahan anak saya?"
"Saya usahakan, Bu. Kapan?" tanya Sari.
"Besok minggu. Datanglah, biar Ibu Sari mencicipi menu pilihan kita. Jadi nanti kalau Bu Sari mantu, bisa pakai menu yang sama" ucap Eni.
Lalu mereka tertawa bersama. Eni merasa bahagia akhirnya bisa juga punya teman orang kaya.
Hh...Jadi orang kaya memang menyenangkan. Tapi modalnya juga mesti gede.
__ADS_1