
"Dan untuk sementara ini, sebaiknya kamu jangan muncul dulu di rumah sakit. Kayaknya mamanya Rendi bakal memisahkan kalian!" ucap Dito. Dia sudah menarik satu kursi makan untuk duduk.
"Iya. Aku tau, Dit. Kayaknya dia sudah terpengaruh sama Monica," sahut Tania.
"Monica gila!" umpat Mike.
Tania mengernyitkan dahinya.
"Kamu tau, Tan? Masa Monica mau memperkosa dan menyakiti Rendi. Gila kan?" cerita Mike.
"Hah...! Yang bener?" Tania tak percaya.
"Iya. Tadi sempet ketemu kita. Pakaiannya berantakan. Kata Rendi, dia mau diperkosa. Karena Rendi melawan, Monica mau melukainya. Sampai menarik selang infus Rendi segala," sahut Mike.
"Terus...!" Tania terlihat semakin penasaran.
"Terus makan dulu, Tan. Ayo makan," ajak Dito.
Tania mengangguk. Dia mengambil makanan, sambil terus mendengarkan cerita Mike.
"Rendinya teriak-teriak. Untungnya kedengeran perawat dan security. Terus ya, Monica diamankan. Gila emang tuh orang!" Mike kembali memaki Monica.
"Tapi anehnya, mamanya Rendi seperti kemakan omongan si Mon Mon itu. Kata papanya Rendi, mamanya Rendi mau menjodohkan Rendi sama Monica," lanjut Mike.
Tania diam tercenung.
Dito menyenggol tangan Mike.
"Tapi tenang aja, Tan. Rendi enggak bakalan mau kok. Dia tetap mau kabur sama kamu, kalau sudah sembuh. Jadi sekarang, kamu harus sabar nunggu di sini biar aman. Doakan biar Rendi segera sembuh," ucap Dito berusaha menenangkan Tania.
Tania mengangguk.
"Udah jangan sedih. Kita siap membantu kalian, kok." Mike menepuk tangan Tania pelan.
"Enak ya, jadi kalian? Semuanya berjalan lancar. Enggak pakai drama dan perjuangan panjang," ucap Tania pelan.
Salah siapa dulu kamu enggak mau sama aku, Tan. Batin Dito.
Dito hanya bisa memandang Tania dengan sedih. Tak disangkanya, wanita yang dulu pernah digilainya, harus menjalani takdir yang tragis.
"Setiap orang punya jalan hidup sendiri-sendiri, Tan. Yakinlah kalau kamu bisa melewati semua ini," ucap Mike menyemangati.
"Iya, Tan. Kamu tak boleh menyerah. Kasihan juga Rendi kalau sampai dipaksa hidup dengan Monica," sahut Dito.
"Iya. Monica pasti akan mencari berbagai cara buat ngedapetin Rendi. Tapi kamu harus yakin, kalau Rendi cuma cinta sama kamu," ucap Mike.
"Iya. Rendi sudah berkorban terlalu banyak. Sampai dia jatuh dari gerbang rumah papanya. Ah! Aku masih ingat banget gimana Rendi waktu jatuh." Tania menundukan kepalanya.
"Udah, jangan diingat-ingat. Entar enggak doyan makan, lho," ucap Dito.
Tania memang langsung kehilangan nafsu makannya. Sampai tiba-tiba ponselnya berdering.
__ADS_1
"Tuh, Rendi video call. Kayaknya penjagaan kosong!" ucap Dito yang melihat ponsel Tania berdering.
Tania segera mengangkatnya.
"Hallo, Sayang. Kamu lagi ngapain?" sapa Rendi. Mamanya lagi keluar mencari makan malam.
"Lagi makan sama Mike dan Dito." Tania membalik kameranya dan menyorot Mike dan Dito yang duduk di depannya.
"Eh,Ren! Tania enggak mau makan tuh. Katanya maunya disuapin elu!" seru Dito. Yang disambut tawa oleh Mike.
"Bohong! Jangan percaya ama Dito!" sahut Tania.
"Lha, itu makanan kamu masih utuh!" Dito menunjuk makanan Tania.
Tania tersenyum, lalu membalik lagi kameranya.
"Makan dong, Sayang. Aku juga nanti mau makan, biar kita punya tenaga buat kabur," ucap Rendi.
"Hah! Siapa yang mau kabur?" Sari ternyata kembali lagi ke kamar Rendi. Dompetnya ketinggalan.
"Eng...Enggak, Ma." Rendi buru-buru mematikan ponselnya.
"Kamu video call siapa, hah?" tanya Sari dengan ketus.
"Video call teman, Ma," ucap Rendi. Dia langsung menyembunyikan lagi ponselnya.
"Jangan bohongi Mama, ya! Mana lihat hape kamu!" Sari meminta ponsel Rendi.
"Enggak! Mama enggak boleh lihat-lihat!" sahut Rendi.
"Bukan, Ma. Tania enggak punya hape!" jawab Rendi.
"Kalau bukan, Mama lihat hape kamu!" Sari tetap memintanya.
"Enggak!" Rendi tetap kekeh tak mau memberikan ponselnya.
"Rendi...!" seru Sari.
Sari berusaha mengambil ponsel Rendi di bawah bantal.
"Kalau Mama maksa, Rendi mau cabut selang infus ini! Biar Rendi mati, sekalian!" ancam Rendi.
Sari terdiam. Dia tak berani lagi memaksa. Tapi dalam hatinya semakin yakin, kalau Rendi tadi video call dengan Tania.
"Oke. Mama enggak akan ambil hape kamu. Tapi ingat! Mama enggak pernah akan menyetujui kamu dengan Tania!" ucap Sari.
Sari berjalan dan duduk di sofa kembali. Dia urungkan niatnya membeli makanan.
"Kalau Mama enggak setuju, Rendi akan melakukan dengan cara Rendi sendiri!" sahut Rendi.
Sari menatap wajah anaknya itu.
__ADS_1
"Rendi udah dewasa, Ma! Rendi berhak menentukan jalan hidup Rendi sendiri!" lanjut Rendi. Dia tak mau lagi dipisahkan dengan Tania.
"Iya, kamu memang sudah dewasa. Tapi Tania bukan wanita yang tepat buat kamu!" sahut Sari berang.
"Kenapa? Karena Tania seorang janda? Rendi enggak peduli, Ma!" Rendi tetap ngotot.
"Mama malu, Rendi. Masa kamu menikahi janda bekas papa kamu sendiri! Apa kata orang-orang nanti?" ucap Sari memelas.
"Mama malu sama orang lain? Rendi enggak peduli apa kata orang lain, Ma. Rendi yang menjalani. Kalau Mama malu, biar Rendi kabur aja sama Tania. Pergi dari kehidupan Mama!" sahut Rendi.
"Rendi!" seru Sari. Kepalanya kembali berdenyut. Lalu Sari menyandarkan kepalanya.
Tono membuka pintu kamar Rendi. Dia berniat menanyakan Sari, mau dibelikan makan apa?
Tono akan menyuruh Yahya membelikannya.
"Ada apa, ini?" tanya Tono. Dia melihat Sari menyandarkan kepala dengan wajah pucat.
"Anakmu itu! Dia mau kabur sama Tania!" jawab Sari.
"Kabur sama Tania?" Tono tercenung di tempatnya.
Sari mengangguk. Tangannya memijat kepalanya yang terasa makin pusing.
"Karena mama enggak mau menyetujui hubungan Rendi dengan Tania!" sahut Rendi.
"Kenapa, Ma?" tanya Tono pada Sari.
"Dia bekas istri kamu! Bagaimana kalau sampai dia ketularan penyakit menjijikan kamu itu?" Sari balik bertanya.
"Ma. Papa jamin, Tania enggak ketularan. Papa enggak pernah menyentuhnya," jawab Tono.
"Bohong! Mana mungkin?" Sari tak percaya omongan Tono yang dianggapnya pembohong besar.
"Kalau enggak percaya, Mama bisa suruh Tania periksa ke lab," tantang Tono.
"Enggak! Pokoknya Mama enggak setuju! Masih banyak wanita lainnya!" Sari tetap kekeh.
"Wanita lain siapa? Monica? Mama mau menikahkan Rendi dengan wanita murahan itu?" tanya Tono.
Rendi hanya diam saja. Menyimak perdebatan kedua orang tuanya.
"Ya enggak dengan dia juga! Tapi kalau sampai Monica hamil? Mau dikata apa," sahut Sari.
Hah...! Mata Rendi terbelalak. Mamanya masih saja percaya omong kosong Monica.
"Apa Mama yakin kalau Monica sampai hamil, itu adalah anak Rendi?" Tono terus menyudutkan Sari.
Sari yang merasa semakin tersudut, menatap wajah Rendi. Tono pun ikut menatap Rendi.
Rendi hanya mengangkat bahunya.
__ADS_1
"Tuh lihat! Anak kamu aja enggak ngaku, terus kamu mau memaksanya mengakui perbuatan yang enggak pernah dia lakukan?" serang Tono lagi.
Sari hanya bisa terdiam.