
Tania yang merasa haus, turun menuju dapur. Di kamar yang ditempatinya tak ada dispenser.
Ah, mau minum aja ribet banget. Nanti aku bawa air putih aja ke kamar, biar enggak bolak balik naik turun. Batin Tania.
Tania melewati kamar Tono. Pintunya tertutup rapat. Tania pikir mereka lagi berguling-guling di atas tempat tidur. Tania jadi bergidig ngeri.
Sambil berjalan, Tania membayangkan seorang wanita cantik yang masih muda bercinta dengan kakek-kakek yang sudah bau tanah.
Menjijikan sekali. Batin Tania.
Sampai di bawah, Tania mendengar suara air kolam berkecipak dan suara teriakan wanita. Dia pikir bik Asih jatuh ke dalam kolam renang.
Tania langsung berlari mendekat. Dilihatnya dengan tajam siapa yang ada di dalam kolam.
"Tolong...! Tolong...!" Linda berteriak-teriak sambil tangannya menggapai-gapai ke atas.
Linda? Ngapain dia di situ? Tania mendekat.
"Tolong...! Kakiku kram!" teriak Linda.
Tania menatapnya dengan sinis. Inginnya dia berbalik dan membiarkan Linda yang menyebalkan mati tenggelam di kolam.
Tapi sayangnya Tania tak tega. Dia mendekat lalu mengulurkan tangannya.
"Ayo naik! Kalau enggak bisa berenang, enggak usah lagu-laguan!" seru Tania dengan kesal.
Linda berusaha meraih tangan Tania. Dan setelah dapat memegang tangan Linda, Tania menariknya perlahan ke pinggiran kolam.
Bahkan Tania membantu Linda sampai bisa naik ke atas.
Tania melihat Linda yang hanya mengenakan pakaian dalam. Terlihat sangat lucu. Mungkin dianggapnya memakai bikini. Tania menahan tawanya.
Dasar enggak tahu malu! Kalau dilihat mang Yahya kan bisa jadi tontonan gratis. Batin Tania.
"Terima kasih. Aduh, kakiku kram," ucap Linda.
Tania memperhatikan tubuh mulus dan seksi yang nyaris telanjang, duduk di depannya.
"Luruskan kakimu!" ucap Tania dengan ketus.
Linda menurut. Lalu perlahan Tania memijatnya.
"Honey, ngapain kamu di situ?" Tono menatap ke arah mereka.
Honey? Tania mengerutkan dahinya. Pingin ketawa mendengar tua bangka macam Tono memanggil Linda dengan kata honey.
Tapi memang benar, Linda adalah madu bagi Tania. Madu berasa racun.
Linda pun menatap Tono yang berjalan menghampiri mereka. Dan dasarnya Linda berhati culas, sudah ditolong, malah dia menuduh Tania.
"Aku jatuh ke kolam, Beib. Dia yang mendorongku tadi," jawab Linda sambil tangannya menunjuk ke arah Tania.
Tania melotot. Tak mengira Linda akan menuduhnya seperti itu.
Gila! Kurang ajar banget ini perempuan. Udah ditolong malah menuduh.
"Apa? Dia mendorongmu?" tanya Tono.
Linda memgangguk dengan wajah pura-pura hampir menangis, biar meyakinkan.
__ADS_1
"Heh, Tania! Kamu mau membunuhnya?" bentak Tono pada Tania.
Linda tersenyum sinis ke arah Tania, tanpa diketahui Tono.
"Aku?" tanya Tania.
"Iya, kamu! Dulu kamu juga mendorongku hingga kecebur. Sekarang kamu dorong istriku!" jawab Tono.
"Tapi aku enggak mendorongnya! Aku menolongnya. Dia jatuh sendiri!" sahut Tania.
"Bohong! Dia tadi mendorongku hingga jatuh. Lalu pura-pura menolongku!" seru Linda sambil berakting, dengan mimik hampir menangis.
Tania yang masih pada posisi berjongkok di depan Linda, segera berdiri. Hatinya sangat kesal.
Kesal pada Linda yang memfitnahnya, juga pada Tono yang ikut-ikutan menuduhnya.
"Dasar wanita enggak tau diri, kamu! Sudah ditolong masih saja mau mencelakai istriku!" teriak Tono sambil terus mendekat.
Tania semakin naik darah. Lalu menghela nafasnya berusaha menyusun kekuatan.
"Iya! Aku yang mendorongnya! Biar dia mati! Seperti ini!"
Byuur....!
Tania benar-benar mendorong tubuh Linda hingga tercebur lagi ke kolam. Posisi Linda yang duduk di tepian kolam, sangat gampang untuk di dorong.
"Aahhkk....! To....Tolong...!" Linda yang kakinya belum pulih, kembali berteriak-teriak minta tolong.
"Puas kalian?" Tania berkacak pinggang menatap ke arah Tono juga Linda.
Tono yang melihatnya semakin emosi. Istrinya didorong Tania di depan mata.
Tania tak takut sama sekali. Dia malah menantang Tono.
"Berani kamu mendekat, aku ceburkan kamu sekalian! Biar kalian mati bareng!" ancam Tania.
Tono yang pernah kecebur kolam dan masih ingat bagaimana rasanya, tak berani mendekat lagi.
Bagaimanapun dia sadar diri. Tenaga Tania yang masih muda, pasti lebih kuat darinya.
Tono tetap menganggap, kejadian waktu itu adalah kesalahan Tania.
"Tolong....Beib...! Tolong aku!" Linda memohon pertolongan Tono.
Karena masih ada Tania, Tono tak berani mendekat. Salah-salah, malah dia ikut diceburkan oleh Tania.
Tania menatap Linda penuh kebencian.
"Tuh! Tolongin sendiri istri tercintamu!" ucap Tania, lalu pergi meninggalkan mereka.
"Tolong aku, Beib....!" Linda terus saja menggapai-gapaikan tangannya.
Tono merasa tak bisa menolong Linda. Dia masih trauma kecebur lagi.
"Yahya....!" panggil Tono.
Ternyata Yahya dan Asih sedang mengintip mereka.
"Pak, tuh dipanggil juragan," bisik Asih.
__ADS_1
"Iya."
Lalu Yahya pura-pura berlari dari belakang rumah.
"Iya, Juragan!"
Tania yang melihatnya, menahan tawa. Asih cuma nyengir lalu mengacungkan jempolnya.
Asih senang karena Tania bisa melawan Tono dan Linda yang semena-mena.
"Tolongin istriku!" jawab Tono.
"Baik, Pak." Yahya mengulurkan tangannya. Dan Linda berusaha meraih tangan Yahya.
Yahya berusaha menariknya.
Linda yang hanya mengenakan ****** ***** dan bra, membuat Yahya tidak bisa fokus. Dia menarik Linda terlalu kuat.
Hingga saat Linda sampai di atas, Yahya terpeleset dan jatuh terlentang. Linda pun yang masih dipeganginya, ikut jatuh dan menindih tubuh Yahya.
Asih yang melihatnya membelalakan mata sambil menutup mulutnya.
"Heh! Apa-apaan kalian?" teriak Tono.
Tono menarik tubuh Linda yang berada tepat di atas tubuh Yahya. Dan posisi wajah Linda menyatu dengan wajah Yahya.
Linda segera bangun dibantu Tono. Yahya pun segera berdiri.
"Ma...maaf, Pak. Saya tak sengaja. Kepleset," ucap Yahya.
"Mm...bohong! Dia sengaja menarikku biar aku jatuh menindihnya!"
Sekali lagi Linda menuduh orang yang telah menolongnya.
"Enggak, Pak. Saya tidak sengaja." Yahya membela diri.
"Enggak sengaja tapi tangannya meremas bokong istriku!" sahut Tono. Dia melihat tangan Yahya tadi berada di atas bokong Linda.
Sebenarnya itu hanya reflek saja. Karena Yahya butuh pegangan, dia pegang apapun sekenanya.
Dan kebetulan yang kepegang adalah bokong Linda yang bahenol dan mulus.
Rejeki juga buat Yahya, selain bisa mencengkeram bokong Linda, bagian dada Linda yang montok dan nyaris terbuka, menempel di dadanya.
Termasuk wajah cantik Linda menempel di wajah tuanya. Bahkan posisi bibir Linda tepat di bibirnya.
Mungkin kalau dikasih kesempatan, Yahya bisa ********** sebentar.
Asih yang tadinya kesal karena Linda dan suaminya saling tindih, tak bisa membiarkan Tono ikut menuduh suaminya itu.
"Pak! Jangan asal tuduh, dong! Suami saya kan sudah menolong," ucap Asih.
"Menolong kok cari kesempatan!" Tono sepertinya sudah kehabisan tenaga untuk berteriak. Lalu dia menarik tubuh Linda naik ke kamarnya.
"Bapak juga sih, pake acara jatuh segala! Sengaja ya? Biar bisa ketindihan si Linda yang gatel itu?" Asih malah mengomeli Yahya.
"Enggak, Bu. Aku kepleset. Nih, disini licin banget." Yahya menunjuk ke lantai tempatnya tadi kepleset.
"Hhh! Dasar modus!" Asih pergi meninggalkan Yahya yang hanya bisa garuk-garuk kepala.
__ADS_1
Rejeki nomplok itu namanya, Bu. Batin Yahya.