HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 193 TIDAK BISA MEMBUKA PINTU KAMAR


__ADS_3

"Mama punya cara buat ngusir dia," bisik Sari di telinga Rendi.


Rendi menatap Sari penuh tanda tanya.


Sari memberikan tanda dengan jarinya. Lalu keluar dari kamar Rendi.


Rendi semakin penasaran. Tapi terus memilih diam, biar Monica tak curiga.


Monica masih asik memainkan ponselnya, sambil mengangkat satu kaki dan menyilangkannya ke kaki satunya.


Posisi yang bagi sebagian lelaki sangat menggiurkan. Karena terlihat jelas bagian dalamnya yang menonjol.


Tapi bagi Rendi kini, malah terlihat menjijikan. Punya aset dipamer-pamerin ke orang lain. Malah jadi seperti tontonan umum. Siapapun bisa melihatnya.


Sangat berbeda dengan Tania yang selalu melindungi asetnya, bahkan pada Rendi sekalipun.


Dan Rendi sangat bangga bisa memiliki Tania. Meski belum bisa memiliki seutuhnya.


Tak lama Sari datang bersama Mila. Rendi kembali menatap mamanya.


Mila mendekati Monica yang masih asik berselancar di dunia maya.


"Maaf, jam berkunjung sudah habis. Jadi silakan anda keluar dari kamar ini!" ucap Mila dengan ketus pada Monica.


Monica mengangkat wajahnya dan menatap Mila dengan tajam.


"Kamu mengusirku?" tanya Monica.


"Iya. Karena jam berkunjung sudah habis!" jawab Mila masih dengan suara ketus.


"Aku bukan pengunjung. Aku kekasih Rendi. Dan aku akan menunggui Rendi sesukaku. Apa hak kamu ngusir-ngusir aku?"


Monica merasa tidak terima diusir oleh Mila.


"Maaf. Pasien hanya boleh ditunggui oleh satu orang saja. Jadi silakan keluar dari kamar ini!" sahut Mila.


"Kalau aku enggak mau?" tantang Monica.


"Sebentar lagi dokter visit akan datang. Kamu bakal diusir juga oleh mereka!" sahut Mila.


"Aku akan hadapi dokternya! Mana ada aturan seperti itu? Memangnya pasien kelas bawah? Pake dibatas-batasi!" Monica tetap tak mau kalah.


Bagaimanapun Monica pernah menjaga papanya saat dirawat di rumah sakit. Jadi dia paham dengan aturan rumah sakit.


"Ya sudah, kalau tidak mau aku bilangin. Biar satpam yang akan mengusir kamu!" Mila bergegas keluar dari kamar Rendi.


"Kamu pulanglah, Mon. Aku enggak mau ada keributan lagi di sini. Satpam sini udah hafal dengan wajah kamu, lho," ucap Rendi.


Rendi masih ingat saat Monica diusir paksa oleh satpam, saat akan memperkosanya di sini.


"Hh!" Monica mendengus dengan kasar. Lalu meraih tasnya.


"Ya udah, aku pulang dulu! Permisi!" Monica langsung keluar dari kamar Rendi.


Dia juga tak mau kalau sampai diusir lagi. Monica juga masih punya malu.


Apalagi satpam yang waktu itu menyeretnya, malah ambil kesempatan nyenggol-nyenggol dua asetnya yang berukuran jumbo.


Rendi tersenyum senang ke arah Sari.


"Hebat kan, Mama?" Sari membanggakan dirinya.

__ADS_1


"Iya. Top deh, pokoknya!" Rendi memberikan jempolnya.


Tapi jangan Tania juga ikut diusir dong. Aku kan maunya sama Tania, Ma. Ucap Rendi. Tapi cuma dalam hati saja.


Saat ini Rendi tak mau membuat Sari marah dulu. Baginya yang penting bisa segera keluar, sembuh lalu kabur bersama Tania.


Saat Sari sudah mulai asik dengan ponselnya, Rendi pun kembali berusaha menghubungi Tania. Meski hanya lewat chat.


Tania yang sudah mandi dan wangi, mulai menyalakan lagi ponselnya. Tepat saat Rendi juga mengirimkan pesan.


Kenapa kamu tadi mematikan ponselmu, Sayang? Tanya Rendi.


Tadi budeku tiba-tiba masuk ke kamar mandi. Jawab Tania.


Tania sudah menyiapkan jawaban itu dari tadi. Menurutnya itu alasan yang masuk akal buat Rendi.


Memangnya kamu enggak mengunci pintunya? Tanya Rendi.


Aku lupa menguncinya, Ren. Jawab Tania dengan lancar.


Wouw. Coba aku ada di situ. Ketik Rendi sambil cengengesan.


Memangnya kenapa kalau kamu ada di sini? Tanya Tania tak paham.


Aku kan bisa nyelonong masuk. Hehehe. Jawab Rendi. Rendi semakin cengengesan.


Mereka pun asik bercanda, meski hanya lewat chat. Widya yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat aneh ke arah Tania.


"Kamu ngapain ketawa-ketawa sendiri?" tanya Widya pada Tania.


"Lagi bercanda sama Rendi, Bude," jawab Tania.


Tapi sejujurnya Widya senang, karena Tania sudah mau bercanda lagi. Tertawa lagi. Meski tertawa sendirian.


Sementara Eni dan Danu mau kembali ke kamarnya. Mereka berjalan melewati lorong di antara kamar-kamar yang tertutup rapat.


"Kamar kita yang mana ya, Pak?" tanya Eni.


"Lihat aja di kartunya. Kayaknya ada nomornya," jawab Danu.


Eni pun melihat ke kartu yang dipegangnya. Benar saja. Di situ ada nomor kamar mereka.


Dengan percaya diri, Eni menuju kamarnya. Lalu memasukan kartu akses itu ke tempatnya. Eni berusaha membuka pintunya.


Klek.


Klek.


"Pak. Kok enggak bisa, ya?" Eni kesulitan membukanya.


"Hhh! Gitu aja, enggak bisa!" Danu mengambil kartunya. Lalu memasukan ke tempat yang sama.


Klek.


Klek.


Danu pun merasa kesulitan membukanya. Eni menatapnya dengan kesal.


"Enggak bisa juga, kan?" ledek Eni.


"Bisa!" Danu tak terima diledek Eni. Dia kembali berusaha membukanya.

__ADS_1


Tapi tetap saja enggak bisa. Bahkan hingga berkeringat dingin.


"Udah, nyerah aja deh!" ucap Eni.


"Terus kalau nyerah, kita mau tidur di luar?" tanya Danu.


"Kamu aja yang tidur di luar. Aku mau ke kamar Tania!"


Eni langsung ke kamar sebelahnya. Kamar Tania dan Widya.


"Tania! Buka pintunya, Sayang! Ini Bibi!" teriak Eni sambil mengetuk pintunya.


"Bu. Jangan teriak-teriak. Nanti penghuni lainnya pada keluar!" ucap Danu.


"Kalau enggak teriak, enggak bakalan kedengeran..."


Belum sempat Eni melanjutkan kalimatnya, pintu sudah terbuka. Widya yang membukakannya.


"Ada apa, En?" tanya Widya.


"Aku mau main ke kamar kalian," jawab Eni berbohong.


Eni malu kalau dikatain ndeso lagi sama Widya. Jadi terpaksa berbohong.


Eni langsung nyelonong masuk.


Danu hendak melangkah masuk juga ke kamar Tania.


"Kamu mau main juga?" tanya Widya dengan heran.


Karena bukannya pada mandi dan ganti pakaian, mereka malah mau main.


"Eng....Enggak, Mbak. Aku mau ketemu sama Tania," jawab Danu.


"Tuh, Tania lagi duduk. Kamu udah mandi?" tanya Widya.


"Belum." Danu menggelengkan kepalanya.


"Kenapa enggak mandi? Nanti kalau Lintang ngajakin jalan-jalan, apa kalian enggak mau ikut?" tanya Widya lagi.


"Ikutlah, Mbak," jawab Danu.


"Ya udah, mandi dulu sana!" ucap Widya.


"Mm....Kita...Kita enggak bisa masuk ke kamar, Mbak," sahut Danu.


"Kenapa enggak bisa? Susah buka pintunya?" tebak Widya.


Danu mengangguk malu.


"Hhm...Maunya menginap di hotel berbintang. Buka pintu aja enggak bisa!" ucap Widya. Lalu dia masuk ke dalam. Meninggalkan Danu sendirian di luar.


Pintu kamar otomatis tertutup. Danu langsung berlari menahannya.


"Ada apa, Bi?" tanya Tania pada Eni. Eni sudah duduk di sebelah Tania.


"Bukain pintu kamarnya, Tania. Mereka enggak bisa masuk!" sahut Widya.


Sebenarnya Widya juga enggak bisa membukanya. Tapi demi menjaga image di depan Danu dan Eni, Widya menyuruh Tania saja.


Jadi Danu dan Eni tidak bakalan tahu dan balas meledeknya.

__ADS_1


__ADS_2