
"Terus mau gimana nih, kita?" tanya Diman.
"Kita tunggu aja di depan rumahnya. Mereka pasti pulang," jawab Widya.
"Iya kalau mereka pulangnya cepet. Kalau nginep, gimana?" tanya Diman lagi. Dia sudah merasa capek dan ngantuk juga.
"Ya terpaksa kita nginep juga di sana," sahut Eni seenaknya.
"Gila kamu, En. Aku kamu suruh tidur di mobil kayak begini? Bisa pegal semua badanku," sahut Widya.
"Atau kita gelar tiker aja, di depan pintu gerbang?" tanya Danu asal.
"Hh! Kamu pikir kita ini lagi ngungsi?" sahut Widya dengan kesal.
Tin!
Tin!
Ada mobil di belakang mereka yang mau masuk komplek.
"Pak, maaf. Bisa jalan dulu mobilnya? Ada yang mau masuk juga," ucap satpam komplek dengan sopan.
Diman memajukan mobilnya. Dia mencari tempat berhenti yang lebih nyaman.
"Ke depan rumah Mike aja sekalian," ucap Danu.
"Iya. Daripada di sini. Ngapain juga, enggak ada gunanya!" sahut Eni. Mereka memang suami istri yang selalu kompak.
Apa saja yang dikatakan satunya, yang lain hampir selalu mengiyakan.
Diman membawa mobilnya ke rumah Mike.
"Ini kan, rumahnya?" tanya Diman.
Eni menoleh, melihat nomor yang tertera di pintu gerbang.
"Iya. Betul," jawab Eni.
Di komplek perumahan itu, bentuk pintu pagarnya hampir sama. Jadi kalau tidak hafal nomornya, bisa salah masuk rumah orang.
"Pintu pagar kok hampir sama semua," ucap Widya. Dia memandangi deretan rumah mewah di situ.
"Mungkin dulunya mereka beli bareng-bareng. Terus milih yang sama, biar kompak," ucap Danu asal.
"Mana ada penghuni di sini kenal sama tetangganya? Apalagi buat beli pintu pagar bareng-bareng. Ngaco aja kamu, kalau ngomong!" sahut Diman.
"Ya, kali. Kan aku bilang mungkin. Lagian mana aku tau soal pintu pagar yang samaan?" Danu seenaknya saja ngeles.
"Kalau enggak tau, enggak usah jawab!" Widya menoyor lengan Danu.
"Iya, Pak. Diem aja, sambil ngawasin rumahnya Mike ini," ucap Eni.
"Ngapain diawasin, orangnya juga pergi semua, kok," sahut Danu.
Lalu Danu menarik tuas joknya.
"Aduh, Pak. Jangan terlalu ke belakang dong. Aku jadi sempit." Eni berusaha mendorong lagi jok Danu ke depan.
"Aku capek, Bu. Ngantuk juga. Kamu yang jaga, ya? Aku merem dulu." Tanpa menunggu jawaban Eni, Danu langsung merem.
__ADS_1
Diman juga ikutan merem. Tapi dia tak berani memundurkan joknya. Karena yang duduk di belakangnya Widya. Kalau kata Diman gajah bunting.
"Yee...molor semua!" gerutu Eni.
"En. Kamu pindah di jok belakang, sana. Biar aku bisa selonjoran," pinta Widya.
"Lha, gimana caranya, Mbak?" tanya Eni.
"Loncat kan bisa. Badan kamu kan kecil," jawab Widya seenaknya.
"Yaelah, Mbak. Nyusahin aja!" gumam Eni.
Widya tak mempedulikan. Dia malah mendorong tubuh Eni yang lagi mulai berdiri. Biar cepet sampai ke belakang.
"Sabar, Mbak. Nanti aku jatuh," ucap Eni.
Pelan-pelan dia melangkah, pindah ke jok belakang.
Widya pun langsung selonjoran. Tasnya dia gunakan untuk menyangga kepalanya di kaca jendela. Dan tak lama, terdengar dengkurannya.
"Busyet deh, molor semua! Mana gerah banget, lagi." Eni membuka jendela kacanya lebar-lebar.
"Hh...! Gini kan enak," gumam Eni.
Eni yang duduk sendirian, membuka ponselnya. Buat ngilangin kejenuhan, dia menonton film drakor kesukaannya. Sampai kemudian, tak terasa dia pun ikut tertidur.
Sementara Tania, tadi memang keluar sebentar. Dia membonceng Dito mencari makanan kecil. Karena rencananya malam ini, Mike akan pergi dengan Dito ke pesta ulang tahun teman kuliahnya Mike.
Tania menolak ikut, karena dia tidak kenal dengan tuan rumahnya.
Karena perginya naik motor, jadi Dito lewat jalan belakang komplek. Biar lebih dekat ke tempat pusat jajanan.
Setelah sampai di rumah Mike kembali, Mike dan Dito buru-buru pergi. Karena tempat ulang tahun temannya Mike, jauh dari kota.
Dito mengunci pintu pagarnya dari luar. Jadi kalau ada orang yang mencari, dikiranya rumah Mike kosong. Padahal ada Tania di dalam sendirian.
Pembantu di rumah Mike hanya datang kalau dibutuhkan saja. Selebihnya, Mike suka membereskan semuanya sendiri. Kadang Dito membantunya.
Alasannya apalagi kalau bukan mereka tak mau diganggu saat bercinta. Kata Mike, mereka bisa bercinta di mana saja. Sekehendak hati mereka.
Tania hanya duduk saja di ruang tengah sambil menonton televisi. Tentu saja Rendi tak henti-hentinya mengirimkan pesan pada Tania.
Karena merasa bosan, sambil membalas pesan dari Rendi, Tania berjalan-jalan di dalam rumah Mike.
Tania sampai di ruang tamu. Lalu dia melihat ke luar rumah lewat jendela. Tania membuka sedikit tirainya.
Dari tempatnya berdiri, Tania melihat ada mobil berhenti tepat di depan pintu gerbang.
Awalnya Tania berpikir hanya mobil yang kebetulan berhenti saja.
Tapi sampai beberapa menit kemudian, Tania melihat mobil itu tak juga pergi. Masih berhenti di tempat yang sama.
"Mobil siapa ya itu?" tanya Tania pada dirinya sendiri.
"Gimana kalau mobilnya Mike mau masuk, nanti?" Tania terus saja bertanya-tanya sendiri.
Tania terus saja memperhatikan mobil itu.
Sepertinya aku enggak asing sama mobil itu. Gumam Tania.
__ADS_1
Dia lalu mengintip dari tempat yang lain. Biar lebih jelas melihatnya.
Seperti mobilnya Tono. Ya. Itu mobil Tono.
Gawat!
Apa Tono sudah tahu kalau aku ada di sini? Lalu menyuruh anak buahnya mengawasi rumah Mike.
Aduh, gimana ini. Mana Mike sama Dito enggak ada di rumah. Bagaimana kalau mereka nekat masuk?
Tania mulai panik.
Lalu dia mengirimkan pesan pada Rendi, kalau mobil Tono ada di depan rumah Mike.
Rendipun tak kalah paniknya.
Kamu tetap saja di dalam Jangan bukakan pintu pada siapapun. Ketik Rendi di pesan chatnya.
Iya. Tapi aku takut, Ren. Balas Tania.
Kamu telpon Mike atau Dito. Biar mereka lapor ke satpam, kalau ada mobil yang mencurigakan di depan rumahnya. Balas Rendi.
Tania pun mengikuti perintah Rendi. Dia segera menelpon Mike.
"Apa? Mobil papanya Rendi ada di depan rumahku?" tanya Mike di telepon.
"Iya, Mik. Udah dari tadi juga," jawab Tania.
"Oke. Oke. Kamu tenang aja di dalam. Jangan sampai terlihat ada orang di dalam. Aku akan telpon satpam, buat mengusir mereka," sahut Mike.
"Iya, Mik. Aku tutup ya, telponnya." Tania segera menutup telponnya. Dia terus saja menatap ke arah mobil Tono.
"Ada apa?" tanya Dito.
Mike menceritakannya pada Dito.
"Ya udah, kamu telpon satpam aja. Kamu nyimpen nomornya, kan?" tanya Dito.
Mike mengangguk. Lalu menelpon satpam komplek. Dito yang bicara.
"Udah? Gimana?" tanya Mike.
"Mereka akan mengusir mobil itu," jawab Dito.
Mike kemudian menghubungi Tania kembali. Biar Tania memantau, apa mobil itu sudah pergi atau belum.
Tok. Tok. Tok.
Satpam komplek mengetuk jendela kaca mobil.
Diman menggeliat. Lalu membuka kaca mobil.
"Ada apa, Pak?" tanya Diman.
"Maaf. Kalian diharapkan meninggalkan tempat ini. Kalau tidak, kami akan menderek mobil kalian keluar dari sini!" ucap satpam komplek. Dia bukan satpam yang tadi ditanyai Danu.
"Tapi, Pak. Kami...." Belum sempat Diman bicara satpam sudah menyalakan alarm.
"Iya, Pak. Kami pergi sekarang!"
__ADS_1