
Widya menarik tangan Lintang. Bukan Widya tak mengijinkan Diman mendekati, tapi masalah hidup Lintang saja belum selesai.
Danu semakin getol menggoda Diman.
"Berani gak tuh, ama bodyguardnya?" tanya Danu.
"Sialan, lu!" Diman menoyor bahu Danu.
Danu kembali tergelak. Lalu dia segera menuju angkotnya. Yahya pun ikut keluar. Dia kembali harus membukakan pintu gerbang. Karena salah satu tugasnya di rumah Tono adalah menjaga pintu gerbang.
"Kita pulang sekarang?" tanya Tono pada Rendi.
Rendi pun mengangguk, karena sudah tak ada lagi yang ditunggunya.
Diman dan Yahya membantu Rendi naik ke mobil. Mila naik ke bagian tengah.
Dan mobil Tono pun meninggalkan rumahnya menuju rumah Sari.
"Pa. Besok antar Rendi lagi ke rumah Papa, ya," pinta Rendi di tengah jalan.
"Iya. Mila, kamu besok ikut juga," ucap Tono pada Mila.
"Iya, Pak," sahut Mila.
Mila tentu saja senang diajak keluar. Meski cuma ke rumah Tono. Setidaknya dia tidak jenuh di dalam rumah terus.
Sampai di rumah, Sari sudah menyiapkan makanan untuk makan mereka.
"Kalian mau makan sekarang?" Sari menawari.
Tono melihat ke arah Rendi. Semua terserah Rendi saja.
"Nanti malam aja, Ma. Sekarang Rendi capek banget. Pingin istirahat," sahut Rendi.
Dan dengan dibantu Mila juga Yadi, Rendi naik ke tempat tidurnya.
Rendi mengirimkan pesan chat pada Tania. Mengatakan kalau dia sudah sampai di rumah mamanya.
Tania juga mengatakan hal yang sama. Tadi angkot Danu mengantarkan Widya dan Lintang dulu. Karena Lintang butuh istirahat.
Tania yang juga sudah lelah, merebahkan tubuhnya di kamar. Eni dan Danu juga ikut masuk ke kamar. Mereka sama-sama lelah dengan semua kejadian hari itu.
"Pak. Bu Sari ternyata orangnya kejam juga, ya," ucap Eni di tempat tidur.
"Iya, Bu. Aku jadi kasihan sama Rendi. Anak satu-satunya kok masih saja disiksa dengan keegoisan," sahut Danu.
"Dulu Tono yang menyiksa Rendi. Sampai Rendi harus membayar mahal untuk itu. Giliran Tononya sadar, bu Sari berulah," lanjut Danu.
Tumben hari ini Danu bicara dengan sangat bijak dan benar. Otaknya lagi bisa bekerja. Tidak seperti biasanya.
"Tadi Tono bilang mau nyekolahin Tania. Anak kita bakal jadi sarjana, Pak," ucap Eni dengan bangga. Meski baru sekedar wacana dari Tono.
Tapi Eni yakin, kalau Tono tak akan mengingkari janji. Nyatanya rumah, angkot serta kios yang diminta Tania saja, diberikan oleh Tono.
__ADS_1
"Iya, Bu.Biar Tania bisa jadi anak hebat. Enggak seperti kita," sahut Danu. Dia juga akan sangat bangga kalau Tania bisa jadi orang sukses.
"Dan semoga Tania bisa berjodoh dengan Rendi. Kasihan mereka. Kepingin hidup bersama aja, ujiannya banyak banget." Eni menambahi.
Doa-doa terbaik secara tak sadar mengalir dari mulut mereka berdua. Orang yang telah mengasuh Tania sejak kecil.
"Bu. Kalau Tania nanti menikah sama Rendi, kamu kepingin punya cucu berapa?" tanya Danu. Padahal matanya sudah lengket.
"Sebanyak-banyaknya, Pak. Sekuatnya Tania hamil saja," jawab Eni.
Eni kembali mendoakan agar Tania bisa memberikan cucu yang banyak untuknya. Karena Eni sendiri tak bisa punya anak.
"Kamu pikir Tania itu kucing? Disuruh punya anak sebanyak-banyaknya," sahut Danu.
Tiba-tiba Eni ingat dengan Lintang.
"Pak. Kalau nanti mbak Lintang melahirkan, boleh enggak ya, anaknya kita asuh?" tanya Eni.
"Aku belum tanya sama Lintangnya, Bu. Kalau kondisinya masih kayak begini sih, aku kira Lintang pasti mengijinkan. Kan dia juga harus bekerja nantinya. Mbak Widya kan sudah semakin tua. Siapa yang akan memberinya makan, kalau Lintang tidak bekerja," jawab Danu.
"Iya, Pak. Kondisi ekonomi kita juga masih pas-pasan. Kayaknya belum mampu membantu mereka. Ya...walaupun kalau dipaksakan, pasti bisa," timpal Eni.
"Benar, Bu. Nanti juga bakalan ada jalannya. Rejeki mah ada aja, selama kita masih mau usaha," ucap Danu.
"Pinter kamu sekarang, Pak. Enggak sia-sia tiap hari aku ngomel-ngomel. Hihihi." Eni terkikik.
Danu menggelitiki perut Eni.
"Iih, jangan begini, Pak. Geli." Eni menggelinjang kegelian.
Sampai kemudian candaan mereka berubah menjadi cumbuan. Dan berakhir dengan pertempuran.
Danu dan Eni terkapar kelelahan. Dan mereka pun terlelap sampai maghrib.
Tania keluar dari kamarnya setelah mendengar suara adzan. Dia mau sholat maghrib dan meminta pada Rob-nya agar diberikan kemudahan dalam segala hal.
Selesai sholat, Tania berjalan ke depan. Dia tak mendengar suara Danu maupun Eni.
"Kemana mereka? Apa belum pada bangun?" Gumam Tania.
Tania pun melihat kamar depan masih tertutup. Tania mengetuknya. Meskipun Tania yakin kalau pintu itu tak dikunci, tapi Tania tak mau langsung membukanya.
Khawatir matanya kena polusi, melihat hal-hal yang tak diinginkan.
"Bi...! Bibi!" panggil Tania sambil mengetuk.
Eni menggeliatkan badan, mendengar suara Tania.
"Bibi...!" Tania memanggil sekali lagi.
"Iya. Ada apa?" tanya Eni dengan suara parau khas bangun tidur.
"Bibi udah bangun? Udah maghrib, loh!" ucap Tania dari luar.
__ADS_1
Eni melihat ke jam dinding kecil di kamarnya.
"Ya ampun! Udah jam setengah tujuh, ternyata!" Eni langsung beranjak dari tidurnya.
"Pak. Bangun. Udah maghrib!" Eni mengguncang tubuh Danu.
"Mmm. Biarin aja, Bu," sahut Danu. Lalu dia lagi, melanjutkan mimpinya.
"Ish! Bangun. Tidurnya disambung nanti malam lagi," ucap Eni.
"Iya. Bentar lagi, Bu.Lagi nanggung ini." Meski mata masih tertutup tapi Danu tetap saja menjawab.
Walaupun jawabannya ngawur.
"Nanggung apaan sih? Kayak orang kerja aja!" Eni beringsut melangkahi Danu yang tidur di pinggir.
"Mau kemana, Bu?" tanya Danu dengan mata masih merem.
"Mandilah. Terus sholat maghrib!" jawab Eni.
"Nitip, ya," ucap Danu tanpa rasa bersalah.
"Nitip? Kamu pikir aku mau beli gado-gado!" sahut Eni dengan kesal.
Orang mau sholat, malah nitip. Ada-ada aja. Batin Eni.
"Ya, seenggaknya kamu doaian aku yang baik-baik, Bu," ucap Danu.
Mata Danu kayak dilem. Susah sekali untuk melek.
"Iya. Nanti aku doain biar kamu dapat hidayah!" sahut Eni.
Padahal Hidayah itu nama seorang tetangga Eni yang berstatus janda.
Danu langsung melek mendengarnya.
"Memangnya kamu boleh, kalau aku dapetin si Hidayah, Bu?" tanya Danu dengan semangat.
Secara suami Hidayah meninggal dunia dan meninggalkan banyak harta. Hidayah juga cantik dan sangat muslimah.
"Enak aja! Mau burung kamu aku potong?" ancam Eni.
"Loh, tadi katanya...."
"Bukan Hidayah yang itu! Tapi hidayah biar kamu mau beribadah! Dasar lelaki hidung belang! Wanita mulu yang dipikirin!" Eni melemparkan bantal ke wajah Danu.
Rupanya otak Danu belum konek. Dan setelah ambruk oleh lemparan bantal Eni, Danu pun kembali terlelap.
Eni mendengus kesal, lalu keluar dari kamarnya.
"Bi! Kok Bibi enggak pakai baju?" Tania menatap heran pada Eni.
Spontan Eni melihat ke badannya. Lalu kembali masuk ke kamar.
__ADS_1
Ternyata otak Eni juga jadi enggak konek gara-gara hidayah.