
"Akhirnya pergi juga itu anak nying nying," ucap Sari.
"Kok anak nying nying sih, Ma?" tanya Rendi.
"Terus anak apaan dong?"
"Anak kadal. Hahaha." Rendi ketawa ngakak.
Sari pun ikut ketawa.
"Ren, kamu kayaknya udah enggak mau lagi sama si anak kadal itu?" tanya Sari.
"Mama kan denger sendiri. Dia kayaknya enggak mau menerima keadaan Rendi sekarang," jawab Rendi.
"Iya. Buat apa wanita macam dia? Maunya enaknya doang," sahut Sari.
"Iya, Ma," sahut Rendi.
"Tadi kamu video call siapa?" tanya Sari. Dia masih penasaran.
"Teman, Ma," jawab Rendi.
"Iya tau. Tapi siapa? Kayaknya cewek," tanya Sari.
Glek. Rendi menelan ludahnya.
Kenapa mama tahu kalau aku video call sama cewek? Aduh, gimana ini? Tanya Rendi dalam hati.
"Mm...Mike, Ma. Pacarnya Dito," jawab Rendi berbohong.
"Pacarnya Dito? Ngapain kamu video call pacar orang?" tanya Sari. Menurutnya enggak pantas video call-an sama pacar orang.
"Enggak apa-apa, Ma. Hapenya Dito lagi dichas, jadi Rendi video call pakai nomornya Mike," jawab Rendi, berbohong lagi.
"Oh, ya udah. Tapi lain kali enggak usah bohong sama Mama. Tadi kan kamu bilangnya video call sama Monica," ucap Sari.
Rendi cuma nyengir. Tapi juga bernafas lega, karena mamanya percaya pada omongannya barusan.
"Ren, Dito jadi mau nemenin kamu malam nanti?" tanya Sari.
"Jadi, Ma," jawab Rendi dengan semangat.
"Semangat amat!" ucap Sari.
"Iyalah, Ma. Rendi kan jadi ada temen ngobrol," sahut Rendi.
"Memangnya Mama bukan temen ngobrol kamu?" tanya Sari.
"Ya, kan beda, Ma. Hehehe." Rendi nyengir enggak jelas.
"Ya udah. Nanti sorean Mama pulang. Besok pagi Mama kesini lagi. Badan Mama juga agak kurang enak," ucap Sari.
Yes!
Rendi bersorak dalam hati. Rencananya bisa semalaman dengan Tania bakal berjalan lancar.
"Kondisi papa gimana, Ma?" tanya Rendi. Dia juga harus memastikan, papanya tidak mengganggunya nanti.
__ADS_1
Hhmm. Sari menghela nafasnya.
"Dia sangat syok. Biarin aja, biar kapok!" jawab Sari.
"Apa papa masih bisa sembuh, Ma?" tanya Rendi. Bagaimanapun dia khawatir juga. Bukan soal Tono, tapi soal Tania.
Bagaimana kalau sampai Tania tertular? Meski Rendi nanti akan menanyakannya lagi pada Tania. Apa dia benar-benar tak pernah berhubungan dengan Tono.
"Kata dokter sih, bisa. Cuma butuh waktu. Dan tentu saja biaya yang enggak sedikit," jawab Sari.
"Oh. Kalau soal biaya sih, menurut Rendi, bukan masalah buat papa. Uangnya kan banyak," sahut Rendi.
"Iya. Dan uangnya bakalan habis. Buat biaya kamu, biaya Tajab. Juga biayanya sendiri?" Sari tersenyum puas.
Maksud Sari biar tahu rasa Tono. Nyari uang setengah mati dengan cara yang tidak halal, habisnya juga dengan cara cepat.
"Memangnya Tajab kenapa, Ma?" tanya Rendi.
"Mama kurang paham. Katanya sih dirawat di sini juga. Kalau soal biaya kamu, papamu sendiri yang bilang mau membayarnya," jawab Sari.
"Iya, Ma," sahut Rendi.
Sebenarnya Rendi punya tabungan sendiri. Karena selama ini Sari selalu memberinya uang. Katanya sebagai gajinya membantu di pasar.
Tapi Rendi tak mau uangnya itu dipakai, meski untuk biaya pengobatannya. Karena Rendi akan menggunakan uang itu untuk modal kabur dengan Tania.
Rendi juga kalau bisa, nanti akan merayu mamanya. Sari pernah bilang, mau memberinya uang untuk modal membuka usaha sendiri.
Tapi Rendi belum bisa memastikan kapan waktunya. Karena pastinya itu bukan uang kecil.
Sementara Danu dan Diman melanjutkan pencariannya. Mereka menyusuri setiap jalanan. Siapa tahu bisa menemukan Tania.
"Ya elu...ngopi melulu!" sahut Danu.
"Alah! Kayak elu kagak kepingin aja. Lagian kita juga udah lama juga muter-muternya. Kagak ada tuh tanda-tanda Tania ada," ucap Diman.
Lalu Diman menghentikan mobilnya di depan sebuah warung kopi.
"Nah, di sini enak tempatnya. Yang jualan juga enak. Janda kimpling! Hahaha." Diman tergelak.
"Ya elu! Janda aja dipikirin. Entar elu kena penyakit kayak Tono, baru nyaho!" sahut Danu.
"Dih! Amit-amit, deh!" Diman mengedikan bahunya.
"Makanya jangan asal pake! Belum tentu yang elu pake itu bersih!" ucap Danu.
"Yaelah, Bro. Gue kan cuma nyolek-nyolek doang. Masa iya, nyolek aja bisa ketularan?" sahut Diman.
Lalu mereka turun dari mobil.
"Tuh! Seksi kan?" Diman menunjuk seorang wanita muda dengan pakaian ketat sedang melayani pembeli.
"Iya, juga." Mata Danu pun melotot melihat body wanita itu.
"Namanya Ria. Enggak tau nama panjangnya. Ria jenaka apa Taman Ria. Hahaha." Diman langsung memesan dua gelas kopi.
"Neng Ria! Abang minta kopi dong, dua. Enggak usah manis-manis, ya. Kan udah ada neng Ria. Takut kemanisan." Diman mulai menggombal.
__ADS_1
Danu menoyor kepala Diman.
"Apaan sih?" Diman menjauhkan kepalanya.
"Iya, Bang. Kok Abang lama enggak kesini?" tanya Ria.
"Abang sibuk. Neng Ria kangen ya, sama Abang?" Mata Diman tak lepas dari baju kaos yang dipakai Ria. Bagian dadanya yang montok, tercetak jelas. Dan bagian bawah lehernya seakan ada yang mau keluar.
Ria hanya tersenyum manis, lalu segera membuatkan pesanan Diman.
"Udah, lu! Melotot melulu!" Diman mendorong lengan Danu. Dia tak berani menoyor kepala Danu, takut kuwalat. Usia Diman jauh di bawah Danu.
"Siapa yang melotot. Gue cuma lagi menikmati rejeki!" sahut Danu.
"Rejeki mata ya, Bro. Hahaha." Mereka berdua tertawa ngakak.
"Ini, Bang." Ria meletakan dua gelas kopi di atas meja.
Posisi Ria yang sedikit menunduk, membuat dua manusia berotak kotor ini menelan ludahnya.
"Ada lagi, Bang?" tanya Ria dengan suara manja menggoda.
"Eng....gak, Neng....!" jawab Diman tergagap.
Cleguk!
Ria malah membusungkan dadanya di depan meja mereka.
Diman mencari tangan Danu di sebelahnya. Lalu merematnya dengan kuat.
"Kalau ada yang mau dipesan lagi, panggil saya ya, Bang," ucap Ria.
"I...iya, Neng...!" sahut Diman dan Danu berbarengan.
Ria tersenyum menggoda. Lalu segera berlalu dengan langkah gemulai.
"Ih, apaan sih, ini!" Danu menepiskan tangan Diman dengan kasar.
"Hehehe. Sorry, Bro. Gue pikir itu tangannya Ria," sahut Diman.
"Udah nafsu, lu ya?" goda Danu.
"Kayak elu kagak aja! Tuh, lap iler lu!" Diman menunjuk bibir Danu.
Spontan Danu mengelap bibirnya.
"Sialan, lu! Ngerjain gue aja!" Danu kembali menoyor kepala Diman.
Diman pun kembali tergelak. Puas dia ngerjain Danu.
"Elu sih enak, Bro. Di rumah ada bini. Bini elu juga bohay. Nah, gue?" ucap Diman dengan nada memelas.
"Ya elu cari dong. Tapi jangan yang model begituan," sahut Danu.
"Memangnya kenapa?" tanya Diman penasaran.
"Yang begituan mah, biasanya salome. Elu mau kena penyakit kayak Tono?" bisik Danu. Takut didengar Ria.
__ADS_1
"Apaan salome, Bro?" tanya Diman.
"Satu lobang rame-rame. Hahaha!"