HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 49 LOLOS LAGI


__ADS_3

"Papa yang jangan sentuh Tania, dia milik Rendi!"


Rendi berusaha meraih Tania. Tapi Tono dengan cepat menarik tubuh Tania hingga tersembunyi di belakang tubuhnya.


"Rendi...!" Teriak Tania sambil menangis dan melambaikan tangannya ke arah Rendi.


Rendi merangsek ke arah papanya, tapi Tono terus menghalaunya.


Walau pun tubuh Tono kurus dan lebih pendek dari Rendi, tapi karena emosi, Tono seperti mempunyai kekuatan lebih besar.


"Pa! Kembalikan Tania!" pinta Rendi.


"Tidak! Tania istri papa. Dia sekarang adalah ibu kamu!"


Tania dan Rendi sama-sama terkejut dengan perkataan Tono.


"Tidak, Pa! Tania calon istri Rendi. Papa harus menceraikannya sekarang juga!"


Rendi tetap tidak mau terima.


"Tidak bisa! Papa tidak akan menceraikan Tania! Kau cari saja perempuan lain!" tolak Tono.


"Papa yang cari perempuan lain!"


Tono tak mau menanggapi anaknya lagi, dia lalu menarik tangan Tania untuk diajaknya pergi.


Tapi Rendi berhasil menarik satu tangan Tania yang lain.


"Lepaskan Tania, Pa!" pinta Rendi sambil terus menarik tangan Tania.


"Tidak!" Tono pun tak melepaskan tangan Tania.


Tania sudah meringis kesakitan. Beruntung dua orang security hotel menghampiri dan memisahkan mereka.


Seorang security memegangi tangan Tono dan yang lain memegangi Rendi.


Dan kesempatan itu dimanfaatkan oleh Tania untuk lari.


Tania berlari keluar dari hotel, sambil mengangkat gaunnya.


Tania terus berlari meski tanpa alas kaki. Tak dihiraukannya rasa sakit di telapak kakinya dan juga area sensitifnya yang masih terasa perih.


Rendi yang berhasil lepas dari pegangan security, berlari mengejar Tania.


Begitu juga Tono. Sekuat tenaga dia berusaha melepaskan pegangan security.


Dan setelah lepas, Tono ikut berlari mengejar Tania meski nafasnya sudah ngos-ngosan.


"Tania..!!"


"Tania..!!"


Rendi terus memanggil agar Tania menghentikan larinya.


Tania menoleh. Ingin Tania berhenti, tapi di belakang Rendi ada Tono yang juga ikut mengejarnya.


Tania terus berlari hingga sebuah mobil nyaris menabraknya.


Ciiitt...!


Suara decitan ban mobil yang berhenti mendadak, membuat Tania terkejut dan berteriak kencang.


"Aakkhh...!!"


Tania terhuyung dan menabrak body mobil yang sudah berhenti.

__ADS_1


"Tania...!!" Rendi mempercepat larinya, lalu meraih tubuh Tania yang menyandar di mobil itu.


Rendi memeluk tubuh Tania dengan erat.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rendi sambil terus memeluk Tania.


Tania hanya bisa menangis sesenggukan di pelukan Rendi.


Tono yang sudah sampai di dekat mereka, langsung menggedor pintu mobil.


"Keluar..!"


Sopir yang tak merasa bersalah segera keluar dari mobilnya.


Pertengkaran mereka pun tak terelakan. Tono yang memang terkenal kejam dan temperamental tak mau kalah meski badannya jauh lebih kecil.


Tono merasa tak terima istrinya hampir saja ditabrak.


Si sopir pun tak mau disalahkan. Karena Tania tiba-tiba sudah ada di depan mobilnya.


Sekali lagi Rendi tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia membawa lari Tania ke mobilnya.


Rendi yang menyimpan kunci mobilnya di kantong celana, dengan mudah kabur membawa serta Tania.


Rendi kembali memacu mobilnya. Entah kemana. Yang penting bisa lepas dari papanya.


"Pasang sabuk pengamanmu!"


Tania dengan sigap memasang sabuk pengamannya.


Rendi menekan pedal gasnya lagi.


Wushh!


Mobil Rendi semakin menjauh.


"Dasar sinting!" umpat si pengendara dan pergi meninggalkan lokasi.


Tono menghampiri sopirnya yang sedang terlelap di dalam mobil.


"Bangun! Ayo kejar lagi mobil Rendi!" bentak Tono.


Sopir Tono yang baru saja terbangun, gelagapan.


"Kemana, Bos?" tanyanya sambil mengucak matanya.


"Ke sana! Pakai matamu! Molor terus!" Tono menunjuk ke arah mobil Rendi melaju.


Sopir Tono mengikuti saja perintah bosnya. Dia menghentakan pedal gasnya.


Membuat tubuh Tono tersentak ke depan hingga menabrak dashboard.


"Kamu tidak bisa hati-hati?!" bentak Tono sekali lagi, lalu segera memasang sabuk pengamannya.


"Kan bos yang menyuruh mengejar Rendi!"


"Banyak bacot, kamu! Ayo kejar!" Tono semakin naik darah.


Hingga beberapa menit kedepan, mobil Tono kehilangan jejak mereka.


"Kemana ini bos? Ke kanan atau ke kiri?" tanya sopirnya.


"Pakai otakmu!" Tono tetap membentak seenaknya.


Sopir Tono mengambil arah kiri, karena tak ada perintah ke mana dia harus berbelok.

__ADS_1


Sayangnya mobil Rendi berbelok ke kanan. Dan mereka semakin jauh terpisah.


"Kita mau kemana, Ren?" tanya Tania sambil berteriak, karena Rendi tak juga menurunkan kecepatan mobilnya.


Rendi mulai menurunkan kecepatannya. Lalu menoleh sebentar ke arah Tania.


"Entahlah," sahut Rendi.


"Ren, aku lapar." Tania yang sudah merasa sangat ketakutan, mendapatkan ide untuk menghentikan Rendi.


"Oke. Kita cari tempat makan. Sepertinya mobil papaku tak bisa mengejar kita."


Lalu Rendi melajukan mobilnya perlahan. Sambil mencari tempat makan.


Sementara Tono yang tak juga menemukan jejak mobil anaknya, semakin naik emosinya.


"Dasar sopir tolol! Begitu saja tidak bisa mengejar!"


"Maaf, bos. Saya tak tau kemana arah mobilnya Rendi."


"Banyak alasan kamu! Sekarang kita kembali ke rumah Danu!"


Si sopir mengangguk patuh, dan memutar balik mobilnya.


Mereka kembali ke rumah Danu. Acara di sana belum selesai. Banyak tamu yang masih berdatangan.


Mereka yang rata-rata orang dari kelas bawah, merasa penasaran dengan pesta yang dijanjikan Eni sangat mewah.


Eni dan Danu tak mempedulikan lagi pertanyaan dari para tamu tentang pengantinnya yang tak nampak.


Eni dan Danu berinisiatif mengencangkan suara audio agar para tamu kesulitan untuk bertanya.


Menjelang sore, Tono tiba di rumah Danu. Suara hingar bingar musik dangdut koplo, sangat memekakan telinga.


"Dasar kampungan!" umpat Danu. Tapi tak terdengar siapa pun karena suaranya kalah oleh suara audio.


Tono menghampiri Danu dan menarik tangannya menuju ke dalam rumah.


Danu yang kaget, menurut saja tanpa protes. Tapi dalam hatinya sudah sangat ketakutan.


Eni yang melihat kejadian itu, bersembunyi di antara kerumunan tamu-tamunya.


"Heh, Danu! Kamu harus bertanggung jawab dengan semua ini. Atau aku akan benar-benar menjebloskanmu ke penjara!" ancam Tono saat sudah berada di dalam rumah Danu. Tangannya mencengkeram kerah baju Danu.


"Ta...tapi...!"


"Tidak ada tapi-tapian. Aku mau kamu menemukan Tania dan serahkan padaku nanti malam!"


Widya yang sedang berada di dapur, mendengar kejadian itu. Dia langsung menghampiri Tono dan Danu.


"Eh, Tono! Lepasin adikku atau kamu aku cincang-cincang!" bentak Widya.


"Jangan ikut campur kamu, Widya! Aku tidak ada urusan dengan kamu!" Tono membalas bentakan Widya.


"Mulai sekarang kita ada urusan! Karena mereka adalah keluargaku!"


Widya tak ada takutnya dengan Tono. Tono melepaskan cengkeraman tangannya dan menghempaskan tubuh Danu hingga terhuyung ke belakang dan nyaris menimpa tubuh Widya.


Widya yang memiliki tubuh tinggi besar, melipat lengan bajunya. Seperti bersiap duel dengan Tono yang berbadan kecil.


"Temukan Tania dan segera serahkan padaku!" ucap Tono sambil melangkah pergi.


Tono tak mau berurusan dengan Widya yang dari jaman sekolah dulu terkenal sebagai bodyguard.


"Perempuan gila!" Tono kembali mengumpat. Dia memilih pergi dari pada tubuhnya diremukan oleh tangan Widya yang sebesar talas bogor.

__ADS_1


Eni yang melihat Tono pergi, segera keluar dari persembunyiannya. Dia berlari masuk ke rumahnya.


Di depan pintu masuk, Eni melihat Widya yang sedang memarahi suaminya. Eni pun mengurungkan niatnya dan berjingkat-jingkat keluar lagi.


__ADS_2