
"Ibu mau saya buatkan minum?" Sri berusaha mengambil hati Sari.
Mungkin dengan minuman dingin, bisa lebih menyegarkan Sari.
Atau minuman hangat yang bisa membuat Sari terbuai, dan akhirnya tidur. Lalu melupakan soal Rendi yang pergi entah kemana. Karena mereka tak bilang pada Sri.
"Aku minta jus aja, Sri. Masih ada buah apa?" Sari lebih suka minum jus buatan sendiri. Misalkan beli pun hanya di kios langganan.
"Komplit, Bu. Semua buah yang Ibu beli kemarin, masih lengkap semua di kulkas," jawab Sri.
Di rumah Sari, meski semua pegawainya bebas makan dan minum, tapi mereka tahu diri. Mereka hanya makan makanan yg sudah tak disentuh lagi oleh majikan.
Bukan makanan baru yang bisa jadi bakal ditanyakan lagi. Sri bisa ngomel tujuh hari tujuh malam.
"Ya udah. Aku bikinin jus buah naga aja. Kayak biasanya, ya," ucap Sari.
"Siap, Bu." Sri sudah hafal kesukaan majikannya itu. Jus buah dengan tambahan madu dan susu. Tanpa gula.
Sari kembali membuka ponselnya. Dia berharap Rendi membalas pesan chatnya.
Tapi sayangnya, harapan Sari tak bisa terwujud. Jangankan Rendi, Mila pun tak memberikan alasan kenapa tak mengangkat telponnya.
Hhh! Sari mendengus kesal.
Kenapa mereka seolah sengaja kong kalikong, menghindarinya.
Sari merasa apa yang dilakukannya, adalah yang terbaik untuk Rendi. Dia tak mau Rendi hanya mendapatkan barang sisa. Meski sisa dari bapaknya sendiri.
Sari menutup lagi ponselnya. Sambil menunggu Sri membuat jus, Sari merebahkan tubuhnya. Dan tak terasa dia pun terlelap.
Sri kembali ke ruang tengah dengan segelas jus buah naga segar yang menggugah selera.
"Yaah...malah tidur. Eh, beneran tidur enggak sih?" Sri meneliti Sari yang terlelap.
"Beneran tidur."
Sri tak berani membangunkan. Lagi pula mending Sari tidur, biar tidak membahas soal Rendi lagi.
Sri kembali ke belakang. Mau menyimpan jus di kulkas.
"Apaan itu, Sri?" tanya Yadi yang tiba-tiba muncul dari belakang.
"Ish. Ngagetin aja, nih!" seru Sri. Jus yang dibawanya dengan nampan, hampir saja tumpah.
"Maaf...Maaf. Kirain kamu liatin aku." Yadi mengedip-ngedipkan matanya dengan genit.
"Ge er amat sih!" Sri membuka kulkas dan meletakan gelas jus di dalamnya.
"Sini aku minum jusnya. Daripada mubadzir," ucap Yadi. Dikira Yadi, ada yang tidak suka dengan jus warna merah pekat itu.
"Enak aja! Ini punya bu Sari. Orangnya malah ketiduran. Entar kalau bangun terus nyariin, gimana?" Sri menutup pintu kulkas.
"Kamu bikinin lagi, kan bisa," sahut Yadi.
__ADS_1
Yadi yang baru saja selesai membersihkan halaman belakang, merasa sangat haus.
"Buahnya abis!" sahut Sri dengan ketus.
"Buah yang lain juga boleh." Mata Yadi menatap ke bagian dada Sri yang menjulang tinggi menantang.
Sri langsung mendekap dengan kedua tangannya.
"Jaga mata kamu, Yadi jelek!" Sri langsung berlari meninggalkan Yadi yang malah tertawa terbahak-bahak. Puas dia bisa menggoda Sri.
Sri kembali ke dapur setelah Yadi pergi lagi entah kemana.
Hhh! Enak aja, liat-liat punyaku. Ini bukan milik umum. Biar aku persembahkan buat ayang Yusuf aja. Gumam Sri.
"Cie...siapa tuh ayang Yusuf?" Ternyata Yadi belum jauh dari dapur. Dan dia mendengar gumaman Sri.
Spontan Sri menoleh ke belakang. Dia sangat terkejut. Tak mengira kalau Yadi mendengarnya dan sudah ada lagi di dekatnya.
"Kamu ngapain sih, Pak Yadi...! Sukanya bikin aku kaget aja!" seru Sri.
"Kamunya aja yang kagetan. Aku kan selalu ada di dekatmu, Sri," sahut Yadi, kembali dengan mata nakalnya.
"Pergi sana, ah. Apa aku siram pake air, nih!" ancam Sri.
Sri sudah siap dengan air di panci yang mau dipakainya memasak.
"Busyet...galak amat? Aku kan cuma mau nanya. Siapa ayang Yusuf?"
Yadi menjauh. Takut Sri nekat dan benar-benar menyiramnya. Bisa basah kuyup pakaiannya.
"Kamu suka gitu, Sri. Kenalin dong sama aku. Aku enggak bakalan naksir, deh," goda Yadi.
"Ya iyalah. Memangnya kamu mau main anggar?" Sri melengos kesal.
"Enggak maulah. Enakan juga nyarungin anggarnya. Yuk...!" Yadi terus saja menggoda Sri.
"Apaan sih, kamu Pak Yadi? Ngeres aja otaknya. Aku siram beneran, nih!" Sri makin kesal pada Yadi.
"Eeh...siapa yang otaknya ngeres? Kamu aja yang mikirnya kemana-mana," sahut Yadi ngeles.
"Itu tadi apaan? Nyarungin anggar segala! Memangnya aku sarungnya anggarmu?" Sri semakin geram pada Yadi.
"Kan kamu yang mulai bilang anggar. Aku kan cuma nyahutin aja," sahut Yadi.
"Eeh, apaan sih kalian? Ribut mulu hobinya!" Sari pun tahu-tahu sudah ada di dekat dapur.
"Ini loh, Bu. Pak Yadi nyebelin banget!" jawab Sri.
"Kok aku sih? Kamu yang mulai kok!" Yadi membela diri.
"Enak aja! Kamu tuh!" Sri pun tak mau disalahkan.
"Udah! Udah! Lama-lama aku kawinin kalian berdua!" ucap Sari asal bicara.
__ADS_1
"Iih, saya enggak bakalan mau dikawinin ama dia, Bu! Anaknya aja segudang!" sahut Sri.
"Itu anaknya istriku, Sri. Aku cuman nitip benih aja. Hahaha." Yadi terbahak-bahak.
"Sama aja, Yadi! Memangnya kamu enggak mau ngakuin anak-anakmu?" tanya Sari.
"Ya ngakuin, Bu. Kalau enggak mau ngakuin, enggak bakalan saya kasih nafkah mereka," jawab Yadi.
"Nah, berarti mereka itu juga anak-anak kamu. Jangan bilang itu anak istrimu, dong," ucap Sari.
"Iya, Bu." Yadi mengangguk. Mana berani dia menimpali omongan bos besarnya. Bisa dipecat kalau sampai bikin Sari kesal.
"Sukurin! Ngaku enggak, lu!" gumam Sri sambil melihat ke arah Yadi.
"Udah! Kamu juga, Sri! Jangan ngeledekin Yadi mulu!" seru Sari.
Sri pun ikutan mengangguk sambil menundukan wajahnya.
"Mana tadi jusku?" tanya Sari pada Sri.
Tuh! Ingat kan! Coba kalau tadi benar-benar diminum Yadi? Mau gantiin pake apaan? Gumam Sri dalam hati.
Hhh! Inget aja, bu Sari. Untung aku enggak jadi minum. Gumam Yadi, dalam hati juga.
"Sebentar, Bu. Saya ambilkan." Sri berjalan ke arah kulkas.
"Ini, Bu." Sri mengulungkan gelas besar berisi jus buah naga.
"Banyak banget, Sri. Mana habis segini banyaknya?" Sari memperhatikan gelas besar itu.
"Tadi nanggung, Bu. Jadi saya bikin semua aja," sahut Sri.
Yadi melihat jus itu sambil menelan ludahnya.
Cleguk.
"Kamu mau, Yadi?" tanya Sari.
"Eng...Enggak, Bu," jawab Yadi pura-pura menolak.
"Ambilkan gelas kecil!" ucap Sari pada Yadi.
"Iya, Bu." Yadi mengambilkan gelas yang dimaksud Sari.
Lalu Sari menuang jus itu ke gelas kecil.
"Nih, buat kamu. Aku segini aja." Sari malah mengambil yang di gelas kecil itu.
"Loh..kok?" Yadi kebingungan.
"Udah, buat kamu. Kalau Sri mau, bagi dua sana." Lalu Sari kembali ke ruang tengah.
"Kamu enggak usah ya, Sri." Tanpa menunggu jawaban dari Sri, Yadi ngeloyor ke belakang.
__ADS_1
"Aah....!" Setengah gelas besar jus buah naga, kandas.
"Rejeki orang sholeh," gumam Yadi.