HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 108 TANIA MENGADU DULUAN


__ADS_3

Tania membuka matanya. Lalu mencari ponselnya yang tadi dia letakan di atas tempat tidur.


Sepulang dari mall tadi, Tania mengambil ponselnya di tas. Lalu mulai mengaktifkannya lagi. Tentunya dia juga mensilent ponselnya. Biar aman.


Begitu ponselnya aktif lagi, langsung muncul notifikasi pesan masuk dari nomor tak dikenal.


Tapi Tania yakin kalau itu nomornya Rudi. Karena cuma dia satu-satunya orang yang tahu nomor baru Tania.


Karena sudah capek dan sangat ngantuk, Tania mengabaikannya. Dia meletakan ponselnya di sebelah bantal. Lalu tertidur.


Rencananya yang mau bersiap kalau Rendi datang menjemputnya pun, sampai belum dilakukan.


Tapi Tania tak khawatir, karena dia sudah memasukan beberapa pakaiannya ke dalam tas. Untuk berjaga-jaga kalau tiba-tiba ada kesempatan untuk kabur.


Tania membuka ponselnya. Lalu membaca pesan dari Rudi. Hanya kata sapaan saja. Tania pun membalas sekenanya.


Sudah hampir maghrib. Tania beranjak dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi.


Dia mau mandi, ganti baju, sholat terus makan. Perutnya sudah minta diisi lagi.


Setelah semuanya selesai, Tania keluar dari kamarnya. Tak lupa dia memasukan ponselnya di tas dan menyembunyikan tasnya di lemari, dan menguncinya.


Aman.


Siapapun tak akan bisa membuka lemarinya, karena dia mengantongi kuncinya.


Tania berjalan dan melewati depan kamar Tono. Langkah Tania terhenti, saat mendengar suara ******* dan pekikan-pekikan dari dalam kamar.


Tania merapatkan telinganya ke pintu, mencoba mendengarkan lebih jelas lagi. Karena suara lelaki yang didengar Tania, seperti bukan suara Tono.


Tania menerka-nerka. Mang Yahya? Ah, bukan. Bisa ketahuan bik Asih. Atau Tajab? Yang ditugaskan Tono menjaga mereka?


Belum sempat Tania mendapatkan jawaban, Linda berteriak-teriak memanggil nama Tajab.


"Aakkhh....Tajab! Pelan dong. Sakit....! Iya, Tajab. Begitu.....Aakkhh...terus Tajab....terus....!"


Tania menjauhkan telinganya sambil geleng-geleng kepala.


Tania memastikan kalau saat ini Tono pasti lagi pergi. Jadi mereka bisa bebas bermain.


Tania yang iseng, menggedor pintu kamar Tono. Sambil menirukan suara Tono.


"Linda! Buka pintunya!"


Der! Der!Der!


Spontan Linda dan Tajab yang hampir mancapai klimaksnya, kalang kabut.


Mereka berebut mencari pakaian yang berhamburan. Lalu buru-buru memakainya.


"Tajab! Kamu ngumpet dulu di kolong tempat tidur!" perintah Linda.


"Mana muat?" Tajab melihat ke arah bawah springbed. Jelas saja tidak muat, mana ada kolong springbed yang luas?


Tania terkikik. Lalu kembali menggedor pintunya.


"Cepetan Linda!"

__ADS_1


Mampus lu! Batin Tania.


"Aahh...Aduh...dimana ya...Ah, kamar mandi. Ya. Di kamar mandi dulu. Cepetan!"


"Iya! Sebentar, Beib! Aku baru selesai dari kamar mandi!" sahut Linda.


"Cepetan....!" Linda mendorong tubuh Tajab biar masuk ke kamar mandi.


Tajab langsung masuk kamar mandi dan berjongkok di pojokan.


Dengan baju yang dipakai asal, Linda membuka pintu kamarnya.


"Tania...!" mata Linda terbelalak.


Tania berdiri sambil melipat kedua tangan di depan dadanya, dan tersenyum penuh ejekan.


"Belum puas tadi siang sama Tajab?" tanya Tania.


"Ngapain kamu menggangguku? Kalau kamu mau, bisa gantian nanti," ucap Linda dengan kesal. Karena kesenangannya diganggu.


"Cuih! Amit-amit. Buat kamu aja semua. Dasar salome!" Tania langsung melangkah pergi.


"Heh, Tania! Jangan dikira aku tak tahu apa yang udah kamu lakukan dengan Rendi!" teriak Linda.


Tania menghentikan langkahnya. Karena Linda menyebut nama Rendi. Lalu menoleh.


Linda juga menatap Tania penuh ejekan. Seolah dia tahu semua, kejadian tentang Tania dan Rendi.


"Kamu sudah tidur dengannya, kan? Lalu apa bedanya dengan aku yang kamu katai salome, hah?" pancing Linda.


Rupanya Linda juga paham dengan istilah salome yang didapat Tania dari Asih.


"Apa bedanya?" tanya Tania.


Linda mengangguk.


"Bedanya, tak ada lelaki lain lagi yang menyentuhku!" jawab Tania.


Tania tak sadar kalau Linda hanya memancingnya. Karena kenyataannya Linda tak tahu dengan kisah masa lalu Tania dan Rendi.


"Jadi benar kan, kalau kamu sudah tidur dengan lelaki yang bukan suamimu?" Linda merasa berhasil memancing Tania.


Sialan! Dia berhasil memancingku. Kenapa mulutku kelepasan, sih? Tania menggerutu dalam hati.


"Ya! Dan sebentar lagi Rendi akan datang menjemputku!" jawab Tania.


Tania tetap yakin kalau Rendi pasti akan datang menjemputnya. Tapi entah kapan waktunya, Tania tak tahu.


"Percaya diri banget, kamu? Mana mau Rendi sama wanita sepertimu? Wanita yang menjual diri demi uang!" ejek Linda.


Tania meradang. Dadanya langsung membusung, nafasnya mulai terdengar kasar.


"Tono juga tak akan menikahkan anaknya dengan bekas istrinya. Seorang janda. Hahaha." Linda terus mengejek Tania.


"Mana boleh anak bujangnya menikahi janda? Bekasnya pula! Hahaha!" Lanjut Linda sambil tertawa.


"Kita buktikan nanti!" Tania mendorong dada Linda hingga mundur beberapa langkah. Lalu Tania melangkah pergi.

__ADS_1


"Heh, Tania! Ayo kita gantian pakai Tajab aja! Daripada kamu mengharapkan Rendi! Dia tak akan mau lagi dengan kamu!" teriak Linda.


Tapi Tania tak menghiraukannya. Dia tetap melangkah turun.


Sampai di dapur, dia hanya melihat Yahya.


"Bik Asih mana, Mang?" tanya Tania.


"Di kamar. Masih ngambek!" jawab Yahya. Dia lagi makan nasi cuma dengan lauk telur ceplok.


Waduh, bakal kelaparan nih. Pasti bik Asih enggak masak. Batin Tania.


"Eh, Mang. Punya nomornya Tono enggak?" tanya Tania.


Tania yang melihat hape milik Yahya di atas meja makan, lalu timbul pikiran jailnya.


"Ya punya lah, Neng. Hape ini kan memang dikasih buat dia ngubungin saya," jawab Yahya.


"Bisa buat telpon, kan?" tanya Tania lagi.


Yahya mengangguk.


Tania langsung mengambil hape Yahya, lalu mencari nomor Tono.


"Ini nomornya?" Tania memperlihatkan pada Yahya.


"Iya, Neng. Bener," jawab Yahya.


Tania langsung menelpon Tono.


"Iya. Ada apa, Yahya? Aku masih diluar kota," ucap Tono.


"Aku Tania," sahut Tania.


"Oh, Tania. Ada apa, Sayang? Ada apa?" tanya Tono.


Jujur dari hati yang terdalam, Tono sangat menyayangi Tania seperti anaknya sendiri.


Tania menghela nafasnya dipanggil sayang oleh Tono.


"Aku mau laporan ke kamu. Tuh, istri kamu si Linda lagi di kamar sama Tajab!" ucap Tania.


"Maksud kamu?" tanya Tono.


"Memangnya mesti aku jelasin, apa yang mereka lakukan berduaan di kamar?" sahut Tania.


"Kurang ajar!" Tono sangat geram mendengarnya.


"Tadi di mall juga aku belanja cuma berdua bik Asih aja. Linda pergi sama Tajab, entah kemana!" Tania semakin bersemangat memanas-manasi Tono.


"Kenapa kamu baru bilang?" tanya Tono.


"Kan kamu enggak nanya. Udah, aku cuma kasih laporan itu aja." Tania langsung mematikan panggilannya.


"Kurang ajar! Bajingan kamu, Tajab!" teriak Tono di dalam mobil dengan geram.


"Tadi siang Tajab dan Linda ke markas. Tajab menyuruh kami mencuci mobil di tempat yang jauh, Juragan!" Wardi yang merasa kesal, karena tak pernah dilirik oleh Linda, ikut menambahkan.

__ADS_1


Dada Tono semakin bergemuruh. Wajahnya sudah merah padam.


"Diman...! Kita pulang, sekarang!"


__ADS_2