
Sementara di rumah Sari, Mila keluar bersama Yadi. Bukan dengan Sri, seperti yang disarankan Tono.
Tentu saja Sri cemberut, karena tidak diajak pergi. Menurut Sri, mestinya Mila mengajaknya juga. Dan mereka pergi bertiga.
"Dasar perawat gatel! Masih muda, mau-maunya jalan sama bapak-bapak! Aku aja ogah sama Yadi! Hiih...!" Sri terus saja menggerutu dengan kesal.
Padahal Sri sendiri pernah anu-anuan sama Tono yang jauh lebih tua dari Yadi.
Ya...namanya juga lagi kesal, apapun yang dilakukan orang yang dikesalinya selalu terlihat buruk. Tak berkaca kalau dirinya jauh lebih buruk.
Sri masuk kembali ke dalam rumah. Lalu Sri mulai beraksi seenaknya. Mentang-mentang rumah sepi.
Sri seperti anak TK yang sedang main rumah-rumahan. Dia berperan sebagai nyonya rumah yang angkuh.
Sri berlenggak lenggok sambil bicara sendiri persis seperti orang kurang sesajen.
Lalu menelpon Yusuf, mantan pacarnya jaman SMP.
Mila dan Yadi pergi naik taksi online. Tadi Mila dikasih uang yang cukup untuk jalan berdua.
"Mau kemana, kita?" tanya Yadi. Mereka jalan ke jalan, menunggu taksi online.
"Gimana kalau nonton? Pak Yadi suka nonton?" tanya Mila.
"Boleh. Aku udah lama juga enggak nonton," jawab Yadi.
"Tapi jangan panggil aku pak, dong. Enggak mesra banget," ucap Yadi.
"Terus maunya dipanggil apaan dong? Kan emang udah bapak-bapak," sahut Mila.
"Iya sih. Tapi sementara jangan panggil pak dulu, deh." Yadi tetap memohon pada Mila.
"Terus manggilnya apaan, dong?" tanya Mila.
"Mas. Apa bang juga boleh," jawab Yadi dengan percaya diri.
Belum sempat Mila menyahut lagi, taksi online pesanan Mila sudah datang.
"Kayaknya itu mobilnya," ucap Mila sambil menunjuk ke mobil yang hampir berhenti di dekat mereka.
Mobil itu berhenti. Lalu Mila berjalan mendekat dan berhenti di depan pintu mobil.
"Dengan ibu Mila?" tanya sopir taksi dari dalam.
"Iya, saya Mila. Bukan ibu Mila. Saya belum ibu-ibu," jawab Mila yang membuat sopir tertawa.
"Silakan masuk, Bu Mila." Yadi meledek sambil membukakan pintu untuk Mila.
Mila langsung cemberut. Tapi terus masuk ke dalam mobil. Yadi segera menyusul di sebelahnya.
"MH mal, ya?" tanya sopir taksi.
"Iya, Pak," jawab Mila.
"Nama saya Ridho. Bukan pak Ridho. Saya belum bapak-bapak," ucap Ridho si sopir taksi, menggoda Mila. Dan diapun kembali tertawa.
"Oh...Kirain udah bapak-bapak. Soalnya wajahnya ketutupan topi, sih," sahut Mila.
Ridho pun membuka topinya. Terpampanglah wajah putih bersih. Ngalah-ngalahin wajah artis sinetron.
__ADS_1
Kinclong! Kayak abis direndam detergent sehari semalam. Batin Mila mengagumi wajah Ridho.
Mulut Mila sampai menganga melihat Ridho dari kaca spion di depan Ridho.
Yadi menyenggol lengan Mila. Sebagai lelaki meskipun Mila bukan pasangannya, malu juga kalau Mila malah terpesona dengan lelaki lain.
Apalagi lelaki itu jelas-jelas jauh lebih ganteng darinya.
Mila cuma nyengir saja. Pikirannya jadi tidak bisa fokus. Ridho memberikan senyuman terus pada Mila lewat spion itu.
Aduh..meleleh deh gue. Batin Mila.
Yadi sendiri malah jadi salah tingkah. Mau pura-pura bersikap mesra pada Mila, takutnya Mila menolak. Kan gengsi. Mau ditaruh di mana mukanya.
Untungnya jalanan lancar, karena masih siang. Jadi mereka bisa cepat sampai.
Setelah Mila membayar ongkosnya, mereka pun turun.
Busyet, udah tua, jelek, gak mau bayarin juga. Mau-maunya tuh cewek. Batin Ridho.
Yadi menggandeng tangan Mila dengan erat. Biar Mila tak bisa jauh darinya. Karena kalau di mal biasanya banyak cowok-cowok keren yang bakal membuat Mila melongo lagi.
"Jangan kenceng-kenceng gandengnya. Sakit," ucap Mila.
Yadi pun melonggarkan pegangannya.
"Jam segini udah ada bioskop yang buka enggak, ya?" tanya Mila.
Jelas saja Yadi tak bisa menjawab. Soalnya Yadi tak pernah sekalipun nonton di bioskop. Apalagi sekarang jamannya bioskop ada di dalam mal.
Kalau dulu, jaman bioskop masih berceceran di jalanan kampung, hampir tiap malam minggu Yadi nongkrong di sana. Sekedar cuci mata atau nonton midnight show.
"Ada di lantai berapa bioskopnya, Pak?" tanya Mila lagi.
Yadi langsung bete, karena Mila memanggilnya dengan sebutan pak lagi.
"Oh, maaf. Mas. Hehehe." Mila nyengir dengan tanpa rasa bersalah.
Yadi sumringah. Harapannya terpenuhi. Mila memanggilnya dengan sebutan yang mesra. Mas.
Yadi jadi merasa muda kembali.
"Aku kurang paham, Dek." Yadi pun memanggil Mila tak kalah mesranya.
Tapi sayangnya, tak lagi membuat Mila senang. Malah Mila kelihatan bete.
Hati Mila udah meleleh saat melihat wajah Ridho tadi. Meskipun cuma sebentaran doang.
"Emangnya Mas Yadi enggak pernah ke sini?" Mila kembali bertanya.
Nah, loh!
Mati deh gue!
Ngapain sih Mila pake nanya kayak gitu? Aku kan gengsi jawabnya.
"Mm...pernah. Tapi udah lama banget. Jadi lupa, deh. Kita tanya yuk," ajak Yadi.
"Nanya ama siapa?" Mila celingak celinguk, mencari orang yang bisa ditanyain.
__ADS_1
"Tuh. Coba tanya sama mbak-mbak itu." Yadi menunjuk ke arah seorang SPG berpakaian minimalis.
Mila malah menoleh ke arah Yadi yang sedang menikmati paha mulus.
Lalu Mila melambaikan tangannya ke wajah Yadi.
"Ih, kamu ngapain sih?" Yadi menangkap tangan Mila.
"Lagian liatinnya gitu amat!" sahut Mila.
"Tadi kamu juga liatinnya sopir taksi, gitu amat!" Yadi tak mau kalah.
"Mbales nih ceritanya?"
"Enggak deh." Yadi mengalah. Jangan sampai Mila ngambek, terus ninggalin dia sendirian. Bakalan jadi kayak orang ilang.
"Sana kamu yang nanya." Yadi terpaksa melepaskan tangan Mila.
Mila pun mengangguk, dan menghampiri SPG itu.
"Mbak. Maaf, mau nanya. Di sini bioskopnya di lantai berapa, ya?" tanya Mila dengan sopan.
Karena melihat di sekitaran SPG itu banyak om-om berkeliaran, Yadi mendekati Mila.
Yadi tak mau Mila salah menggandeng. Bisa layu sebelum berkembang hatinya.
"Bioskop? Di sini enggak ada bioskopnya," jawab SPG itu dengan ramah.
Mila menoleh ke belakang. Dikiranya Yadi masih ada di tempatnya semula.
Ternyata Yadi sudah berada tepat di belakangnya.
"Astaghfirullah!" Mila yang terkejut, langsung memegang dadanya.
"Kayak liat setan aja, kamu," ucap Yadi.
"Abisnya Pak Yadi ngagetin sih. Eh, Mas Yadi. Sorry...lupa." Mila cengengesan.
Nggemesin banget nih anak. Kalau ada kesempatan, gue hajar juga nih. Batin Yadi.
"Gimana? Ada di lantai berapa?" tanya Yadi. Dia tadi tak mendengar jawaban si SPG seksi. Karena di situ sangat bising.
"Di sini enggak ada bioskopnya! Pak Yadi bohong!" seru Mila.
Bujubuneng!
Jangan teriak dong. Malu-maluin orang aja nih cewek.
Yadi langsung menarik tangan Mila agar menjauh.
"Jangan teriak-teriak begitu," gumam Yadi sambil terus membawa Mila pergi.
"Abisnya, Pak Yadi bohong. Katanya dulu sering nonton," sahut Mila sambil cemberut.
"Iya, kan itu dulu. Dan bukan di bioskop di sini juga," ucap Yadi.
"Terus, dimana dong?" tanya Mila sambil menghentikan langkahnya.
"Di deket terminal. Hehehe." Yadi pun nyengir tanpa rasa bersalah.
__ADS_1