HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 41 TANIA SI GADIS MALANG


__ADS_3

Di rumah budenya, Tania sedang diluluri tubuhnya oleh orang salon yang dipanggil oleh Widya.


"Mbak Tania hebat ya, masih muda sudah akan menikah. Saya saja yang sudah kepala tiga masih belum laku."


Cerita Wati si tukang salon yang sedang meluluri Tania.


Tania hanya diam saja. Bukan karena dia yang merasa nyaman diluluri, tapi karena dia malu akan menikah dengan orang yang mungkin seusia budenya.


"Kalau ngantuk, tidur saja Mbak," kata Wati karena Tania yang posisinya tengkurap tidak merespon pertanyaannya.


"Iya, Mbak. Saya malah ngantuk."


Sengaja Tania bilang begitu biar tak banyak pertanyaan.


Dan Tania memang terus terlelap akibat pijatan lembut dari Wati di sekujur tubuhnya.


"Sudah selesai, Wat?" tanya Widya saat melihat Wati keluar dari kamar yang ditempati oleh Tania.


"Sudah, Bu. Mbak Tanianya malah tidur. Nanti kalau sudah bangun suruh mandi saja pakai air hangat, biar badannya segar lagi. Saya pamit pulang dulu, Bu. Masih ada tempat lain yang harus saya datangi."


Widya lalu memberikan uang bayaran buat Wati.


"Terima kasih, Bu. Saya permisi dulu." Wati lalu melajukan motornya ke alamat lain.


Wati memiliki salon kecil tak jauh dari rumah Widya. Tapi dia biasa menerima orderan dipanggil ke rumah-rumah pelanggan.


Jemput bola istilahnya. Karena kalau hanya mengandalkan pelanggan datang, tak bisa memenuhi targetnya.


Widya masuk ke kamar yang dipakai Tania. Keponakannya itu terlihat lelap sekali tidurnya.


Widya yang tak tega membangunkan, meninggalkannya sendirian di kamar.


Sore harinya, baru Tania terbangun karena lapar. Dia tidur hampir tiga jam.


Dengan hanya melilitkan kain yang tadi dipakainya saat diluluri, Tania keluar dari kamar.


"Bude, Tania lapar."


Widya yang sedang memasak di dapur menoleh ke arah keponakannya.


"Mandi dulu sana, pakai air hangat. Itu di termos ada air panas. Pakai saja dulu buat mandi. Embernya yang warna biru di depan kamar mandi. Setelah itu baru makan. Bude masak ikan goreng kesukaanmu."


"Mandi pakai air biasa saja, Bude. Hawa panas begini, gak enak kalau pakai air hangat."


Tanpa menunggu persetujuan budenya, Tania masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Di kamar mandi rumah budenya ada shower yang bisa mengguyur tubuh Tania dari atas kepalanya.


Ah, segar sekali. Tania mencari shampoo untuk mencuci rambutnya biar wangi juga.


Hampir setengah jam, Tania menikmati mandi sorenya. Saking segarnya air dari pancuran shower, sampai Tania lupa rasa laparnya.


Setelah merasa kedinginan barulah Tania menyudahi mandinya.


Lalu kembali ke kamar untuk berpakaian.


"Lama banget mandinya? Katanya laper?"


Widya sudah selesai menyiapkan makan untuk keponakannya dari tadi.


Eni tadi pagi memberikan uang kepada kakak iparnya ini untuk bayar orang salon yang akan meluluri Tania dan memasak untuk makan Tania.


Tadinya Widya menolak, karena bagaimana pun Tania keponakannya juga. Tapi Eni memaksa dengan alasan bagi-bagi rejeki.


"Enak banget mandi di pancuran, Bude. Airnya seger banget."


Tania betah berlama-lama mandi hingga bersih, karena tak perlu capek-capek mengguyur badan pakai gayung.


"Besok suami kamu yang kaya itu, suruh buatin kamar mandi yang lebih bagus lagi. Yang showernya ada air panasnya juga."


"Ya ada lah. Kayak di hotel-hotel berbintang," jawab Widya, sambil menyendokan nasi untuk keponakannya.


"Terima kasih, Bude. Memang Bude pernah ke kamar mandinya hotel berbintang?" tanya Tania penasaran.


Karena setahunya, budenya hanya berjualan nasi buat sarapan di depan teras rumahnya. Mana mungkin punya uang untuk menginap di hotel berbintang.


"Waktu Bude ke kota tempat mbakmu Lintang bekerja. Bude diajak menginap di hotel berbintang. Dia kan bekerja sebagai chef di sana."


Lintang adalah anak Widya satu-satunya dari suaminya yang sudah kabur entah kemana.


Lintang bekerja sebagai tukang masak alias chef di hotel berbintang. Entah bintang berapa, Widya lupa.


"Oh. Enak banget dong ya. Mbak Lintang bisa setiap hari menginap di hotel berbintang."


"Ya tidak setiap hari lah. Uang dari mana. Kamu pikir menginap di sana murah?"


Tania mengerutkan dahi. Dia kira karena bekerja di sana lalu bebas menginap.


Seperti bibinya yang sering menginap di rumah tetangga atau saudaranya yang sedang hajatan, kalau dipanggil untuk memasak.


"Siapa pun yang menginap di sana harus bayar penuh. Nah kebetulan pas Bude ke sana, hotel lagi mengadakan discount lima puluh persen. Kata Lintang sekali-kali manjakan Bude."

__ADS_1


Tania jadi berfikir, memang kewajiban anak untuk membuat orang tuanya bahagia.


Tapi apakah membahagiakan orang tua harus sampai seperti dirinya? Dengan mengorbankan kebahagiaannya sendiri?


"Kok malah melamun. Ayo dimakan. Bude sudah capek-capek masak buat kamu lho."


Tania langsung tersadar dari lamunannya.


"Iya, Bude." Tania menyuap makanan yang biasanya jadi favoritnya dengan malas.


"Makan yang banyak, biar kamu punya tenaga buat acaramu besok." Widya menyemangati keponakannya.


Widya tidak tahu kalau Tania terpaksa menikah demi menyelamatkan Danu dari jeratan hutang.


Danu memang tak berani menceritakan yang sesungguhnya. Bisa habis dimarahi Widya kalau berterus terang.


Dan untungnya Widya tak banyak bertanya kenapa Tania menikah di usia muda. Karena Widya berfikir dengan Tania menikah, berarti selesai sudah Danu menafkahi keponakannya yang ditinggal pergi oleh Santi, adiknya yang kabur entah kemana.


Dulu saat awal-awal Santi pergi, baik Danu maupun Widya sudah berusaha mencarinya. Tapi tak pernah bisa menemukan jejaknya.


Baik Santi maupun Hadi, suaminya Santi, hilang bagaikan ditelan bumi.


Keluarga Hadi pun tak ada yang tahu keberadaan mereka.


Sampai akhirnya Danu dan Eni bersedia merawat Tania. Karena disamping Tania sangat dekat dengan mereka, juga Tania dijadikan anak pancingan agar pasangan yang tak juga dikasih momongan itu bisa punya anak sendiri.


Tapi hingga sekarang Eni tak juga bisa hamil. Entah siapa yang mandul, karena mereka tak pernah memeriksakan diri ke dokter kandungan.


Widya pun sebagai kakak tertua tak pernah mempermasalahkan. Toh masih ada Tania yang mampu membuat pasangan itu bahagia dan rukun sampai sekarang.


Tak selamanya kehadiran anak membuat langgeng sebuah rumah tangga. Buktinya, dia dan suaminya malah berpisah meski sudah dikaruniai anak yang tak kalah cantik dari Tania.


Dan Santi, ibunya Tania, malah kabur meninggalkan anaknya.


"Bude kenapa melihat Tania terus?" tanya Tania yang heran melihat Widya terus menatapnya.


"Gak apa-apa. Bude senang akhirnya kamu sudah akan menikah dan mempunyai keluarga sendiri. Jaga baik-baik rumah tangga kamu. Jangan seperti Bude atau mama kamu yang rumah tangganya berantakan. Kasihan nanti anak kamu yang akan jadi korbannya."


Widya berkata pelan sambil menahan rasa sedihnya. Sedih karena kehilangan seorang adik yang tak pernah diketahui lagi rimbanya.


Tapi juga bahagia karena anak yang ditelantarkan adiknya kini akan menikah dan mengarungi kehidupannya sendiri.


Widya bangga dengan Danu dan Eni yang mampu membesarkan Tania hingga menjadi gadis yang cantik dan cepat laku.


Padahal laku karena untuk membayar hutang yang tak mampu dibayar oleh Danu dan Eni.

__ADS_1


__ADS_2