HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 78 HUKUMAN BUAT TANIA


__ADS_3

"Apa yang dia katakan?" tanya Tono dengan penuh kecurigaan. Dia tadi sempat melihat Mike alias Lisa membisiki Tania.


"Enggak ada! Hanya minta maaf!" jawab Tania dengan ketus.


"Jangan bohong kamu!" bentak Tono.


"Kamu pikir aku sepertimu yang suka berbohong?" Tania tak kalah berang.


"Ooh. Jadi kamu lebih mempercayainya,hah?" Tono mencengkeram tangan Tania.


Tania berusaha melepaskan tangannya. Tapi sayangnya kali ini Tono lebih kuat. Dia tak mau kalah seperti tadi pada Mike.


Tania menatap garang wajah Tono. Tatapan penuh kebencian. Dan juga jijik.


Dasar mata keranjang! Dia berniat memperkosa Mike? Di sini? Menjijikan sekali!


"Yahya! Kunci lagi pintu gerbang. Dan jangan biarkan siapapun masuk!" teriak Tono.


Yahya yang sedang berada di dapur, lamgsung berlari ke ruang tamu.


"Siap, Pak." Yahya berlari lagi ke pintu gerbang dan menguncinya.


Tono menyeret tangan Tania naik ke lantai dua.


"Lepaskan!" Tania berteriak sambil terus berusaha melepaskan tangannya.


Sampai di kamar, Tono menghempaskan tubuh Tania ke atas tempat tidur.


"Kamu pikir aku tak mendengar dia menyebutkan nama Rendi, hah!" seru Tono.


Tania terkesiap. Tak mengira kalau Tono juga mendengarnya.


"Kamu bersekongkol dengannya, hah?" seru Tono lagi.


Tania menggeleng. Tania memang tak tahu apa-apa. Dia tak pernah mengira kalau Mike bisa sampai ke rumah Tono.


Entah bermaksud apa, Tania pun tak tahu.


"Jawab! Jangan cuma diam saja!" bentak Tono lagi.


Tania berusaha bangun dan berdiri. Dia yang sebenarnya sudah tak mau ribut lagi dengan Tono, terpancing emosi.


"Aku tidak tahu apa-apa!" jawab Tania ketus.


Plak!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Tania.


"Auwh!" Tania memegangi pipinya yang terasa perih.


"Katakan kalau kamu bersekongkol dengannya, atau aku akan menghukummu!" ancam Tono.


"Aku tidak tahu apa-apa!" seru Tania.


Suaranya sudah agak serak, karena dia hampir menangis. Tamparan Tono bukan saja menyakiti pipinya, tapi juga hatinya.


"Baik, kalau itu mau kamu. Aku akan menghukummu!"  Tono mendorong tubuh Tania hingga terjatuh ke atas tempat tidur lagi.

__ADS_1


"Aakkh!" teriak Tania.


Otak Tono kembali membayangkan paha mulus Mike yang tadi sempat dilihatnya. Dan juga ****** ***** Mike yang mencetak isinya dengan jelas.


Tono membuka retsleting dan menurunkan celana panjangnya.


Mata Tania terbelalak. Lalu spontan menarik roknya yang tersingkap. Dan menutupi **** ************* dengan kedua tangan.


Tono menarik kedua tangan Tania, dan mengangkatnya. Tono menahan kedua tangan Tania dengan erat.


"Mau apa kamu?" tanya Tania. Kedua tangannya masih ditahan oleh Tono di kedua sisi tubuhnya yang terlentang.


"Aku akan membuat Rendi jijik padamu! Aku juga akan membuatmu benar-benar hamil!" sahut Tono.


"Enggak! Aku enggak mau! Tolong...!" teriak Tania.


"Berteriaklah yang keras! Tak akan ada yang menolong kamu!" Tono mulai menindih tubuh Tania.


Tania berusaha menendang tubuh Tono. Tapi tak ada gunanya, karena tubuhnya sudah ada di bawah tubuh Tono.


"Tolong.....Mmppttff....!"


Tono membekap mulut Tania dengan mulutnya. Tania menggerak-gerakan kepalanya berusaha melepaskan mulut Tono.


Satu tangan Tono turun dan menarik ****** ***** Tania.


Hap!


Tono berhasil menggenggam **** ********** Tania.


Tania sangat terkejut. Dan entah kekuatan dari mana, Tania berhasil menjatuhkan tubuh Tono ke sampingnya.


Tono pun bangkit. Dia naikan kembali celana panjangnya. Dan berjalan ke depan kamar mandi.


Tono menggedor-gedor pintunya.


"Tania, keluar! Atau aku akan mendobraknya!" seru Tono.


Tania bergeming. Dia tak mau membukakannya. Bahkan Tania menahan pintu dengan tubuhnya.


"Tania! Buka!" Tono terus saja menggedornya.


Tania tetap tak menghiraukannya.


"Oke. Kalau kamu tidak mau membukanya, aku akan kurung kamu lagi!"


Tono menendang pintu itu dan keluar dari kamarnya.


Ceklek!


Tono menguncinya dari luar. Dan memasukan kuncinya ke kantong celana.


Dia tak mau siapapun membukakannya. Dan akan dia biarkan Tania kelaparan sampai besok pagi. Biar tahu rasa.


Bagi Tania, mending dia dikurung. Berhari-hari sekalipun, daripada harus melayani Tono.


Dia merasa sangat jijik pada suaminya itu. Orang yang mestinya punya hak atas dirinya.

__ADS_1


Tapi kelakuan Tono, membuat Tania semakin menutup hatinya.


Tono tak pernah bersikap manis padanya. Selalu membentaknya. Memakinya dengan kalimat-kalimat kotor.


Meskipun Tono tak melakukan kekerasan secara fisik. Tapi itu cukup membuat Tania sangat membencinya.


Tania merosot ke lantai dan menangis sejadi-jadinya. Menangisi nasibnya yang sangat menyedihkan. Dia dikurung seperti binatang.


Sejak pertama kali Tono memboyongnya, Tania tak pernah dikasih kesempatan untuk keluar rumah.


Hanya sekali waktu ke rumah pamannya. Beberapa saat setelah dia tinggal di sini.


Entah sekarang bagaimana kabar paman dan bibinya. Tania tak pernah bisa menghubunginya.


Dan entah apa yang dikatakan Tono pada mereka, hingga Tania merasa  diabaikan.


Sebenarnya Tania sudah pasrah. Seperti yang sering dikatakan oleh bik Asih. Tapi sikap Tono tak pernah mendukungnya untuk belajar menerima kenyataan.


Andai saja Tono bisa bersikap baik padanya, pasti dia akan belajar menjadi seorang istri yang baik juga. Karena bagaimana pun, mereka sudah terlanjur menikah.


Tono berjalan menuruni anak tangga dengan wajah geram.


Asih yang kebetulan melihatnya, menundukan wajahnya. Dia tadi mendengar teriakan Tania.


Sebenarnya Asih merasa sangat kasihan pada Tania. Usianya jauh lebih muda dari wanita-wanita yang pernah dibawa Tono ke rumah ini, tapi malah Tono tak pernah memperlakukannya dengan baik.


Entah apa penyebabnya. Tak ada yang memberitahukan. Tania pun tak pernah cerita, meski mereka sering ngobrol.


Asih ingin sekali menolongnya. Tapi apa dayanya. Dia pun hidup terkurung. Meskipun Asih menikmatinya, karena dia bekerja di sini dan dibayar.


"Aku mau pergi. Jangan ada yang coba-coba menolong Tania. Biarkan dia terkunci di kamar dan kelaparan sampai besok pagi!" ucap Tono.


Asih memberanikan diri mendongakan wajahnya.


"Kalau neng Tania lapar bagaimana, Pak?" tanya Asih dengan keberanian yang dipaksanya.


"Biarkan dia kelaparan. Biar tau rasa! Panggilkan Yahya. Suruh buka pintu gerbang. Lalu kunci kembali!"


"Baik, Pak." Asih ke belakang mencari suaminya.


"Pak. Disuruh bukain pintu gerbang," ucap Asih.


Yahya langsung keluar dari kamar mandi. Dia sedang membersihkan kamar mandi.


"Iya, Bu." Yahya berjalan keluar rumah lewat pintu samping.


"Yahya! Jangan ijinkan siapapun masuk ke rumah. Kunci lagi gerbangnya!" teriak Tono yang sudah di dalam mobilnya.


"Iya, Pak," sahut Yahya dengan patuh.


Tono pun pergi dengan mobilnya.


Sementara Tania masih saja menangisi nasibnya di lantai kamar mandi.


Setelah lelah menangis, Tania membuka pintu kamar mandi perlahan. Dia ingin memastikan kalau Tono tak ada di kamar.


Tania berjalan perlahan ke arah pintu. Tania memutar-mutar handle-nya. Tono benar-benar mengurungnya lagi.

__ADS_1


Tania menendang pintu kamarnya yang tebal dengan keras.


"Bajingan kamu, Tono!"


__ADS_2