HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 185 ENI MASIH KEPO


__ADS_3

Mereka sampai di rumah Widya. Lalu ikut turun, sambil menunggu Widya berkemas.


Eni menunggu di luar bersama Tania. Sedangkan Danu ikut masuk, karena kebelet pipis.


"Tania. Nanti kalau udah pulang lagi, Bibi bikinin kartu kredit, ya?" pinta Eni dengan suara pelan.


Eni tak mau Danu ataupun Widya mendengarnya. Pasti mereka berdua akan kembali membully.


"Bi. Mendingan Bibi nabung aja yang banyak. Nanti kartu ATM-nya bisa buat belanja kayak tadi. Jadi kan Bibi enggak usah mikir bayar tagihannya," sahut Tania.


"Memangnya kalau enggak dipakai belanja, tetap harus bayar tagihan?" tanya Eni.


"Ya enggak sih. Tapi kan Bibi bisa jadi khilaf, kalau belanja pakai kartu kredit. Mending pakai kartu ATM biasa aja. Lebih aman," jawab Tania.


"Iya, aman dari tagihan. Tapi tau-tau saldonya abis!" sahut Danu yang keluar lagi dari dalam rumah Widya.


"Yaelah, Pak. Ikut nimbrung aja! Udah masuk lagi sana!" usir Eni.


"Mau ngapain aku di dalam? Entar malah ketiduran," tolak Danu. Lalu menyalakan rokoknya.


"Hhh! Orang lagi nanya-nanya, juga. Aku kan kepingin pinter juga, Pak," ucap Eni dengan kesal.


"Kalau mau pinter itu belajar!" ucap Danu.


"Lha, ini juga lagi belajar! Belajar kan juga bisa dengan nanya, Pak! Aku kan bukan anak SD yang belajarnya mesti pakai buku!" sahut Eni tak mau kalah.


"Jangan dijawab, Tania. Entar bibi kamu malah bikin masalah!" ucap Danu.


"Ish! Jangan jadi promotor dong, Pak!" ucap Eni dengan kesal.


"Provokator, Bi," ucap Tania membetulkan.


"Ah, iya. Pokoknya itulah!" Eni melengos dengan kesal.


"Ngomong provokator aja salah, pingin punya kartu kredit!" ledek Danu.


"Emangnya kalau mau punya kartu kredit, harus bisa ngomong kayak gitu!" sahut Eni makin kesal.


"Ya iyalah. Nanti kamu dites bahasa Indonesia dulu. Kalau enggak lulus, ya enggak bisa!" Danu kembali meledek Eni.


"Emang begitu, Tania?" tanya Eni pada Tania.


Tania hanya terkekeh.


Sebenarnya dia kasihan pada Eni. Tapi Danu bakalan terus meledek Eni kalau Tania menjelaskan lebih detail lagi.


Untungnya Widya segera keluar. Jadi acara ledekannya Danu selesai.


"Ayo berangkat!" ajak Widya. Lalu dia mengunci lagi pintu rumahnya.


Eni yang masih cemberut, langsung naik ke mobil.


Blum!


Eni membanting pintu mobil dengan kencang. Widya sampai terjengit saking kagetnya.


Widya langsung masuk ke mobil dan mulai mengomel.


"Heh, Eni! Ini mobil mewah! Bukan kayak mobil angkotmu yang butut! Kalau sampai rusak pintunya, kamu mau ganti rugi?"

__ADS_1


Eni langsung menundukan wajah. Dia tadi tak sadar melakukannya. Gara-gara kesal pada Danu yang terus saja meledek.


"Ayo jalan, Danu. Kalau rewel nanti kita turunin aja istrimu di jalan!" Widya menakut-nakuti Eni.


Eni menoleh ke arah Widya.


"Maaf, Mbak. Aku janji enggak rewel lagi deh," ucap Eni.


"Tega amat. Masa aku diturunin di jalan. Aku kan pingin healing," gumam Eni.


Widya menahan senyuman. Karena tadi dia tidak benar-benar marah. Hanya biar Eni enggak ngambeg dan bawel lagi.


"Makanya anteng. Diem, terus pake sabuk pengamannya lagi, ya." Danu mengelus pipi Eni dengan lembut.


Eni mengangguk menurut. Dia merasa nyaman diperlakukan lembut seperti itu oleh Danu.


Tania tersenyum melihat keromantisan Danu. Meski hanya elusan lembut di pipi, tapi mampu membuat Eni menurut dan anteng.


"Oh, iya. Aku lupa belum mengisi kartu tolku," ucap Danu.


Danu pernah membeli kartu tol, saat dia pergi bersama temannya.


"Kartu apalagi itu, Pak?" tanya Eni. Eni belum pernah tahu kalau Danu memiliki kartu tol.


"Kartu buat bayar tol. Kamu mau bikin juga?" Danu mulai meledek Eni lagi.


"Kalau mau lewat jalan tol, sekarang harus punya kartu tol, Bi. Kartu itu bisa diisi ulang. Tapi cukup sopirnya aja yang punya. Kita penumpang, enggak perlu."


Tania langsung menjelaskan, karena khawatir Eni kembali dibully lagi oleh kakak adik yang kadang kompak itu.


Eni manggut-manggut, meski sebenarnya kurang paham.


Danu membelokan mobil ke sebuah minimarket.


"Mau beli apa lagi, Pak? Aku udah beli minuman sama camilan banyak, lho," tanya Eni.


"Ngisi kartu e-tolku, Bu. Mana uangnya!" Danu meminta uang pada Eni.


"Uang? Buat apa?" tanya Eni.


"Ya buat ngisi e-tol. Memang ngisinya pake air?" jawab Danu.


"Berapa?" tanya Eni masih belum paham.


Danu menyebutkan nominal yang diperlukannya.


"Hah? Banyak amat?" Eni langsung melongo.


"Kamu pikir lewat jalan tol itu murah?" Widya ikutan menyahut.


Eni menelan ludahnya.


Busyet, mahal juga ternyata. Aku pikir cuma seribu dua ribu aja. Batin Eni.


Eni memberikan uang yang dikasih Tono, pada Danu.


"Dah, kamu nunggu di sini aja. Biar aku turun sendiri." Danu segera turun, setelah menerima uang dari Eni.


"Katanya pinter? Gitu aja kebingungan!" ledek Widya.

__ADS_1


"Emangnya Mbak Widya tau?" tanya Eni.


Eni tak yakin kalau Widya tahu soal kartu tol.


"Ya taulah. Aku kan sering ke kota. Meskipun cuma naik bus atau travel. Tapi aku sering lihat sopirnya ngisi kartu itu," jawab Widya.


Ooh, ternyata mbak Widya tahu juga. Ah, ternyata cuma aku yanv kuper. Mas Danu sih, enggak pernah ngajakin aku keluar kota. Batin Eni menyalahkan Danu.


Danu masuk kembali ke dalam mobil.


"Udah beres semuanya. Sekarang kita berdoa, biar selamat sampai tujuan," ucap Danu.


"Selamat sampai di rumah lagi juga nantinya, Paman," sahut Tania.


"Iyalah, itu pasti!" sahut Widya.


Lalu mereka berdoa bersama meski hanya sekedar baca Basmalah.


Saat mobil memasuki jalan tol, Eni memperhatikan dengan seksama. Dia tak mau banyak bertanya lagi. Karena bukannya dapat jawaban, Eni malah jadi bulan-bulanan suami dan kakak iparnya.


Sementara Tania mendengar ponselnya berdering. Ada panggilan dari Rendi.


"Iya, hallo Rendi," sapa Tania.


"Kamu jadi berangkat sekarang, Tania?" tanya Rendi di seberang telpon.


"Jadi. Ini baru masuk jalan tol," jawab Tania.


"Iya. Hati-hati di jalan ya, Sayang," ucap Rendi.


"Iya, Ren. Kamu udah minum obatnya?" tanya Tania.


"Udah, Sayang. Aku kan juga kepingin cepat sembuh. Biar bisa ketemu kamu lagi," jawab Rendi.


"Maafin aku ya, Ren. Aku malah pergi jalan-jalan, saat kamu masih sakit," ucap Tania.


"Enggak apa-apa, Sayang. Kamu kan juga butuh refreshing. Kalian jadi pakai mobil papa, kan?" tanya Rendi.


"Iya. Jadi," jawab Tania.


Sebenarnya Tania merasa tidak enak menggunakan mobilnya Tono. Tapi demi kenyamanan keluarganya, Tania mengalah.


"Kamu ada nomor rekening, enggak? Biar aku transfer buat uang saku kamu," tanya Rendi.


"Eng...Enggak ada." Tania terpaksa berbohong. Tapi memang kenyataannya, Tania tak memiliki rekening pribadi.


ATM yang dibawanya masih atas nama Tono. Dan Tania tak mau Rendi tahu, kalau dia masih menggunakannya.


"Terus gimana dong, kalau kamu butuh uang? Atau nomor rekening bibi Eni, deh." Rendi tetap memaksa.


"Jangan, Ren. Enggak usah. Kami udah...dikasih uang kok sama papa kamu," tolak Tania.


"Cukup?" tanya Rendi.


"Cukup, Rendi. Udah, kamu jangan pikirin kami. Kamu fokus saja sama kesehatanmu, biar bisa cepet pulang," jawab Tania.


Tuuut...!


Panggilan dari Rendi terputus.

__ADS_1


__ADS_2