
Sari tertawa melihat Monica ketakutan dan salah tingkah. Sedangkan Putri malah kebingungan.
"Ada apa sih, Bu? Dia kok, tiba-tiba pergi?" tanya Putri.
Sari menghentikan tawanya.
"Udah, duduk. Makan," ucap Sari.
"Enggak jadi beli test pack-nya?" tanya Putri.
"Enggaklah. Orangnya juga sudah pergi," jawab Sari. Lalu melanjutkan makannya.
"Maksudnya, test pack itu buat dia?" tanya Putri lagi sambil menarik kursi dan duduk.
Sari hanya mengangguk. Mulutnya sedang penuh dengan makanan.
Putripun mulai makan. Sebenarnya dia masih penasaran, kenapa tadi Sari menyuruhnya membeli test pack. Tapi untuk bertanya, dia merasa segan.
"Kamu tau siapa wanita tadi?" tanya Sari, setelah makanan di mulutnya habis.
"Namanya Monica. Katanya pacar mas Rendi. Calon menantu Ibu," jawab Putri sesuai yang dikatakan Monica.
"Hhmmpptt!" Sari menahan tawanya sampai hampir tersedak.
Sari meraih gelas minumannya.
"Itu kan maunya dia," ucap Sari setelah minum.
"Maksudnya dia mengaku-ngaku gitu, Bu?" tanya Putri.
"Dulu dia sempat dekat sama Rendi. Tapi sekarang Rendi udah enggak mau lagi. Dianya masih ngejar-ngejar." Sari tak menjelaskan kenapa Rendi tidak mau lagi dengan Monica.
"Terus hubungannya dengan test pack, apa Bu?" tanya Putri lagi.
"Dia tadi kasih test pack. Katanya dia hamil anaknya Rendi," jawab Sari.
"Anaknya mas Rendi?" Putri membelalakan matanya.
"Katanya sih begitu. Tapi Rendi sendiri enggak mau ngaku," sahut Sari.
"Loh, kok?" Putri semakin terkejut.
"Ya katanya Rendi, dia enggak pernah ngelakuin. Terus gimana? Lagian belum tentu juga dia hamil. Nyatanya, aku pura-pura nyuruh kamu beli test pack aja, dia takut," sahut Sari.
"Oh...berarti dia cuma pura-pura hamil. Lah terus test pack yang dia bawa tadi, punya siapa?" tanya Putri sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Mana aku tau...! Nemu di jalan, kali!" sahut Sari asal.
"Bisa jadi, Bu. Atau dia minta punya ibu-ibu yang lagi hamil," ucap Putri.
"Udahlah, enggak usah dipikirin. Kamu makan cepetan. Waktu istirahat kamu tinggal beberapa menit lagi." Sari selalu menerapkan tepat waktu buat semua karyawannya.
"Iya, Bu." Putri segera memakan makan siangnya.
"Bu. Yang ini gimana?" Putri menunjuk makanan pesanan Monica tadi.
"Kamu minta dibungkusin aja. Nanti kasih ke siapa, kek. Sayang, daripada kebuang," sahut Sari.
"Siap, Bu." Putri kembali melanjutkan makan siangnya.
Sari menelpon Rendi.
Rendi yang masih berada di rumah Tania, tidak mengangkat telpon dari Sari. Rendi tidak mau Sari mengganggunya lagi.
__ADS_1
"Kok enggak diangkat, sih? Lagi ngapain ini anak?" gumam Sari.
"Siapa, Bu?" tanya Putri.
"Rendi. Ditelpon bukannya diangkat," jawab Sari.
"Mungkin tidur, Bu. Mas Rendi masih sakit, kan," sahut Putri.
"Justru itu. Aku mau nanya, dia udah minum obatnya apa belum." Tiba-tiba Sari jadi ingat dengan Mila.
"Ah, iya. Aku telpon Mila aja." Sari mulai mencari nomor Mila.
Putri yang tidak kenal siapa Mila, hanya melihat saja. Sambil menghabiskan makanannya.
Mila lagi duduk di rumah Tania. Dia kebetulan lagi mainan game di ponselnya.
Tiba-tiba masuk panggilan dari Sari. Mila tak langsung membukanya.
"Mas Rendi. Ada telpon dari ibu. Angkat apa enggak?" tanya Mila.
"Jangan. Abaikan aja!" sahut Rendi..
"Terus, kalau ibu telpon terus?" tanya Mila lagi dengan khawatir.
"Ya abaikan terus," jawab Rendi.
"Tapi aku takut, Mas Rendi," ucap Mila. Ponselnya terus saja bunyi.
"Bawa sini hape kamu, kalau takut." Rendi memgulurkan tangannya.
Dengan rasa was-was, Mila memberikan ponselnya pada Rendi.
Dikira Mila, Rendi mau menerima telpon dari Sari atau malah mendeletnya. Ternyata Rendi juga tak melakukan apa-apa.
Rendi cuma meletakannya di atas meja di sebelahnya.
"Terus mau diapain?" Rendi malah balik bertanya.
Mila bingung menjawabnya. Tania juga cuma diam saja. Dia belum tahu apa yang dimaui Rendi.
"Katanya kamu takut. Ya aku taruh di sini aja," ucap Rendi.
Tania menahan senyumnya. Mila hanya menghela nafas saja.
Kalau cuma gitu sih, aku juga bisa. Gumam Mila dalam hati.
Tapi Mila pun tak bisa protes dan meminta ponselnya kembali. Takutnya Sari menghubunginya terus.
Mila pun beranjak dan berjalan keluar.
"Mau kemana, Mila?" tanya Tania.
"Cari angin," jawab Mila.
"Tania. Nyalain tuh kipas anginnya. Nomor tiga, biar Mila puas," ucap Rendi.
Mila menoleh ke arah Rendi dengan gemas.
"Hhh...!" Mila mendengus. Lalu pergi ke teras kecil rumah Tania.
Tania pun terkekeh melihat tingkah Mila.
Mila mendekat lagi ke pintu.
__ADS_1
"Tania. Di sini ada yang jual es enggak? Haus banget, nih," tanya Mila.
"Es apa?" tanya Tania.
"Apa aja. Gerah banget, tenggorokan rasanya jadi kering," jawab Mila.
"Aku enggak tau, Mil. Aku kan juga belum lama tinggal di sini. Mungkin di ujung jalan sana ada." Tania menunjuk ke arah yang dimaksud.
Tania sendiri masih asing dengan daerah itu. Dan sejak pulang ke rumah Danu ini, Tania belum pernah keluar sendirian.
"Berendem di bak mandi sana, Mil. Dijamin enggak gerah! Sekalian juga airnya kamu minum. Seger deh tenggorokan!" ucap Rendi, kembali meledek Mila.
"Iih. Apaan, sih!" Mila menghentak-hentakan kakinya ke lantai dengan kesal.
Tania dan Rendi terkekeh melihatnya. Mila persis anak kecil yang lagi ngambeg.
"Kalau kamu mau keluar, pakai aja motornya bibi Eni. Kamu bisa naik motor, kan?" tanya Tania.
"Bisa." Mila langsung mengangguk. Sudah lama dia tak pernah naik motor. Tapi dia pernah diajari waktu masih sekolah di SMK.
"Coba aku cari kuncinya, ya. Moga-moga ketemu." Tania masuk ke kamar Eni. Mencari kunci motor.
Tania keluar lagi. Dia sudah mendapatkannya.
"Nih, Mil. Jangan jauh-jauh, ya. Kamu enggak punya SIM, kan?" Tania memberikan kuncinya pada Mila.
"Tenang aja. Paling juga sekitaran sini doang. Cari yang deket-deket aja," sahut Mila.
Mila sudah sangat percaya diri dan senang. Akhirnya dia bisa naik motor lagi.
Dengan langkah gagah berani, Mila melangkah menghampiri motor Eni.
"Waduh...gimana masukin kuncinya, ya?" gumam Mila.
Eni mengunci double motornya.
"Enggak ada lubangnya, gini. Masuknya lewat mana?" Mila semakin kebingungan.
"Tania!" panggil Mila.
Tania baru saja duduk di sebelah Rendi.
"Itu, Mila. Sebentar ya, Ren." Tania berdiri dan keluar.
"Ada apa?" tanya Tania pada Mila.
"Ini gimana masukin kuncinya?" Mila balik bertanya.
Tania mengerutkan keningnya. Maksudnya apa? Bukannya tinggal masuk aja?
Tania menghampiri Mila.
"Mana!" Tania meminta kunci motornya pada Mila.
"Gini, nih!" Tania memgajari caranya pada Mila.
Mila mengangguk-angguk mengerti.
"Kalau enggak bisa nguncinya kayak tadi, dikunci biasa aja. Gini." Tania kembali mengajari Mila.
"Ya...ya...aku bisa," ucap Mila.
Lalu dia pun segera naik.
__ADS_1
Klek.
"Loh, kok enggak bisa di stater? Bensinnya abis, ya?"