
"Woy! Bangun! Molor aja lu!" Danu menendang kaki Diman.
"Apaan sih, ah. Ngantuk gue. Lu cari sendiri aja sono!" sahut Diman dengan mata tertutup.
"Nyari sendiri....! Ya udah, mana kunci mobilnya!" sahut Danu.
Diman merogoh kantong celananya.
"Nih. Duit yang di dashboard jangan diambil. Itu jatah gue!" ucap Diman sambil memberikan kunci mobil pada Danu.
"Duit aja lu, inget! Dasar kebo! Molor mulu! Pantesan sampe Tania kabur kagak tau!" omel Danu.
"Berisik lu, ah. Dah sana minggat! Gangguin gue aja!" bentak Diman. Lalu dia lanjut tidur lagi di kursi.
"Udah buruan, Pak. Tinggal aja nih, orang!"
Eni mengunci pintu rumahnya, dan membiarkan Diman tidur di teras rumahnya.
Danu segera naik ke mobil Tono. Eni juga langsung nyusul.
"Bagus ya Pak, mobilnya si Tono?" ucap Eni setelah duduk.
"Baguslah. Orang kaya!" sahut Danu, lalu menyalakan mesin mobilnya.
"Kapan ya Pak, kita punya mobil kayak begini?" tanya Eni sambil berkhayal.
"Udah! Enggak usah ngayal mulu! Punya rumah sama angkot aja udah bersyukur!" sahut Danu, sambil melajukan mobil Tono.
"Emangnya enggak boleh ngayal?" tanya Eni dengan kesal.
"Sekarang tuh, waktunya nyariin Tania. Soal mobil mah, gampang!" sahut Danu.
"Gampang, gimana? Emangnya kamu punya uang, Pak?" tanya Eni lagi.
"Nih, duit! Kalau kurang, minta lagi ama si Tono. Hahaha." Danu memberikan uang di dashboard pada Eni sambil tertawa ngakak.
"Ish! Ini mah duitnya si kebo!" Eni mengembalikan uang itu ke dashboard lagi.
"Lagian! Kamu pikir, mobil ginian harganya murah?"
"Kalau murah mah, aku udah beli selusin!" jawab Eni.
"Selusin! Lagu-laguan! Mau kamu taruh di atas genteng?" tanya Danu.
"Aku bagi-bagiin ke tetangga!" sahut Eni.
"Kamu pikir kerupuk, dibagi-bagiin?"
"Lha, orang kaya mah, bebas Pak. Hahaha." Eni pun ikutan ketawa.
Sejenak mereka melupakan kesedihan karena kehilangan Tania.
Hingga mobil mereka sampai di depan rumah Widya.
Rumah itu sudah sepi. Widya yang tinggal sendirian, hampir tak pernah tidur malam-malam. Karena pagi harinya dia mesti buka warung nasi.
Eni langsung turun dan bergegas mengetuk pintu rumah Widya.
__ADS_1
"Mba! Mba Widya! Ini Eni, Mba!" panggil Eni sambil mengetuk pintu rumah Widya.
"Mba! Bukain pintunya, dong!" Eni terus mengetuk sambil memanggil kakak iparnya.
"Mba Widya! Bangun, Mba!" Danu pun ikut memanggil kakaknya.
Hoahmm....! Widya terbangun.
"Siapa sih malem-malem namu?" gumam Widya. Lalu merapikan kunciran rambutnya.
"Mba...! Mba Widya! Ini Eni, Mba!" Eni terus saja teriak memanggil Widya sambil mengetuk pintu.
"Eni? Ngapain tuh anak, malem-malem ke sini?" Widya bergegas memakai sandalnya dan berjalan keluar dari kamarnya.
"Iya, En! Bentar!" sahut Widya, sambil terus berjalan.
Widya membuka korden jendelanya. Memastikan kalau itu benaran Eni.
"Eni! Danu! Ngapain kalian malam-malam ke sini?" tanya Widya setelah membuka pintu.
"Kita nyariin Tania, Mba. Apa Tania kesini?" tanya Eni. Dia menyalami tangan Widya. Danu juga mengikuti.
"Tania? Bukannya dia di rumahnya Tono?" Widya malah balik bertanya.
"Tania kabur dari rumahnya Tono, Mba. Makanya kita nyariin. Siapa tau dia kabur ke sini," jawab Eni.
Widya menarik tangan Eni, menyuruhnya duduk.
"Duduk kalian berdua!" ucap Widya dengan suara keras.
"Sekarang, ceritakan padaku, kenapa Tania sampai kabur!" ucap Widya lagi masih dengan suara keras.
Danu melihat ke arah Eni. Seolah meminta Eni saja yang cerita.
Eni mengangguk, mengerti.
"Jadi gini, Mba...." Eni mulai menceritakan kronologi kejadiannya, sampai akhirnya Tania kabur. Sesuai dengan cerita dari Diman.
"Haduh...! Kenapa jadi gini, sih?" Widya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tau deh, Mba. Kita juga puyeng!" ucap Eni.
"Sekarang aja kalian bilang puyeng! Makanya, kalau mau ambil keputusan itu dipikirin dulu akibatnya!" omel Widya.
Eni dan Danu hanya bisa diam. Bagaimana pun, ini semua kesalahan mereka sejak awal.
"Sekarang coba gimana? Tononya kawin lagi! Tanianya kabur! Mau cari dimana lagi, kalian?" tanya Widya menghakimi.
"Enggak tau, Mba. Kita baru nyari kesini," jawab Eni.
"Ya udah, besok pagi aja lanjut nyariinnya. Ini udah malam. Tania juga enggak mungkin kelayapan di jalanan!" sahut Widya.
"Iya, Mba. Besok kira-kira kita cari dimana, ya?" tanya Eni.
"Tania punya temen deket enggak? Mungkin dia ngumpet di sana," jawab Widya.
Eni berusaha mengingat-ingat.
__ADS_1
"Ada, Bu?" tanya Danu yang memperhatikan Eni mikir.
"Sebentar, Pak. Lagi mikir!" jawab Eni.
"Lama amat mikirnya?" protes Danu.
"Eih, sabar, Pak. Namanya juga mikir, ya harus lama," sahut Eni.
"Bilang aja loadingnya lama!" sahut Widya.
Eni cuma garuk-garuk kepalanya.
"Gimana, dapet enggak mikirnya?" tanya Widya.
"Kayaknya ada. Namanya kalau enggak salah Mike. Rumahnya di komplek Permata. Ya, kalau enggak salah," jawab Eni.
"Yang pasti pasti aja dong, Bu. Jangan kalau enggak salah. Nah, kalau salah gimana?" tanya Danu.
"Salah ya tinggal dicoret! Ah, kamu bisanya protes aja, sih!" sahut Eni dengan kesal.
Setengah mati dia mikir malah diprotes.
"Kamu yakin, En?" tanya Widya.
"Yakin apaan, Mba?" Eni balik bertanya.
"Haduh...! Yakin kalau Tania punya temen dia tadi. Siapa namanya?" tanya Widya.
"Mike! Iya, aku yakin namanya Mike. Anaknya cantik. Anak orang kaya dia. Dulu suka ngajakin Tania jalan-jalan pake mobil!" seru Eni.
Dia sudah ingat tentang Mike. Sahabatnya Tania waktu SMA.
"Ayo, Pak. Kita cari ke sana!" ajak Eni sambil berdiri.
Danu pun reflek ikut berdiri.
"Ngawur aja kalian! Ini udah jam berapa?" cegah Widya.
Reflek juga Eni dan Danu melihat ke jam dinding. Sudah hampir jam dua belas malam.
Widya hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan kedua manusia konyol itu.
"Udah, besok lagi aja nyariinnya. Sekarang kalian mau tidur di sini apa mau pulang?" tanya Widya.
Widya yang masih mengantuk, tak henti-hentinya menguap. Danu pun sama. Matanya sudah lima watt.
"Tidur di sini aja deh. Aku ngantuk!" Danu kembali duduk dan mecari posisi nyaman buat tidur di kursi.
"Eit! Jangan tidur di sini!" Eni menarik bantal kecil yang baru saja dipakai Danu buat mengganjal kepalanya.
"Emangnya kenapa, sih? Besok kan kita tinggal jalan aja. Siapa tau mba Widya mau ikut nyariin juga," sahut Danu. Dia berusaha mengambil bantalnya lagi.
"Iya, En. Besok aku enggak usah jualan. Aku ikut kalian nyariin Tania. Sekalian aku juga mau nemuin tuh, si Tono! Seenaknya aja dia memadu Tania!" ucap Widya. Dia ingin kasih pelajaran pada Tono.
"Iya, Mba. Itu gampang. Tapi masalahnya di teras rumah kita ada kebo lagi molor!" sahut Eni.
Danu menepuk jidat. Dia baru ingat kalau Diman tidur di teras rumahnya.
__ADS_1