HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 281 DEMI MENYENANGKAN HATI TANIA


__ADS_3

Tania memapah Rendi sampai ke bawah pepohonan rindang. Di sana ada juga tempat yang bisa buat duduk.


"Duduk di sini aja, sayang," ucap Rendi setelah sampai.


"Iya," sahut Tania. Lalu membantu Rendi duduk dengan nyaman.


"Maaf ya, sayang. Kamu jadi capek mapah aku terus," ucap Rendi lagi. Meski hatinya bahagia, tapi ada rasa kasihan juga pada Tania.


Mestinya dia yang menolong Tania, bukan malah Tania yang menolongnya.


"Enggak apa-apa, Ren. Kita kan harus selalu saling membantu. Suatu saat kalau aku sakit, gantian kamu yang bantu aku," sahut Tania.


"Kamu jangan sampai sakit, sayang," ucap Rendi.


Siapapun pasti tak mau kalau orang yang disayangi sakit.


"Kenapa? Kamu enggak mau bantu aku kalau sakit?" tanya Tania salah mengartikan.


"Bukan begitu dong, sayang. Aku enggak mau kalau kamu sampai sakit," jawab Rendi.


"Tapi kalau sampai aku sakit, kamu mau kan merawatku?" tanya Tania lagi dengan khawatir.


"Pastilah, sayang. Tak akan aku biarkan kamu sakit sendirian. Kalau perlu sakitnya pindahin ke badanku aja," jawab Rendi lebay.


"Ish. Mana bisa?" Tania terkekeh.


"Siapa tau bisa," sahut Rendi.


"Ren. Aku haus. Aku beli minuman dulu ya," ucap Tania.


"Warung di sini jauh, sayang. Biar aku telpon Dito aja."


Tanpa menunggu persetujuan Tania, Rendi menelpon Dito yang sekarang tak tahu lagi ada dimana.


"Hallo, Bro," sapa Rendi lebih dulu.


"Hallo. Ada apaan, Ren?" sahut Dito.


Ternyata Dito lagi menemani Mike makan bakso di sebuah kios di pinggiran pantai.


Tadinya mereka berniat jalan-jalan menyusuri pantai. Tapi begitu melihat kios bakso dan mencium aroma kuahnya, Mike langsung menarik tangan Dito masuk ke kios itu.


"Lu lagi dimana?" tanya Rendi.


"Gue lagi di kios bakso. Nungguin Mike makan bakso," jawab Dito.


Tania yang kebetulan mendengar pembicaraan mereka, matanya langsung berbinar. Dia membayangkan semangkuk bakso dengan kuah yang pedas dan segar.


Tania jadi ingat masa sekolahnya dulu. Dia dan Mike sering makan bakso berdua. Mulai dari bakso pinggiran jalan sampai bakso termahal, sudah mereka coba.


Tentunya Mike yang membayarnya. Karena kalau bakso di tempat yang mahal, jelas harganya tak terjangkau oleh kocek Tania yang hanya anak seorang supir angkot sewaan.

__ADS_1


"Oh...masih lama kagak?" tanya Rendi lagi.


Spontan Dito melirik ke mangkuk bakso Mike yang baru saja diantar penjualnya.


"Masih. Baru aja dianterin. Emang kenapa, Bro?" Dito balik bertanya.


"Tania haus. Gue mau minta tolong elu beliin minum," jawab Rendi.


Dito diam sejenak. Dia berpikir, kalau harus menunggu Mike selesai makan, pasti bakalan lama. Tapi kalau meninggalkan Mike sendirian, dia juga enggak tega.


Mike yang juga mendengarnya, ikutan komentar.


"Emang kalian ada dimana?" tanya Mike, sambil tangannya mengaduk baksonya.


"Kita ada di bawah pepohonan. Dekat perahu-perahu," jawab Rendi.


Dito dan Mike spontan melihat ke arah tempat yang diberitahukan Rendi.


"Itu mah kagak jauh dari tempat kita, Bro," ucap Dito.


Dari kios bakso, tempat itu jelas terlihat. Hanya saja karena tadi mereka tak berkomunikasi, jadi tak tahu posisi masing-masing.


"Lah, emang kalian ada dimana?" tanya Rendi. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri.


Dito keluar sebentar dari kios bakso. Lalu melambaikan tangannya ke arah Rendi dan Tania yang sedang duduk.


"Liat ke arah kios-kios, Bro. Gak jauh, kan?" ucap Dito.


Rendi dan Tania pun melihat ke arah kios-kios yang berjajar. Mereka melihat Dito sedang melambaikan tangan.


"Kamu mau kesana, sayang?" tanya Rendi pada Tania.


Tania pun mengangguk.


"Oke, Bro. Kita kesana." Lalu Rendi menutup telponnya.


Tania bangkit lebih dahulu. Lalu mengulurkan tangannya pada Rendi.


Dengan sedikit kesulitan, Rendi meraih tangan Tania. Sementara tangan yang satunya bertumpu pada tongkat yang selalu menemaninya.


Dito melihat dari kejauhan. Dia merasa tak tega menatap Tania memapah Rendi.


"Sayang. Aku bantu Rendi jalan kesini dulu, ya," pamit Dito pada Mike yang sudah mulai memakan baksonya.


Karena mulutnya penuh makanan, Mike hanya bisa mengangguk.


Dito pun berlari ke arah Rendi yang sedang dipapah oleh Tania.


"Tania. Biar aku aja yang mapah ini bocah. Kamu pasti capek. Bocah semok ini pasti berat kan?" ucap Dito pada Tania.


Badan Rendi memang lebih besar dari Dito. Meski tak tergolong gemuk, tapi Dito selalu menyebutnya semok.

__ADS_1


"Enggak apa-apa, Dit. Aku kuat kok," sahut Tania. Meskipun sebenarnya dia merasa keberatan dan bakalan pegal kalau jalan terlalu jauh.


"Udah. Kamu jalan sendiri aja." Dito tetap memaksa.


Rendi yang tak tega dengan Tania, menyuruh Tania melepaskannya.


"Biar si kampret ini aja yang memapahku, sayang. Kamu jalan sendiri dulu," ucap Rendi pada Tania.


Tania pun mengangguk.


Dito buru-buru meraih tangan Rendi. Dan membantunya berjalan.


Sebenarnya Rendi bisa jalan sendiri ditopang tongkat. Tapi karena medan yang akan dilaluinya berpasir dan tidak rata, Rendi gamang juga.


Takutnya jatuh dan akan membuat kondisinya makin parah.


Jadi lebih baik menerima bantuan dari orang lain.


"Yang lain kemana?" tanya Rendi pada Dito, sambil jalan.


"Kayaknya mereka jalan-jalan juga. Tadi sih bareng. Tapi Mike minta makan bakso. Jadi ya, kita berpisah," jawab Dito.


Rombongan keluarga Tania dan para karyawan rumah Rendi, berjalan-jalan di sepanjang pantai.


Tapi arah mereka berlawanan dengan Tania dan Rendi yang tadi duduk-duduk di gubug pinggir pantai.


"Oh. Ya udah. Nanti saatnya makan siang, biar aku telpon biar ngumpul," ucap Rendi.


"Tadi keluarga Tania bawa makanan banyak banget. Katanya bude Widya yang masak semuanya," ucap Dito. Dia ingat tadi banyak sekali makanan yang dimasukan ke bagasi mobilnya.


"Lah. Kok pake bawa makan segala? Mbak Sri sama Mila juga bawa makanan juga. Katanya mereka masak khusus buat kita semua," ucap Rendi.


"Wah, kita makan besar nih. Bakalan seru kayak orang-orang disana itu." Dito menunjuk ke arah rombongan keluarga yang sedang menikmati makan di pinggir pantai.


Rendi dan Tania pun ikut menatap rombongan keluarga itu.


"Menyenangkan sekali," gumam Tania sambil tersenyum.


"Kamu pingin kayak gitu?" tanya Rendi pada Tania.


Tania mengangguk. Sudah lama sekali dia tak merasakan suasana seperti itu.


Terakhir saat dia lulus dari SD. Paman dan bibinya mengajak ke pantai ini juga. Widya dan Lintang ikut.


Mereka menggelar tikar sambi makan masakan Widya yang tak diragukan lagi rasanya.


"Ya udah. Nanti kita gelar tikar juga. Tadi bawa tikar?" tanya Rendi.


"Iya. Bibi bawa dua tikar besar," jawab Tania.


"Nanti kalau kurang, bisa sewa di orang-orang itu." Rendi menunjuk ke beberapa orang yang menawarkan tikar sewaan.

__ADS_1


Demi menyenangkan Tania, Rendi membatalkan rencananya makan di restauran mewah di pinggir pantai.


Tania kembali mengangguk senang.


__ADS_2