
"Mike! Sayang!" seru Dito setelah Mike berlari agak jauh.
Saat Mike berlari dan Dito hanya diam saja, sempat terbersit kekesalan dalam dirinya. Kesal karena Dito hanya diam saja. Tak mengejarnya.
Sempat Mike berpikir Dito sudah berubah. Dito masih menyimpan perasaan pada Tania.
Dan Mike merasa hubungannya dengan Dito bakal kandas.
Air mata Mike pun mengalir tak terbendung. Dan dia terus saja berlari.
Bahkan saat Dito memanggilnya, Mike sudah tak mau peduli lagi. Dia terus saja berlari.
Tapi sayangnya langkah lari Mike tak secepat Dito. Satu langkah Dito bisa jadi tiga langkahnya Mike.
Hingga dengan mudah Dito menangkapnya.
"Sayang. Kamu kenapa?" tanya Dito setelah meraih lengan Mike.
Mike pun menghentikan larinya.
Dito melihat air mata di pipi Mike. Dito yang tak paham apa penyebabnya, malah bengong.
"Kamu nangis?" tanya Dito dengan polosnya.
Mike menundukan wajahnya.
Udah tau aku nangis malah nanya! Geram Mike dalam hati.
Dito mengulurkan tangannya. Berniat menghapus air mata Mike.
Tapi Mike yang menyadarinya, segera menjauhkan wajahnya. Dia tak mau Dito sok bersikap peduli padahal barusan saja bertanya.
Lalu Mike menghapusnya sendiri dengan punggung telapak tangannya.
"Kenapa?" tanya Dito tak mengerti.
"Aku bisa menghapusnya sendiri," jawab Mike.
"Aku enggak boleh menghapusnya?" tanya Dito lagi.
Mike menggeleng. Lalu berniat kembali berlari. Tapi Dito mencekal lengan Mike dengan kuat.
"Mike sayang. Kamu kenapa?" Dito menarik lengan Mike dengan kuat hingga Mike jatuh ke pelukannya.
Dan tiba-tiba Mike menangis sejadi-jadinya. Dito semakin kebingungan.
Dia sama sekali tak mengerti apa salahnya. Karena memang Dito tak merasa melakukan kesalahan apapun pada Mike.
Orang pun tak ada yang mendengar tangisan Mike yang kencang. Karena suara debur ombak dan angin yang lebih kencang lagi.
"Kamu kenapa, sayang? Bilang dong biar aku mengerti," ucap Dito sambil membelai rambut Mike dengan lembut.
Bukannya menjawab, tangisan Mike malah semakin kencang saja.
Dito sebenarnya bingung kenapa Mike menangis seperti itu. Tapi untuk menanyakan sekarang, sepertinya tak mungkin.
__ADS_1
Jadi Dito membiarkan saja Mike menumpahkan tangisannya sampai puas. Dito hanya membelai-belai saja rambut Mike. Dan berkali-kali menciumi puncak kepala Mike.
Setelah puas menangis, Mike pun melepaskan diri dari pelukan Dito.
Matanya sangat sembab. Wajahnya memerah bak kepiting rebus.
Dito membimbing Mike untuk duduk di pasir yang terlihat kering. Dito yakin kalau Mike pasti capek berdiri lama sambil menangis.
"Duduklah," ucap Dito.
Dito pun duduk di sebelah Mike. Dan tanpa disuruh lagi, Mike merebahkan kepalanya di lengan Dito.
"Boleh aku nanya?" tanya Dito. Dia merasa suasananya seperti saat pertama mereka pendekatan. Mau nanya saja mesti minta ijin dulu.
Mike mengangguk pelan. Tapi meskipun pelan, Dito yang sudah setahun terakhir ini hidup bersama dengan Mike, sangat memahaminya.
"Kamu kenapa menangis? Apa aku punya salah padamu?" tanya Dito.
Mike diam saja tak menjawab. Tak mengiyakan juga tak menggeleng.
"Bilang dong sayang. Biar aku tau apa salahku," pinta Dito. Dia benar-benar tak merasa punya salah apapun pada Mike.
"Kamu jahat!" sahut Mike pelan tapi ketus.
"Jahat kenapa?" tanya Dito makin bingung.
Mike mengangkat kepalanya. Lalu menatap wajah Dito dengan tatapan kesal.
"Kamu tadi sama Tania melakukan hal yang sama, kan?" tanya Mike.
Dito malah bengong.
"Enggak usah pura-pura bego!" sahut Mike semakin kesal.
"Sayang. Aku enggak tau apa maksud kamu," jawab Dito.
Lalu Mike mengungkit lagi soal foto Dito bersama Tania.
"Ya ampun, sayang. Masalah itu kan udah clear. Aku udah menjelaskan semuanya. Tania juga mengiyakan penjelasanku, kan?" Dito tak berpikir kalau ternyata Mike masih mempermasalahkannya. Bahkan mengungkitnya dan membuatnya menangis sejadi-jadinya tadi.
"Karena aku cinta kamu, Dito. Aku sayang kamu. Aku enggak mau kehilangan kamu!" sahut Mike.
Dito menatap wajah istrinya itu. Lalu tersenyum.
"Dan kamu cemburu?" tanya Dito sambil mencubit pelan hidung bangir Mike.
"Memangnya salah kalau aku cemburu?" Mike balik bertanya.
"Enggak salah kalau kamu cemburu, sayang. Tapi cemburumu salah tempat," jawab Dito.
"Maksudmu?" Kini giliran Mike yang tak paham maksud Dito.
"Iya. Masa kamu cemburu sama Tania. Sahabatmu sendiri. Kamu tak percaya sama Tania?" tanya Dito.
Mike diam saja. Tentunya dia sangat percaya pada Tania. Tapi foto itu sangat membakar hatinya.
__ADS_1
"Sayang. Tania itu cinta banget sama Rendi. Rendi juga cinta banget sama Tania. Jadi, enggak mungkin dia dengan sengaja melakukan itu denganku. Apalagi kalau sampai Rendi menilaiku sengaja melakukannya dengan Tania. Bisa digorok leherku," jelas Dito.
"Tapi kamu sudah tak mencintai Tania, kan?" tanya Mike.
Mike tahu kalau dulu Dito sempat mengejar Tania. Dan Mike takut kalau ternyata Dito masih menyimpan perasaannya pada Tania.
"Sayang. Apa masih kurang sikapku selama ini? Masih kurang caraku menunjukan kalau aku sangat mencintai kamu?" tanya Dito.
Dito memang sangat jarang mengucapkan kata-kata cinta pada Mike. Karena menurut Dito itu hanyalah kata-kata gombal saja.
Dan Dito lebih memilih menunjukannya langsung dengan sikapnya.
Mike diam saja. Dia sangat paham kalau Dito pun sangat mencintainya. Buktinya Dito selalu menuruti apapun kemauannya.
"Tapi foto itu?" gumam Mike.
Mike masih saja terbayang bagaimana pose Tania dan Dito yang terlihat sangat mesra dalam sebuah jarak yang sangat intim.
"Sayang. Kalau kamu masih percaya dengan foto itu, artinya kamu percaya pada akal-akalannya Monica. Kamu kena diakalin Monica," ucap Dito.
Mike diam saja.
"Hebat sekali si Monica itu. Bisa mempengaruhi pikiran istriku ini. Bisa membuat istriku cemburu. Marah. Bahkan menangis tersedu-sedu," lanjut Dito.
Dito menyayangkan sikap Mike yang tiba-tiba lemah dan cengeng.
Mike diam sambil berpikir ulang.
Iya juga. Kalau aku cemburu dan marah pada Dito, itu artinya usaha Monica untuk menghancurkan kita, sukses. Dan Monica akan tertawa penuh kemenangan.
Apalagi kalau Rendi juga bersikap seperti aku. Makin di atas awan itu si Mon-mon. Batin Mike.
"Tapi kalian benar-benar tak melakukannya, kan?" tanya Mike berusaha meyakinkan hatinya sendiri.
"Sayang. Aku sangat menghargai Tania. Menghargai Rendi. Menghargai persahabatan kami. Aku tak mau kehilangan sahabat seperti mereka. Aku tak akan melakukan hal sebodoh itu," ucap Dito.
Mike menatap wajah Dito. Dia mencari kebenaran di sorot mata Dito.
Dan Mike tak menemukan kebohongan di sana.
"Masih tak percaya padaku?" tanya Dito.
Mike menggeleng. Lalu memeluk Dito dengan erat.
Mike kembali menitikan air mata. Tapi ini bukan air mata kemarahan. Tapi air mata cinta dan kepercayaan.
Dito pun kembali membelai rambut Mike sambil menciumi puncak kepala Mike.
"Cie...Mesra bener. Mau dong dipeluk sambil diciumi," ucap Mila yang tiba-tiba sudah ada di dekat mereka.
Spontan Mike melepaskan diri dari pelukan Dito.
Meski mereka sudah berstatus suami istri, tapi merasa malu juga dilihat oleh Mila.
"Uluh...Uluh....Sini aku peluk." Dito merentangkan tangannya pada Mila.
__ADS_1
Mila cuma nyengir mendapat tatapan sinis dari Mike.
"Enggak jadi! Satpamnya galak!" ucap Mila sambil lari menjauh.